Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Asian Cruise Diamond Princess (3)

Thursday, 2 August 2012

Viewed 1295 times, 1 times today | 27 Comments |

Mpek Dul

 

Setelah sehari semalam kapal berlayar di laut Teluk Thailand, akirnya pada jam 06.30 kapal mendekati dermaga pelabuhan Hoo Chi Minch city, kota yang terbesar di Republik Vietnam setelah sejak kedua negara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan di persatukan sejak berakhirnya perang Vietnam pada bulan April 1975.  Kota ini lebih dikenal dengan nama Saigon, yang dahulu merupakan ibukota dari Vietnam Selatan.

Nama resmi Vietnam adalah Cộng hòa Xã hội Chủ nghĩa Việt Nam yang berarti  Republik  Sosialis  Vietnam. Negara ini adalah yang paling timur di semenanjung Indochina di Asia Tenggara, berbatas  dengan China di utara, Laos di barat laut, dan Kamboja di barat daya.

Di pantai timur negara ini adalah Laut China Selatan.

Luas wilayah daratan Vietnam sekitar 331,688 km².  Pulau-pulau Hoang Sa dan Truong Sa yang menjadi bagian negara ini masih belum terhitung di sini.

Dengan penduduk sekitar  87 juta orang, negara ini termasuk 13 negara yang terpadat penduduknya  didunia. Ibu kota dari Utara adalah Hanoi (Hà Nội), dan di selatan Ho Chi Minh city (Thành Phố Hồ Chí Minh) yang dahulu bernama Saigon, ketika Vietnam masih terdiri dari dua Negara berdaulat sampai oktober 1976. Mata uang negara ini adalah Vietnam Dong (VND). € 1,00 = VND. 25,00.

Vietnam dikelilingi gunung Annamese yang berantai di bagian utara, dataran tinggi, dan Delta Sungai Merah. Phan Xi Păng yang terletak di wilayah Lào Cai, ialah gunung tertinggi di Vietnam dengan ketinggian sekitar 3.143 m.

Mekong adalah salah satu sungai yang penting untuk Vietnam. Sungai ini  adalah yang ke 12 terpanjang di dunia, dan ke-10 terbesar dalam volume (melepas 475km³ air setiap tahunnya). Sungai ini mengalir melalui propinsi Yunnan di China dan mengisi wilayah dari Tibet yang 795.000 km², menuju ke Myanmar (Birma) Thailand, Laos dan Kamboja.

Iklim di Vietnam adalah muson tropika, dengan kelembapan rata-rata sekitar 84% sepanjang tahun, sama dengan di Indonesia yang dimulai dari 60% dan dapat mencapai 94%.

Untuk sedikit memberikan gambaran, panas di Eropa meskipun dapat mencapai temepratur sekitar 41 derajad C, tetapi kelembapan yang tertinggi tidak lebih dari 55% !!

Dalam bidang ekonomi, Vietnam masih merupakan negara yang tergolong “berkembang”, namun dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 7% setahunnya, Vietnam merupakan negara ke 2 sesudah P.R. China yang pesat pertumbuhannya, jauh lebih pesat dari Indonesia, selain itu pengangguran sangat kecil. Karena penduduk yang berpendidikan tinggi cukup besar, maka memungkinkan perkembangan tehnologi yang cukup tinggi. Dibanding dengan Indonesia, pengangguran jauh lebih kecil, selain itu korupsi juga lebih kecil karena betul-betul ditindak keras.

Karet adalah produk export terpenting di samping katun, kopi, udang dan perikanan, seperti Tilapia, Pangasius, gandum. Vietnam juga mempunyai bahan baku bauxiet, mangaan, fosfat, batubara dan akhir-akhir ini diketemukan sumber minyak dan gas di lautan China Selatan yang membawa konflik dengan P.R. China yang menilai bahwa wilayah ini adalah territorial China. Sekitar 85% dari penduduknya penganut Buddhisme dan sekitar 8% beragama Katolik Roma, tetapi partai Komunis adalah satu-satunyanya yang berkuasa di sini, dan agama secara tidak langsung juga ditekan atau dipersulit.

Perjalanan menuju ke Ho Chi Minh city memakan waktu sekitar satu jam setengah lewat jalan raya tol. Banyak dari jalan-jalan ini yang rusak akibat hujan lebat yang melanda Vietnam.

Lalu lintas sangat kacau sekali, karena sepeda motor yang menyelib dari kanan dan kiri seperti di Indonesia pada umumnya.

