Sugiyarti Ugie
Ketika pulang ke kampung halaman, aku bertemu dengan teman kecilku yang sekarang menjadi istri seorang petani dan dia sendiri menjadi pedagang di pasar. Sebut saja Asih. Asih berdagang apa saja; kadang sayur-sayuran, buah-buahan, kelapa, ayam atau apa saja sesuai dengan musim dan apa yang didapatnya untuk bisa dijualnya hari itu.
Secara materi mungkin hidupnya sederhana, tapi gak ada raut sedih di wajahnya yang selalu cerah, ramah!! Mungkin kondisi ekonominya dapat dikatagorikan pas-pasan, karena Asih dan keluarga setiap hari menu makannya: nasi, sayur, lauknya selalu tahu atau tempe pun sudah: alhamdulillah, bayar sekolah kadang nunggak, perabotan rumahnya pun minimalis alias seadanya.
Tapi hidupnya tenang, damai, rukun, dan dari cerita obrolan kamipun aku tahu dalam diri Asih gak ada sedikitpun rasa iri pada tetangga yang ‘lebih ‘ rejekinya, atau punya keinginan ini dan itu yang berlebihan dan mereka juga rajin beribadah. Walaupun menurutnya hidupnya terasa gak ada perubahan dari waktu ke waktu, tetapi itu adalah anugerah Tuhan: apapun. Wajib, kudu disyukuri…katanya.
Tentramnya…. Damainya…
Ada seorang ibu rumah tangga yang suaminya terpandang dan berpenghasilan baik, lebih dari cukup. Menu makanan tiap harinya melimpah ruah, rumahnya besar dan mewah. ., namun ia merasa dirinya masih sial dan miskin. Merasa miskin karena si Ibu ini kadang iri dan panas kepada teman suaminya yang menurutnya sederajat dengan suaminya tetapi mempunyai deposito yang wahhh luar biasa digitnya, mobilnya lebih kerenz, rumahnya amat sangat mewah. .dlll.. dsb. Si Ibu ini merasa lebih miskin dan tiada beruntung.
Huff…
Tetanggaku seorang guru; sudah tujuh belas tahun mengajar. ., berbelasan tahun sebagai tenaga honorer yang rajin, berdedikasi dan ’care’. Kulihat secara materi (maaf) kayanya gak punya apa-apa dibanding teman-teman kuliahnya. . apalagi teman-teman SMA-nya yang okee alias TOP semua. Tetapi aku lihat dia tetep happy, cantik dan murah senyum. .. iya sih kadang uring-uringan kalo pas kefefet gak punya dokat mungkin. . ..
Hahaha. . sapa tuh. . bu Ugie yaaa..????
(maaf. ..he2. .curhat deehhh)
Melihat kenyataan-kenyataan di sekitarku, tadi ketika hujan membuatku basah kuyup, dan aku berjalan pelan-pelan melewati gang-gang sempit aku bertanya dalam hati: “Apakah yang harus di cari dalam hidup ini? “
Kaya raya sampai cukup untuk tujuh turunan kah? Tetapi tidak pernah tenang hatinya, selalu ‘panas’, iri pada orang lain. Kaya tetapi selalu dikejar rasa bersalah karena membabi buta merenggut hak orang lain?
Atau menyadari, menerima kekurangan itu dan terus menjalankan hidup selaras dengan hati nurani dan keyakinan yang benar dan berbuat sebaik mungkin? Tidak menyakiti orang lain, tidak merampok hak orang lain dan bertakwa kepada Tuhan?
