Hujan dan Rinduku pada Bapak

Istiqomah Almaky

 

Bila dahulu, ketika ibu masih ada, setiap kali hujan turun, aku selalu rindu pada ibu. Ketika ibu telah berpulang, ketika rinduku pada ibu hanya membasahkan wajahku dengan air mata dan membuat bibirku gemetar mengirim doa-doa untuknya, kini hujan membuatku gemetar merindukan bapak.

Wajah tuanya yang lelah, tubuh yang kini semakin renta, rambut putih yang semakin jarang dimakan usia, dan sesak nafas serta gula darah yang semakin melengkapi ketuaan usianya, membuatku gemetar dalam rasa sesal dan ketiadaberdayaan. Ya Allah, alangkah tidak berbaktinya aku pada lelaki yang menghabiskan hampir seluruh usianya untukku dan saudara-saudaraku. Ya Allah, betapa aku tak sanggup membaktikan diriku sebagai anak untuk merawat dan mendampinginya di usia tua. Hanya air mata dan doa yang terus mengalir saat aku mengenang kembali segala yang ia usahakan dengan tubuh kekarnya, suara penuh wibawanya di masa mudanya. dan doa, wirid, dan laku prihatin yang dulu ialakukan tanpa henti untuk keberhasilan kami yang terus terbayang, seakan menjadi cambuk yang melecut-lecut nuraniku. Betapa belum sedikit pun kami mampu membalas kebaikannya dulu. Tak sedikit pun.

Pada saat demikian, tak ada yang sanggup kulakukan selain menangis, memohon, berharap, dan menyerahkan seluruhnya pada-Mu, duhai Robb-ku Yang Maha Menciptakan, Menentukan. Tak ada inginku melupakan bapak. Tetapi kewajiban sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anakku di sini juga mengikatku di satu sisi. Kutahu, bapak telah mengikhlaskan aku ketika menyerahkanku pada lelaki yang kini menjadi kunci pembuka bagi surgaku nanti.

Allah, pagi ini, saat hujan masih juga menetes sejak semalam, air mataku pun terus mengalir. Aku rindu bapak. Aku ingin memeluknya, memijat tubuh ringkihnya, menemaniinya di masa tua, dan memohon maaf atas ketidakbaktianku padanya. Ah, seandainya membawanya ke rumahku bisa membuatnya bahagia, akan kulakukan apa pun untuk membahagiakannya. Namun, seperti orang tua lainnya di dunia ini, ia bersikukuh, rumahnya, rumah yang dibangun dengan istri tercintanya adalah surganya. Ya, rumah bagi bapak adalah surga yang ia bangun dan menjadi saksi perjalanan hidupnya bersama perempuan mulia yang setia mendampinginya hingga akhir hayat.

Tak ada satu pun di antara kami yang sanggup membawanya pergi dari surganya. Di rumah itulah ia menghabiskan sebagian besar usianya, di rumah itu pula ia berharap kelak akan kembali pada Robb-nya, menyusul kekasihnya.

Ya Allah… jarak dan waktu, yang lebih bersahabat dengan urusan keduniaan telah membuatku semakin tak berdaya. Karenanya, kumohon, sayangilah, rawatlah, sayangilah, dan lindungilah bapak. Sebab, hanya air mata, hanya doa yang sanggup kukirimkan untuknya.

 

10 Comments to "Hujan dan Rinduku pada Bapak"

  1. Faradina Izdhihary  1 August, 2012 at 03:40

    Sejatinya, saya “gak memiliki nyali” untuk membuk tulisn-tulisan kepedihn hati saya sesaat ibu berpulang. Ya Allah, sakitnya luar biasa. Ternyata saya sngat mencintai dan membutuhkan ibu.
    Namun, seiring waktu, ketika bapak tetap ngotot tinggal di rumahnya sendiri daripada memilih tinggal di rumah anak-anaknya yang 8 orang (bukannya tinggal milih mana yang disuka), saya sadar selama ini telah berlaku sangat tidak adil pada beliau. Kini segala rasa sayang pada ibu itu kutumpahkan pada bapak., Setiap mengunjungi atau telepon pada bapak, rasanya saya mendengar dan melihat ibu sedang berwasiat agar menjaganya.

  2. Faradina Izdhihary  1 August, 2012 at 03:40

    Sejatinya, saya “gak memiliki nyali” untuk membuk tulisn-tulisan kepedihn hati saya sesaat ibu berpulang. Ya Allah, sakitnya luar biasa. Ternyata saya sngat mencintai dan membutuhkan ibu.
    Namun, seiring waktu, ketika bapak tetap ngotot tinggal di rumahnya sendiri daripada memilih tinggal di rumah anak-anaknya yang 8 orang (bukannya tinggal milih mana yang disuka), saya sadar selama ini telah berlaku sangat tidak adil pada beliau. Kini segala rasa sayang pada ibu itu kutumpahkan pada bapak., Setiap mengunjungi atau telepon pada bapak, rasanya saya mendengar dan melihat ibu sedang berwasiat agar menjaganya.

  3. Silvia  30 July, 2012 at 22:11

    Saya sayang papa, mama. Waktu kecil sampai usia dewasa muda, sy ga gitu cocok sm mama. Tp seiring waktu Tuhan pulihkan hub kami & kami boleh saling mengerti satu sama lain dgn amat baik.

  4. Angela Januarti  30 July, 2012 at 15:41

    Ada yang bilang padaku: Bila kita mendoakan seseorang dengan Tulus, ia akan merasakan kekuatan doa yang kita haturkan pada Tuhan.
    Ini yang biasa kulakukan bila merindukan orang-orang yang kusayangi. Dimanapun mereka berada, aku percaya sebuah doa yang kupinta pada Tuhan telah ia rasakan.

    salam,

  5. J C  30 July, 2012 at 11:07

    Tepat 4 tahun lalu Papa meninggalkan kami semua…

  6. anoew  29 July, 2012 at 18:05

    Kasih ibu sepanjang jalan. Di doa ibu namaku disebut. Waah, gk bakal bisa saya “bayar utang” ke ibu..

  7. elnino  28 July, 2012 at 20:35

    Kondisi yang sama yg kuhadapi mbak Fara. Sejak ibu berpulang 2 tahun lalu, dan adik bungsu keluar rumah karena dpt pekerjaan di Jakarta, praktis bapak yg sudah sepuh tinggal sendirian di Jogja
    Beliau tidak mau diajak tinggal di rumah anak2nya dan memilih menghabiskan masa tuanya di rumah beliau sendiri

  8. EA.Inakawa  28 July, 2012 at 19:30

    saya pernah mendengar kata seorang Ustad : ” Kau gendong sekalipun ibu mu dari rumah menuju Makkah dengan berjalan kaki, niscaya tidak akan terbayar semua kebayikannya, hanya satu ….. “DOA anak yang sholeh……..
    Kita tidak ingin membedakan kasih sayang mereka,tapi perbedaan itu selalu ada antara Ayah & Ibu…………
    dan ingatan kitapun berbeda pula walau dalam satu ruang dan waktu.
    salam sejuk

  9. Bagong Julianto  28 July, 2012 at 16:20

    Faradina,

    Silahkan resapi EBIET: Di matamu masih tersimpan, selaksa peristiwa…..
    Silahkan hayati The MERCY’s: Di mana akan kucari, aku menangis seorang diri….
    Keduanya berpotensi mambasahkan mata dan membasuh jiwa…
    Yang ngepop dan nggak semelouw di atas adalah punya KOES PLUS….
    Jadoel nian ini….

  10. James  28 July, 2012 at 08:31

    SATOE Hujan Rindu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *