Wednesday, 1 August 2012
Sugiyarti Ugie
Masa Orientasi Peserta Didik Baru – MOPDB, adalah saat pengenalan peserta didik baru; anak-anak SD masuk SMP setelah melalui tahap pendaftaran dan akhirnya sejumlah anak 216 orang menjadi peserta didik kelas VII. Di SMP kami MOPDB berlangsung 3 hari. Dulu namanya MOS atau Masa Orientasi Siswa. Bagi saya apapun namanya tak masalah, ini adalah saat-saat saya bisa mengamati wajah-wajah imut, polos dan lucu. Menggemaskan!
Hari pertama masuk sekolah biasanya hari Senin, tetapi mereka biasanya sudah disuruh datang hari Jum,at pagi, selain pembagian kelas untuk anak kelas VII, juga ada upacara pembukaan MOPDB. Lho kog Jum’at? Ya. . karena sekolah kami ada 2 shift, ada kelas pagi dan kelas VII masuk siang semua, jadi kalau hari Senin pembukaan woww. bisa-bisa ruang UKS penuh anak-anak yang pingsan kepanasan. .. tengah hari yang puanasss kan, tentu tak baik bagi mereka dan anak-anak PMR. . (hehe. . antara lain alasannya begitu).
Setelah upacara pembukaan selesai, peserta didik baru dikumpulkan di lapangan, duduk lesehan dengan rapi. Saat seperti ini koordinator acara memberi tahu apa-apa yang harus dibuat dan dibawa pada hari pertama masuk sekolah.
Adat sekolah kami, biasanya anak-anak baru ini harus mengenakan topi, yang tiap tahun memang tak sama, kadang seperti kapal-kapalan, kerucut. . atau pernah juga dahuluu kala topinya dari bola plastik yang dibelah. .(sayang dulu saya tak punya dokumetasinya) dengan warna yang ngejreng, tiap kelas berbeda warna. .(dan gak tau ya; di tiap kelas ada saja beberapa anak keliru warna topinya, gak fokus waktu ada pengarahan atau gak masuk mungkin), di hias kertas warna-warni, digantungin permen, atau wafer pack kecil. Lucu sekali!
Selain topi, biasanya mereka buat Name Tag besar dengan bentuk seperti yang dicontohkan, kadang bunga, kupu-kupu, hati atau yang lainnya.Di tulis di situ: nama, panggilan, asal sekolah, cita-cita juga dipasang foto diri mereka dan idola mereka. .hehe. . seru ya!
Na.. masalah foto diri kadang mereka pasang foto masih balita, atau foto-foto yang super narsis. . Saya ketawa juga kalau pas ‘ngeh” menangkap hal-hal seperti ini.
Perlengkapan yang lain biasanya tas, tas ini ada yang dari kardus, kantung gandum, atau karung beras. . tahun ini dari kardus. .sayang saya tak memotret, karena saya sebenarnya tak ada rencana buat tulisan tentang MOPDB. .. Tak kepikiran sama sekali. Jadi selama MOPDB anak-anak ini tak boleh membawa tas selain tas yang di”wajib”kan ini, kalau ketahuan bawa tas lain biasanya ditahan, baru tas dikembalikan setelah jam pulang berbunyi.
Apa yang ada di MOPDB sih? Kaya Ospek jaman dulu kah? Dikerja-kerjain sama anak-anak OSIS-kah?
Sepertinya, MOPDB hanya kegiatan seru-seruan untuk peserta didik baru, tidak kejam dan aneh seperti jaman dahulu kala. Di sekolah kami yang reguler, pinggiran Jakarta, bahkan girli. .(pinggir kali)di mana lingkungannya kumuh dan miskin ini tetapi tetap berprinsip untuk MOPDB murah, meriah, menyenangkan dan bersifat edukatif. . Memang belum sempurna, tetapi tetap berusaha menuju ke sana. Jadi dalam MOPDB ini mereka mendapat materi Lagu-lagu Nasional, Tata Krama, Program dan Cara Belajar, Pengenalan Lingkungan Sekolah, Tata Upacara(PBB), dan pengenalan kegiatan OSIS seperti ekstrakurikuler yang ada di sekolah kami, serta bakti sosial. Memang ada juga session permainan, tetapi hanya untuk seru-seruan tidak ada penganiayaan.
Pada hari terakhir, hari ketiga sebelum upacara penutupan, mereka dikumpulkan di lapangan, lesehan dengan rapi siap menonton aksi demonstrasi aneka esktrakurikuler seperti Rohis, Karate, Pramuka, PMR, Tae Kwon Do, Volly, Paskibra dan Silat. Di sinilah kakak kelas mereka berusaha keras untuk menarik hati adik-adiknya untuk ikut bergabung di ekskul.
Terasa ada persaingan untuk menjadi favorite eskrakurikuler. . tapi masih wajar, dan ini malah jadi pemicu untuk tampil memikat!
