Tabungan Hijau Hutan Bambu (2)

Mastok

 

Artikel sebelumnya: http://baltyra.com/2012/07/27/tabungan-hijau-hutan-bambu-1/

 

Sifat Anatomi Bambu

Kolom bambu terdiri atas sekitar 50% parenkim, 40% serat dan 10% sel penghubung (pembuluh dan sieve tubes) Dransfield dan Widjaja (1995). Parenkim dan sel penghubung lebih banyak ditemukan pada bagian dalam dari kolom, sedangkan serat lebih banyak ditemukan pada bagian luar. Sedangkan susunan serat pada ruas penghubung antar buku memiliki kecenderungan bertambah besar dari bawah ke atas sementara parenkimnya berkurang.

 

Sifat Fisis dan Mekanis Bambu

Sifat fisis dan mekanis merupakan informasi penting guna memberi petunjuk tentang cara pengerjaan maupun sifat barang yang dihasilkan. Hasil pengujian sifat fisis dan mekanis bambu telah diberikan oleh Ginoga (1977) dalam taraf pendahuluan. Pengujian dilakukan pada bambu apus (Gigantochloa apus Kurz.) dan bambu hitam (Gigantochloa nigrocillata Kurz.). Beberapa hal yang mempengaruhi sifat fisis dan mekanis bambu adalah umur, posisi ketinggian, diameter, tebal daging bambu, posisi beban (pada buku atau ruas), posisi radial dari luas sampai ke bagian dalam dan kadar air bambu. Hail pengujian sifat fisis mekanis bambu hitam dan bambu apus terdapat pada Tabel 1.

Tabel 1. Sifat fisis dan mekanis bambu hitam dan bambu apus

No.

Sifat

Bambu hitam

Bambu apus

1.

Keteguhan lentur statik

a. Tegangan pada batas proporsi (kg/cm2)

447

327

b. Tegangan pada batas patah (kg/cm2)

663

546

c. Modulus elastisitas (kg/cm2)

99000

101000

d. Usaha pada batas proporsi (kg/dcm3)

1,2

0,8

e. Usaha pada batas patah (kg/dm3)

3,6

3,3

2.

Keteguhan tekan sejajar serat (tegangan maximum, kg/cm2)

489

504

3.

Keteguhan geser (kg/cm2)

61,4

39,5

4.

Keteguhan tarik tegak lurus serat (kg/cm2)

28,7

28,3

5.

Keteguhan belah (kg/cm2)

41,4

58,2

6.

Berat Jenis

a. KA pada saat pengujian

0,83 KA : 28%

0,69 KA : 19,11%

b. KA kering tanur

0,65 KA : 17%

0,58 KA : 16,42%

7.

Keteguhan pukul

a. Pada bagian dalam (kg/dm3)

32,53

45,1

b. Arah tangensial (kg/dm3)

31,76

31,9

c. Pada bagian luar (kg/dm3)

17,23

31,5

Sumber : Ginoga (1977)

Pengujian dilakukan pada tiga jenis bambu, yaitu bambu andong (Gigantochloa verticillata), bambu bitung (Dendrocalamus asper Back.) dan bambu ater (Gigantochloa ater Kurz.) Hasilnya menunjukkan bahwa bambu ater mempunyai berat jenis dan sifat kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan bambu bitung dan bambu andong. Nilai rata-rata keteguhan lentur maksimum, keteguhan tekan sejajar serat dan berat jenis tidak berbeda nyata pada buku dan ruas, sedangkan antar jenis berbeda nyata. Nilai rata-rata sifat fisis dan mekanis bambu terdapat pada Tabel 2.

Tabel 2. Nilai sifat fisis dan mekanis bambu

No.

Sifat fisis dan mekanis

Bambu ater kg/cm2

Bambu bitung kg/cm2

Bambu andong kg/cm2

1.

Keteguhan lentur maksimum

533,05

342,47

128,31

2.

