Suami Takut Istri

El Hida

 

Aku Fatturohman. Aku terkenal di kampungku sebagai suami yang sangat takut kepada isteri. Aku tak pernah sedikitpun melanggar kemauan isteriku walaupun yang diinginkan olehnya adalah salah dan dosa. Sering sekali peran kami dalam rumah tangga jadi terbalik. Aku menjadi ma’mumnya dan ia yang menjadi imamnya. Aku sadari entah kenapa aku tak bisa melanggar kemauan isteriku. Aku sangat takut kalau isteriku marah. Sebab jika ia marah seisi dapur akan jadi seperti kapal pecah. Piring dan gelas yang terbuat dari beling akan menjadi puing-puing. Makanya sejak kejadian ia ngamuk yang terakhir ketika semua barang pecah belah benar-benar dipecah dan dibelahkannya, aku mengganti semua barang yang ada di dapur dengan barang-barang yang terbuat dari melamin yang tak mudah pecah.

“Ayah, ke sini!!” Nah itu dia, kalau isteriku sudah teriak-teriak begitu itu tandanya rumah akan berubah menjadi kapal pecah. Koq ia sudah berada di rumah lagi ya, heran. Padahal tadinya ia bilang mau pergi lama, mau mengantarkan pesanan kue kering.

“Ayah, buruan! Lama banget. Emang lagi ngapain sih?” Isteriku teriak lagi. Aku gak mau menjawabnya. Aku sudah capek dengan ia yang selalu marah-marah kepadaku. Aku sama sekali tak dihargainya sebagai suami. Aku lebih mirip budak, dan isteriku majikannya. Ini tidak benar. Seharusnya ia yang menjadi budakku, ia yang harus tunduk kepada kemauanku. Tapi aku bukan lelaki egois yang hanya mementingkan kesenanganku sendiri.

Jujur saja sebenarnya aku bosan dengan kelakuan isteriku yang sepertinya memang tak bisa menghargaiku sebagai suaminya. Aku akui aku yang salah memilih memang, tapi aku memang sangat mencintainya. Aku rela dijadikan apapun olehnya asal ia tidak meninggalkanku. Aku cinta mati kepadanya, dan inilah yang menjadi senjatanya. Ia tahu aku sangat mencintainya lalu ia sangat gampang mengkompasku.

Seseorang yang sudah mencintai dengan sangat itu, ia pasti akan melakukan apapun yang diinginkan oleh orang yang dicintainya walaupun ia tidak bisa karena memang tidak mampu. Itu pertama. Yang kedua, ia akan sering menyebut nama orang yang dikasihinya walaupun namanya tak seindah kelakuannya. Dan ketiga, ia akan mema’afkan segala kesalahan orang yang dicintainya walaupun hatinya sangat merasakan kesakitan yang tiada terkira sakitnya.

“Ayah!!!” Ia teriak semakin kencang. Tak perlu TOA masjid kalau isteriku mau memanggil siapapun yang ingin dipanggilnya. Suaranya yang lantang bagai rantang dilempar ke lantai, akan sangat terdengar jelas ke jarak beberapa meter dari rumah. Dan tetanggaku sudah tidak heran kalau isteriku sudah teriak-teriak begitu, berarti siap-siap akan segera ada kapal pecah di rumahku. Suara piring dan gelas yang dilempar bebas, suara pintu kamar dan pintu rumah yang ditutup keras, semuanya menjadi pemandangan yang biasa.

“Kamu di mana? Kenapa tak keluar. Jangan sembunyi kamu Yah! Aku sudah tahu kelakuanmu sama warga desa yang membuat telingaku panas seperti mau terbakar. Lihatlah kepalaku hampir gosong, otakku menggolak. Kenapa kamu diam saja? PRANG BRUGH CRENG TRING KLONTRANG!!” Tuh, benar kan. Apa kubilang. Rumah ini akan segera menjadi kapal pecah. Aku sudah biasa. Dan nanti anakku yang selalu siap untuk membereskannya. Sayangnya sekarang anakku sedang ikut pengajian pesantren kilat di salah-satu pondok pesantren di Tasikmalaya. Ya, berarti harus aku yang nanti membereskannya. Tak mengapalah, lumayan untuk sebagai ladang sabar. Akumah santai sajalah di sini. Di pelapon.

