Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

High Intensity Language Training

Sunday, 29 July 2012

Viewed 687 times, 1 times today | 9 Comments |

Dian Nugraheni

 

Amerika adalah negara terbuka bagi multi bangsa dan multi ras, untuk masuk dan hidup di negara ini. Sebagian dari mereka adalah Legal Alien, masuk Amerika dengan prosedur lengkap, dan memiliki semua dokumen pribadi yang diperlukan untuk hidup, sekolah, dan bekerja di sini.

Tapi, sebagian lainnya, pemerintah Amerika pun menyadari, bahwa kurang lebih sekitar dua belas juta penduduknya adalah Illegal Alien, alias masuk Amerika dengan berbagai cara yang tidak prosedural. Dan kabarnya, bagi Ilegal Alien ini, cukup aman lah, apabila mereka tidak melakukan tindakan kriminal, yang mengundang petugas berwenang, harus “menelusuri” asal muasalnya.

Jadi, boleh dibilang, khususnya masalah sekolah (dari kindergarten sampai SMU) dan kesehatan, Citizen (Warga Negara) Legal maupun Ilegal Alien, adalah sama.

Sistem pendidikan di Amerika pun menyadari betul, bahwa anak-anak imigran ini, sebagian sangat besar, tentu saja bukan pengguna Bahasa Inggris sebagai Primary Language, atau bahasa Inggris bukan sebagai bahasa Utama mereka. Anak-anak para Imigran ini, ada yang berbahasa Vietnam, Perancis, China, Afrika, Arabic, Spanish, Indonesia, dan lain-lain.

Untuk itulah, maka untuk anak-anak yang menggunakan Bahasa Inggris bukan sebagai Bahasa Utama, dalam pelajaran bahasa Inggrisnya, mereka dimasukkan dalam kategori LEP (Limited English Proficient), yang berarti bahwa anak-anak tersebut, diterima sebagai murid ESOL (Speakers of Other Languages) dan menerima fasilitas belajar Bahasa Inggris di kelas HILT (High Intensity Language Training), alias kursus bahasa Inggris tiap hari di sekolah, selama 2 tahun. Dua tahun ke depan, sejak berada di HILT, diharapkan mereka akan sama mudengnya, sama cas cis cusnya, sama ngesesnya, dengan native, penduduk asli berbahasa Inggris.Di kelas ini anak-anak akan sekelas dengan teman-teman pendatangnya, dari Afrika, negara Arab, Vietnam, India, dan lain-lain.

Di Amerika, anak-anak akan menempuh sekolah di Sekolah Dasar, atau Elementary School, sejak kelas 1 sampai dengan kelas 5, kemudian kelas 6nya, sudah akan masuk ke Sekolah Menengah Pertama atau Middle School sampai dengan kelas 8, dilanjutkan kelas 9 di SMA atau Senior High School sampai kelas 12.

Aku pernah merasa surprise, bahwa guru-guru di sekolah anak-anak, sangat “menghargai” bahasa Inggrisku yang terbata-bata dan non gramatikal, alias tidak mengikuti aturan bentuk pertama, kedua, ketiga dalam Tata Bahasa Inggris. Dan memang, sehari-hari di sini, terutama di kalangan imigran,  jarang banget orang bicara bahasa Inggris dengan mengandalkan grammar atau tata bahasa yang tepat. Sedangkan para native, orang-orang asli Amerika yang berbahasa Inggris sebagai Bahasa Utamanya, akan maklum dan berusaha mengerti bila mereka bicara dengan kaum imigran kebanyakan.

Para Imigran yang sudah lama tinggal di sini, bilang, bahwa anak-anak kita yang sekolah, dan mendapatkan kursus bahasa Inggris, serta berkomunikasi dengan berbahasa Inggris di sekolahnya, nantinya pasti jauh lebih pintar berbahasa Inggris, daripada Emaknya dan Bapaknya, yang sedari di Indonesia, atau di negara asalnya  pernah mati-matian kursus bahasa Inggris, bahkan sampai bertahun-tahun.

