30 Hari Keliling Sumatra

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: 30 Hari Keliling Sumatra

Penulis: Ary Amhir

Penerbit: Through The Glass Art Foundation

Tahun terbit: 2011

Tebal: 150  halaman

 

Apa yang bisa didapat melalui perjalanan 30 hari keliling Sumatra? Mengelilingi sebuah pulau yang luasnya 443 ribu km2 lebih, didiami paling tidak 52 suku bangsa. Apalagi perjalanan itu dilakukan dengan kendaraan darat dengan biaya murah pula; empat juta rupiah tidak habis. Jangan kecewa. Ary Amhir memandu kita mengenal Sumatra selama 3 abad dari kunjunganya yang hanya dalam 30 hari.

Buku ini bukan sekedar buku catatan perjalanan yang hanya menceritakan keindahan alam saja. Ary Amhir secara renyah menyampaikan pengalamannya tentang Sumatra dari berbagai perspektif. Dalam menyampaikan fakta-fakta yang ditemuinya, Ary melengkapi dengan informasi-informasi tentang fakta tersebut, yang kadang rentangnya telah 3 abad.

Ary mengajak kita mengenal adat dan respon komunitas modern terhadap adat tersebut. Dia juga mengajak kita mengenal budaya dan orang- orang muda yang bergiat untuk melestarikannya. Sumatra adalah sebuah pulau yang didiami oleh beragam suku bangsa. Tidak lupa Ary mengenalkan kita dengan berbagai suku yang ditemuinya. Dijelaskannya Suku Minang, Mandailing, Gayo, Karo, Melayu, China dan sebagainya dengan segala kekhususannya. Ary menuliskan panjang lebar kerukunan dan toleransi interaksi antar suku dengan bukti-bukti bangunan-bangunan yang dikunjunginya.

Ary juga membahas sumber ekonomi Sumatra, khususnya perkebunan. Dibahasnya perkebunan tembakau Deli yang mulai surut, perkebunan sawit yang mulai bertumbuhan di Sumatra serta kebun karet rakyat. Sayangnya tidak ada pembahasan tentang minyak di buku ini.

Tentu saja Ary tidak lupa menyampaikan keindahan alam dan bagungan-bangunan di Sumatra. Diantaranya adalah Jam Gadang, Istana Maimun, Mansion Tjong A Fie, Masjid Baiturrahman, Masjid Al Ma’shun; Danau Lut Tawar, Lau Kawar, Air Terjun Sipiso-piso dan sebagainya.

Dalam buku ini –yang tidak akan anda dapatkan di buku lainnya, Ary menggambarkan kehidupan orang kecil yang tersisih dari pembangunan Sumatra yang sangat pesat.

Rupanya Ary bukanlah penyuka makanan, sehingga kuliner Sumatra yang eksotik luput dari pengamatannya. Sayang kalau keliling Sumatra hanya menikmati kopi dan mie rebus saja.

Sebagai seorang perempuan sejati, Ary Amhir adalah pemerhati lelaki. Dalam buku ini Ary memuji-muji lelaki Gayo yang perutnya rata meski sudah berumur paroh baya.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia.

Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

41 Comments to "30 Hari Keliling Sumatra"

  1. Handoko Widagdo  6 August, 2012 at 10:50

    Cik Dhe, ayo Cik Dhe yang tulis kuliner Sumatra.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *