Audrey (11): Sweet Angel

Anastasia Yuliantari

 

Matahari bersinar menerpa wajahku. Kusipitkan mata menahan kilaunya yang menembus kaca ruang kerjaku. Perlahan kugeser laptop ke ujung meja agar layarnya tak buram diserbu cahaya kekuningan itu, apalagi aku sedang ingin melihat sekilas wajahmu. Ya, walau berat mengakuinya, aku merindukanmu.

Saat laman dunia antah berantah kita terbuka, dadaku berdenyut kencang. Jari-jariku bertaut menyilang sambil berharap perlahan, “Semoga engkau di sana.” Namun sampai di ujung tampilan tak secuil pun namamu tertera, bahkan saat teman-temanmu yang kebetulan juga menjadi temanku, berceloteh ramai tentang pertandingan sepakbola yang menyita perhatian separuh pemirsa dunia, dirimu tak muncul di sana.

Begitu sibukkah engkau di kampung terpencil itu? Apakah perempuan itu begitu menawan sehingga menyita perhatianmu? Jantungku berdetak pilu. Bulir bening nyaris menggantung di ujung mataku. Kekecewaan dan cemburu berbaur menyatu.

Di antara sakit yang menyengat ulu hatiku, sebuah pesan masuk ke akunku. Kuhembuskan napas perlahan, kutahu bukan dirimu, namun tanganku tetap bergerak membukanya.

“Selamat pagi, Audrey. Apa kabar?” Sapanya dengan tambahan ikon tersenyum di akhir kalimat.

Seorang teman lama menyapaku. Ya, dia telah lama menjadi salah seorang sahabatku, bahkan jauh sebelum aku mengenalmu.

Kuketik perlahan balasan. Setengah ingin namun juga setengah enggan, “Baik. Apa kabarmu juga?” Balasan standar, bukan? Tapi aku tak ingin dirinya kecewa setelah diriku merasakan betapa sakitnya menunggu sapaanmu.

“Kabar baik, walau di sini panasnya bukan alang kepalang saat ini.”

“Wah, kami masih sering diguyur hujan,” balasku.

“Bersyukur, dong. Kami harus mengalami musim kering sembilan bulan dalam setahun. Entah tahun ini, cuaca semakin lama semakin tak bisa diprediksi.”

Aku tak berminat pada berita cuaca karena cuaca hatiku sendiri sedang kelabu. Maka untuk beberapa menit aku tak membalas kata-katanya. Pikirku, kalau dia bosan tentu akan mengucap salam perpisahan, di tempatnya waktu sedang menjelang fajar. Tak mungkin dirinya tahan terjaga hingga mentari memamerkan sinarnya.

Beberapa rekan kerjaku sudah mulai berdatangan. Romana melambai singkat sebelum memasuki ruangan jurusannya, Sheila muncul menghebohkan dengan gaun lilit warna ungu tua. Cantik buat kulit putihnya, tapi yang membuatku ternganga adalah sepatu sewarna gaunnya.

“Pasti sulit mencari warna semacam itu, ya?” Tanyaku begitu dia menghempaskan diri ke atas kursinya.

“Warna apa?” Dikerutkannya bibir. Aku kembali berdecak melihat polesan warna senada di sana.

“Sepatumu.” Tunjukku dengan dagu.

“Antara kekaguman dan kritikan, aku menganggap komentarmu sebagai kritikan.” Gerak tubuhnya menandakan sikap tak mengambil hati atas omonganku.

Akhirnya kuangkat bahu, toh Sheila sudah tahu maksudku.

“Kau engga sayang keluar duit untuk membeli sepatu yang belum tentu bisa dipakai setiap waktu?”

“Aku punya beberapa pasang sepatu,” bibirnya tersenyum. “Selalu bisa kupilih sepasang yang sesuai dengan kondisi dan situasi.”

