[Serial de Passer] Astari Bertemu Ibunya

Dian Nugraheni

 

Astari menimang-nimang sebuah batu berwarna coklat bening, halus, berbentuk lonjong seperti telor ayam, tapi kecil, sekecil jempol orang dewasa. Satu sisinya nampak agak mencembung, dan sisi sebaliknya agak pipih. Tapi batu tersebut benar-benar halus dan bening. Batu itu, pemberian seseorang yang beberapa hari lalu bertamu di rumah Astari, Mbak Aluh.

Adalah seorang saudara jauh bernama mas Wiwik, yang bekerja di sebuah hutan di Kalimantan, dan Mbak Aluh ini, adalah gadis asli Kalimantan yang baru diperistri mas Wiwik, yang kali ini sedang pulang ke Jawa menengok keluarga besarnya. Beberapa hari lalu, Mas Wiwik, dan Mbak Aluh menyempatkan mampir untuk mengunjungi kedua Embahnya, Mbah Lukito. Maka dalam kesempatan itulah Astari sempat berbincang-bincang dengan mbak Aluh.

Astari sedang memperhatikan kalung yang dipakai mbak Aluh, dengan liontin batu berwarna hijau, ketika mbak Aluh membawa Astari dalam pelukannya, “Melihatmu, aku jadi pengen cepat punya anak. Moga-moga anakku nanti perempuan dan secantik kamu yaa…”

Astari hanya tersenyum sekilas, dan bertanya, “Apakah kalung mbak Aluh ini beli di Kalimantan..? Jauh..?”

Mbak Aluh baru sadar bahwa Astari sedari tadi tertarik dengan kalungnya, “Kamu suka, Astari..? Iyaa, di Kalimantan banyak sekali orang jual batu seperti ini untuk dibuat bandul kalung. Kemari…”

Mbak Aluh mengambil tasnya, dan mengaduk-aduknya, kemudian menemukan sebuah batu berwarna coklat bening, menunjukkannya pada Astari, dan berkata, “ini, aku ada satu batu buat kamu, tapi belum dibuat kalung. Nanti kalau kamu sudah agak besar, bolehlah kamu bikin ini menjadi bandul kalung. Atau kapan-kapan kamu boleh minta tolong Embah untuk membuatnya jadi kalung, ya..? Simpan…”

Astari  menerimanya dengan setengah ragu, tapi juga sangat ingin. Ketika mbak Aluh menatapnya, mengangguk, maka dia terima batu itu, dan segera dia masukkan ke dalam kotak pensilnya.

Sebelum tidur, ditunjukkannya batu itu pada Embahnya, “Kung, lihat apa yang aku dapat dari Mbak Aluh..? Sebuah batu yang sangat indah, bening, halus…, katanya bisa dibikin bandul kalung kalau aku sudah besar…”

Mbah Kakungnya hanya tersenyum melihat Astari tampak begitu bahagia. Astari tak begitu peduli ketika tanggapan Embahnya hanya biasa-biasa saja.

_______________

Besoknya, di sekolah, ketika istirahat pertama tiba, Astari membuka kotak pensilnya untuk melihat batu yang kemaren baru saja diberikan oleh mbak Aluh. Tiba-tiba, Anton, temannya, mendekat, “hei, itu batu akik namanya…lihat dong…” Berkata begitu, Anton langsung saja menyambar batu itu dari kotak pensil Astari yang terbuka.

Anton membawanya menjauh, dan memasukannya ke dalam kantong baju seragam putihnya. Astari teriak, “kembalikan, itu punyaku…!”

Anton menggeleng, “sekarang punyaku..!!”

Astari mendekat pada Anton, dan Anton dengan gesit berlari. Astari mengejarnya. Anton masuk ke ruangan kelas 6, kemudian berlindung pada seorang anak kelas enam yang berwajah judes. “Mbak Atik.., Astari ngejar aku..!!” Mbak Atik adalah kakak Anton.

Anak perempuan yang jauh lebih besar dari Astari yang dipanggil mbak Atik itu memelototi Astari, dan menyemprotnya, “kenapa kamu ngejar-ngejar adikku..? Jauh sana..jauh..!!”

Astari geram, mulutnya terkatup, matanya memandang mbak Atik dan Anton dengan sengit, “Anton mengambil batu akikku..”

Mbak Atik segera menatap Anton, “Ini punyaku…!!’ teriak Anton.

Astari tambah marah, “Punyaku..!!”

Anehnya, mbak Atik kemudian bilang, “hei..itu batu akik punya Anton..dasar tukang ngaku-ngaku…!! Sana pergi..!!”

Astari bertambah marah, “Aku akan bilang bu Guru..!!”

Belum sempat Astari beranjak, ternyata di belakangnya sudah berdiri Bu Asih, Guru Astari dan Anton di kelas 3. Beliau terkenal sangat galak dan bersuara keras, “ada apa ini..?”

Mbak Asih mendahului menerangkan, “Astari bilang, Anton mengambil batu akiknya, padahal itu batu akik Anton, Bu…”

Astari hampir menangis karena kesal, “Itu punyaku…!!” Bu Asih menatap pada Astari. Agak bingung, demi melihat anak-anak didiknya berebut sesuatu.

Kemudian Bu Asih berkata dengan sangat tegas, “Astari, Anton, Atik.., ikut Ibu ke kantor..!!”

Maka mereka berempat beriringan menuju kantor Guru. Di ruang tamu kantor, anak-anak ini didudukkan, kemudian ditanya satu demi satu, bagaimana duduk persoalannya. Sebelumnya, Bu Asih menyita batu akik yang berada di kantong Anton.

Mbak Atik seperti yang tadi, tetap percaya bahwa itu adalah batu akik Anton, adiknya. Anton juga bersikeras, bilang bahwa batu akik itu punyanya. Bu Asih bertanya pada Anton, “dari mana kamu dapatkan batu akik itu, Anton..?”

Anton menjawab, “ehh, eee…mmm…, dari Bapak saya Bu..”

Bu Asih berkata, “Baiklah, besok saya akan memanggil Bapakmu kemari untuk menjelaskan tentang hal ini…”

Tiba giliran Astari menerangkan, ketika ditanya bu Asih, “apa alasanmu bilang bahwa batu akik itu punyamu, Astari…?”

Astari menjelaskan dengan gamblang, tentang dari siapa batu akik itu didapatkan, dan Astari juga bilang, “Mbak Aluh masih ada di rumah saudara saya di Baledono, belum lagi pulang ke Kalimantan. Embah saya  juga tau, saya dikasih batu ini sama Mbak Aluh…”

“Baik, besok juga akan Ibu tanyakan hal ini pada Embah, Astari..,” kata Bu Asih tenang.

_______________________________

Jam istirahat ke dua tiba, Astari hanya ingin berada dalam ruangan kelas. Dia duduk-duduk saja di bangku peninggalan jaman belanda itu. Sebuah meja dan bangku, keduanya dibuat bersambung, tidak terpisah antara bangku dan mejanya. Bangku itu terbuat dari kayu yang sangat keras dan tua. Lengannya terasa nyeri, mungkin akan bengkak dan demam, begitu yang dia dengar soal suntikan cacar yang baru diterima anak-anak tadi pagi. Sejenak Astari lupa akan batu akiknya.

_________________________________

Pulang sekolah, sekilas Astari melihat mbak Atik marah-marah pada Anton. Mbak atik menyeret Anton ke kantor Guru menemui Bu Asih. Astari berhenti sejenak, bersembunyi di balik pohon bunga Soka di dekat ruang kantor. Terdengar Anton menangis sesenggukan. Anton memang seperti anak perempuan lagak lagunya. Sehari-hari, dia suka bermain dengan anak perempuan, sekaligus mengganggunya. Seperti apa yang dilakukan terhadap Astari. Tadi pun ketika disuntik Cacar, Anton menangis keras tanpa malu, padahal tak ada anak lelaki lain yang menangis keras seperti dia.

“Jadi bagaimana ini.., Anton, Atik..?” tanya bu Asih dengan suara lantang dan tegas.

“Maaf Bu, jangan sampai Bapak saya datang ke sekolah, sebenarnya saya tidak tau soal batu akik itu, saya hanya ingin membela adik saya dari tuduhan Astari, tapi kemudian Anton bilang, kalau dia memang ambil batu itu dari kotak pensil Astari…”

“Ooh, begitu..? Baiklah, kalian sudah mengatakan yang sebenarnya, tapi tetap Ibu harus bicara dengan Bapak kalian…”

Setelah Mbak Atik dan Anton meninggalkan ruang Guru dengan tampang saling menyalahkan, Astari mengetuk pintu kantor yang terbuka, Bu Asih masih duduk di mejanya, “masuk.., Ooh, Astari… Sini Astari, Ibu mau bicara.., atau mungkin kamu sudah mendengar Atik dan Anton bicara barusan yaa..? Ibu melihatmu ngumpet di balik rumpun Soka…” Berkata demikian, Bu Asih tersenyum.

Astari menunduk, “Iya Bu, maaf…”

“Duduk, Astari…, setelah Ibu mendengar keterangan dari Anton dan Atik, maka Ibu yakin, batu akik ini milikmu. Nahh, biar tidak menjadi masalah lagi, simpanlah batu ini di rumah, jangan dibawa ke sekolah yaa..?”

“Baik, Bu…, terimakasih banyak..,” berkata begitu, Astari menerima kembali batu akiknya, dan memasukannya dalam kotak pensil. Nanti sepulang sekolah dia akan simpan di dalam lemari baju Ibunya.

“Pulanglah, jangan lupa minum obatnya yaa, agar badanmu tidak demam malam ini..,” kata Bu Asih. Astari mengangguk, berjalan pulang di bawah terik matahari yang begitu menyakitkan kepalanya. Lengan kirinya terasa senut-senut bekas suntikan cacar pagi tadi.

_________________________

Sampai di rumah, setelah ganti baju, cuci kaki, Astari langsung masuk kamar, dan menemukan tempat tidurnya yang bersprei putih bersih nampak sangat sejuk. Langsung Astari membaringkan badannya untuk tidur, tanpa makan siang terlebih dahulu. Batu akik ada di tangannya, dipegangnya penuh sayang. Tak lama kemudian, mbah Kakungnya masuk ke kamarnya, duduk di sisi tempat tidurnya, “Makan dulu, Astari.., ada telor asin buatmu. Makan separo dulu ya, yang separo buat makan malam nanti..”

Astari menggeleng, “aku ngantuk, Kung… Juga sakit, kan tadi habis suntikan..”

“Sebelah mana…? Kiri atau kanan..?” tanya Mbah Kakungnya.

“Kiri…”

“Kakung ambilkan makan yaa, kali ini kamu boleh makan di tempat tidur…”

Setelah makan nasi putih dengan telor asin separo, dan minum segelas air putih, Astari tak kuasa lagi menahan lelah dan kantuknya, dia segera terlelap, dan lupa minum obat pereda demam yang diberikan oleh sekolah setelah suntikan tadi.

_____________________

Benar, ketika Astari terbangun selepas maghrib, badannya terasa panas, meriang, lengannya terasa sakit, bibirnya terasa kering. Berat benar badannya terasa, bahkan bergerak pun rasanya susah. Mbah kakungnya sudah duduk di tepi tempat tidurnya, “Badanmu panas…” Astari memejamkan matanya kembali. Astari paling takut ketika sakit. Entah kenapa, meski sudah berusaha tidak berpikir tentang Ibunya, setiap dia demam, pasti langsung terasa, bahwa dia sangat ingin Ibunya ada di dekatnya. Rasa itu sangat menyakitinya, sangat membuatnya sedih dan lelah.

“Kompres, Kung…, biar nggak panas banget…,” pinta Astari.

“Yaa, Utimu sedang mencari jeruk nipis buat ngompres.., minum teh hangat yaa..Kakung suapin pakai sendok…”

Semakin beranjak malam, semakin meninggi panas badan Astari. Semakin pula pilu hatinya merindukan Ibunya. Wajah Ibunya tergambar melayang-layang di pelupuk matanya. Sampai ketika Astari tertidur kembali, dalam mimpinya pun hadir Ibunya.

“Ibuuuu…Ibuu…” itu yang terdengar dari mulut mungil Astari. Mbah Kakungnya hanya bisa menatap cucunya yang sedang dalam demam tinggi, mengompresnya, menjaganya.

_________________________________

Dini hari menjelang, ketika Astari merasakan sentuhan tangan mengelus-elus dahinya. Ada sebuah suara indah yang sedang berbincang-bincang dengan Mbah Kakung dan Utinya. “kamu pulang kok nggak ngabari dulu..? Piye di Jakarta, kamu baik-baik saja to..?”  Itu suara Mbah Kakungnya.

