Penipu! Duh Nasibku…

Bagong Julianto, Sekayu – Muba – Sumsel

 

1.    SMS, Tahun 2002 Sampai Kini

Minggu 29 Juli 2012, 7:40 pagi, sebuah SMS saya terima: “Ma’tlong blikan dlu plsa As 20rb di no ni 082330500641 masa aktifnya hbis skarang pnting.” . Dhuh, sepagi ini menerima SMS ngaco. Pengirimnya: +6282330500640. Nomor ini nggak saya kenal dan pula menjadikan saya sebagai Manya. Entah Mama, entah Trima, entah Paima. Suka-sukanyalah! Ini bukan yang pertama kali. SMS sebelumnya, tetap dengan kata-kata “Ma dan penting”, sebutkan sedang di rumah sakit, sedang di kantor polisi dan sedang di mana saja: suka-sukanyalah juga.

SMS lain sebutkan: ” Selamat! No anda mendapat hadiah utama undian berupa sebuah mobil Avanza dari Telkomsel, diundi tadi malam jam 22.30 di SCTV. Harap hubungi: H. SUXXXXXX, SH di no: ini, ini”. Pengirimnya saya tandai sebagai Penipu SMS, Penipu sms 1 dan Penipu smsjg. Beberapa nomornya: 085256836797; +6285396099039; +6282334149451. Mengapa saya tandai dan menyimpannya di nomor kontak? Jawabnya: sebagai sikap hati-hati supaya kalau nomor itu ada kontak lagi, saya tahu. Hermannya lagi, maksud saya: herannya lagi SMS berhadiah uang atau mobil ini sudah saya terima sejak th 2002 saat masih kerja di seputaran Kalteng. Terus berlanjut berkali-kali. Sampai sekarang.

Pertama kali terima, saat menjelang malam baru masuk hotel di Sampit setelah perjalanan 4 jam dari kebun. Setahu dapat SMS hadiah 15 juta rupiah, sayapun menghubungi nomor yang dituliskan. 15 juta rupiah! Wuadhuh, rejeki nomplok ini!  Saya nggak sabar lagi. Mama Agus dan Agus ikut senang, tentu saja! Segera kami berkontak. Cepat pula balasannya. Tanya ini-itu dari seberang sana, suara (modulasi)nya diwibawa-wibawakan dan pula berdehem sekali dua.

“Selamat buat Bapak Bagong dan keluarga. Kami dari manajemen bla bla bla, mau bla bla bla. Untuk hadiahnya, sesuai ketentuan mesti kami transfer. Ada nomor rekening Bapak?”.

Sayapun tanya Ma Agus: nggak bawa buku tabungan, mana tahu berapa no rekening. Saya diminta hubungi lagi setelah nanti balik ke kebun melihat no rekening. Malam itu juga saya ke warung pulsa.

“Nggak usah dilayani Pak!”, kata si anak muda penjual voucher.

Susah juga saya meyakinkan diri sendiri bahwa itu hanya tipuan saja. Itulah nasib wong kebun!

KuPer! Kurang pergaulan.

Tahun 2005, pindah ke Pekanbaru, timbul pula keisengan saya untuk menggoyangadrenalikan pengirim SMS tipuan setelah hampir rutin asal setiap isi pulsa mendapat SMS ngaco ini.

“Hallouw. Saya dhapat hadhiah ini Pak. Bhaghaimana, Pak?”, logat saya yang memang medok jadi semakin medok.

“Ya, dengan Bapak siapa ini ya?. Posisi di Pekanbaru!”, (tahu dia, nomor kode Pekanbaru) selalu dengan modulasi mantap dan diwibawakan. Harus didengar sebagai suara Pimpinan Perusahaan, minimal suara orang penting.

“Saya nama Paino, saya tinggal di Trans Libho-Kandhis-Riau. Bhaghaimana hadhiah saya Pak?”

“Ya, Pak. Mohon sabar Pak!. Yang pertama kali, kami atas nama manajemen mengucapkan bla-bla-bla, yang mana bla-bla-bla. Bla-bla-bla. Untuk itu bla-bla-bla. Jadi Bapak Paino ada rekening di Bank mana, Pak?”, sudah mulai tergoyang adrenalin penipuannya.