“Ayah, dengerin ini ya. Jangan hanya karena aku sedang pergi, kamu lalu enak-enakkan main di Pos Ronda. Ngabeubeurang itu harus dengan hal yang bermanfaat dong. Lihat tuh, peralatan membuat kue pada kotor semua, kenapa gak dicuci? Aku kan tadi sudah bilang, habis dzuhur aku pasti akan sampai rumah lagi karena tempatnya dekat. Masa baru ditinggal sebentar kamu malah main catur sama Si Burhan.”

Ya Salaam, aku lupa membersihkan peralatannya membuat kue kering. Sebenarnya bukan lupa sih, tapi sengaja aku lupa-lupakan. Aku capek. Semalaman aku begadang karena harus mengemas kue-kue kering yang sudah jadi yang harus dikirim ke pemesan pada hari ini. Aku ngantuk. Tapi aku tak mungkin tidur. Bisa lebih gawat dari ini kalau isteriku tahu aku tidur di siang hari. Bisa menjauhkan rizki, katanya. Padahal tanpa tidur siang haripun si Rizki gak bakal dekat, orang dia udah pergi dari desa ini ke luar kota untuk berjualan es campur supaya bisa membeli baju untuk lebaran.

“BRAK JRENG TROK PRANG SREK BUSS PROT CRONG KESSS” Itu bunyi apaan diapakan ya. Koq suaranya gitu. Ya ampun, ini masih jam sebelas siang. Aku harus segera pergi. Tapi bagaimana caranya keluar dari rumah ini sementara ada isteriku sedang mengacak-acak rumah. Ya Salaam, hapeku ketinggalan di kamar. Dzuhur nanti aku giliran adzan di masjid.

“Ayah, aku bilangin ya. Kalau kamu gak mau keluar itu tandanya kamu mau bercerai denganku. Aku tak peduli. Kamu pergi saja dengan teman-temanmu. Mereka lebih menyenangkan dariku kan? Mereka tak pernah marah-marah sepertiku kan? Silahkaaaaan kalau memang kamu memilih mereka daripada aku. Aku gak apa-apa. Aku memang begini. Pemarah. Dan pasti kamupun sudah bosan dengan kelakuanku kan? Tak mengapa!! Aku akan pergi saja dari rumah ini. Apapun sekarang terserah kamu, asal kamu tak mencari aku. Aku akan pulang ke rumah orang tuaku. Aku akan katakan kepada mereka bahwa kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Kamu lebih mememilih tertawa-tawa dan bermain catur dengan warga di Pos Ronda!!” Ya Tuhan, aku sungguh capek. Padahal baru kali ini aku bermain di Pos Ronda. Entah siapa yang memberitahukannya kepada isteriku. Aku hanya mencoba menghilangkan penat di kepalaku. Aku bosan, Tuhan, apakah aku memang ditakdirkan untuk menjadi budak bagi isteriku yang hanya bisa diperintah tanpa bisa memerintah? Sampai kapan aku harus sabar, Tuhan.

“Ayah, aku tahu kamu ada di rumah ini. Kalau kamu tak keluar dalam hitungan sepuluh, maka itu artinya kamu menginginkan kita untuk pisah dan aku akan pulang ke rumah orangtuaku!” Hiks, aku memang menginginkanmu untuk pulang ke rumah orangtuamu, tapi bukan untuk bercerai, melainkan untuk mengatakan kepada orangtuamu bahwa kamu menjajahku.

“Satu!” Kamu harusnya sadar bahwa menjadi seorang isteri haruslah mengabdi kepada suami, bukan mengabdikan suami.

“Dua!” Kamu seharusnya menjadi makmum yang baik, yang selalu taat kepadaku sebagai imam di rumah ini.

“Tiga!” Kamu seharusnya mengerti kepada perintah Tuhan untuk bisa menjadi wanita shalihah yang bisa menenangkan hati suami, bukan menghancurkannya.

“Empat!!” Kamu juga harus sadar bahwa tidak boleh menjadi pemarah, sebab itu adalah sifatnya syetan.

“Lima!!” Kamu juga seharusnya mencontoh bagaimana isteri-isteri Nabi mengabdi kepada suaminya.

“Enam!!” Kamu harus sabar sebab Alloh mencintai orang yang bersabar.

“Tujuh!! Ini serius ya, kalau kamu masih belum keluar juga, maka aku akan benar-benar pergi!!” Kamu seharusnya berhusnudzon, jangan sampai hanya karena aku mencoba menghilangkan kepenatan kamu bisa jadi semarah ini.

“Delapan!!!” Kamu juga harus faham perasaanku. Aku bukanlah pembantu di rumah ini. Aku ayah dari anakmu. Aku harusnya kau hormati sebagaimana kau hormati orang lain yang telah berbuat baik kepadamu.

“Sembilan!!!!” Kamu seharusnya mengerti saat airmataku jatuh karena menahan sakit di hatiku. Sakit karena aku merasa telah gagal menjadi suami karena tak menjadikanmu isteri yang dituntut syari’at. Isteri yang benar-benar mengabdi kepada suaminya demi mendapati keridhoanNya. Isteri yang akan dicemburui oleh para bidadari syurga karena kesholihahannya. Isteri yang dicintai malaikat karena keanggunan hatinya. Isteri yang beisa meghapus airmata suaminya dengan kelembutan tangannya. Isteri yang tidak hanya menjadi teman di tempat tidur, juga teman di akhirat yang akan mampu menyelamatkan suaminya dari api neraka. Isteri yang tidak hanya berpuasa dari makan dan minum, tetapi juga berpuasa dari amarah. Isteri yang diungkapkan Rosul SAW. Sebagai perhiasan terindah. Isteri yang… subhaanallooh, isteri yang seharusnya menjadi tempat berlabuh saat aku merasakan kepedihan yang dalam dalam hidup.

“Sepuluh!!! Berarti kamu memang menginginkanku pergi dari sini. Baiklah, jangan harap aku akan kembali kepadamu. Aku akan pulang dan akan segera mengajukan cerai ke pengadilan agama!!” suasana rumah menjadi hening. Mungkin isteriku sedang mengemas barang-barangnya. Aku tak perduli apapun keinginannya. Silahkan pergi, silahkan bawa amarahmu. Aku menahan sakit di dadaku yang kian sesak.

“Brugh!!” Aku dengar isteriku menutup pintu dan menyalakan motor lalu pergi dengan kecepatan tinggi. Aku lalu turun dari pelapon untuk melihat isteriku yang berlalu meninggalkan rumah membawa tangis dan amarahnya. Airmataku tak henti mengalir. Aku saksikan rumah benar-benar berantakkan, seperti hatiku.

“Kriiiing kriiiing!!!” Telepon rumah berdering. Aku segera mengangkatnya karena tidak jauh dari tempatku berdiri menyaksikan isteriku berlalu. Dan tak terasa aku belum juga duduk walaupun isteriku sudah tak terlihat.

“Hallo, selamat siang!” Seorang lelaki di ujung telepon.

“Iya selamat siang pak, dengan siapa ini?”

“Saya dari kepolisian, apakah benar anda yang bernama Bapak Fatturohman?”

“Iya saya, ada apa ya pak…”

“Anda kenal dengan Ibu Sukirah?”

“Iya, ia isteri saya pak. Ada apa ya?”

“Mohon ma’af sebelumnya, isteri bapak meninggal. Sekitar sepuluh menit yang lalu, isteri bapak menabrak mobil yang mengerem mendadak dengan kecepatan tinggi. Sekarang mayatnya hendak kami bawa ke rumah sakitu untuk visum. Saya harap bapak segera datang ke TKP di jalan raya Cisoca nomor 12. Saya tunggu ya pak. Selamat siang.”

Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun. Engkau maha pemberi nikmat yaa Alloh, berikan hamba kesabaran dalam menghadapi segala kuasaMu. Aamiin.

 

Khatam

Elhida 260712

 

21 Comments to "Suami Takut Istri"

  1. Paman Ahrin  9 March, 2017 at 17:51

    Akhir cerita yang banyak dinanti Pria yang beristri galak, pemalas, pemboros dan penghutang. Diluar sana tak sedikit yang berakhir dimeja hijau Pengadilan Agama ketika maut tak juga mereda kegalakan si Istri yang bergaya hidup melebih kemampuan suaminya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.