Kemudian ketika Astarai menggeliat sedikit, suara indah  itu memangil-manggilnya lembut penuh sayang, “Astari…, Astari….” Astari tau itu suara Ibunya, Tapi Astari tak mau percaya. Mungkin ini akibat demam tinggi yang membawanya bermimpi.

Tapi karena suara itu terus memanggilnya, seperti tak sabar untuk bertemu dengan Astari, susah payah Astari membuka matanya, seluruh otot tubuhnya menegang ketika melihat siapa yang ada di hadapannya, Ibunya…, Ibunya berada di depan matanya. Astari terdiam, tetap tak percaya tentang apa yang dilihatnya.

“Lihat apa yang Ibu bawa.., Ibu belikan kamu buku cerita, penggaris, kotak pensil, dan tas baru…”

“Ibuuuu….” jerit Astari sambil memeluk Ibunya, Astari tak menghiraukan apa kata Ibunya tentang oleh-oleh. Ibunya memeluknya, Ibunya menangis pula. Astari lupa akan sakit di lengan kiri bekas suntikan.

Mbah Kakung dan Utinya segera keluar, “Wes, dikeloni Ibu yaa, Kakung tak tidur dulu…”

Kemudian Ibu Astari membaringkan dirinya di samping Astari, di sisi kanan agar tidak menyentuh lengan Astari sebelah kiri. Astari memiringkan tubuhnya, menatap Ibunya, dengan seribu tanya ingin dikeluarkannya, tapi Astari tak bicara sedikit pun, takut suasana yang ada akan terganggu.

Batu akik di simpan di bawah bantalnya, sesekali dikeluarkan untuk diterawangnya, diamat-amatinya. Juga Astari sedang mengagumi penggaris yang dibelikan Ibunya. Penggaris itu bukan penggaris biasa, dari kayu, atau plastik bening, Tapi penggaris itu bergambar kupu-kupu, capung, dan sebuah kumbang. Bila digerak-gerakkan, tampak di bawah cahaya, gambarnya itu seperti bisa berubah-rubah.

Tak urung Astari bertanya pula, “Apakah Ibu akan pulang selamanya..?”

Ibunya menggeleng, “Astari, Ibu ingin pulang selamanya, atau mengajakmu ke Jakarta dan tinggal dengan Ibu di sana. Tapi, kondisinya masih belum memungkinkan…”

“Kenapa..? Kenapa Ibu tak bisa pulang selamanya..?”

Ibunya menggeleng sedih, “Ibu sayang sama Astari. Tapi Mbah Kakung dan Utimu juga sayang sama Astari. Sama. Dan, Ibu harus kerja. Dan.., mbah Kakung dan Utimu tak memperbolehkan kamu Ibu bawa…., nanti kalau kamu sudah gede, kamu akan tau hal ini dengan lebih baik…”

Astari melihat bahwa Ibunya berusaha untuk tidak menangis. Wajah cantiknya nampak lebih tegar dibanding beberapa tahun lalu ketika di sore hujan dia meninggalkan Astari. Astari tak ingin Ibunya menangis. Astari tak ingin bertanya apa-apa lagi. Astari akan diam dan menerima saja keadaan yang ada.

____________________

Besoknya Astari tidak ingin sekolah, selain badannya masih terasa demam, dia juga tak mau kehilangan waktu dengan Ibunya. Mungkin banyak juga teman-temannya yang bolos sekolah karena demam akibat suntikan Cacar kemaren.

Astari tau, Ibunya hanya akan ada dua malam di sini, kemudian dia harus pulang lagi ke Jakarta, untuk bekerja, katanya. Dan Astari tak ingin menanyakan, kerja apa Ibunya di sana, yang dia tanyakan cuma satu, “Ibu di Jakarta tinggal sama siapa..?”

Ibunya menjawab, “dengan Eyang Anwar dan keluarganya, karena Ibu membantu menjalankan usaha Eyang Anwar. Kamu ingat Eyang Anwar kan..? Itu sepupu sama Mbah Utimu.., duluuu…sekali, mereka pernah datang kemari…”

Dan demi mendengar jawaban itu, Astari merasa sangat…, sangat ayem, tenang, dan tak lagi terlalu khawatir terhadap Ibunya, meski dia baru sekali saja bertemu dengan Eyang Anwar dan keluarganya, tapi Astari yakin, keluarga Eyang Anwar akan menjaga Ibunya.

