Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Kemiskinan atau Penderitaan

Monday, 30 July 2012

Viewed 870 times, 1 times today | 17 Comments |

Sugiyarti Ugie

 

Ketika pulang ke kampung halaman, aku bertemu dengan teman kecilku yang sekarang menjadi istri seorang petani dan dia sendiri menjadi pedagang di pasar. Sebut saja Asih. Asih berdagang apa saja; kadang sayur-sayuran, buah-buahan, kelapa, ayam atau apa saja sesuai dengan musim dan apa yang didapatnya untuk bisa dijualnya hari itu.

Secara materi mungkin hidupnya sederhana,  tapi gak ada raut sedih di wajahnya yang selalu cerah, ramah!! Mungkin  kondisi ekonominya dapat dikatagorikan pas-pasan,  karena Asih dan keluarga  setiap hari menu makannya:   nasi, sayur, lauknya  selalu tahu atau  tempe pun sudah: alhamdulillah, bayar sekolah kadang nunggak, perabotan rumahnya pun minimalis alias seadanya.

Tapi hidupnya tenang, damai, rukun,  dan dari cerita obrolan kamipun  aku tahu  dalam diri Asih gak ada sedikitpun rasa iri pada tetangga yang ‘lebih ‘ rejekinya, atau  punya keinginan ini dan itu yang berlebihan dan mereka juga rajin beribadah. Walaupun menurutnya hidupnya terasa gak ada perubahan dari waktu ke waktu, tetapi itu adalah anugerah Tuhan: apapun. Wajib, kudu disyukuri…katanya.

Tentramnya…. Damainya…

Ada seorang ibu rumah tangga yang suaminya terpandang dan berpenghasilan baik, lebih dari cukup. Menu makanan tiap harinya melimpah ruah, rumahnya besar dan mewah. ., namun ia merasa dirinya masih sial dan miskin. Merasa miskin karena  si Ibu ini kadang iri dan panas kepada teman suaminya yang menurutnya sederajat dengan suaminya tetapi mempunyai deposito yang wahhh luar biasa digitnya, mobilnya lebih kerenz, rumahnya amat sangat mewah. .dlll.. dsb. Si Ibu ini merasa lebih miskin dan tiada beruntung.

Huff…

Tetanggaku seorang guru; sudah tujuh belas tahun mengajar. ., berbelasan tahun  sebagai tenaga honorer yang rajin, berdedikasi dan ’care’.    Kulihat  secara materi (maaf) kayanya gak punya apa-apa dibanding teman-teman kuliahnya. . apalagi teman-teman SMA-nya yang okee  alias TOP semua.  Tetapi aku lihat dia tetep happy, cantik dan murah senyum. .. iya sih kadang uring-uringan kalo pas kefefet gak punya dokat mungkin. . ..

Hahaha. . sapa tuh. . bu Ugie yaaa..????

(maaf. ..he2. .curhat deehhh)

Melihat kenyataan-kenyataan di sekitarku, tadi ketika hujan membuatku basah kuyup, dan aku berjalan pelan-pelan melewati gang-gang sempit aku bertanya dalam hati:  “Apakah yang harus di cari dalam hidup ini? “

Kaya raya  sampai cukup untuk tujuh turunan kah?  Tetapi tidak pernah tenang hatinya, selalu ‘panas’, iri  pada orang lain.  Kaya tetapi selalu dikejar rasa bersalah karena membabi buta merenggut hak orang lain?

Atau menyadari, menerima kekurangan itu dan terus menjalankan hidup selaras dengan hati nurani dan keyakinan yang benar dan berbuat sebaik mungkin? Tidak menyakiti orang lain, tidak merampok hak orang lain dan bertakwa kepada Tuhan?

Banyak orang merasa bahwa kemiskinan adalah penderitaan. Benarkah??? Tetapi menurut kesimpulanku (dari pengamatanku) kemiskinan dapat pula bukan penderitaan; semua tergantung sikap pandang kita terhadap harta milik  dan keberuntungan. Manusia berusaha tetapi Tuhanlah yang menentukan!! Kadang yang bekerja keras dan baik rejeki yang didapat pas-pasan. Ada kalanya, orang yang suka menipu, manipulasi, malas. . namun rejekinya mengalir derassss… tetapi bukan perolehan sesaat yang membuat ‘tenang hati ‘, proses untuk mendapatkannya  dan kita mari  lihat hasil akhirnya ya…

Orang bijak berkata: sikap kita terhadap kekayaan, ketidakberuntungan ataupun kemiskinan akan menentukan kita menderita atau tidak. Karena penderitaan berasal dari sikap hidup kita sendiri.

Sikap untuk dapat menerima kenyataan yang harus diterima: waktu kita beruntung; kita terima dengan rasa syukur, waktu menerima kemalangan harus diterima dengan sabar, ikhlas.

Menerima apapun yang menjadi bagian dari diri kita sambil terus berusaha berperilaku yang terbaik sesuai dengan hati nurani paling dalam, maka dunia akan terasa terang benderang!!

Damai.., tentram.. seperti keluarga Asih  itu.

Mungkin kemiskinan adalah salah satu  penderitaan. Tapi sejatinya penderitaan datang dari hati manusia itu sendiri. Merasa disingkirkan, dikucilkan, di benci adalah penderitaan.  Tertekan, tidak bebas adalah penderitaan.  Merasa bersalah; menderita juga.  Dihina, direndahkan tentu menderita.  Berhutang menderita lagi. Dan. . yang paling sering banget:  menanggung sakit berat   adalah penderitaan yang luar biasa!!  Iyaaa..kan?

Memang kemiskinan adalah salah satu penderitaan bagi banyak orang, tetapi dalam sejarah kita tahu banyak orang yang merasa bahagia setelah meninggalkan kekayaannya dan sengaja menjadi miskin ! Mungkin antara lain Sang Budha Gaotama, Mahatma Gandhi. . atau yang lainnya yang gak aku tahu. (ngeles. deh: males buka buku nih).

Dengan kemiskinan; hatinya menjadi bersih, tak terikat hawa nafsu; seperti nafsu dipuji (jadi inget; ketika menerima pujian dueeh. .. haduuw), dikenal, dihormati, ataupun kemudahan dan kenyamanan hidup.

Menurut beliu  miskin adalah berkah. .., karena akan mendekatkan diri dengan kebenaran; katanya karena ikatan duniawinya lebih tipis. BEBAS..

Tetapi  dalam perenunganku, kemiskinan yang hueebat adalah kemiskinan rohani seperti keserakahan, iri hati, intrik, jegal-jegalan, tipu-tipu, gak tahu malu. … dan mungkin inilah penyebab  penderitaan sejati. MUNGKIN.

Inilah mungkin  kemiskinan yang jelas-jelas  harus diberantas segera.

 

Share This Post

Posted by Monday, 30 July 2012 on 07:43.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

17 Responses to “Kemiskinan atau Penderitaan”

Pages: [2] 1 »

  1. 17
    ugie Says:

    @ mbak Krist Esti makasih ..salam hangat dari Jakarta

  2. 16
    ugie Says:

    @ mas Bagong Julianto : mari berbagi tanpa sisa ..
    makasih ya mas , kerso mampir di sini . salam

  3. 15
    ugie Says:

    @ mbak Evi Irons : iya mbak .. saya setuju ..ketentraman ada di hati kita .. salam

  4. 14
    Bagong Julianto Says:

    Miskin harta, kaya hati….
    Kaya harta, luas berbagi….

  5. 13
    Evi Irons Says:

    Semuanya tergantung hatimu. Sebenarnya ….orang miskin itu dikaruniai hati yang sabar, rendah hati, mau mengalah, walaupun dikasih berkat sedikit senang banget rasanya, Dan Lebih dekat dengan Tuhan Karena sangat bergantung dan tidak punya apa-apa lagi.

  6. 12
    ugie Says:

    DA :yaa..betul, itu ukurane materi…makasih ya

  7. 11
    ugie Says:

    bung E.A Inakawa ( mudah2an benar bung , kalo salah maaf ) : hehe ..makasih ya , tp bukan sastra to yo , itu hanya oret2an dari hati yang gundah. Insya Allah kita dapat selalu bersyukur .

    Salam angin cepoi-cepoi…

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)