“Adha rekening saya Pak. Tabhungan maksudnya?”, saya mesti membloonkan diri, logat dan lagak-langgam bicara.

“Ya, Bapak Paino. No rekening dan Banknya sekalian Bapak!”, modulasi di seberang makin berwibawa.

“Bhanknya dhuluan iya Pak?”, saya makin bloon saja.

“Iya, Bapak!. Bank mana Pak?”, berwibawa dan makin teradrenalinkan tampaknya.

“Bank SEEEEEEEE…….TTAANNNNN………”, sengaja kata SETAN saya penggal suku kata dan panjangkan pengucapannya.

“Apaa Paaakkk?”, modulasi seberang jelas terkejut, meninggi kaget dan marah.

“Bank Setan, saya ulang ini: BANK SETAN!”, sekarang padat singkat jelas, jawaban saya.

“Kamu jangan main-main ya! *^%&&_++#&^@!!?><>>!. Istrimu $%%&*()##@!!+_+_&%^##**. Istrimu awas, p*p**..)*(*(&^%$#@$!!!”, jelas tegas beringas sekeras itu semua makian dan kosa kata organ genitalia dikeluarkan dan disumpahserapahkan kepada saya. Mulutnya juga berubah jadi kebun binatang. Saya tahan tawa. Tahan kuping. Tahan diri.

“Sudah puas? Sudah?”, tanya saya lagi. Saya memang harus siap untuk disemprotnya.

“!!!!!xxxx!!!”, saya tahu dia masih ada kontak, hanya nggak mau lagi ngomong. Beberapa kata/idiom umpatan berasal dari Medan dan sekitarnya, semisal kata: p*p**, padanan kata v****a.  Itu khas lokalan Medan. Namun sungguh, saya nggak mau ikutan sebarkan kata itu ke luar wilayah Medan dan sekitarnya.

Lain hari, SMS masih juga saya terima. Macam-macam pengadrenalinan saya bawakan. Suka-suka saya jugalah! Itu karena cukup waktu. Saya sedia buang pulsa dan siap resiko pula kalau nanti dikata-katai, dimaki-makii, disumpahserapahi dan dikebunbinatangi oleh jajaran gedibal manajemen penipu ini.

“Bagaimana kalau saya ikutan gabung kalian?”.  Biasanya langsung diputusnya.

“Ini kurang canggih, kemaren di TV komplotan Makassar tertangkap. SMApun banyak yang nggak tamat. Kalian di mana?”. Langsung putus.

“Hati-hati saja, nomormu ini sudah di Polda. 3 hari lagi kalian nongol di TV”. Putus juga.

 

2.  Surat dan Telepon, tahun 2002, Sampit

Makan coklat salah satu kegemaran kami. Tinggal di pelosok kebun, kami belanja mingguan. Saat itu ada promosi hadiah di halaman dalam bungkus coklat, katakan merk terkenal Metal King.  Hadiah utama adalah sebuah city car, katakan merk: Bonda Jazz. Sekian lembar bungkus coklat, ditulisi identitas dan disertai fotocopy KTPpun  kami kirimkan via Kantor Pos. Berminggu-minggu. Puluhan lembar. Periode masih lama. Kamipun puaskan makan coklat dan bayangkan menang undian serta berkendaraan city car. Bagus bagi  Mama Agus, daripada naik becak? Bisa pula antar jemput sekolah TK Agus,  belanja dan arisan di Sampit.

Kami baru meeting di kebun sepupu. Meeting bersama GM, dari seputaran waktu coffe break sampai makan malam, itu hal yang biasa. Selalu lebih dari 5 topik yang dibahas. Selalu ada lebih 10 solusi.

“Pak, ada berita penting via SSB! Bapak diminta segera hubungi Ibu via telepon”, lapor si operator. Saya minta izin ke GM. Siang itu saya mesti ke Warung telekomunikasi di KM 112, artinya 45 km dari kebun. Pergi-pulang lebih dari 90 km. Ding-dong-ding-dong, sekian jam. Sudah pasti malam baru nyampe lagi.  Apa boleh buat. Jaman masih (tetap) susah. Pelosok kebun nggak ada jaringan nggak nangkap signal. Singkat kata, informasi dari Mama Agus, Bpk. Bagong Julianto dengan alamat pelosok kebun adalah salah satu pemenang undian utama. Paket surat dialamatkan dan dibaca di Kantor Perwakilan Sampit. Sudah pasti seantero 5 kebun heboh. Pak Bagong menang undian mobil Bonda Jazz!.

