Oleh-oleh dari Masa Lalu (4): Washington DC-nya Majapahit

Osa Kurniawan Ilham

 

Sebenarnya kami salah mengambil jalan, itu awal ceritanya. Saat kembali ke Surabaya dari liburan ke Kediri, kami berniat mau melihat-lihat beberapa candi di Mojokerto dan akhirnya setelah memasuki wilayah Mojokerto saya membelokkan mobil ke suatu jalan kecil. Tidak disangka dan tidak diduga, ternyata kami memasuki areal Trowulan, yang oleh para ahli sampai saat ini masih dipercaya sebagai ibukotanya Imperium Majapahit di abad ke 13 dulu.

Kolam Segaran (www.wacananusantara.org)

Memasuki jalan kecil itu di sebelah kiri ada Kolam Segaran, sayang saat itu tidak ada pikiran untuk berhenti dan mengambil fotonya. Kolam Segaran ini adalah salah satu bukti majunya ilmu hidrologi di Kerajaan Majapahit. Konon, dulu Kolam Segaran digunakan sebagai tempat pencitraan saat jamuan atau gala dinner kalau ada tamu asing. Kalau perjamuan sudah usai, peralatan makan seperti piring, sendok atau mangkok yang terbuat dari emas itu dibuang begitu saja ke dalam kolam untuk menunjukkan betapa kayanya Majapahit. Padahal di dasar kolam sudah dipasangi jaring sehingga saat para tamu VVIP itu sudah pergi para karyawan istana tinggal mengangkat jaringnya untuk mengambil dan mencuci kembali peralatan emas itu. Tapi banyak ahli berpendapat bahwa kolam ini juga berfungsi untuk irigasi serta waduk untuk menambah kesejukan di ibukota Majapahit.

Bangunan depan Museum Trowulan (koleksi pribadi)

Melewati Kolam Segaran akhirnya sampailah kami di Museum Trowulan. Herannya, tidak ada tiket masuk ke museum ini, entah penjaganya lupa atau memang tidak ada tiket masuk. Selama di Museum ini seingat saya, saya hanya membayar Rp 2.000.- untuk parkir, serta biaya sepantasnya untuk pengarah kunjungan (guide) dan membeli booklet. Jadi mampirlah ke museum ini, tidak seberapalah ongkosnya dibandingkan ongkos masuk ke Museum Louvre yang sampai belasan Euro atau museum di Amerika Serikat yang mencapai belasan Dolar. Padahal koleksinya tidak kalah bergengsinya lho.

Masuk ke ruangan museum, kami disambut oleh relief berupa lambang Kerajaan Majapahit yaitu Surya Majapahit. Lambangnya sangat detil sekali berupa delapan berkas cahaya matahari dengan roda cakra berisi sembilan dewa Hindu di tengahnya.

Surya Majapahit (koleksi pribadi)

Saya tampilkan di sini makna Surya Majapahit itu dari situs wikipedia.

Makna Surya Majapahit (sumber: id.wikipedia.org)

Seperti kompas atau penunjuk mata angin ya? Memang benar, ini adalah kompas dalam falsafah Hindu. Ahli arkeologi bernama Dr. Agus Aris Munandar dalam bukunya berjudul “Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian” mengajukan teori untuk memecahkan teka-teki mata angin yang dicatat oleh Mpu Prapanca dalam buku NegaraKertagama. Dalam teorinya Dr. Agus menduga bahwa Trowulan memang sudah dirancang sebegitu rupa sesuai dengan desain Astadikpalaka, di mana ada dewa penjaga di setiap penjuru mata angin sehingga setiap perencanaan pembangunan di Majapahit harus disesuaikan dengan dewa penjaganya. Jadi pembangunan pelabuhan, pusat perdagangan ataupun tempat ibadah harus disesuaikan dengan dewanya. Hebat, di abad 13 ternyata sudah dikenal konsep RTRW, Rencana Tata Ruang dan Wilayah yang selalu dipatuhi. Beda dengan sekarang, RTRW sering diubah mengikuti besaran sogokan dari pengusaha hitam kepada pejabat korup.

Tapi ada misteri di balik kompas Mpu Prapanca atau mata angin Majapahit ini. Setelah diteliti ternyata penjuru mata angin Majapahit tidak sama persis dengan mata angin geografis yang berlaku umum sekarang. Untuk mengkonversi kompas Majapahit dengan kompas modern, kuncinya adalah sebagai berikut: putarlah mata angin geografis sekarang sebesar 90 derajat searah jarum jam.