Modulus elastisitas

89152,5

53173,0

23775,0

3.

Keteguhan tekan sejajar serat

584,31

416,57

293,25

4.

Berat jenis

0,71

0,68

0,55

Sumber : Hadjib dan Karnasudirdja (1986)

Sifat Kimia Bambu

Penelitian sifat kimia bambu telah dilakukan oleh Gusmailina dan Sumadiwangsa (1988) meliputi penetapan kadar selulosa, lignin, pentosan, abu, silika, serta kelarutan dalam air dingin, air panas dan alkohol benzen. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kadar selulosa berkisar antara 42,4% – 53,6%, kadar lignin bambu berkisar antara 19,8% – 26,6%, sedangkan kadar pentosan 1,24% – 3,77%, kadar abu 1,24% – 3,77%, kadar silika 0,10% – 1,78%, kadar ektraktif (kelarutan dalam air dingin) 4,5% – 9,9%, kadar ekstraktif (kelarutan dalam air panas) 5,3% – 11,8%, kadar ekstraktif (kelarutan dalam alkohol benzene) 0,9% – 6,9%. Hasil analisis kimia 10 jenis bambu pada Tabel 3.

 

Keawetan dan Keterawetan

Penelitian keawetan bahan bambu telah dilakukan oleh para peneliti. Bambu ampel (Bambusa vulgaris) paling rentan terhadap serangan bubuk, kemudian bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea), bambu hitam (Gigantochloa atroviolaceae) dan bambu terung (Gigantochloa nitrocilliata). Sedangkan bambu atter (Gigantochloa atter) dan bambu apus/tali (Gigantochloa apus) relatif tahan terhadap serangan bubuk. Jenis bubuk bambu yang banyak ditemukan menyerang bambu adalah Dinoderus sp., sedangkan jenis bubuk yang paling sedikit ditemukan menyerang bambu adalah Lyctus sp. Kuantitas bubuk yang ditemukan pada bambu terdapat pada Tabel 4, sedangkan penyebaran jenis bubuk pada bambu terdapat pada Tabel 5.

 Tabel 3. Analisis kimia 10 jenis bambu

Kelarutan dalam , (%)

No

Jenis Bambu

Selulosa(%)

Lignin(%)

Pentosan(%)

Abu (%)

Silika(%)

Air di-ngin

Air panas

Alkohol- benzene

NaOH1%

1.

Phyllostachys reticulata (bambu madake)

48,3

22,2

21,2

1,24

0,54

5,3

9,4

4,3

24,5

2.

Dendrocalamus asper (bambu petung)

52,9

24,8

18,8

2,63

0,20

4,5

6,1

0,9

22,2

3.

Gigantochloa apus (bambu batu)

52,1

24,9

19,3

2,75

0,37

5,2

6,4

1,4

25,1

4.

Gigantochloa nigrociliata (bambu batu)

52,2

26,6

19,2

3,77

1,09

4,6

5,3

2,5

23,1

5.

Gigantochloa verticillata (bambu peting)

49,5

23,9

17,8

1,87

0,52

9,9

10,7

6,9

28,0

6.

Bambusa vulgaris (bambu ampel)

45,3

25,6

20,4

3,09

1,78

8,3

9,4

5,2

29,8

7.

Bambusa bambos (bambu bambos)

50,8

23,5

20,5

1,99

0,10

4,6

6,3

2,0

24,8

8.

Bambusa polymorpha (bambu kyathaung)

53,8

20,8

17,7

1,83

0,32

4,9

6,9

1,9

22,4

9.

Chephalostachyum pergraciles (bambu tinwa)

48,7

19,8

17,5

2,51

0,51

9,8

11,8

6,7

29,3

10.

Melocanna bambusoides

42,4

24,7

21,5

2,19

0,33

7,3

9,7

4,0

28,4

Sumber : Gusmailina dan Sumadiwangsa (1988)

Tabel 4. Bubuk yang ditemukan pada bambu

Jml srangga

Ttal srangga

No

Jenis Bambu

P (e)

T (e)

U (e)

S (e)

R (%)

Y (b)

DS (%)

1.