Mengenai fasilitas  kelas HILT (High Intensity Language Training) ini, cara kerjanya adalah demikian, anak-anak yang baru saja tiba di Amerika, dan berbicara dengan bahasa asalnya (misalnya kalau kita ya berbahasa Indonesia),di mana Bahasa Inggris dianggap bukan Primary Language bagi anak-anak tersebut, meski, di negara asalnya dahulu, anak-anak ini mungkin menerima pelajaran bahasa Inggris di sekolahnya, atau bahkan juga sudah mengikuti tambahan les bahasa Inggris di luar sekolah, tetaplah anak-anak ini harus “dijajagi”, seberapa tinggi sih, kadar kebisaan berbahasa Inggrisnya.

Nahh, penjajagan ini dilakukan ketika anak-anak baru tiba di Amerika. Waktu itu kami datang ke lembaga yang bernama Intake Center. Di sini segala dokumen yang berkaitan dengan anak diperiksa, seperti Passpor dan Birth Certificate, itu yang paling utama. Kemudian untuk menjajagi kemampuannya, diberikan 2 macam tes, yaitu Bahasa Inggris, dan Matematika. Dari hasil mengerjakan soal-soal ini, maka anak nantinya akan “diantarkan” dan “ditempatkan” ke sekolah dan kelas yang sesuai dengan hasil tesnya tersebut.

Pada waktu itu, si Adek, anakku yang kelas 3 SD, hasil test Matematikanya dianggap “mencukupi” bagi dia untuk langsung masuk ke kelas 3 SD atau Elementary School, sedangkan hasil tes Bahasa Inggrisnya, dianggap masih sangat kurang, sehingga ketika masuk Elementary School, langsung dia dipegang satu orang guru khusus, yang mengajari si Adek berbahasa Inggris, sejak dari mengenal dan mengucapkan huruf dalam bahasa Inggris. Berapa lama si anak akan berada di kelas khusus ini, tergantung si anak sendiri. Untuk si Adek, dia hanya butuh 3 bulan “kursus privat” sama gurunya ini, kemudian dia sudah masuk ke kelas bahasa Inggris yang lebih besar lagi, yaitu sekitar 6 anak dengan bimbingan satu guru, masih tetap di kelas Intensif.

Sedangkan si Kakak, hasil test Matematika dan Bahasa Inggrisnya dianggap cukup, sehingga dia langsung masuk ke kelas bahasa Inggris Intensif yang terdiri dari beberapa anak dalam jumlah yang cukup besar, lebih dari 6 orang siswa, dan tidak harus belajar dari mengeja huruf lagi.

HILT (High Intensity Language Training) ini, bagi aku secara pribadi, mencerminkan, betapa pendidikan di Amerika menyadari betul, yang namanya mempelajari bahasa, itu jauh lebih sulit daripada mempelajari ilmu lain seperti Matematika atau Science, atau ilmu-ilmu berbasic logika lainnya,  maka dengan demikian, anak-anak yang berbicara bahasa Inggris sebagai Bahasa ke dua mendapat fasilitas latihan berbahasa Inggris dalam program intensif dan benar-benar ketat. Dan biasanya, belum sampai 6 bulan, anak-anak ini sudah akan “meleleh” bersama teman-teman native-nya, yang berbicara bahasa Inggris sebagai Bahasa Utama, alias, sudah bisa berkomunikasi dengan baik, menerima pelajaran yang semuanya menggunakan bahasa Inggris, dan sudah bisa mengatasi dirinya sendiri sehubungan dengan kemampuan berbahasa Inggris.

Aku membayangkan, di Indonesia, yang notabene memiliki banyak sekali bahasa daerah, bagi anak-anak yang kebetulan orang tuanya sering berpindah tugas, dari satu daerah ke daerah lain, maka masalah pelajaran Bahasa Daerah ini sering kali menjadi momok bagi anak-anak itu sendiri, sekaligus bagi orang tuanya, karena anak-anak tidak mendapat pelatihan berbahasa Daerah yang baru saja dikenalnya itu dalam program yang intensif, tapi tetap harus mengikuti ulangan bahkan ujian.., emangnya sulapan…he..he..he…

Sekali lagi, ini membuktikan, bahwa sistem pendidikan di Amerika, ternyata lebih manusiawi. Nantikan kisah-kisah “manusiawi” pendidikan di Amerika lainnya…okee…

 

Virginia,

Dian Nugraheni

 

Share This Post

Posted by Sunday, 29 July 2012 on 08:17.

