Wednesday, 8 August 2012
Probo Harjanti
Dini hari saat berada di depan loket kecil khusus pelayanan di luar jam ‘normal’ apotek yang buka 24 jam, saya sedang menunggu pegawai apotek. Tiba-tiba terdengar deru motor melaju kencang sekali , melintas di depan apotik. Bising tentu, apalagi di pagi buta. Penjaga malam yang mlungker mingklik-mingklik di bangku panjang itu menggerutu dalam bahasa Jawa. Awalnya saya pikir dia tidur, ternyata tidak.
“ Ngebut kayak gitu tu cari apa ya Bu? Maunya apa?”
Penjaga malam masih grenengan ( menggerutu). Saya belum menanggapi, dia melanjutkan:
“Kalau pamer motor wong yang punya motor banyak, lebih bagus malah!”
Untuk menyenangkan hatinya, saya pun menanggapi.
“Mbrebegi (berisik) ya Pak…..Merasa kaya mungkin Pak.”
“Yang jauh lebih kaya banyak kan, Bu…”
Iya juga ya, lalu:
“Berani ngebut mungkin Pak…”
“Pembalap yang jauh lebih hebat banyak!”
“Merasa ganteng mungkin…….”
“Yang jauh lebih ganteng banyak Bu”, lalu: “ orang kok pamer …mau pamer apa, yang jauh lebih kaya, ganteng dan sopan, banyak. Ini belum tentu kaya, belum tentu ganteng ..sudah bertingkah.”
“Jangan-jangan motorpun pinjaman ya pak…..kalau iya, mau membanggakan apa lagi ya?”
Sering sekali terjadi, orang yang ingin diperhatikan, tetapi dilakukan dengan cara yang tidak benar, hasilnya, alih-alih dipuji, justru umpatan yang didapat. Kadang terlontar kata yang mengharap si pemakai jalan tersebut jatuh atau apa biar kapok. Waduh…….
Didoakan jelek juga sering terjadi saat ada yang bersikap tidak sopan, atau malah kurang ajar. Semisal, naik motor lewat di depan orang banyak tanpa permisi, tetapi malah ngebut hingga meninggalkan asap dan debu, pasti yang terucap :”kejungkel kapok!”
Dan kalau jatuh beneran, belum tentu ditolong, yang ada disokurke, (bahasa Indonesianya apa ya?). Setidaknya bakal terlontar kata “rasain!”….gitu, atau ‘’kapokmu kapan…..”

Kadang kalau ditanya orang apa yang dapat kita banggakan, tentu kita bingung menjawabnya. Namun menurut hemat saya, yang sebaiknya dilakukan dan gampang adalah: tidak membuat orang lain kesal dengan tingkah-laku kita. Jangan sampai didoakan yang tidak baik. Karena hakekatnya setiap ucapan yang terlontar adalah doa.
August 8th, 2012 at 17:55
Mulat salira hangrasa wani
August 8th, 2012 at 13:42
Terima kasih buat nasehatnya Bu. Sedapat2nya sih demikian Bu. Hanya kadang saya suka keluar isengnya
August 8th, 2012 at 12:20
DA: loh itu di brasil apa di china toh?
August 8th, 2012 at 11:07
Wakak…Jc ketauan suka lihat yang miring miring…seperti video yang berdurasi 6 menit waktu itu ha ha..lihatnya harus miring…
August 8th, 2012 at 11:06
Kang Anoew —-> ababil?
senangnya trek-trekan dengan knalpot ngepret dibobok…
Mbakyu Probo, saya malah mesam-mesem sendiri baca kata-kata yang Panjenengan tulis miring
August 8th, 2012 at 10:38
Waaah….. bu probo, mungkin itu ababil…. =)
August 8th, 2012 at 10:28
setuju mbak Probo, jangan sampai bikin orang lain “ndongake” elek buat kita karena tingkah laku kita..makasih mbak Probo…
August 8th, 2012 at 10:21
BU Gucan..aku setuju …..dengan apa yang ingin disampaikan pada tulisan ini. Kejadian yang sering sekali kita temui di mana saja, di Brasil, hal yang paling aku benci adalah, banyak orang meludah di tempat umum…huekkk….
August 8th, 2012 at 10:20
Wakakakakaakakaa….Anoew..gimana kalau aku yang jalan didepanmu, ngebut, trus kamu stop aku, trus dikasih duit….gimanaaaa?
August 8th, 2012 at 10:03
lain kali kalau ketemu lagi orang semacam ini, distop aja trus dikasih duit biar gk ngebut lagi.