Dibandingkan dengan Thailand, infrastuktur di Vietnam jauh lebih parah dan jelek serta lebih tidak teratur. jalan-jalan raya banyak yang berlubang dan terkadang ada sapi atau kambing yang berkeliaran di samping jalan.

Pertama kali kami dikelilingkan kota Ho Chi Minh untuk sight seeing, oleh pemandu kami yang bahasa Inggrisnya susah dimengerti karena begitu jeleknya! Kemudian diajak ke pabrik penyulaman dan kerajinan tangan dimana kulit-kulit dari kerang halus yang dihancurkan kecil-kecil dan ditanam di kayu dirancang pelbagai motif. Semua dengan profesional dan tidak murah karena kwalitasnya yang tinggi dan diberi garansi sertifikat. Kami melihat bahwa seorang wanita muda menyulam pemandangan alam yang bagus sekali, dan menurut keterangan yang saya peroleh, saat itu dia telah tiga bulan sibuk membuatnya, jika selesai diperkirakan seharga US$ 800,- US$ 1.000 dan memakan waktu produksi selama 5-6 bulan.

Beberapa contoh-contoh yang saya lihat dan sempat saya buat foto-fotonya dan saya lampirkan di sini.
Jika saya tidak melihat sendiri bagaimana barang2 ini diproduksi, pasti saya menilai bahwa semua ini adalah produksi dengan mesin dengan bantuan komputer. Satu-satunyanya komputer yang saya lihat adalah dari kassa pembayaran…..

Setelah mengunjungi pabrik ini kemudian kami diturunkan di hotel tidak jauh dari kantor pos pusat yang berdekatan dengan Notre Dame cathedral. Kami diberi kebebasan untuk pergi sendiri dengan pesan bahwa sekitar pk 14.30 kami sudah harus berkumpul kembali di hotel ini. Dengan 10 peserta lain kami memutuskan untuk bergerombol bersama. Hal ini berhubungdengan pertimbangan praktis, yaitu jikalau sampai kami tersesat, setidaknya ada 12 penumpang yang tersesat, dan ini tidak membawa persoalan yang sangat besar dan kami mungkin tidak ditinggal, daripada jika hanya berdua atau berempat tersesat.

Pemandangan Ho Chi Minh city tidak banyak berbeda dengan di Jakarta. Tidak saja hiruk pikuk, tetapi juga sangat kacau. Juga harus berhati-hati jika ingin menyeberang di tempat penyeberangan jalan meskipun lampu untuk ini saat itu adalah hijau, karena para pengemudi sepeda motor main ngebut, bergegas, beri gaspedal dulu baru lihat apa ada yang tertabrak atau terlindas, selain itu tidak mengenal aturan dan disiplin.

Khusus di Ho Chi Minh city ini ada ratusan petugas lalu lintas semacam satpam yang berseragam hijau. Hanya petugas-petugas ini yang rupanya cukup ditakuti, apalagi di negara yang masih mempunyai status komunis dimana aparat/petugas negara masih mempunyai wibawa yang besar sekali. Jika kita ingin menyeberang, dan meminta mereka untuk ikut membantu menyeberangkan, maka mereka hanya perlu mengacungkan tangan dan bilamana perlu meniup peluit mereka seperti wasit sepak bola, sehingga lalu lintas dihentikan. Saat demikian ini kami, sekitar duabelas penumpang yang ikut tour, sebagian besar bule  dan ada juga yang juga berkursi roda, dan berjalan memakai tongkat telah sepakat untuk menghilangkan kesebalan dan kekesalan kami karena ketidak disiplin nya para pengendara sepeda motor dan mobil, saat menyeberang jalan berbaris satu per satu dan berjalan lambat bergaya lenggang kangkung sehingga menyebabkan traffic jam …… Dengan temperatur yang saat itu sekitar 34 derajad Celsius dengan kelembapan sekitar 80%, pasti banyak di antara para pengemudi yang kepala mereka mulai mendidih, berkeringat melihat lagak kami.. Semua ini berkat bantuan dan jasa dari satpam seragam hijau yang membantu kami menyebrangkan jalan…… Sesampai di seberang jalan kami semua tertawa terpingkal-pingkal. Ah, sekedar menghilangkan emosi kami semua. Ah…, joke of the day…… di bawah terik matahari.

Wah kalo di Jakarta malah kami semua bisa dikeroyok massa dan dilabrak babak belur, karena tidak ada satpam hijau dan polisi tidak ikut campur, cuma nonton, kan cari perkara namanya.