Categories: Dunia. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

9 Responses to “High Intensity Language Training”

  1. 9
    J C Says:

    Sepengamatanku ada 3 negara yang menjunjung tinggi bahasa nasional mereka, tidak peduli siapapun juga, para pendatang (baik yang kerja atau sekolah) harus belajar dan menguasai bahasa mereka, Jepang, China dan Korea. Dan sepertinya Brazil juga demikian, tidak bisa berbahasa Portugis jangan harap survive di sana. Kalau aku cukup kosa kata: caipirinha, curascao, guarana, Copacabana, bom dia dan obrigado sudah bisa survive di Brazil selama seminggu…

  2. 8
    J C Says:

    Aku cukup bersyukur sepertinya genetik keluarga cukup tanggap dan cepat penyesuaian dengan bahasa baru, jadi di manapun berada selama ini belum pernah mengalami masalah bahasa.

    Mengenai bahasa sepertinya di Amerika jadi bumerang adalah “hak asasi manusia”, Spanish language jadi bahasa kedua dan di beberapa negara bagian malah lebih dominan daripada bahasa Inggris. Para pendatang yang berbahasa Spanish “lupa” bahwa sebenarnya merekalah sebagai TAMU yang belajar bahasa tuan rumah, bukan kebalik. Yang terjadi sekarang Spanish justru seperti “harus” dipelajari oleh tuan rumah untuk semua petunjuk di mana-mana (jalan, rumah makan, bank, ATM, dsb). Ya karena itu tadi keblinger dan jadi “bumerang hak asasi manusia”…

  3. 7
    Dewi Aichi Says:

    Di Jepang juga gitu Dian..pesis, kan banyak orang asing juga yang sekolah di sekolah Jepang, kalau belum bisa berbahasa Jepang, pihak sekolah yang menyediakan guru bahasa, sampai si anak mampu mengikuti pelajaran.

  4. 6
    EA.Inakawa Says:

    yaaa seyogiyanya……Pemerintah RI agar terus mempasilitasi penerapan kurikulum bahasa Inggeris sebagaimana negara maju lainnya dengan dukungan buku dan guru yang cukup berkemapuan………tentu saja tanpa mengabaikan Bahasa Indonesia yang tetap harus dikedepankan. salam sejuk

  5. 5
    anoew Says:

    Sekali lagi, ini membuktikan, bahwa sistem pendidikan di Amerika, ternyata lebih manusiawi

    I ). ( I
    / I I. \
    /__’,_ ,’___\
    /( __ _)\ /(_ __ )\
    I ( __ _ )) ((__ __ )I
    I ( __ _) ) ( (_ __ _)I
    \(___ _)/ \(___ _)/

  6. 4
    anoew Says:

    Herannya, Amerika yang manusiawi dalam hampir segala hal yang menyangkut humanitas, dicerca, dicaci-maki dan dimusuhi oleh sebagian orang yang merasa suci.

    Herannya, bila Amerika itu jahat, brengsek, amoral dsb dsb dsb, mengapa mereka, sebagian orang yang merasa suci itu berbondong-bondong ke sana untuk mencari penghidupan yang lebih baik dari pada negara asalnya?

    Herannya..

  7. 3
    Bagong Julianto Says:

    Bahasa menunjukkan bangsa……
    Tantangan bangsa kita adalah: memperluas pengajaran bahasa Indonesia dan tetap menjaga pelestarian bahasa daerah. Punahnya bahasa daerah, ikut melenyapkan kebajikan lokal warisan nenek moyang, semisal resep lokal kuno dsb…..
    Banyak hal, harus diakui, mesti belajar dari bangsa lain….

  8. 2
    Linda Cheang Says:

    Dian, kalo aku bukan tahap mati-mati lagi belajar bahasa asing non English sekarang ini, tapi udah mau mati beneran rasanya

  9. 1
    James Says:

    ONE Language Trainning

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)