Anastasia Yuliantari
Kuawali dengan sebuah helaan napas,
saat kau berkata,
tentang sebuah rindu,
menganak sungai,
meluapi hari-harimu.
Kuurai rasa kupunya,
pada bening hari-hari,
kala jalinan kisah menguat,
melalui desah suara kita,
ke mana semua cerita bermuara?
Di antara sejuta gamang,
kumelangkah menuju satu jalan,
biarlah jemari kita terjalin,
dalam senyap dan diam,
menembus kabut menguak kelam.
Kasihku,
di antara bisu dan hening waktu,
biarlah kita terus melangkah,
aku berjanji akan setia,
pada satu kisah.
August 7th, 2012 at 19:40
Mas Bagong, thank you puisinya…..top tenan.
Btw, bagian rebahnya koq bayanganku pohon tebu ya? Waaahhh emang ga nyambung tenan iki.
August 7th, 2012 at 19:38
@JC, lha koq mung hmmmm???
August 7th, 2012 at 19:38
Anoew & Dewi, mulai mbakul buah nang Jalan Kolombo po?
Jelas kabeh buah ki muncul mergo pembuahan, nek ora jenenge dudu buah, ning kembang.
August 7th, 2012 at 19:35
Anoew, koq senenganmu Nanas to? Ayo…jawab!!!!
August 7th, 2012 at 19:33
Dewi, bisaaaaaaaa….aku, sih udah biasa jalan di atas rel. Kan rumahku di Jember dulu dekat stasiun, hehehe.
August 7th, 2012 at 19:32
Angela Januarty, thank you, adik. Saya senang juga adik telah membacanya.
August 7th, 2012 at 19:30
James, thanks, ya udah mampir.