Tuesday, 7 August 2012
Hennie Triana Oberst
Liburan Paskah yang baru lalu kami sempatkan pulang ke Jerman. Kebetulan Kindergarten di Beijing di mana putriku setiap harinya beraktifitas memberlakukan libur dua minggu. Diawali dengan hari libur Qing Ming di Cina dan dilanjutkan libur Paskah. Senang rasanya bisa menikmati suasana rumah di Jerman yang ditinggalkan kosong hampir enam bulan. Lebih menyenangkan lagi karena Kindergarten di tempat putriku bermain tidak memberlakukan libur panjang, hanya pada hari Jumat (Jumat agung) dan hari Senin (Paskah Senin) saja. Jadi ia bisa bermain bersama dengan teman-temannya dan gurunya di Kindergarten seperti biasa. Minggu berikutnya ada kegiatan mengunjungi hutan selama seminggu dari hari Senin hingga Jumat, biasa disebut sebagai “Waldwoche” (Wald = hutan, Woche = minggu).
Kegiatan Waldwoche diadakan di Kindergarten ini dua kali dalam setahun yaitu pada musim semi (seperti sekarang ini) dan musim gugur (biasanya sekitar Oktober). Anak-anak dibiasakan untuk lebih dekat dengan alam yang lebih luas dari rutinitas mereka sehari-hari. Selain itu untuk melatih mereka mengenal, berinteraksi dan mencintai lingkungan sekitar, meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian.
Anak yang telah berumur 4 tahun dibolehkan untuk mengikuti kegiatan Waldwoche ini. Mereka akan di dampingi beberapa orang guru dan orang tua anak yang menyediakan waktunya secara sukarela dan bergantian untuk mengantar dan menjemput mereka menuju dan kembali dari lokasi hutan. Tidak diperlukan biaya tambahan karena sarana transportasi disediakan oleh para guru dan orang tua. Jarak hutan yang akan dituju juga tidak jauh dari Kindergarten.
Seperti biasa anak-anak diharuskan membawa bekal makanan dan minuman dari rumah dan disiapkan di dalam ransel mereka masing-masing. Orang tua diwajibkan untuk menyediakan tempat duduk anak yang diperlukan ketika berkendara dengan mobil, juga melengkapi pakaian mereka dengan jaket, celana luar sejenis celana hujan (di Jerman biasa disebut Matschhose) dan sepatu boot yang tahan air.
Di hutan mereka akan didampingi untuk mengamati tanaman dan binatang yang ada di alam bebas, Biasanya anak-anak akan menyibukkan diri dengan mengumpulkan rumah siput, ranting-ranting pohon, dedaunan dan hal-hal lain yang menarik perhatian mereka.
Menikmati bekal makanan masing-masing dan bermain bersama di alam terbuka merupakan keasyikan tersendiri bagi anak-anak.
Kegiatan ini juga membantu mengembangkan daya imajinasi, dan kreativitas mereka. Salah satu yang berhasil mereka buat adalah sarang burung yang terbuat dari ranting pohon dan lumut, dengan hiasan dedaunan kering. Dunia anak identik dengan keceriaan, di manapun mereka berada selalu mereka temukan hal yang bisa menghadirkan tawa kebahagiaan.
Catatan:
Tiap Kindergarten di Jerman memiliki peraturan dan kegiatan yang berbeda. Tulisan ini hanya terbatas pada Kindergarten di desa kami.
Fotografie Thomas R. – Kigaminseln
Terima kasih untuk Redaksi dan sahabat Baltyra. (Bj, 30042012)
Salam sejahtera dari Jerman.
August 8th, 2012 at 04:14
Hennie : sekarang kamu pasti sudah di Germany kan? Hutan kecil memang tempat yang paling asyik buat ditelusuri, apalagi musim panas gini, soalnya teduh……. tapi kalau lagi panas banget juga ngga mau kesana. Oh…. ya, aku kan masih punya hutang pd kamu soal resep bikin otak2 ikan. Nanti kalau sudah sempat aku kirim via email ya. Salam!
August 8th, 2012 at 03:17
HENNIE : aku susuli japri……….
August 8th, 2012 at 03:07
KANG ANUUUUU : kumatttttttt! diminum obatnya………wakakakak………
HENNIE : klu gitu aku udah melanggar hak patent ISK ya????? wah bakal diperkarakan nih hehehe………klu hutan belantara yo emoh, memedenikan…….jgn2 bs dikalungin ular……..
nah, klu binatangnya (semuanya) TARZAN……..sapa takutttttttttt? apalagi semua mirip Brad……..wakakak……..
August 8th, 2012 at 02:45
kalau terbang pakai sayap buatan sih ya ngerilah, terus terang takut. tapi kalau di dalam pesawat ya asyik aja apalagi kalau, berdua trus sebelahnya si bening yang takut terbang
trus masalah takut ketinggian tadi, bener juga. makanya kubilang tadi, aku males kalau naik tinggi-tinggi gitu, mending naiknya cuma sedikit, trus turunnya sedikit asal kontinyuitasnya terjaga
August 8th, 2012 at 02:28
Anoew, takut dengn tempat tinggi juga ya. Kalau terbang tkut juga nggak?
Ada yang tkut ketinggian dan terbang. Bisa dibayangkan gimana tersiksanya dia kalau harus terbang berjam-jam.
August 8th, 2012 at 02:24
iya beneran, serem. dulu pernah kusharing sih ceritanya. pokoknya kalau udah di tempat yang tinggi-tinggi gitu sih, Hen, pasti deh males. Naiknya enak, turunnya gk enak. makanya aku lebih suka nyebrang atau naik ke yang gk terlalu tinggi, naiknya enak, turunnya juga lebih enak..
August 8th, 2012 at 02:14
Anoew, serius nih takut? Nggak nyangka. Sama dong seperti aku
Lain kali kalau diajak nyeberang jembatan gantung yang goyang-goyang harus bersebelahan dengan seseorang yang bisa dipeluk ya. Biar rasa takutnya hilang.
August 8th, 2012 at 02:08
dek, buat kamu yang ada di foto keempat dari bawah, yang sudah berani meniti jembatan meskipun jembatatan bohongan, besok kalau sudah besar jangan seperti om anoew ya… dia takut tuh kalau disuruh nyebrang.., apalagi jembatan gantung yang goyang-goyang.. serem.
August 8th, 2012 at 01:31
JC, kelupaan. Pinginnya mampir Jakarta. Lihat nanti gimana agendanya (wkwkwk…sok sibuk banget….)
August 8th, 2012 at 01:30
Lani, hahaha… iya ISK tuh yang mengarang rumus salam (hak patent ada di dia)
Aku suka kalau diajak piknik dan jalan-jalan di hutan kecil gini. Tapi kalau hutan rimba nggak berani, ntar ada binatang yang aneh-aneh. Kalau model tarzan yang cakep sih nggak apa hehehe…
Aku ngakak juga nih. anakku sampe nanyain kenapa ngakak hahaha…
Iya ntar aku japri ya. Aku baru selesai makan dan sambil nemeni Chiara menggambar nih. Bentar lagi dia harus tidur.
Tanggal 15 aku ke Medan.
3-1