Di pihak lain, saya sebagai orang-orang yang kelahiran “timur” juga terus terang saja sedikit agak malu, karena seringkali di negara-negara timur, orang mempropagandakan diri lebih tahu sopan santun dan aturan, tetapi apa yang kami alami dan telah saya uraikan di atas itu, jauh dari kenyataan! Peraturan dan disiplin yang tidak dikenal atau diremehkan. Untung saja tidak ada bule yang membicarakan soal ini pada saat itu… Hukum dan peraturan  itu diadakan untuk ditaati, bukan untuk diinjak-injak, dilanggar dan dilanda begitu saja, sesuai dengan maunya sendiri, tanpa memikirkan bagaimana  dan apa akibatnya untuk orang yang berkursi roda atau orang tua yang susah berjalan jika mereka ingin menyebrang jalan ditempat yang telah disediakan khusus untuk mereka dan lampu penyeberangan saat itu berwarna hijau?

Bagaimana kalau seandainya  mereka sendiri yang berada di posisi seperti orang-orang yang duduk di kursi roda dan susah jalannya? Setidaknya hal ini merupakan satu pelajaran untuk mereka dan berharap dapat mereka renungkan.

Banyak pengendara sepeda motor yang juga tidak memakai helm seperti di Indonesia, Thailand, Vietnam, dan China dalam hal ini hampir tidak berbeda. Belum lagi asap kendaraan yang menyebabkan polusi dan sesak pernapasan. Hanya Singapura di samping Korea dan Jepang yang sangat bersih, teratur dan disiplin lalu lintasnya dan kesadaran masyarakatnya sudah sangat tinggi.

Gereja Kathedral Notre Dame dari Ho Chi Minh berada di tengah kota, hampir berhadapan dengan gedung postkantor dari abad 19. Gedung ini sangat bagus sekali arsitekturnya. Banyak gedung kuno peninggalan dari masa kolonialisme Perancis yang dirawat benar.

Kathedral Notre Dame ini di jaman Vietnam masih terbagi dua, adalah merupakan tempat resmi pelantikan presiden Ngo Dien Diem.

Di dekat kedutaan besar Amerika Serikat banyak berkeliaran polisi yang mengawasi para turis karena di daerah situ dilarang mengambil foto berhubung ada beberapa gedung pemerintah yang penting. Jadi kami semua sudah diperingatkan oleh guide kami.

Selebihnya kota Ho Chi Minh city ini tidak banyak berbeda dengan kota-kota besar lainnya dan tidak banyak yang dapat kami kunjungi berhubung dengan singkatnya waktu yang diberikan kepada kami. Selain itu kami juga harus memperhitungkan waktu ini karena jika sampai tersesat dan terlambat kembali ke bus yang diorganisir oleh perusahan cruise, maka kami akan ditinggal, tanpa maaf. Hal ini dapat dimaklumi, karena jika semua penumpang yang berjumlah ribuan orang menerapkan jam karet, maka dapat dibayangkan betapa kacaunya nantinya. Siang hari sekitar pk 15.00 bus kami sudah mulai meninggalkan Ho Chi Minh city sebelum jam bubar kantor sekitar pk 16.00, karena lalu lintas biasanya sangat macet semua.

Pk 17.30 kapal meninggalkan dermaga pelabuhan untuk berlayar ke kota Nha Trang di pantai timur di Vietnam tengah.

 

Nha Trang

Nha Trang adalah “Costa Brava ” kota di Vietnam tengah karena pantainya yang dikenal sebagai tempat turis dan pesiar orang-orang yang cukup mampu dan merupakan salah satu kota terpenting di Vietnam, selain juga merupakan kota industri perikanan.

Meskipun kota ini hanya sekitar sembilan jam dari Ho Chi Minh city, kapal kami membutuhkan sekitar 20 jam untuk berlayar ke Nha Trang, mungkin karena berlayarnya menjauhi pantai berhubung laut di sekitarnya yang dangkal, karena pelabuhan Nha Trang sendiri begitu dangkal belum ada 20 meter dalamnya, maka  kapal raksasa kami harus berlabuh sekitar 1.500 meter dari dermaga Nha Trang, dan untuk mereka yang ikut tour harus diangkut dengan tender boat, yang dapat memuat sekitar 80 orang tiap kapalnya. Dengan beberapa tender boat ini kami dapat menuju ke pelabuhan Nha Trang.