Sheila tak pernah risau dengan penampilan. Koleksinya entah berapa, aku tak pernah menghitungnya, yang jelas penampilannya selalu cemerlang seperti mentari yang semakin garang di luar jendela.

Mataku kembali menatapi layar. Sederet pesan telah muncul di sana sejak beberapa menit sebelumnya. “Kamu sedang sibuk, ya? Apakah aku mengganggu bila bercakap denganmu?”

Ah, sebenarnya sapaan lelaki itu tak menggangguku. Perasaanku yang sedang menantikanmulah yang terganggu. Untunglah aku masih sadar untuk tak menularkan energi buruk di awal hari pada orang lain. Bila harus kutanggung pedih hati, biarlah kurasakan sendiri.

“Tak begitu sibuk.” Jawabku. “Hanya ada beberapa hal yang harus kuselesaikan.”

Jawaban perkataanku muncul beberapa detik kemudian, pertanda dia masih terjaga di seberang. “Kalau begitu aku pasti mengganggu, nih.”

“Oh, tidak.” Jawabku cepat. “Biasa saja.”

“Hmm, akhir semester selalu sibuk, ya?” Balasnya.

“Yah, memeriksa tugas para mahasiswa kadang menyita waktu.” Tulisku.

“Aku tahu. Jaga diri dan kesehatan baik-baik, ya.”

Mataku nanar membaca deretan huruf itu. Entah mengapa dadaku mendadak berdenyut kencang. Mungkin dia hanya berniat baik dengan menunjukkan perhatian, namun kata-kata itu meresap ke dalam setiap dinding pembuluhku. Dingin, menyejukkan, dan kembali memancing tetes bening di sudut mataku.

Bukan aku hendak membandingkan, namun bukanlah gayamu untuk menunjukkan perhatian dengan cara seperti itu. Menanyakan kabar untuk kita berdua lebih sebagai prolog percakapan daripada sebuah pernyataan empati satu sama lain. Sejujurnya, aku bahkan merasa kesopananmu lebih karena ajaran daripada kesadaran. Aku tak keberatan, karena bagiku bertemu denganmu lebih penting dibanding apa yang kita perbincangkan. Ada bersamamu telah cukup bagiku, bahkan ketika desis angin menjadi jeda panjang di setiap pembicaraan telepon kita.

Bila tetes kekecewaan padamu bisa kutelan kembali, keharuan ini mendesak tanpa kompromi. Segera kucabut tissue di ujung meja sebelum bulir bening itu meleleh ke atas pipiku dengan membawa noda mascara yang akan menimbulkan tatapan penuh tanda tanya dari rekan-rekanku.

“Drey.”

Setelah kususut diam-diam air mataku, segera kusahuti kata-katanya. “Iya, aku masih di sini. Maaf, ada teman yang menyapaku.”

“Ah, salam untuk temanmu, ya. Cantikkah dia?”

Bibirku tersenyum. Kalian ternyata sama saja.

“Kalau tak cantik salammu batal kusampaikan, ya?”

“Bukan begitu, tapi kan lebih baik kukirim untukmu.” Sekali lagi ikon tersenyum muncul di akhir kalimatnya.

Untuk pertama kalinya di pagi itu bibirku tersenyum. Gurauan yang amat biasa darinya membuat hatiku hangat. Perlahan tapi pasti percakapan itu menjadi tambah menyenangkan. Hal-hal sederhana dengan kekuatan luar biasa menarikku dari suasana biru kelabu merindumu. Seketika matahari tak lagi menyilaukan karena aku tak perduli lagi padanya, terhanyut oleh perbincangan yang berjalan jalin-menjalin hingga sekretaris jurusan meletakkan folder absen di mejaku seraya tersenyum.

“Sungguh menyenangkan bercakap denganmu,” ujarku seraya menggapai absen dengan deretan nama di atasnya. “Tapi maaf, seperempat jam lagi aku harus mulai mengajar.” Tulisku dengan perasaan sesal menyelip di antara kegembiraan yang kurasakan.

