Thursday, 2 August 2012
Leo Sastrawijaya
Jika sekarang tahu dan tempe, akibat krisis kedelai maka beberapa tahun lagi beras. Akan menjadi masalah besar bangsa ini.
Karena Tuhan (siapapun Dia), tidak menanam kedelai juga tidak menanam padi.
Manusialah yang menanamnya.
Sedang untuk bercocok tanam, manusia membutuhkan lahan, kemauan, keinginan, pengetahuan (tidak henti untuk terus diperbaharui), teknologi, biaya dan seterusnya.
Jika kita berputera 3, maka secara langsung kita menambah populasi manusia 50% dari yang ada.
Sayangnya, Tuhan tidak menambah sejengkalpun tanah untuk anak kita. Betapapun kita berdoa. Ya karena Tuhan adalah Maha Gantleman, Dia pasti tidak akan se-enaknya merubah hukum-hukumNya untuk memenuhi permintaan ‘luar biasa’ seorang anak manusia yang bebal, sedang di lain tempat ada lebih tujuh milyar manusia yang juga harus diperlakukan-Nya dengan adil.
Karena nampaknya Hukum-hukum Tuhan telah selesai dibuat-Nya. Keharusan manusia hanyalah memahami hukum-hukum itu, lalu menjadikan pengetahuan akan hukum-Nya sebagai titik awal untuk semua keputusan-keputusan untuk menjalani hidup.
Tuhan, secara kasat mata, memberkati Bangsa Jepang (Bangsa ini pun dihormati oleh sebagian besar bangsa-bangsa lain di dunia karena karakter mental dan perilakuknya saat ini, banyak negara yang membebaskan visa untuk mereka), karena rajin mencari tahu rahasia-rahasia hukum Tuhan, tidak hanya di kuil-kuil mereka tetapi juga lewat laboratorium-laboratorium, lembaga riset dan perengkat-perangkat sains lain yang didisain untuk mengakrabi Hukum Tuhan.
Dari tanah gersang mereka, mengalir berton-ton bahan makanan untuk dijual ke bangsa lain (tentu saja setelah persedian untuk mereka dirasa cukup termasuk ke bangsa kita dengan Beras Jepangnya).
Bangsa kita dengan segala antribut religinya, lebih suka berbicara Hukum Tuhan dalam konteks Dogma, bukan dalam konteks kemungkinan tanpa batas.
Kemudian melahirkan tindakan-tindakan yang jauh berbanding terbalik dengan Hukum-hukum Tuhan, bahkan yang paling dogmatis yang ‘seolah-olah’ mereka yakini dan selalu mereka proklamirkan dengan segala antribut mereka.
Apakah ketika seseorang melakukan korupsi dia ingat Tuhan dan ajaran religi yang dianutnya?
Lalu ketika tertangkap karena korupsinya tidak dibagi-bagi, mereka ‘menyalahkan’ Tuhan dengan nada kearifan kenanak-kanakan dengan menyebut itu ‘musibah’ ….. Walah!
Itu hanyalah contoh yang sangat kasar.
Bayangkan, ketika dia bertindak sebagai pemangku kekuasaan, apakah mereka ketika harus merapatkan sebuah proyek, benar-benar memperhatikan akibat sosio ekonomi, akibat lingkungan dan lain-lain, dimana semuanya adalah hal-hal yang berhubungan Hukum-hukum Tuhan, baik yang oleh manusia diklasifikasikan sebagai hukum fisika, kimia, maupun sosial. Rasanya sulit berharap itu terjadi bukan?
Yang dapat kita lihat di ruang publik kita sekarang adalah pikiran-pikiran idiot yang diamini bersama.
Sebuah komunitas yang telah selesai dicuci otak, berjalan dalam gelap, namun berasumsi ada di jalan terang.
Sesudah krisis kedelai, mungkin berlanjut krisis beras, krisis air, bahkan krisis ekologi….
Bukan karena Tuhan sedang menguji kita, tetapi karena kita yang keterlaluan!
August 2nd, 2012 at 21:06
Contoh yang kebanyakan MAKANAN ROHANI:
http://megapolitan.kompas.com/read/2012/07/30/09144362/Rhoma.Irama.Kampanye.SARA.Dibenarkan
August 2nd, 2012 at 21:04
Kang Josh, jadi kalau begitu Pak Hand dengan program Lacavore-nya gagal sebgai kandidat Mentan, tersingkir oleh Itsmi yang diusung sebagai Menag.
August 2nd, 2012 at 21:02
Maksud saya, bukan “daripada” tetapi, “dan malah”.
Jadi kalimat di atas adalah: Apa ini? Mengapa anggaran terbesar diberikan bukan kepada sektor pertanian yang jelas-jelas merupakan penyokong makanan jasmani dan malah ke kementrian agama yang menyokong sektor makanan rohani? Dst.
August 2nd, 2012 at 20:56
Negara agraris dan maritim, gemah ripah loh jinawi, ikan bertebaran di lautan seluruh Indonesia, dananya kalah dengan AGAMA. Lama-lama saya jadi berpikir, mungkin ada baiknya ITSMI jadi Menteri Agama, alokasi dananya hanya 1M cukup, beli palu untuk ngetok kepala para pemuka agama…
August 2nd, 2012 at 20:53
http://m.detik.com/read/2012/07/27/160625/1976821/4/bukan-lagi-agraris-kini-ri-jadi-negara-agama?f9911023
Apa ini? Mengapa anggaran terbesar diberikan bukan kepada sektor pertanian yang jelas-jelas merupakan penyokong makanan jasmani daripada ke kementrian agama yang menyokong sektor makanan rohani? Bukan tidak setuju bahwa, hidup beragama itu perlu tapi, hanya saya heran sungguh…
Semoga ini bukan dimaksudkan untuk memarginalkan sektor pertanian di Indonesia yang (katanya), negara agraris. Negara agraris adalah negara yang mampu menyediakan dengan cukup tentang apa pun yang menyangkut pertanian. Faktanya? Kedelai saja impor dari Amerika.
Sedih..
August 2nd, 2012 at 18:44
menanam kedelai ga perlu ijin Tuhan, beranak juga ga perlu ijin Tuhan, apalagi korupsi. Tuhan ada dan diadakan oleh kepala manusia, dan sifat-sifatnya dibatasi oleh indra dan bongkahan otak manusia.
August 2nd, 2012 at 16:21
apa ada titik temunya, nggak, yah?
August 2nd, 2012 at 15:12
Sering kita memberi beban kepada Tuhan mellalui kebebalan kita.
August 2nd, 2012 at 14:16
Pak Iwan memang sudah mirip Itsmi ha ha ha….kurang galak sedikit..seperti kata mas Jc tuh..
August 2nd, 2012 at 14:05
dalam beberapa hal Mas Leo dan Itsmi benar, kadang agama (formal) menjadi “persoalan” daripada solusi dalam banyak hal termasuk ketahanan pangan..