Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Puasa

Monday, 6 August 2012

Viewed 1205 times, 1 times today | 18 Comments |

Anwari Doel Arnowo

 

Saya mengalami bulan puasa sejak saya menyadari ketika saya sudah menjadi salah satu dari sekian banyak anak-anak yang sudah mencapai umur 5 tahunan. Anak-anak tidak banyak yang berpakaian baru dan apalagi yang masih gres dari tempat jualnya di toko Babah atau di Toko milik orang Jepang yang berdagang kelontong, selebihnya ber”pakaian” seadanya malah banyak yang tergolong tidak layak pakai. Tetapi sebagian besar adalah baju bekas kakak atau cara lain, yang jelas terlihat bukan baru. Bukankah di jaman penjajahan Jepang itu semua orang melarat, bahkan lebih jelek dari sederhana.

Untuk mem”bentuk” sebuah celana pendek, tidak ada duit dan tidak ada kain yang bisa didapat, ada saya lihat bukannya pada satu orang saja, tetapi banyak orang, yang ber“pakaian” menggunakan bahan lembaran tipis terbuat dari karet mentah warna putih kusam, yang biasa dipakai sebagai alas paling bawah dari sebuah pasang sepatu atau sandal. Bangsa sendiri hanya berkutat berdagang di  warung-warung makanan, tidak di restoran apalagi di  toko besar. Memangnya apa yang bisa dijual?? Baju Bala Tentara Dai Nipoon yang sedang menjajah saja banyak yang kumuh dan tidak utuh seperti pakaian pasukan penjajah dari kain drill (?) warna cokelat. Itu kemelaratan yang merata. Pemimpin bangsa seperti Boeng Karno dan Boeng Hatta serta lain-lainnya juga dalam keadaan melarat. Mungkin sekali mereka juga tidak memiliki rumah pribadi.

Itu perolehan pandangan pribadi saya dari istilah puasa yang paripurna bagi bangsa Indonesia yang masih dijajah saat itu. Tidak ada ajaran agama yang memaksakan dan mengharuskan puasa, apalagi seluruh bangsa kita memang harus berpuasa dan makan hanya sehari satu kalipun sudah untung dan lumayan sekali. Bagi yang tidak mampu membayangkan seperti apa keadaan itu, saya maklum saja dan tidak akan memaksa siapapun untuk mampu memahaminya. Saya merasa beruntung telah mengalaminya sehingga sedikit bisa saya bagi pandangan saya seperti itu, meskipun akan menuai perasaan tidak enak atau tidak suka bagi para pembacanya. “Ah, itu kan jadoel (jaman doeloe), sudah basi dan tidak usah diingat-ingat lagi” komentar yang mungkin saja akan terdengar. Yaaa, boleh saja punya pengertian seperti itu, kan memang tidak mengalaminya.

Kondisi yang amat tidak beruntung seperti itu menyebabkan amat menonjolnya persatuan dan kebersamaan rakyat di segala lapisan semua masyarakat yang ada, tidak memandang apa agama dan lain-lain hal yang bisa memecah persatuan yang telah timbul. Mereka kaoem miskin bersama, melarat bersama dan hidup bersama. Itu saja. Manusia kelahiran Madoera, Menado, Tapanoeli dan juga Ambon serta dari daerah yang manapun tidak ada yang menyoalkan. Moesoeh bersama jelas adalah para penjajah apakah itu Jepang, belanda dan Sekutu yang dipimpin oleh Amerika dan Inggris.

Setelah melalui masa-masa kemerdekaan dan masa polarisasi, masa paradoks, bangsa Indonesia secara beramai-ramai dimasuki, dan malah mengundang sendiri untuk masuk, budaya yang beraneka-ragam dalam bentuk intelektualisme, ilmu pengetauan dan pemahaman Tuhan melalui agama-agama import dan melalaikan pemahaman menurut budaya dan selera lokal sendiri. Membanggakan yang import sudah membudaya pada saat ini, apakah itu berupa makanan, tatacara kehidupan dan kebudayaan.

Puasa di dalam agama Islam saja sudah amat berubah, menghadap ke susdut-sudut yang berlawanan. Harus begini dan begitunya sudah terlalu banyak. Sehingga sang pengajarnya sendiri yang berwujud pemuka agama saja sudah tidak sepakat satu sama lain dalam banyak hal. Awal hari Puasa dan sebaliknya umumnya amat membingungkan orang awam, ada yang sudah tiba waktunya dan ada yang belum mulai. Meskipun tidak menjadi polemik dan tidak ada terjadi perkelahian fisik yang membahayakan, itu menandakan tidak becusnya pengurusan di pihak pemerintah kita. Turut campurnya pemerintah dalan hal kepercayaan dan agama, menyebabkan turunnya persatuan nasional bangsa kita.