Jadi arah timur secara geografis sekarang dianggap Majapahit sebagai utara yang dijaga oleh Dewa Kuvera (dewa kemakmuran), karena itu pantaslah karena di daerah timur Trowulan memang terdapat pelabuhan laut dari Pasuruan sampai Surabaya yang dari dahulu sampai sekarang menjadi pusat perdagangan internasional

Arah tenggara geografis dianggap sebagai timur laut oleh Majapahit. Sesuatu yang masuk akal karena di sebelah tenggara memang terdapat pegunungan Welirang, Arjuna, Anjasmara dan Penanggungan yang mana banyak didirikan tempat ibadah dan pertapaan di sana. Di sanalah Dewa Isana atau Siva Mahadeva bersemayam.

Arah utara geografis di anggap sebagai barat oleh Majapahit, karena di sanalah terdapat Laut Jawa, tempat Varuna, dewa laut berada. Begitulah seterusnya sehingga sekarang ahli arkeologi bisa tahu kenapa Candi Brahu yang adalah tempat pembakaran jenasah letaknya di barat laut Trowulan, karena di sanalah Dewa Nrtti (dewa kesedihan) berada.

Begitulah sedikit mengenai lambang Kerajaan Majapahit. Selanjutnya di luar gedung saya melihat banyak pohon rimbun dengan buahnya yang hijau seperti melon. Saya tanya ke ibu pengarah apakah itu yang namanya Pohon Maja. Ibu pengarah menjawab memang itulah Pohon Maja.

Pohon Maja (koleksi pribadi)

Saya tanya ke ibu itu, pernah makan buahnya? Si ibu menjawab tidak pernah, soalnya rasanya pahit. Sepertinya ibu itu dan juga banyak orang yang lain terkena sugesti dari cerita berdirinya Majapahit bahwa buah Maja itu rasanya pahit. Harap maklum saja, soalnya  dahulu kala saat pasukan Raden Wijaya tiba di Hutan Tarik dalam kondisi lapar, para prajuritnya memang memakan buah Maja yang rasanya pahit, karena itu pula akhirnya wilayah itu dinamakan Majapahit. Padahal mungkin yang dimakan saat itu adalah buah Maja yang masih muda.

Tapi saya sempat mencicipi daging buahnya, sebenarnya nggak pahit kok. Ada rasa agak manis tapi bergetah. Kulit buahnya berwarna hijau dan keras, tapi kalau sudah tua atau mengering berubah menjadi coklat.

Iseng-iseng saya coba lihat di internet. Ternyata buah di atas itu sebenarnya bernama buah Berenuk (Crescentia Cujete), banyak mengandung zat obat-obatan, tapi orang sering salah mengiranya sebagai buah Maja (Aegle Marmelos). Mungkin Pak Handoko bisa menjelaskan mengenai kedua buah ini, soalnya saya selalu menemukan pohon tersebut di setiap candi yang saya kunjungi.

Saya akan lanjutkan di tulisan berikutnya.

 

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 2 Agustus 2012)

 

24 Comments to "Oleh-oleh dari Masa Lalu (4): Washington DC-nya Majapahit"

  1. J C  8 August, 2012 at 15:47

    Mas Osa, gak ada acara bareng-bareng ke Jawa Timur kok. Aku coba ajak mas Iwan ketemu di sana liburan bareng masing-masing keluarga. Tapi ternyata mas Iwan yang berhalangan, jadi aku jalan sendiri December 2011 ke Jawa Timur. Ada ke Bromo, Malang, Trowulan dan Surabaya… tahu gitu, malah kita bisa janjian ketemu di sana…next time mungkin lebih berjodoh…

  2. Osa Kurniawan Ilham  8 August, 2012 at 08:51

    Waduh, mas ISK dan mas JC kok nyebut nama itu sih? terlalu……….
    Wah ternyata akhir tahun kemarin ada acara bareng2 ke Jawa Timur ya? kalau dikasih tahu saya dan keluarga pasti ikutan nggabung

    Salam,
    Osa KI

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 August, 2012 at 21:43

    Huahahahahaha… Terrrr….laaaaa…luuuu..

  4. J C  7 August, 2012 at 21:41

    seorang ulama menjadi manajer penari striptease.

    Lhoooo cocok, mas Iwan, nama manajernya RHOMA IRAMA…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.