Bambusa vulgaris

415

375

800

30,48

2312

100

10

2.

Gigantochloa apus

125

25

156

5,94

252

40

6

3.

Gigantochloa atroviolaceae

257

295

554

21,10

997

90

2

4.

Gigantochloa atter

175

30

213

8,11

484

40

8

5.

Gigantochloa nigrocilliata

180

48

228

8,69

1176

70

6.

Gigantochloa robusta

177

60

237

9,03

655

70

7.

Gigantochloa pseodoarundinacea

227

202

457

16,65

1982

90

8

Sumber : Jasni dan Sumarni (1999)

Keterangan :

P : pangkal

e : ekorR : jumlah dalam %
T : tengahb : buahY : lubang gerek
U : ujungS : jumlah individuDS: derajat serangan

Tabel 5. Penyebaran jenis bubuk pada bambu

Jenis bambu

Jumlah

No.

Jenis bubuk

A

B

C

D

E

F

G

H

I

+

+

+

+

327

12,33

2.

Lyctus sp.

+

+

+

+

35

1,32

3.

Dinodeus

+

+

+

+

+

+

+

1946

73,23

4.

Minthea sp.

+

+

+

+

+

369

13,93

Sumber : Jasni dan Sumarni (1999)

Keterangan :

A : bambu ampel

D : bambu atter

G : bambu andong

B : bambu apus (tali)

E : bambu terung

+ : ditemukan

C : bambu hitam

F : bambu mayan

– : tidak ditemukan

Keunggulan  Bambu

1. Bambu mudah ditanam dan tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus. Untuk melakukan budidaya bambu, tidak diperlukan investasi yang besar, setelah tanaman sudah mantap, hasilnya dapat diperoleh secara menerus tanpa menanam lagi. Budidaya bambu dapat dilakukan sembarang orang, dengan peralatan sederhana dan tidak memerlukan bekal pengetahuan yang tinggi.

2. Pada masa pertumbuhan, bambu tertentu dapat tumbuh vertikal 5 cm per jam, atau 120 cm per hari. Bambu dapat dimanfaatkan dalam banyak hal. Berbeda dengan pohon kayu hutan yang baru siap ditebang dengan kualitas baik setelah berumur 40-50 tahun, maka bambu dengan kualitas baik dapat diperoleh pada umur 3-5 tahun.

3. Tanaman bambu mempunyai ketahanan yang luar biasa. Rumpun bambu yang telah dibakar, masih dapat tumbuh lagi, bahkan pada saat Hiroshima dijatuhi bom atom sampai rata dengan tanah, bambu adalah satu-satunya jenis tanaman yang masih dapat bertahan hidup.

4. Bambu mempunyai kekuatan cukup tinggi, kuat tariknya dapat dipersaingkan dengan baja. sekalipun demikian kekuatan bambu yang tinggi ini belum dimanfaatkan dengan baik karena biasanya batang-batang struktur bambu dirangkaikan dengan pasak atau tali yang kekuatannya rendah

5. Bambu berbentuk pipa sehingga momen kelembabannya tinggi, oleh karena itu bambu cukup baik untuk memikul momen lentur. Ditambah dengan sifat bambu yang elastis, struktur bambu mempunyai ketahan yang tinggi baik terhadap angin maupun gempa.