Banyak orang merasa bahwa kemiskinan adalah penderitaan. Benarkah??? Tetapi menurut kesimpulanku (dari pengamatanku) kemiskinan dapat pula bukan penderitaan; semua tergantung sikap pandang kita terhadap harta milik dan keberuntungan. Manusia berusaha tetapi Tuhanlah yang menentukan!! Kadang yang bekerja keras dan baik rejeki yang didapat pas-pasan. Ada kalanya, orang yang suka menipu, manipulasi, malas. . namun rejekinya mengalir derassss… tetapi bukan perolehan sesaat yang membuat ‘tenang hati ‘, proses untuk mendapatkannya dan kita mari lihat hasil akhirnya ya…
Orang bijak berkata: sikap kita terhadap kekayaan, ketidakberuntungan ataupun kemiskinan akan menentukan kita menderita atau tidak. Karena penderitaan berasal dari sikap hidup kita sendiri.
Sikap untuk dapat menerima kenyataan yang harus diterima: waktu kita beruntung; kita terima dengan rasa syukur, waktu menerima kemalangan harus diterima dengan sabar, ikhlas.
Menerima apapun yang menjadi bagian dari diri kita sambil terus berusaha berperilaku yang terbaik sesuai dengan hati nurani paling dalam, maka dunia akan terasa terang benderang!!
Damai.., tentram.. seperti keluarga Asih itu.
Mungkin kemiskinan adalah salah satu penderitaan. Tapi sejatinya penderitaan datang dari hati manusia itu sendiri. Merasa disingkirkan, dikucilkan, di benci adalah penderitaan. Tertekan, tidak bebas adalah penderitaan. Merasa bersalah; menderita juga. Dihina, direndahkan tentu menderita. Berhutang menderita lagi. Dan. . yang paling sering banget: menanggung sakit berat adalah penderitaan yang luar biasa!! Iyaaa..kan?
Memang kemiskinan adalah salah satu penderitaan bagi banyak orang, tetapi dalam sejarah kita tahu banyak orang yang merasa bahagia setelah meninggalkan kekayaannya dan sengaja menjadi miskin ! Mungkin antara lain Sang Budha Gaotama, Mahatma Gandhi. . atau yang lainnya yang gak aku tahu. (ngeles. deh: males buka buku nih).
Dengan kemiskinan; hatinya menjadi bersih, tak terikat hawa nafsu; seperti nafsu dipuji (jadi inget; ketika menerima pujian dueeh. .. haduuw), dikenal, dihormati, ataupun kemudahan dan kenyamanan hidup.
Menurut beliu miskin adalah berkah. .., karena akan mendekatkan diri dengan kebenaran; katanya karena ikatan duniawinya lebih tipis. BEBAS..
Tetapi dalam perenunganku, kemiskinan yang hueebat adalah kemiskinan rohani seperti keserakahan, iri hati, intrik, jegal-jegalan, tipu-tipu, gak tahu malu. … dan mungkin inilah penyebab penderitaan sejati. MUNGKIN.
Inilah mungkin kemiskinan yang jelas-jelas harus diberantas segera.
August 1st, 2012 at 18:48
@ mbak Krist Esti makasih ..salam hangat dari Jakarta
August 1st, 2012 at 18:47
@ mas Bagong Julianto : mari berbagi tanpa sisa ..
makasih ya mas , kerso mampir di sini . salam
August 1st, 2012 at 18:46
@ mbak Evi Irons : iya mbak .. saya setuju ..ketentraman ada di hati kita .. salam
August 1st, 2012 at 09:22
Miskin harta, kaya hati….
Kaya harta, luas berbagi….
August 1st, 2012 at 03:20
Semuanya tergantung hatimu. Sebenarnya ….orang miskin itu dikaruniai hati yang sabar, rendah hati, mau mengalah, walaupun dikasih berkat sedikit senang banget rasanya, Dan Lebih dekat dengan Tuhan Karena sangat bergantung dan tidak punya apa-apa lagi.
July 31st, 2012 at 20:37
DA :yaa..betul, itu ukurane materi…makasih ya
July 31st, 2012 at 17:47
bung E.A Inakawa ( mudah2an benar bung , kalo salah maaf ) : hehe ..makasih ya , tp bukan sastra to yo , itu hanya oret2an dari hati yang gundah. Insya Allah kita dapat selalu bersyukur .
Salam angin cepoi-cepoi…