Yang saya lihat dan alami pada masa saya masih kanak-kanak, saya lihat banyak yang berubah berbalik dan kurang mengakomodasi milik kita sendiri. Termasuk hak pribadi orang untuk melakukan ritual agamanya. Sama-sama Islam sering sekali berkeras berbeda pendapat yang satu lebih keras bersuara bahwa merekalah yang paling benar di seluruh dunia. Tidak boleh berlawanan, tidak boleh menentang sedikitpun. Masing-masing pihak berlaku bahwa hanya merekalah yang paling dekat dengan Tuhan yang dipercayainya. Untuk itu sering sekali terjadi perselisihan yang amat fatal akibatnya. Lalu apa untungnya? TIDAK ADA SAMA SEKALI, itu kata saya. Tidak ada satupun pihak-pihak yang bertengkar, yang berbeda dan bersikeras benar itu, BISA membuktikan bahwa pihaknya direstui atau secara sah mewakili Tuhannya. Tuhannya sendiri saja tidak bisa dibuktikan memang menjadi backing mereka. Apalagi apabila itu Tuhan dari pemahaman agama lain?! Sering terjadi peristiwa seperti ini dan terbukti jelas sekali pemerintah memang tidak berdaya. Saya condong agar pemerintah untuk tidak mencampuri urusan keagamaan dan kepercayaan rakyat secara individu.

Unsur Pancasila yang pertama menyebutkan KeTuhanan Yang Maha Esa, bukan KeAgamaan. Benar sekali bila selalu dianut pengertian bahwa agama itu hanya merupakan alat untuk menyembah Tuhan. Hanya sebuah alat, tidak usah disembah. Pengertian seperti inilah yang harus disebar-luaskan oleh pemerintah, sehingga persatuan di dalam masyarakat akan lebih baik terpelihara. Semua manusia di Indonesia atau manusia di seluruh Dunia ini seharusnya bebas menyembah Tuhannya masing-masing melalui Agamanya masing-masing atau melalui tata caranya sendiri. Bahkan tanpa melalui agama dan malah baik bila disimak kata-kata Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD: mereka yang tidak mempunyai karena tidak percaya adanya Tuhanpun, di Indonesia dibolehkan hidup sesuai kemauannya, karena Undang-Undang di Indonesia mengundangkan dengan jelas seperti itu.

Oleh karena ada pembiasan pengertian dari mana datangnya agama maka apapun yang menyangkut daerah asal agamanya itu harus dipelajari dengan seksama dan berakhir kita terbiasa menyerap dan meniru-niru budaya asal agama itu, adalah tindakan yang tidak perlu terjadi. Menjalankan ibadah agama tidak usah paripurna, cukup agamanya saja, bukan budaya dan kebiasaan asal daerah agamanya. Apalagi yang budaya kita sendiri tidak bisa berseuaian dengan budaya asal dari mana agama itu mulai disebarkan.

Sudah cukuplah kita melarang ini dan itu, termasuk usaha menjual makanan yang diharuskan untuk ditutup selama bulan puasa. Demikianpun tempat-tempat hiburan dan apapun larangan yang aneh-aneh lainnya, yang pada jaman awal Negara kita merdeka dulu, tidak pernah ada. Dahulu semua penduduk dan orang yang bertempat tinggal di Repoeblik Indonesia tidak memasalahkan agama dan ras di sekitar mereka dan kehidupan. Mengapa sekarang dalam bulan puasa penjualan bir di Rumah makan tidak dibolehkan dan bukankah usaha seperti ini menambah pendapatan pajak dan memberi nafkah halal? Sebelas bulan sisanya boleh, apa sebab? Usaha menjual makan dan minum adalah sungguh menghasilkan keamanan dan perekonomian yang lebih baik, karena adalah hal biasa bila mendekati suasana hari Lebaran kehidupan menimbulkan kebutuhan yang memuncak yang akan mengurangi kebiasaan-kebiasaan buruk seperti yang telah terjadi pada tiap-tiap tahun sebelumnya.

(inilah.com)

Angka perbuatan kriminal selalu bertambah besar dan memuncak. Lalu mengapa panjang jam kerja para pegawai negeri di lingkungan Pemerintah Daerah Khusus Istimewa Ibukota Jakarta dikurangi sekian puluh menit per hari selama bulan puasa? Apalah gunanya  kita harus bermaaf-maafan kepada siapapun seperti itu, karena sesungguhnya minta maaf itu harus dilakukan otomatis setelah sadar berbuat salah. Seketika itu juga. Makin cepat makin baik. Tidak usah ditumpuk dulu sampai sebelum Puasa dan sampai Iedul Fitri. Di Kerajaan Arab Saudi saja tidak ada kebiasaan seperti ini. Yang dirayakan sebagai Hari Besar dan Hari Raya Islam secara internasional adalah Iedul Adha, bukan Fitri. Bagi saya Puasa adalah hak penuh pribadi-pribadi setiap orang yang melaksanakan ibadah Puasa. Pemerintah tidak perlu ikut campur.