“Ini surat-suratnya lengkap, Mas! Dari PT produsen coklat, izin dari Polres Jakarta Selatan, izin dari Mensos dan ada surat Notarisnya.  Seminggu lalu ada acara pengundian dan pengumuman di RCTI. Kita diminta transfer lebih dulu,  25 % dari harga mobil. Katanya untuk urus pajak. Cepat diurus, Mas!”, modulasi Mama Agus menderu-deru. Nada suka-girang-riang nggak bisa disembunyikannya. Saya tahan napas.

“Tahan dulu. Coba dicheck-cross check lebih dulu!”, kata saya.

“Ya, tapi waktu kita terbatas ini Mas, tinggal 2 hari lagi”, Mama Agus terus mendesak.

Saya minta keluarga yang di Jakarta segera bergerak. Interlokal ke sana-sini. Perintah-minta tolong-lihat ini-itu, tanya ini-itu. Pergi ke sini-situ. Tagihan interlokal total sudah lebih dari 200 ribu rupiah. Menunggu dua-tiga-empat jam. Senja menjelang malam. Hasilnya: alamat PT hanya kantor kosong, nggak ada sesiapapun. RCTI nggak pernah ada siaran Telkomsel pada hari dan tanggal  seperti yang disebutkan di surat. Kapolres nggak ada izin begituan. Notaris sosoknya nggak jelas. Kesimpulannya: ini usaha penipuan. Gombal amoh! Semprul! Karena alamat kami di pelosok Kalteng?

3. HP-Telepon, 27 Juli 2012, Sekayu

“Mas, ini ada yang mau beli rumah. Hubungi nomor ini: 0821263388**”, kata Mama Agus via HP. Sewajarnya yang butuh rumah berusaha keras mengontak penjual. Memang kami mau jual rumah yang di Pekanbaru. Nomor itupun saya kontak.

“Ya, nama saya Ta**a**, saya di Chevron-Dumai, saya butuh rumah di Pekanbaru. Bapak pemilik asli rumah itu Pak, maksudnya bukan perantara?”, jawab dan tanya Pak T.

“Betul Pak T. Bapak tahu dari mana rumah itu mau kami jual?. Bapak mau pakai sendiri ‘kan?”.

“Isteri saya yang keliling dan tanya-tanya. Saya sibuk kerja di Dumai, Pak! Harganya bisa digoyang lagi, Pak? Kurang lima juta saja. Bagaimana Pak?”, tanya Pak T.

Saya surprise juga. Dia nggak detail tanya surat, posisi, kondisi. Tampaknya butuh nian dan yakin haqulyakin dari isterinya.

“Kalau Bapak setuju, saya boleh kasih tanda jadi Pak. Lima juta, bisa langsung saya transfer Pak.”

“Sebentar, saya bahas dulu dengan keluarga. Nanti Pak T saya kontak lagi”.  Saya kontak adik ipar yang di Pekanbaru. Nggak kenal atau pernah dikontak Pak T-Chevron Dumai, katanya. Jelas bagi saya. Saya makin yakin dan mengarah ke bandul penolakan. Pun begitu, saya mau juga kasih gong ke Pak T yang ngaku kerja di Chevron Dumai.

“Pak T, itu harga sudah pas. Kontan Pak, nggak juga pakai perantara.”, kata saya.

“Ooo, gitu ‘ya Pak!. Baiklah Pak. Hanya saya mau kasih tanda jadi lima juta, tolong tunggu sampai tanggal lima Agustus, jangan rumah itu Bapak jual ke lain orang!”, kata Pak T. Nama saya belum sekalipun disebut atau ditanyakannya.

“ Bisa tunggu sampai tanggal lima ‘kan Pak?!. Maklum, kami baru bisa ambil deposito tanggal 3 nanti Pak. Segera nanti saya lunasi Pak. Bapak ada nomor rekening ‘kan? Di Mandiri Pak? Boleh saya mau transfer sekarang juga Pak?!”, kata Pak T lagi. Enak benar bisnis dengan dia. Itu yang diadrenalikannya!

