Senarai Persinggahan (1)

Kurnia Effendi

 

(anjung perdana)

Menara Masjid Al-Makmur Raden Saleh

Walau tahu akan berangkat, aku merasa tak sungguh-sungguh bersicepat. Tak ada daftar penumpang yang terpampang. Tak tertulis nama tempat atau alamat meski sebaris. Perjalanan ini mungkin tak beranjak ke mana-mana, tanpa selembar peta. Untuk sampai ke sana (entah di mana) tak cukup dengan bertanya.

Namun kupastikan ada sejumlah cerita, melewati pagi dan senja.

Maka ketika aku berada di kaki menara yang menjulang ke langit, ada pengantar safari bernama bulan sabit. Langit subuh itu seperti lawang, pintu yang sewaktu-waktu membentang. Lalu kuselaraskan wujud raut anak kunci yang kubekal: apakah mirip selengkung hilal?

Namun kupastikan ada sejumlah cerita, melewati pagi dan senja.

Sesampai tengah hari, bagaskara memanggang atap biru tempat sujudku. Lantai marmar dingin itu menerima wajahku, dengan sabar dan tak banyak mencela. Ia rela menghampar sebagai pembaringan si pemalas macam aku, yang belum gemetar oleh lapar. Masih terekam geram kesatria gelap dari layar ilusi, mengisi sunyi.

Namun kupastikan ada sejumlah cerita, melewati pagi dan senja.

Matahari yang memperpanjang bayang-bayang, membawaku ke rumah ibadah di kerumunan gedung-gedung olah seni. Masih sunyi, tak menggemakan bunyi. Seolah tiada sesuatu pun yang berubah, meski tempat kericik air telah berpindah. Larut sudah sebagian lelah di ambang sore yang gerah.

Namun kupastikan ada sejumlah cerita, melewati pagi dan senja.

Langit di luar memasang tirai twilight. Orkestra beralih irama. Seorang sahabat menyitir Layla Majenun dengan tatapan seorang pelamun. “Pencarian Tuhan tak akan pernah selesai sepanjang hayat. Bila seseorang mengaku telah bertemu tuhannya, ia keliru.” Aku pun kembali mencarimu, di sudut yang masih membocorkan percakapan.

Namun kupastikan ada sejumlah cerita, melewati pagi dan senja.

Malam turun serupa kelambu yang ditangkupkan. Lelampu membuat alam masih tampak dengan wajah temaram. Sebelum pulang, aku singgah di tepi sejarah. Nun jauh dulu, juru sungging tenar bermukim di sini dengan nama Raden Saleh. Rumah besar itu kini menjadi tempat berobat orang sakit, sebuah gereja di belakangnya, dan masjid di tepi jalan raya. Kulihat puluhan anak, duduk ceria berserak. Beberapa jenak aku berdiri dan bersimpuh menghadap kiblat, membayangkan masa lalu yang panjang dan berkilat.

Namun kupastikan, telah kudapatkan cerita melewati pagi dan senja

Jakarta, 22 Juli 2012, Ramadan 1433 H

 

(anjung kedua)

Masjid Al-Makmur Rasen Saleh di Cikini

Dalam sebuah perjalanan, selalu ada yang terasa ganjil. Tubuh kita telah sampai pada suatu tempat: mungkin jauh mungkin dekat; namun jarak usia yang kita tempuh satu sama lain tak berbeda. Sekitar 365 hari, 51 minggu, 12 bulan, dalam setahun. Hampir persis 24 jam sehari, 60 menit sepanjang satu jam, dan hanya 60 detik dalam semenit.

Dan di antara kita—baik yang bergegas maupun bermalas—Waktu beringsut tak kenal takut. Rasa takut justru melekat pada pikiran dan hati kita, yang dilahirkan siang atau malam, sendiri atau massal, ketika sampai pada suatu tempat di suatu saat.

Sang Waktu menyala: memberi terang jalan atau menghanguskan harapan.

Melalui panca indra aku belajar dan menjalani ujian. Dengan panca indra aku patuh sekaligus bengal. Bersama panca indra aku berhasil memahami sesuatu, namun sering gagal. Bukan mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit yang memanggul kesalahan. Kukira karena aku memandang remeh Waktu, kemudian Waktu menelantarkan aku.

Seorang ibu terbaring kehilangan daya di sofa ruang keluarga: mungkin itu peringatan bagiku.  Seorang lelaki menyeret kaki begitu lambat di sebuah restoran: barangkali itu cermin untukku. Tak mungkin aku melawan Waktu apalagi mengalahkan. Aku mengejar atau dikejar Waktu yang pada titik tertentu, menguburku.

Sang Waktu menggema melalui azan: memperpanjang zaman atau mempercepat kiamat.

Saat langkah kian jauh dari sumber—rahim cinta yang melahirkanku—semakin longgar ikatan pada fitrah hanif kemanusiaanku. Namun, dalam sebuah perjalanan selalu ada yang terasa ganjil. Di saat aku mesti menitikkan air mata atas semua yang lewat, justru kesombonganku belum tamat.

Jakarta, 23 Juli 2012, Ramadan 1433 H

Catatan:

Ramadan hari kedua aku salat Subuh di Masjid An-Nur Permata Timur, salat Zhuhur di Masjid Al-Abrar Jatiwaringin, bersilaturahmi dengan kedua mertua yang sudah sepuh. Aku salat Ashar di Masjid Al-Hidayah Pondok Bambu Asri. Menjelang senja mencari angin sore bersama anak-anakku, salat Magrib dan Isya di Masjid Babussalam Rawamangun. Di antara dua waktu, berbuka puasa di D’Cost Rawamangun.

 

(anjung ketiga)

Gapura Masjid Al-Abrar Jatiwaringin

Banyak hal sederhana kuketahui manfaatnya, mudah kulakukan, tetapi kutinggalkan begitu saja. Ada sejumlah sebab-akibat yang demikian logis, kupahami karena pernah kualami, tetapi masih saja kupertanyakan. Seluruh peristiwa berlalu sebagai sejarah, seharusnya dari sana aku berlatih tidak menyerah. Terdapat ketentuan yang tertera sebagai sunatullah, berulang hari terjadi, tak kunjung menjadi pelajaran.

: perjalanan melingkar tawaf tentu berbeda dengan kesia-siaan pendakian Sisipus

Berbuat adil itu tidak mustahil, saat pikiranku bebas dari beban untuk mendapatkan keuntungan sebuah keputusan. Berkata tegas itu tidak sekadar lugas saat di atas pundakku diletakkan tugas. Teliti itu menguji diri sampai di mana kesungguhanku menjadi juri. Saling mengerti dan mempercayai berguna untuk tidak melukai. Tujuan diletakkan paling depan: aku ingin berjalan, cepat atau perlahan, setia menuju sasaran.

: berada di tengah, tak kiri tak kanan, mungkin tanda keseimbangan sang peragu

Beribu kebahagiaan kecil membuatku tersenyum, tetapi kerap kulupakan lantaran lebih banyak persoalan yang kupikirkan. Berbagi keindahan tidak akan menghilangkan seluruh milikku, bahkan bila kepada seteru kuserahkan. Semangat tidak perlu dibangun dengan pengorbanan besar, namun lebih kepada benih terpilih yang disemai. Cahaya baru terasa kehadirannya saat aku berada di ruang gelap.

: untuk mendapatkan cinta itu memberi, bukan meminta

Jakarta, 24 Juli 2012, Ramadan 1433 H

Masjid Al-Abrar Jatiwaringin

 

3 Comments to "Senarai Persinggahan (1)"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 August, 2012 at 21:15

    Wah, Mas Kurnia, dulu waktu SMA saya punya hobi bersembahyang di setiap mesjid apapun yang berbeda dan sangat menyenangkan pernah sembahyang di ratusan mesjid di Jakarta dan banyak lagi di kota-kota lain. Dari mushollah di lantai 30 sampai tempat sholat sempit dekat toilet. Memang mengasyikan. Namun tetap saja mesjid terindah adalah mesjid ketika kita berdoa sedang teraniaya.

    Salam.

  2. Dewi Aichi  7 August, 2012 at 14:09

    Suatu anugerah yang sangat mewah ini mas Kef….benar benar kesempatan yang indah bisa mengunjungi tempat tempat ibadah…setiap hari..

  3. J C  7 August, 2012 at 10:40

    Pas bener serial ini untuk bulan Ramadhan, serial yang unik dan sangat-sangat menarik. Penjelajahan dari satu mesjid ke mesjid lainnya luar biasa!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.