Tau gak wajah anak-anak SD ini? Terkesima, terpana dan kadang bingung. .hehe. . tapi tetap tepuk tangan dengan semangat setiap ada tampilan yang lucu atau mengena hati mereka.
Di akhir acara, biasanya kepala sekolah melepas seikat balon warna-warni ke udara. …cerminan keceriaan dan semangat yang membubung tinggi. Semoga!!!
Semangat!!!
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi umat muslim, semoga Allah SWT berkenan memberi kekuatan bagi kita untuk menjalaninya. .aamiin
Jakarta, 21 Juli 2012
Sabtu yang manis di bulan Romadhon
Model topi MOPDB 2012-2013
August 4th, 2012 at 21:30
@ Mas Bagong : menurut pengamatan saya MOPDB untuk SMP secara umum hampir seperti yang saya tulis . tak ada yang namanya plocoan yang konyol karena guru-guru yang berkaitan dg hal tsb selalu mendampingi berlangsungnya kegiatan ini .
Saya pernah di ‘plonco ‘ waktu mau masuk Pecinta Alam waktu kuliah , tp saya malah terkesan dan merasa mendapat manfaat krn jd gak lembek .. dan akhirnya dg senior2 malah kaya sodara smpe sekarang..
Memang ada sekolah ( SMA /PT) yang kadang lepas kendali shg terjadi bullying, mungkin kurangnya pendampingan dari pihak sekolah/dosen..sangat disayangkan .., mudah2an sudah tak ada lagi ya ..
terimakasih telah hadir di sinidan berkomen .
salam plonco yang hangat.. hehe
August 4th, 2012 at 11:14
ugie..
sepertinya baik itu MOPDBnya…
memang kalau ditatalaksanai dengan baik, pasti bermanfaat…
pengalaman jadoel, masuk sma ada plonco: biasa saja…
masuk kuliah ada plonco, biasa juga ‘tuh….
malah banyak lucu-lucunya…
cinta tanah air: cium tanah dan air yang diinjak, akibatnya belepotan yang kebetulan kebagian tempat berdiri becek…
nggak bisa dipungkiri, ada banyak juga masa plonco yang disesatkan dengan peristiwa konyol dan amanusiawi….
yakin, pasti di situ guru atau dosennyapun (yang berkenaan dengan proses penerimaan siswa) juga sesat, artinya nggak pedulian dengan kegiatan mana yang baik mana yang konyol dan busuk…..
salam plonco…
August 2nd, 2012 at 22:12
@ mbak Alvina :
wah asik ya kalo tiap anak punya kakak pembimbing satu ..hmm kayak di sekolah taruna ya ..
Secara umum sekolah2 di sini ( di lingkungan saya ) tak ada lagi bullying , hampir semua dibuat menyenangkan , meriah dan edukatif …
Makasih ya mbak Alvina sudah sudi mampir di sini . Slam hangat dariku ..
August 2nd, 2012 at 17:30
mbak Ugie, Terima kasih buat tulisannya ya…..
Di sekolahan anak saya, masa orientasi digunakan utk lebih kenal dgn lingkungan sekolahnya, gurunya dan kakak kelasnya sangat baik sekali welcoming murid2 baru/ adik kelasnya dan mereka membantu memberikan penjelasan ttg kebiasaan/ tradisi di sekolahan tsb, bahkan ada yg kasih tahu guru A sukanya apa dan guru B tidak suka kl muridnya begini/begitu, jadi sedikit banyak mereka tahu kebiasaan di sekolah tsd. Murid baru merasa diterima dgn tangan terbuka, jadi bagian sekolah tsb. Mereka punya tradisi big sister-little sister, jadi 1 anak baru punya 1 kakak kelas sbg pembimbingnya selama orientasi dan bisa dilanjutkan selama mereka bersekolah di sana, sampai kakak kelasnya lulus di sekolahan tsb.
Semoga sekolahan2 di Ind lebih baik dlm masa perkenalan, tidak neko-neko, yg terkadang malah mengarah ke bullying. Saya rasa kl kakak kelas yg menunjukan kekerasan dan sikap spt para preman, hanya menanamkan kebencian pada adik2 kelasnya dan tidak jarang, kl mereka jadi kakak kelas nantinya, mereka akan melanjutkan tradisi kekerasan tsb.
August 1st, 2012 at 22:20
Terimakasih buat teman-teman Baltyra yang berkenan komen di sini,suatu perhatian yang luar biasa.
bahwa ada pro -kontra adalah hal yang wajar karena tiap diri mempunyai sudut pandang dan latar belakang yang berbeda dalam melihat permasalahan ini .
MOPDB diupayakan agar anak belajar mandiri , mempersiapkan peralihan dari SD ke SMP seperti jumlah kelas pararel , bukan guru kelas lagi , dan ketergantungan dg ortu ( ada bbrp ortu berebut kursi di hari pertama, nungguin di depan kelas ) dll
Mengenakan topi buatan sendiri ada yang melihat sebagai hal yang aneh , konyol , kurang kerjaan, pelecehan, tapi sisi dari saya itu suatu kreatifitas dan sekelumit cara memeriahkan dn menceriakan suasana .
Mungkin jadi merepotkan orang tua , bagi ortu yg gak tega melihat anaknya kerepotan membuat topi atau name tag , walaupun saya yakin hasta karya ini bisa dibuat sendiri oleh anak-anak kelas VI .
Saya melihat peserta MOPDB juga senang .. tidak stress .. karena materi yang ada memungkinkan untuk sersan ..( materi diampu guru ), tak ada bentakan dan hal2 yg melecehkan .
Bahkan banyak yang bangga dg foto2 mereka waktu MOPDB itu ( anak2 ini telah lulus), karena itu adalah masa yg lucu dan paling mengesankan… apalagi di jejerin dg foto waktu pelepasan… .. imut, polos , lucu versus dah lebih dewasa … .
Untuk bakti sosial kita juga adakan untuk memupuk rasa kasih di antara warga sekolah dan masyarakat sekitar dengan saling menyumbang makanan seperti biskuit , mie ..bagi mereka yang tidak mampu /yatim.
Ini yang dapat sampaikan berdasar pengalaman dan pengamatan saya selama ini di lingkungan saya .
Mungkin berbeda dengan pengalaman dan pandangan orang lain .
Sekali lagi terimakasih atas komen semua kerabat Baltyra ..
Salam hangat ..
August 1st, 2012 at 22:15
Kasihan sekali anak-anak ini harus melewati masa yang lebih mengarah ke perpeloncoan dan berpakaian aneh seperti foto-foto di atas, yang menurut pendapat pribadiku tak bermanfaat. Mbak Ugie, maaf ya, sebagai orang tua aku akan menolak hal ini jika diberlakukan terhadap anakku.
August 1st, 2012 at 21:27
Lebih bagus masa pengenalan sekolah itu berupa kunjungan sosial….daripada ngabisi dana besar beli segala kertas dan pernak pernik lain nya…yang akhirnya hanya mengisi tong sampah…dan dibakar dan…HANGUS tidak berbekas…
August 1st, 2012 at 17:12
aku ngalamin ganasnya seperti yang JC katakan, apalagi aku sudah bukan double minorioty lagi, tapi triple minority (etnis – agama – gender). sampai sempat nyaris jadi korban pelecehan seksual karena triple minority itu.
aku, sih, bersyukur kalau sistem orentasi sekarang jika bisa untuk tidak haruskan siswa-siswa sampai mahasiswa-mahasiswi baru, bikin tugas yang aneh-aneh, meski sisi positifnya adalah, melatih daya kreatifitasnya.
August 1st, 2012 at 15:42
Ugie, aku setuju dengan sebagian komentar sebelumnya. Aku tidak melihat perlunya, esensinya disuruh pakai yang aneh-aneh gitu. Sudah bukan masanya lagi. Aku sendiri mengalaminya waktu masuk kuliah, sungguh ganas, di luar kepantasan dan ada sesekali sampai kontak fisik. Kata-kata bernada rasis berhamburan dari para senior sudah biasa. Sebagai double-minority (etnis dan agama), membuat beberapa dari mahasiswa baru mengalami kengerian yang tak dapat dilupakan.
Masa orientasi yang Ugie tuliskan kontennya sangat bagus:
tapi sayang sekali (menurut aku) sedikit “dinodai” dengan hal-hal yang sebenarnya (maaf) konyol dengan segala aksesoris tsb.
Salah satu parameterku saat mencari sekolah untuk anak-anak adalah tidak adanya yang seperti ini saat orientasi nanti baik jenjang SD, SMP atau SMA.
August 1st, 2012 at 15:24
Bersyukur tidak pernah ngalami yg namanya plonco atau MOS atau apalah sebutannya. Pas SMA, diganti dg baris berbaris. Pas kuliah, diganti dg Penataran P4.
Jujur gak ngerti pentingnya menyuruh murid2 baru itu dandan dg aksesori aneh2. Mungkin keliatan lucu. Tapi kalo saya yg disuruh pake, rasanya saya sih bakal malu
Baca status FB temen2 yg anaknya pada MOS, kebayang ortu ikut pontang panting. Ada yg diminta bawa pisang sunpride yg lurus, makanan kucing di belakang (apa pula itu?), dan sederet tugas aneh lainnya.
Semestinya bisa dikemas dg lebih baik. Anak2 baru itu kan secara mental sedang harap2 cemas memasuki dunia baru. Mestinya disambut dg kegiatan yg lebih suportif, supaya nantinya bisa sekolah di situ dg happy. Bukannya dibikin stress dg tugas2 yg merepotkan.
Maaf ya kalo kurang berkenan, mb Ugie. Ini sekedar pendapat saya, kalo seandainya saya sendiri yg mengalami MOS