“Ya, saya ada Mandiri Pak. Tapi nggak usahlah mau transfer-transferan segala! Nanti saja kalau Pak T siap dananya, boleh kontak saya lagi”, kata saya. HP langsung putus. Tahu dia, saya nggak bisa dikibulinnya.  Nggak bisa diarahkannya ke bilik ATM untuk pencet ini-itu, alasan ini-itu.

 

4. Brosur Fotokopian: AYO ke BANK, Medan th 2006, Pekanbaru 2007, Sekayu 2008

Oleh satu dan lain urusan, saya ke Medan tahun 2006 akhir. Saat masuk ke ATM BNI di seputaran Polonia, saya jumpai brosur “AYO ke BANK”. Sayapun ambil satu. Cukup waktu, selepas urusan selesai, saya baca. Isinya pengakuan beberapa lapis kalangan setelah ikuti petunjuk di brosur itu pada jadi jutawan. Caranya: transfer @ Rp 50.000,- ke empat nomor yang disebutkan, ajak 3 orang lagi untuk transfer, masukkan nama dan rekening kita di nomor ke empat sambil menghapus nomor ke satu. Kalau nggak dapat 3 kawan, semuanya bisa kita sendiri saja yang isi. Ah, jelas akal-akalan saja. Gombal. Herman lagi, herannya lagi, brosur yang sama persis saya jumpai th 2007 di ATM BNI ujung Jln Sudirman Pekanbaru, malam hari.

Tanpa pikir panjang, seluruh fotokopian brosur saya ambil dan saya sisipkan di perut saya. Saya duga, si pelaku masih ada di seputaran. Jangan sampai dilihatnya saya menjarah brosurnya. Habis total. Biarlah dia menduga brosurnya yang puluhan lembar itu sudah dibaca-ambil oleh puluhan orang juga. Tahun 2008, brosur yang sama persis lagi-lagi saya jumpai di ATM Mandiri Gedung Petro-Muba Sekayu. Gendheng! Edaan! Sabtu, sore hari. Jelas yang dituju adalah orang kebun-orang proyek yang nggak banyak pergaulan alias KuPer. Ke kota hanya bisa sekali tiap Sabtu setelah izin berbelit-belit, jalan berlumpur-lumpur, peluh keringat berliter-liter. Gombal amoh!. Sayapun menjarah semua brosur dan lagi saya sisipkan di perut. Mesti tahan napas. Lebih dari 50 lembar fotokopian menyesaki perut buncit saya. Saya yakin, sekali lagi,  si pelaku masih di seputaran. Nanti dia ngecheck. Habis brosurnya. Dalam bayangannya, mosok nggak satupun dari sekian puluh pengambil ATM nggak tertarik?! Katakan 10 yang terkibulin: 10 X 4 X 3 X Rp. 50.000,-= Rp. 6 juta. Modalnya hanya 50 lembar fotokopian. Gombal!!. Jangan-jangan si pelaku ini mengikuti jejak saya. Sejak dari Medan-Pekanbaru dan ke Sekayu terus dibuntutinya. Jangan-jangan dia berpendapat: ah Pak Bagong ‘kan mudah kali dikibulin! Gombal amoh! Semprul sontoloyo!

 

5. BMA: Banyumas Mulia Abadi, Sungguh Aku Dikibulin, Langsa-Acheh Timur th 2000

Langsa-Lhokseumawe-Medan heboh. Bisnis MLM, multi level marketing PT Banyumas Mulia Abadi masih marak, beberapa kali saat ke Bank Bumi Daya Langsa, saya lihat beberapa nasabah setor dan tarik dana dengan bawa kantong plastik sepenuh itu dijinjing tangan kanan-kiri. Seorang Ibu staff bank tersebut, konon adalah termasuk koordinator/local leader. Di kebun ada juga kasak-kusuk, sejak beberapa bulan sebelumnya, paket investasi barang elektronik sebesar Rp. 1,5 juta sudah santer saya dengar. Saya abai saja. Nggak masuk akal, saya katakan ke staff saya. Berinvestasi 21 hari, dana sudah berkembang menjadi Rp. 2,1 juta. Gendheng!!. Tapi beberapa pegawai Kantor Besar, sudah buktikan dan ikut ke paket yang lebih besar lagi senilai Rp. 5,1 juta. Seorang staff saya, marga L, akhirnya berhasil mbujuk saya. Ikut paket terkecil berhasil, ganti paket besar dengan tambah modal disetor dan seterusnya makin membesar.