Saya ingin para pembaca suka melihat apa yang disajikan oleh link di bawah ini agar kita semua mau berkaca bahwa yang kita lakukan meniru bangsa yang digambarkannya, tidaklah perlu kita ikuti apalagi kita tiru. Meskipun ini dilakukan oleh bangsa lain dan orang lain yang bukan Indonesia juga bukan uang orang Indonesia. Kita bisa mengendurkan syaraf kita setelah melihatnya, karena kita tidak seperti mereka: Pergi Haji Harrods di London?? Masyaallah !! Harapan saya, kalau orang-orang Indonesia setelah menjadi kaya raya, hendaklah tidak menyamakan diri seperti mereka.

http://www.dailymail.co.uk/news/article-2166706/Ramadan-gold-rush-Time-year-Arab-plutocracy-descends-austerity-London-party-spend.html

Saat ini di Indonesia yang tergolong orang miskin, berpendapatan kurang dari 1 atau 2 USDollar sehari,  berada di angka puluhan juta jumlahnya, silakan buka: http://www.bps.go.id/index.php?news=776   dan :   http://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan#Mengukur_kemiskinan

 

Anwari Doel Arnowo

3 Agustus, 2012

 

Share This Post

Posted by Monday, 6 August 2012 on 08:10.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

18 Responses to “Puasa”

Pages: [2] 1 »

  1. 18
    Itsmi Says:

    Di Belanda sesudah puasa banyak muslim yang jadi (tambah) gemuk…..

  2. 17
    Anwari Doel Arnowo Says:

    Saya puasa menjalani yang biasa-biasa saja. Beberapa kali saya duduk makan bersama bule-bule Amerika, Australia dan Kanada yang di antaranya banyak yang anak buah saya. Mereka makan daging babi dan minuman keras pun membuat beberapa dari mereka telleerrr. Saya tidak menyentuh apapun karena saya juga puasa.
    Ini terjadi di luar negeri dan di Jakarta, di Banjarmasin dan di Pontianak dan tempat-tempat lain. Hampir semua tempat seperti ini saya bayar pakai uang saya sendiri, bukan uang perusahaan. Seharusnya ummat Islam bisa melakukan yang begini, karena itu bukan hal luar biasa. Pada temperatur di bawah nol derajat sekalipun saya bisa puasa. Kalau di Kanada matahari tenggelam (Maghrib) pukul 21:00 lebih, saya bisa kok baru berbuka !! Sekali lagi waktu itu saya dengan mudah menjalaninya meskipun panjangnya waktu puasa itu bisa mencapai sekitar 15 jam lamanya.. Makan dengan orang Korea dan Jepang juga seperti makan dengan mereka yang saya sebutkan terdahulu. Saya juga sudah mencari tahu bahwa saya boleh kok membayari mereka yang makan daging babi dan minum minuman keras. Belum ketemu larangannya.
    Di dalam bahasa Arab saja ada kok kata yang mewakili babi dan anjing. Jadi mestinya sejak dulu ada binatang itu di Saudi Arabia. Sekarang secara illegal di sana juga beredar Johnny Walker segala warna atau Jack Daniels dan sebangsanya.
    Salam saya,
    Anwari Doel Arnowo – 2012/08/08

  3. 16
    SU Says:

    Kalau non Muslim yang bicara/nulis seperti ini, bisa-bisa ada yang marah/tersinggung, Pak. *** Saya juga kalau puasa diam-diam saja. Yang paling sulit buat saya kalau puasa itu nahan emosi

  4. 15
    Itsmi Says:

    Dewi, indonesia yang berdasarkan Pancasila, sekulir itu bertentangan…… itu ada di sila 1.

  5. 14
    Linda Cheang Says:

    Cak Doel, selama agama masih dipolitisasi di negeri RI ini, maka selama itu pula akan selalu terjadi penyempitan pemikiran sampai penistaan dari satu manusia ke manusia lain.

  6. 13
    bambangpriantono Says:

    Andai saja puasa ini dimaknai dengan sebenar-benarnya. Dijamin maksiat merosot tajam meski tidak jadi nol. Amenangi jaman edan yen ra edan ra keduman..prinsip yang makin menggemblung saat ini.

  7. 12
    Mawar09 Says:

    Pak Anwari : tulisan yang sangat bagus. Seandainya saja sebagian besar penduduk Indonesia berpikiran seperti Bapak (tidak usah semua penduduk), maka negara pasti tentram dan maju. Kondisi sekarang makin membuat sebagian orang enggan untuk bermukim disana. Semoga suatu hari nanti ada perubahan dan bisa membuat pandangan orang2 yang picik itu berubah.

  8. 11
    EA.Inakawa Says:

    Pak Anwari : sulitnya ketika kita ingin memperbaiki diri,kita berada disebuah komunitas yang nota bene hidup dengan maunya & akunya saja, sehingga semuanya berjalan dimasing masing jalannya. setiap orang berlomba satu sama lain melakukan kejahatannya, dan merasa malu kalau tidak ambil bagian. salam H

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)