“Tak mengapa, aku juga harus mempersiapkan diri karena pagi sebentar lagi menjelang.” Katanya.

“Tugas yang akan berlangsung seumur hidup?” Candaku mengingat perkataan yang pernah dituliskannya saat kami baru berkenalan.

“Yah, demikianlah.” Jawabnya ditutup dengan tawa panjang.

“OK. Sampai bertemu, kalau begitu.” Tutupku.

“Drey,”

Aku menunggu beberapa detik sebelum menjawab. Perasaanku mengisyaratkan sesuatu yang penting akan diungkapkannya.

“Aku serius dengan kata-kataku.” Tulisnya.

Mendadak kesenyapan melingkupiku. Rasa hening nan aneh membuatku terdiam sesaat sebelum kembali menggerakkan jemariku.

“Perkataan yang mana?”

“Jaga diri dan kesehatan baik-baik, ya.”

Kusambar kembali tissue yang tadi telah kuletakkan di atas meja. Mengapa bukan dirimu yang mengatakan hal ini? Bukankah dirimu telah berjanji untuk menjagaiku bagai guardian angel. Bagaimana mungkin malaikat manis yang mencerahkan hariku adalah seseorang yang selama ini selalu menyapaku namun tak pernah dapat meraih hatiku?

“Terima kasih.” Balasku dengan hati kembali pilu. Kali ini oleh sesalan akan perasaanku yang tak tahu membalas kebaikan lawan bicaraku.

“Sama-sama. Have a great day, Drey.”

Kuhela napas panjang seraya mematikan koneksi internet. Sedetik sebelum hubungan itu benar-benar terputus masih kulihat wajah berhias senyum. Tak setampan dirimu, namun begitu menenangkan. bagai malaikat dengan sayap terkembang.

Koneksi telah benar-benar terputus. Aku kembali menghela napas sebelum bangkit dengan membawa setumpuk textbook di tangan. Sepanjang koridor menuju kelas kata-katanya terngiang dalam batinku.

What a sweet angel…! Desahku.

Dan ketika senyumnya terbayang di pelupuk mataku, sejumput rasa bimbang menyelinap dalam dada.

Katakan padaku, sayangku, salahkah diriku bila saat ini dapat tersenyum bukan karenamu?

 

18 Comments to "Audrey (11): Sweet Angel"

  1. Anastasia Yuliantari  1 August, 2012 at 18:26

    @Linda, sampai tak tahan lagi mungkin, ya…hehehe. Thanks, ya Lind komennya.

  2. Anastasia Yuliantari  1 August, 2012 at 18:25

    @JC….emang tokohnya Anoew aja yg bisa punya serep? Tokohku yo emansipasi, nhu…hrs berserep…hahaha.

  3. Anastasia Yuliantari  1 August, 2012 at 18:22

    Mbak Meitaaaa….wis ucul seko krangkeng to? Selamat, yo iso mentas seko karantina….wkwkwkwk.

  4. Anastasia Yuliantari  1 August, 2012 at 18:21

    @Dewi, ngopo to Wik, koq njuk dadi Tarzan?
    Yo wis aku gelem dibayari, trus gantian nggone….njuk kowe sing mbayari. penak to?

  5. Linda Cheang  1 August, 2012 at 16:06

    hhhm, memangnya Drey mau sampe kapan menyiksa dirinya sendiri? ih.

  6. J C  1 August, 2012 at 15:35

    Lho, lho, kok bermain serep gini?

  7. Nur Mberok  1 August, 2012 at 15:20

    Hey… here is your sweet angel. Do you miss me????

    Ha hahahaha…………….

  8. Dewi Aichi  1 August, 2012 at 14:25

    Ayla…..wong aku nunggu dirimu yang mbayari kok, yo gantian lahhhh…..besok kau yang bayarin, kemudian kau yang bayarin…gitu kan sweetest love..?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.