“Pak, kami ikut 3 paket. Kemaren sudah kami ambil, tapi kami langsung ikutkan lagi ke paket yang lebih besar Pak! Pokoknya kami sudah sepakat suami-isteri, sesudah ini, baru ikutan paket kecil lagi”. Lhah, bilik akal sehat yang selama itu berhasil saya pertahankan akhirnya jebol juga. Pun begitu, jebolnya bersama-sama dua staff lain! Bertiga kami patungan ikut paket Rp. 5,1 juta. Satu orang setor Rp. 1,7 juta. Nanti kalau berhasil, juga mau ikutan paket yang lebih gedhe.  Tunggu 3 minggu, dana segera membengkak. Harapannya! Faktanya? Baru berjalan 2 minggu, BMA distop aktivitasnya oleh pemerintah. Rusuh rush tarik dana BMA terjadi di mana-mana. Ujungnya melayang dana. Kami saling senyum kecut saja. Nggak ada yang akan disalahkan dan atau saling menyalahkan. Geram getun nggondok lebih pada diri sendiri. Namanya juga sudah saling sepakat ikuti kegendhengan sesaat! Sungguh sesat! Gombal amoh! Semprul nian!.

Kisah sesat busuk sesaat memalukan ini yang belasan tahun saya simpan, akhirnya anda baca juga……   (BgJ, 072012).

 

Sampuunnnn. Suwunnnnn…

 

35 Comments to "Penipu! Duh Nasibku…"

  1. matahari  11 August, 2012 at 12:02

    Komen 34 : Nu2k…..Terimakasih info nya..Memang benar penipuan terjadi dimana mana….