 

Kelemahan Bambu

Sekalipun bambu memiliki banyak keunggulan, kiranya perlu juga diingat bahwa upaya menjadikan bambu sebagai pengganti kayu menghadapi beberapa kendala, yaitu :

1. Bambu mempunyai durabilitas yang sangat rendah, bambu sangat potensial untuk diserang kumbang bubuk, sehingga bangunan atau perabot yang terbuat dari bambu tidak awet. Oleh karena itu rangka bangunan dari bambu, yang tidak diawetkan, hanya dipandang sebagai komponen bangunan sementara yang hanya tahan tidak lebih dari 5 tahun. Hal ini merupakan kendala yang sangat serius karena minat orang pada bambu jadi berkurang. Betapa ganasnya kumbang bubuk ini dapat diberikan contoh kejadian pengelolahan bambu kami yang berlokasi di Bandung selatan. Perusahaan ini tiap tahun mendatangkan bambu sampai sekitar 24 truk, tetapi hampir 30-40 persen dari bambu tersebut telah rusak diserang kumbang bubuk sebelum sempat dijadikan diolah. Mengingat produk bambu kini sudah mulai menjadi komoditi ekspor, maka upaya untuk mencegah serangan bubuk perlu memperoleh perhatian secara khusus agar barang-barang yang terbuat dari bambu tidak mengecewakan pemakainya.

2. Kekuatan sambungan bambu yang pada umumnya sangat rendah karena perangkaian batang-batang struktur bambu sering kali dilakukan secara konvensional memakai paku, pasak, atau tali ijuk. Pada perangkaian batang-batang struktur dari bambu yang dilakukan dengan paku atau pasak, maka serat yang sejajar dengan kekuatan geser yang rendah menjadikan bambu mudah pecah karena paku atau pasak. Penyambungan memakai tali sangat tergantung pada keterampilan pelaksana. Kekuatan sambungan hanya didasarkan pada kekuatan gesek antara tali dan bambu atau antara bambu yang satu dengan bambu lainnya Dengan demikian penyambungan bambu secara konvensional kekuatannya rendah, sehingga kekuatan bambu tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Pada saat tali kendor sebagai akibat kembang susut karena perubahan temperatur, kekuatan gesek itu akan turun, dan bangunan dapat runtuh. Oleh karena itu sambungan bambu yang memakai tali perlu dicek secara berkala, dan tali harus selalu disetel agar tidak kendor.

3. Kelangkaan buku petunjuk perancangan atau standar berkaitan dengan bangunan yang terbuat dari bambu.

4. Sifat bambu yang mudah terbakar. Sekalipun ada cara-cara untuk menjadikan bambu tahan terhadap api, namun biaya yang dikeluarkan relatif cukup mahal.

5. Bersifat sosial berkaitan dengan opini masyarakat yang sering menghubungkan bambu dengan kemiskinan, sehingga orang segan tinggal di rumah bambu karena takut dianggap miskin. Orang baru mau tinggal di rumah bambu jika tidak ada pilihan lain. Untuk mengatasi kendala ini maka perlu dilibatkan arsitek, agar rumah yang dibuat dari bambu terlihat menarik. Upaya ini tampak pada bangunan-bangunan wisata yang berupa bungalo dan rumah makan yang berhasil menarik wisatawan mancanegara.

Komoditi Tanaman Penunjang: Tanaman Tahunan (Mangga,  Pisang,  Melinjo, dan lainnya); dan Tanaman Pangan (Jagung, Ubikayu, Kacang-kacangan, Sayuran).

bersambung…

 

About Mastok

Penampakannya mengingatkan para sahabatnya akan Panji Tengkorak yang berkelana ke seluruh dunia persilatan. Mastok berkelana dengan menggembol buntelannya yang lusuh...eits...jangan salah, dalam buntelannya tersemat segala gadget canggih terakhir: iPad, laptop mutakhir, koneksi wireless, smartphone model terakhir. Bertelanjang kaki ke mana pun melangkah menunjukkan tekadnya yang membara untuk back to nature, kembali merengkuh Mother Earth.

My Facebook Arsip Artikel

21 Comments to "Tabungan Hijau Hutan Bambu (2)"

  1. Gede Harta Wijaya  1 April, 2013 at 16:15

    Terima kasih atas INFOnya,.. KITA jadi “TERSADARKAN” oleh Ulasan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.