Tuesday, 31 July 2012
Alexa – Jakarta
Sembari mengambil foto bunga teratai di kuil Budha yang terletak di seberang candi Mendut, saya berkata pada adik, “Nih kamera canggih banget. Masa pas motret teratai eh dia keluarin ikon lotus. Tadi pas ambil foto candi Mendut eh dia keluarin ikon panorama. Ckckckckck…dia menyesuaikan diri sesuai kebutuhan.”
sudut candi mendut
lotus yang macro
Adik langsung menjawab, “Bukan gitu, moso kalo motret kebo keluar icon kebo. Icon lotus tuh artinya posisi kamera sedang mengambil foto macro. Kamera sekarang memang menyesuaikan diri dengan situasi pengambilan gambar. Makanya pas mbak ambil gambar pohon dari jauh gitu yang keluar adalah icon panorama.” Iya bulik, kemarin kameranya dah aku setel, sela ponakan. Dan saya cuma bisa ngakak menyadari ketidak mengertianku pada kamera DSLR yang baru dibeli. Pada dasarnya saya bukan seorang gadget freak, pakai Blackberry juga baru-baru ini karena konon kantor mengupdate kabar melalui BBM grup. Tapi baru saja saya beli dah ketauan teman saya yang BBM freak malah ketinggalan kabar kantor dibandingkan saya yang ga berBBM. Akibatnya BB tidak terlalu didayagunakan. Sampai-sampai no PIN harus ditempel di belakang BB sebab ga berniat buat inget-inget, “Jijay bajay ih,” teman-teman saya ketawa tiap lihat saya sodori no PIN itu saat mereka mau invite saya.
Kamera DSLR ini “terpaksa” dibeli karena si Bocah yang kuliah jurnalistik mengikuti kelas Photography. Itupun menyisakan cerita yang sedikit mengharukan saat saya sadar kalau si Bocah badannya makin kurus, “Kamu kok makin kurus aja. Kalau jam istirahat, jajan yang mengenyangkan lah. Kan kamu kuliah sampai Maghrib gitu.”
Uang sakuku habis, jawab si Bocah. “Hah? Gimana caranya? Kan uang sakunya cukup longgar.”
Aku pake buat nyewa kamera teman kalau ada tugas photographi, Rp.50,000.- sehari.
“Loh kok pake nyewa, kamu kan bisa pake aja kamera digital Bunda.”
Si Bocah kemudian menjelaskan tugas photographynya yang memerlukan kamera DSLR, juga menjelaskan harga DSLR yang cukup mahal. Rupanya dia ga tega sama emaknya sebab uang kuliahnya aja sudah cukup tinggi. Sayapun segera menanyakan ihwal kamera DSLR pada teman-teman yang hobi fotographi termasuk dengan mbak Ary Hana. Beberapa tipe untuk pemula disarankan teman-teman termasuk jenis Nikon D1000, “Tapi pakai kamera tipe ini berarti kamu harus maju mundur membidik obyek.” Kamera yang aneh, udah mahal eh mesti maju mundur, demikian pikirku.
si Bocah dari panggung ke panggung berburu hadiah
Akhirnya suatu siang di suatu toko kamera, bersama si Bocah melihat-lihat beberapa kamera DSLR. Si Bocah menyerahkan pilihan pada saya dan pilihan jatuh pada DSLR keluaran Fuji sebab gambarnya kelihatan paling terang, jangkauan lensanya sampai 30 meter dan harganya paling bersahabat dengan kantong. Kamera dibawa si Bocah ketempat kostnya. Dan kemudian saya lihat iklan department store electronic di koran..kamera itu termasuk item yang diiklankan tapi harganya beda banget, lebih mahal Rp.3 jutaan. Insting saya segera bekerja, “sumthing wrong nih.”
Dan adik menjelaskan, “Mungkin kameramu itu barang Black Market mbak. Coba lihat kartu garansinya.” Pas gitu, si Bocah telpon, “Aku ga bisa pakai kameranya. Programnya aneh.” Tambah mencelos nih dada, langsung bersama si Bocah ke service centernya…bujuuug cuman toko mungil di kawasan Ambassador…kesimpulannya 100% BM nih. Petugas di sana menjelaskan bahwa kamera Fuji memang diciptakan otomatis, istilahnya “palaluda – apa yang lu minta gue ada”, ga perlu improvisasi. “Ini memang kamera buat orang-orang yang ogah susah.”……saya mesem-mesem sementara si Bocah cuma manyun-manyun.
Sampai di rumah, saya langsung OL buat curcol panik ke teman-teman tapi dasar mereka fotografi maniac…masalah garansi toko mah urusan cemen buat mereka. Lah beli kamera rusak terus didandani sendiri aja pernah. Mereka malah menggoda, “Udah, entar kalau kamera itu jebol. Kamu buang aja ke tempatku, kamu tinggal beli yang baru. “ Entah kenapa saya jadi tenang walaupun tidak berarti saya bisa memperbaiki kamera seperti mereka.