  2. nu2k  10 August, 2012 at 03:23

    Mbak Mentari , sama dengan di negara-negara lainnya. Di Belanda juga terjadi penipuan dengan cara yang hampir sama. Seperti cerita salah satu “adviseur” konco ngajeng yang tertipu melalui telefoon yang mengakibatkan sang adviseur kehilangan € 20.000. Jumlah maksimal yang boleh diambil oleh sang adviseur melalui transfer lewat ATM.
    Sang adviseur mendapat telefoon di pagi hari yang menerangkan bahwa sang penelepon adalah petugas bank ING yang sedang meneliti data para nasabahnya. Nomor dan nama serta data pegawai disebutkan. Si penipu sangat banyak memiliki data si adviseur yang memang (seharusnya) hanya dimiliki oleh bank saja, misalnya tentang nomor rekening, jumlah dana yang tersimpan dll, dll. Tetapi entah bagaimana terjadinya tetapi di antara keraguan yang timbul toch nomor pincode pada akhirnya bisa dimiliki si “petugas” bank ING (yang ternyata gadungan) tersebut. Setelah teman adviseur agak tenang, dia segera mengecek ke kantor bank ING terdekat dan menceriterakan tentang peristiwa yang baru dialaminya. Petugas Bank menjelaskan bahwa tidak pernah pihak bank mengirimkan dan mengadakan pengecekan melalui telefoon atau kunjungan rumah. Melihat jumlah yang tersisakan dan data pengambilan terakhir, sadarlah bahwa dia telah dibobol dana banknya. Polisi dihubungi dan bank membantu menyelidikinya. Nomor transfer dilacak , camera dijadikan alat bukti dll, dll…Setelah melalui proses yang memakan lebih dari dua bulan pada akhirnya sang adviseur menerima ganti rugi sejumlah uang yang sama dengan yang dibobol dari rekeningnya.
    Tentunya kita mempertanyakan keanehan yang ada seperti mengapa dalam kejadian yang sesungguhnya merupakan kesalahan sang nasabah sendiri kok bank tetap mau memberika ganti ruginya. Alasannya ternyata sangat sederhana sekali.
    a.Bank memberikan ganti rugi karena khawatir reputasi nama banknya akan tercela bila sampai berita ini berkepanjangan effectnya. b.Pihak bank khawatir akan kehilangan jumlah nasabah. c.Seandainya tidak segera diberikan ganti rugi tentunya akan menimbulkan RASA TIDAK AMAN dan ada rasa ketidaknyamanan lagi pada para nasabahnya untuk menyimpan uangnya di bank tersebut.
    d.Dengan memberikan ganti rugi justru pihak Bank mendapatkan “reklame “ gratisan yang effect kerjanya sangat manjur. Seperti bertambahnya jumlah nasabah sebagai akibat pengaruh positief yang timbul dari effect peristiwa penggantian itu; bertambah ketatnya pengamanan bank yang bersangkutan, dll, dll..
    Yang kami tidak ketahui adalah kelanjutan peristiwa ini. Apakah pembobolnya bisa dilacak atau tidak.
    Kalau kita melihat acara TV 2, pada Selasa malam, dapat dilihat “sering” nya terjadi penipuan perbankkan dalam skala “kecil-kecilan”. Misalnya peristiwa yang sering menimpa pasangan lansia yang ketika selesai berbelanja dan membayar di kasir (dengan pin-pas) diikuti oleh sepasang pria –wanita. Dengan kelihaiannya yang luar biasa mereka bisa mendapatkan kode nomor bank pasangan lansianya. Dan dengan berbagai tipu daya pasangan pria-wanita ini juga berhasil mempercundangi dan mencuri kartu pin-pas pasangan lansia tersebut. Alhasil, pada hari yang sama sejumlah uang akan terkuras dari rekening bank pasangan lansia tersebut.
    Atau ketika kita mengambil uang, tiba-tiba dari arah belakang ada satu atau dua “orang” yang mendekati kita dan menunjukkan uang €10, 00 di bawah / dekat kaki (dengan mengatakan:”Itu uangmu jatuh”). Dalam hal ini sebaiknya kita tidak perlu meladeninya. Karena bila perhatian kita terbagi dan beralih pada uang yang ada di dekat kaki maka si “orang” tersebut akan:
    1. Segera mencabut dan mengambil kartu pin-pas yang keluar dari celah mesin ATM.
    2. Mengambil uang yang tertumpuk di celah tempat pengeluaran uang…
    Kedua proses di atas berjalan dengan begitu cepatnya, sehingga ketika kita selesai mengambil uang yang ada di bawah kaki, uang yang kita tarik dari ATM dan kartu pin-pas sudah lenyap dari celah mesin Atmnya… Dan “orang” nya pun sudah tidak tampak batang hidungnya.
    Untuk itu dianjurkan agar selalu waspada bila akan mengambil uang di ATM; atau carilah ATM yang di sekitarnya ada camera pemantaunya; atau menarik uangnya dari ATM yang ada di dalam kantor bank..
    Syukur dalam peristiwa seperti tersebut menurut siara TV yang ada cukup “banyak” yang sudah terselesaikan akibat bantuan camera dan tip anonim dari para saksi kejadian.
    Take care en waspada selalu adalah senjata utama yang harus kita pegang teguh. Diluar itu kita serahkan dan kembalikan semuanya pada Yang Maha Pengaturnya.. Amin
    ****Mbak Mentari dan mas Bagong, ceritanya jadi seperti artikel ya. Lhawong harus menguraikan. Nuwun sewu. Itung-itung nambah masukan****
    Welterusten en slaap lekker, nu2k

  3. kita  9 August, 2012 at 18:56

    he8x, tipuan yg sms; jadi ingat 3 hari yg lalu, sepupuku pinjam telp-ku, pulsa hpnya abis. kebetulan kami lagi out of Indonesia; tanpa ba bi bu; doi langsung ngetik: “Pa, kirimin pulsa, pulsa Mama abis”; maka jadilah nomornya ngak dikirimin pulsa ….

  4. Bagong Julianto  9 August, 2012 at 18:30

    Boleh, sumonggo kerso mBak nu2k, bakal jadi artikel juga itu…..
    Jadi kepikiran juga, apa Eropa tradisional semudah itu diiming-imingi sesuatu…

  5. nu2k  9 August, 2012 at 17:31

    Mas Bagong, boleh saya jawab pertanyaan mbak Matahari tentang: “Jadi kalau mau ‘nipu di Eropa gimana ya?..Boleh?. Thanks, nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.