Nha Trang berarti “Rumah Putih”, karena kota ini mempunyai satu-satunyanya rumah yang berdinding putih. Rumah ini adalah milik dari Dr. Alexandre Emile Jean Yersin, seorang makro biolog Perancis yang lahir di Swiss pada tanggal 22 September 1863, yang menemukan virus yang menyebabkan penyakit pes, dan akhirnya menemukan vaccinnya.

Rumah itu kemudian dipakai sebagai laboratorium penyelidikan Pasteur Institute yang didirikan oleh Louis Pasteur.

Karena waktu kami mendarat di Nha Trang kebetulan bukan musim liburan musim panas, maka Costa Nha Trang juga tidak ada turis, sehingga praktis terlihat seperti “kota hantu” seperti yang dapat terlihat dari foto yang saya lampirkan di atas. Kesempatan ini kami pakai untuk mengikuti sight seeing dengan bus yang seperti di Ho Chi Minh city, sekalian kami berkunjung ke pasar tertutup. Pelbagai barang tiruan diperdagangkan di sana. Jam Rolex untuk € 35,00. Kacamata RayBan € 30,00, Poloshirt Lacoste, Mc Gregor, perhiasan Calvin Klein, Gucci, hampir semua dapat dibeli dan harus ditawar. Garansi ? Hanya sampai di depan pintu toko. Dealer mana yang mau memberi garansi barang palsu?

Oh oh.. risiko juga sangat besar sekali, karena pada saat kembali ke negara masing, besar sekali kemungkin kepergoknya sehingga mendapatkan kesulitan dengan pabean di Eropa dan Amerika yang pada umumnya sangat ketat dan tidak mengenal ampun dalam menindak barang-barang palsu, tidak saja didenda berat tetapi juga dapat dituntut hukum.

Tibalah saatnya kami harus kembali kekapal yang berlabuh lebih kurang 1 km dari pelabuhan Nha Trang dengan kapal tender bermotor yang kebetulan dikemudikan oleh seorang awak kapal dari Indonesia yang telah berlayar dengan Princess selama 14 tahun.

 

DILANJUTKAN  JILID  IV

 

Share This Post

Posted by Thursday, 2 August 2012 on 10:23.

Categories: Jalan-jalan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

27 Responses to “Asian Cruise Diamond Princess (3)”

Pages: [3] 2 1 »

  1. 27
    bagong julianto Says:

    mpek dul….

    nggak jadi tersesat dua belas penumpang……

  2. 26
    Lani Says:

    MPEK DUL : cleguuuuuuk……melihat gambar avatarnya yg baru, njur lemessss……..ditunggu mission impossible seri ke 5 dgn bintang utama mpek Dul……..bakal laris manis tanjung kimpul semua member baltyra hrs melihat mpek ber action ria……….hahaha

  3. 25
    mpekDuL Says:

    elnino Says: August 3rd, 2012 at 16:57
    Wow! Ada penampakan mpek Dul…
    Itu lukisan sulamnya bagooos banget mpek..pantes saja kalo harganya mihil

    Makanya Elnino besok sekolahnya yang betul2, jangan mogok dan berhenti ditengah jalan. Tuntut ilmu setinggi mungkin. Dimana ada kemauan disitu ada jalan

  4. 24
    mpekDuL Says:

    Novita Says: August 3rd, 2012 at 17:22
    akhirnya tau fotonya mpek ya mana hihihihi

    Cekep nggak?

  5. 23
    mpekDuL Says:

    Dewi Aichi Says: August 3rd, 2012 at 17:04
    Mpek Dul, sim e verdade…no Brasil cada dia e uma celebração ….

    Vida no Brasil é uma festa ! uma vida sem preocupação

  6. 22
    mpekDuL Says:

    Dewi Aichi Says: August 3rd, 2012 at 17:01
    Elnino..di layar monitorku ngga ada penampakan Mpek Dul….yang ada penampakan Burung Mwillis…ehemmm..
    Mpek…mendapatkan SIM maksud aye ya itu ujian untuk mendapatkan SIM he he he….

    BURUNG MLIWIS ? Nah sekarang jelas maksudnya: Harus ujian untuk mendapatkan SIM (Kalau lulus, kalo mogok ya nggak dapet ). Mengapa nggak mau kasih amplop aja?

  7. 21
    Novita Says:

    akhirnya tau fotonya mpek ya mana hihihihi

Pages: [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)