Akhirnya saya penasaran juga untuk memakai kamera DSLR ini dan menikmati kegiatan bidik membidik terutama sewaktu liburan di Jogja lalu. Saat-saat mengabadikan permainan cahaya merupakan hal yang menarik perhatian saya saat ini.
Macam cahaya ciptaan Ilahi ini.
dan kemudian pagipun menjelang
Bahkan di atas setumpuk lumpia goreng…cahaya mentari menari indah:
lumpia mbak lien-semarang
Ataupun cahaya spot light seperti di sini.
ramayana @ prambanan
Gambar terlihat kecil karena tempat duduk saya yang kelas III terlalu jauh dari panggung, bahkan lensa 30 m tidak cukup membantu. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari angle yang lain dan mengendap-endap meninggalkan tempat duduk dari batu itu. Di belakang panggung saya malah bertemu dengan Rahwana dan Rama yang duduk akrab menanti giliran.
rahwana dan rama duduk bersama
Di dekatnya Hanoman yang merupakan peran paling energik dengan gerakannya yang pethakilan dan muncul dari berbagai penjuru pintu panggung sedang melakukan stretching di antara dua dinding dan somehow saya tak tega mengambil gambarnya. Saya juga bertemu si cantik pemeran Sinta yang sedang leyeh-leyeh, tak menyia-nyiakan kesempatan, saya minta foto bersama. Si mbak cantik langsung berdiri dan berkeras memasang mahkotanya. Perhatikan gambar, dia tak memakai sumping (perhiasan di kuping) karena saya bujuk gitu, “Kasihan mbaknya jadi repot.”
Akhirnya dengan mengendap-endap dalam gelap, bisa juga saya masuk ke kelas VIP yang berada tepat di depan panggung dan memberikan keleluasaan mengambil gambar:
tarian api yang keren @ prambanan
Akhirnya saya tertarik mengikuti kegiatan Weekly Photo Challenge yang diselenggarakan Kampretos dan terkagum-kagum dengan karya teman-teman. Sewaktu Granito menjelaskan metode pengambilan fotonya yang keren dengan kamera pocket digital, saya jadi terheran-heran dengan istilah yang disebutkan “Pembukaan diafgramnya…”. Haah, pembukaan? Lah kok yang teringat malah momen melahirkan ya….hihihi. Eniwei buswei….mainan baru ini benar-benar mengasyikan.
Semua foto 100% karya penulis..
Yang ini penulis dengan mainannya di Mirota Batik, Malioboro
August 2nd, 2012 at 07:05
hahaha……ketawa, ikut2an Nitnot ae ah
August 1st, 2012 at 17:34
Hahaha…ono dua Buto yang kerengan… Tumben emang Budus mecungul
August 1st, 2012 at 17:16
lha kan buto ngawur e metu, mbok sana artikelku sing ono foto ne di buka…. diliat propertiesnya kamerane opo hahhahahaha
August 1st, 2012 at 16:03
JC…….wkwkwkwkw…ouh Budus ki mung ngaku2 tho….
iyo yo mendadak de’e mecungul…mesti gara2 ndelok pic sing terakhir kwi….wkwkwkwk
August 1st, 2012 at 16:02
@tenane ki apik foto2ku, mas Hand?….
August 1st, 2012 at 16:01
Alexa, kalau BuDus dari dulu memang sudah klepek-klepek dengan avatar lambe itu, makanya biarpun camera dia Canon atau Nikon dia akan ngaku SAMA-SAMA FUJI…

August 1st, 2012 at 16:00
@JC….weeh golek perkoro terooos mbek Lani ki….mesti mengko diuber sembari ngacung2ke munthu
August 1st, 2012 at 15:59
wuiiih ndomblong moco komen2 ne….thank u, kamsia atas saran2nya….
@mbah, kemampuan financial penulis yo kalah tho ma yang wis jauh2 merantau ke negeri orang gitu…
@JL…wuh podo2 tho duwe Fuji…
@Hennie….nah tho kameranya dah canggih gitu…..hayuuh kita mainkan…
@Pampam…..moga2 ga bosen ah…nih dah bikin daftar hunting yang jauuuuh2 skalian…
August 1st, 2012 at 15:53
Mbah Gand, mau meng-kursus Lani?
mau pakai pocket, DSLR, Leica, Hasselblad atau Phase One sekalipun, kalau Lani ya paling dijadikan ulekan untuk serep iPhone dia yang sudah jadi ulekan lebih dulu… 
Eh, tapi kalau dibayari mabur ke Hawaii, boleh juga, mau berhasil atau tidak, mau jadi munthu atau ganjal pintu, yang penting mabur gratis…
August 1st, 2012 at 15:19
Benar sekali mbah….. pake gitu aja, jadi murah 2-2nya….
tapi pilihan hati sekarang ada di Panasonic. (poket kamera)…. lagi males bawa si DSLR, gede2 gituh… hahahaha (malesnya keluar)