_____________________

Keesokan hari, masih dini hari, Ibu Astari sudah bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. “Bisnya akan berangkat jam 5 pagi..” kata Ibunya.

Dalam keremangan lampu teplok, Ibu Astari duduk di samping tempat tidur Astari, memegang kedua pipinya, “Astari, baik-baik di rumah sama Uti dan Kakung, yaa..? Sekolah yang pintar, dan jangan lupa selalu berdoa…Ibu harus ke Jakarta lagi. Ibu akan usahakan bisa pulang. Mulai sekarang, Ibu akan berusaha kirim surat buatmu, karena kamu sudah besar dan bisa menulis surat juga buat Ibu…”

Astari hanya diam, air matanya meleleh tanpa suara. Tangannya memegang tangan Ibunya, seolah tak rela melepas Ibunya pergi lagi kali ini.

Ibunya pun berat hati untuk beranjak, tapi dia seperti tak punya pilihan, dan seperti mengerti apa yang dipikirkan Astari, Ibunya bilang, “Kakungmu akan mengantar Ibu ke stanplat, sampai bis Ibu berangkat, kemudian sampai di Jakarta, mbak Nuri, anaknya Eyang Anwar, akan menjemput Ibu di agen bis di sana, di mana bis Ibu akan berhenti. Ibu akan baik-baik saja. Berdoa agar Ibu bisa terus pulang, atau Astari bisa ikut Ibu, ya..?”

Astari mengangguk, tak beranjak dari tempat tidurnya, hanya menatap punggung Ibunya yang berbalut baju hangat woll berwarna kuning dengan kembang-kembang coklat milik Mbah Utinya, karena dini hari di bulan Juli ini sangat dingin.

Astari menggenggam batu akiknya, Astari memeluk penggaris yang diberikan oleh Ibunya, Astari menangis sesenggukan, yang disembunyikan di balik bantalnya. Astari tau, bantalnya basah seperti habis tersiram air minum. Tapi itu adalah air matanya….

Rasa itu, rasa mencintai Ibunya, tetapi karena suatu hal, maka mereka harus berpisah, adalah sebuah pijakan kesadaran bagi Astari kecil. Tawar menawar atas suatu keadaan, haruskah terus tak terima, atau berdamai begitu saja dengan keadaan yang ada. Lambat laun, Astari belajar tentang rasa cinta. Lambat laun, hingga ketika kedewasaannya mulai bertumbuh, Astari mencoba menyimpulkan, bahwa mencintai itu tak harus selalu dekat. Mencintai itu, adalah terus berharap, bahwa apa yang dicintainya, siapa pun yang dicintainya, akan baik-baik saja, dan bahagia, meski dibentang oleh jarak yang begitu jauh. Mencintai adalah, keikhlasan…

Salam Batu Akik….

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Minggu, 8 Juli 2012, jam 6.23 sore

(Hari sangat panas, hujan sempat datang, hanya untuk menguapkan sedikit panas yang terserap bumi sesiang tadi…)

 

7 Comments to "[Serial de Passer] Astari Bertemu Ibunya"

  1. HennieTriana Oberst  3 August, 2012 at 21:55

    Astari membuatku selalu terharu. Ikut bahagia dia bertemu ibunya, walaupun hanya sebentar. Semoga mereka berkumpul lagi akhirnya.

  2. Mpiet  3 August, 2012 at 17:39

    astari…

  3. J C  1 August, 2012 at 15:34

    Dian, dikau selalu mencurahkan segenap perasaanmu dalam menuliskan serial Dayana dan serial Astari. Dua-duanya membuat aku membacanya terhanyut luar biasa. Perasaanmu ada di tulisan-tulisanmu. Membaca Astari selalu membuat perasaanku terombang-ambing ke satu perasaan aneh trenyuh (seperti kata Kang Chandra), dan sekaligus pilu luar biasa. Muantep tenan, Dian!

  4. Chandra Sasadara  1 August, 2012 at 11:55

    trenyu..

  5. Kornelya  1 August, 2012 at 10:46

    Kasihan Astari, harus sering ditinggal ibunya. Suatu sa’at dia akan mengerti. Salam.

  6. [email protected]  1 August, 2012 at 10:21

    Aiiiih…. Astari sudah semakin besar

  7. Dewi Aichi  1 August, 2012 at 09:21

    Astari bikin hatiku rindu dan sendu….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *