Wednesday, 8 August 2012
Ana Mustamin
SAYA membutuhkan waktu berhari-hari untuk memutuskan apakah kisah ini akan saya bagi ke pembaca atau tidak. Bukan apa-apa. Saya tumbuh di lingkungan tradisi ilmiah yang kuat. Saya sendiri seorang yang sangat rasional. Sehingga ketika dihadapkan pada hal-hal yang berbau ‘gaib’, sulit untuk membujuk perasaan saya agar percaya dan mau menerima begitu saja.
Tapi kini, kendati dengan perasaan gamang, saya gak punya pilihan untuk tidak percaya. Paling tidak hingga ada yang bisa menjelaskan ke saya, peristiwa apa sesungguhnya yang tengah saya alami.
Kejadian ini berlangsung pada Selasa dini hari, 19 Juni lalu. Saat itu saya sedang di Batam untuk sebuah urusan kerjaan. Senin malam, 18 Juni, direktur SDM di perusahaan saya mengabarkan, sedang terjadi kerusuhan di Hotel Planet Holiday – bentrok antar kelompok pemuda, tidak jauh dari hotel tempat saya menginap. Saya udah mikir bahwa malam itu kami gak bisa ke mana-mana. Tapi melalui situs Detikcom yang saya buka dari iPad, kami memutuskan untuk menghabiskan malam di luar hotel. Batam cukup kondusif, kerusuhan bisa dilokalisir.
Dengan jumlah rombongan yang relatif besar, makan malam akhirnya kami habiskan dengan menyantap seafood di Harbour Bay. Sambil ngobrol, saya sempat mengakses jejaring sosial Facebook. Dari Harbour Bay, kami masih sempat menikmati suasana malam Batam dari perbukitan, sebelum akhirnya kembali ke hotel persis tengah malam, sekitar pukul 00.00.
Karena capek dan ngantuk, saya cepat pulas. Mbak Nur – lengkapnya Sri Nurcahyati, rekan sekamar saya bahkan lebih awal terlelap. Namun demikian, saya masih sempat mengecek iPad – menutup situs Detikcom dan FB, menyambungkannya ke listrik, karena baterainya nyaris tewas.
Entah berapa lama terlelap, ketika saya dibangunkan oleh suara jepretan. Seperti suara memotret dengan menggunakan iPad. Saya tidak terjaga sepenuhnya, sebenarnya. Antara tidur dan terjaga. Tapi karena suara jepretan itu cukup lama, ya keganggu juga. Apalagi kamar begitu senyap. Hanya karena ngantuk yang begitu parah yang membuat saya tidak beranjak untuk mencari tahu dari mana asal suara jepretan yang memakan rentang waktu relatif panjang itu. Pikiran saya, mungkin di luar kamar sana, ada yg sedang narsis berat ingin dipotret.
Saya tidak mempersoalkan kejadian dini hari itu, sampai akhirnya saya dihadapkan pada sejumlah keganjilan pada pagi hari, Selasa 19 Juni. Saya, Mbak Nur, dan 3 orang kawan lainnya, tengah sarapan di restoran. Seperti biasa, saya gak bisa lepas dari kebiasaan sarapan sambil membuka iPad. Entah sekadar mengecek Twitter atau baca situs berita.
Keganjilan pertama, adalah saat membuka iPad pertama kali. Di depan saya terpampang Instagram. Hei, siapa yang memakai program ini? Berbulan-bulan saya gak menyentuh Instagram sama sekali, belum sempat. Untungnya, pengguna gak bisa masuk, karena ia pasti gak tau password saya. Di kolom username dan password hanya tertera huruf-huruf acak. Meski benak dipenuhi tanda tanya, saya belum ‘heboh’. Tapi dalam hati, pertanyaan itu tetap mengusik: siapa yang membuka iPad saya? Benda itu semalam tak sedetik pun lepas dari tangan saya, kecuali saat saya pulas itu.
Sekuat hati saya mengenyahkan rasa ganjil itu. Instagram saya tutup, dan berpindah ke Safari. Saatnya berselancar di Internet. Tapi di Safari, saya kembali dikejutkan dengan pemandangan yg mencengangkan: 8 jendela terbuka, dengan situs-situs yang sama sekali gak pernah saya buka sebelumnya. Yang saya ingat dengan jelas ada 3 jendela Google. Satu Google Support, dan 2 lainnya Google Web dan Gambar, dengan keyword yang sama: “Ana Mustamin”. Situs yang saya buka semalam – Detikcom, malah gak ada (saya ingat persis, situs itu memang saya tutup). Jujur, saya merinding membayangkan ada ’seseorang’ yang mengobok-obok iPad saya semalaman.
Belum usai keterkejutan saya, Mbak Nur sudah membahas suara-suara pada dini hari tadi. “Mbak Ana mengeset alarm apa sih? Kok mengganggu banget? Lama lagi. Ada ‘kali satu jam…”
Saya pandangi Mbak Nur setengah tak percaya. “Yakin suara itu dari iPad saya?” Ia rupanya mendengar juga suara jepretan itu.
“Yakin banget. Itu dari atas meja, dari iPad Mbak Ana. Suara itu berhenti setelah saya sholat subuh.”
Saya lalu membuka kamera di iPad, mengarahkan ke Mbak Nur, lalu memencet tombolnya. “Suaranya seperti ini?”
“Ya. Seperti itu. Tapi lebih nyaring.”
Tentu saja, karena itu dini hari. Saat paling senyap dalam pelayaran malam.
“Seperti ini?” Saya tidak bisa meredam penasaran dan terus memotret dua kawan lainnya untuk memastikan pendapat Mbak Nur. Dia mengiyakan. Dalam hati, saya juga sangat yakin bahwa suara jepretan itu berasal dari iPad. Saya hanya meragukan, apakah berasal dari iPad saya atau dari luar kamar sana.
Dengan perasaan gemuruh, saya bergegas membuka file foto di iPad disaksikan kawan-kawan semeja saat sarapan itu. Dan saya lemas ketika memergoki ada ratusan file foto – tepatnya 142 foto – yang isinya semata hitam (lihat foto yang saya cantumkan di bawah). File foto-foto itu tepat berada di antara foto terakhir yang saya potret semalam sebelum meninggalkan hotel, dan foto Mbak Nur dan kawan-kawan yang saya potret sesaat sabelum membuka file foto.
Perasaan saya campur-aduk. Tercekat, gigil, merinding, dan penasaran. Oleh kawan-kawan saya dianjurkan berkonsultasi dengan seorang narasumber yang akan mengisi workshop kami sore nanti – seseorang yang sudah lama kami kenal sebagai seorang indigo.
Saya menghabiskan waktu 2 hari untuk mendengar penjelasan dia. Tapi, seperti menyesap air di tengah gurun, saya masih saja merasa kehausan yang amat sangat. Saya belum mendengar penjelasan dari perspektif Teknologi Informasi atau Fisika. Adakah yang berkenan untuk menyampaikan analisis? Siapa yang mengobok-obok iPad saya di malam buta – dalam posisi iPad disarungin dan tercolok ke listrik? Apakah ini peristiwa ilmiah? Semacam metafisika? Atau memang kejadian ‘gaib’? Please, bantu saya…. ****
Note:
Analisis dari sisi Teknologi Informasi maupun yang nyerempet-nyerempet ke Metafisika, bisa dilihat di respon di Kompasiana: http://teknologi.kompasiana.
August 13th, 2012 at 10:24
Ana, besok-besok kalau Ada yang mau pinjam ipadmu, kasih saja.
August 13th, 2012 at 10:22
Direlakan Aja deh! Nanti kamu terus-terusan penasaran.
August 9th, 2012 at 21:36
Mbak Ana, penjelasan yang kemungkinan ada konum lain yang menggunakan iPad dengan cara dikendalikan dari jarak jauh, seperti menggunakan remote control, itu lebih mudah diterima. Karena itu sangat mungkin terjadi.
Mirip seperti saya menggerakkan mobil dan pesawat terbang dengan radio control atau seperti teknologi bedah jarak jauh dengan remote control yang sudah mulai digunakan. Hanya kemungkinan mekanismenya tak sama. Ada faktor metafisik terlibat, itu juga sangat mungkin.
Semoga segera ketemu penyebab utamanya, ya.
August 9th, 2012 at 19:24
Itsmi, saya tidak menyamakan Itsmi dengan kaum ekstrimis agama tertentu di Indonesia. Jelas beda DNA-nya. Hanya saja metode menempatkan seseorang kepada kubu ilmiah dan tidak ilmiah, mirip dengan kaum ektrimis yang menempat orang bukan golongan mereka kedalam dua dikotomi mutlak: kafir dan bukan kafir.
Jelas tidak sama Itsmi dengan mereka. Saya tidak mengatakan itu.
August 9th, 2012 at 19:21
Seperti yang saya sebut pada komentar di awal, ini kejadian “mekanisme dalam tidur”.
August 9th, 2012 at 16:31
nu2k, problem kamu, karena kamu tinggal di belanda, kamu kehilangan status….
Jadi tidak heran, kalau kamu kelaparan, mendengar kata kata “Anda, Ibu, Nyonya…..
tentu di Baltyra, dimana kamu di hormati dengan kata kata “Ibu”, sedangkan di belanda kamu di panggil, “hoi nu2k” bagaimana perasaan kamu yang “halus”
Tapi sialnya kamu juga ketemu orang seperti itsmi hahahahah, yang melihat kamu tidak lebih atau kurang dari pada yang lain…..