Suatu Ketika

Sugiyarti Ugie

 

Sore tadi kusapu jalanan depan rumah, seorang bocah bayi  batita  manis dan sehat  namanya Sabil mendekatiku dengan tertatih sambil tersenyum. Hmm. . lucu dan menggemaskan! Terus mengikutiku  sambil berceloteh tak jelas.

Aku goda : “Hai. .. ganteng, mau ikut nyapu, ya? ” Sambil merekahkan bibirnya, mengangakan  mulutnya yang masih ompong.Hehe..lucunya.

melongo dan ompong

Melihat anak-anak selalu membuncahkan kekaguman. Bagiku anak-anak  adalah keindahan yang tak ternilai dalam kehidupan. Penerus kehidupan dan sumber kegembiraan.

Ketika kita  tersenyum, dia juga tersenyum. Kalau dia menangis, kita buru-buru mencari cara untuk membuatnya tenang dan tersenyum kembali.

Semua tingkah bocah selalu mempesona.

Coba, sesuatu yang diucapkan atau dilakukan kita yang dewasa adalah biasa-biasa  alias sederhana saja, tapi bila itu dilakukan bocah akan membuat kita tertawa dan bangga.

Betapa mudahnya seorang bocah membuat kita gembira. Hanya tersenyum, tertawa, kelopak matanya terpejam saat tertidur, berucap  kata sederhana, merengut, melongo  bahkan merengek ataupun menangis bisa membuat kita bahagia dan terkagum-kagum.

Sifat bocah, kekanakan   mencerminkan kejernihan dan kepolosan. Sering kali terlihat  naif, tapi kata-kata anak-anak  teramat jujur. ” Iiih. . ini gak enak. ” Ketika  bocah kecil berkata demikian artinya memang seperti itu : gak enak. Ia tak akan berbasa-basi mengatakan enak kalau  rasa makanan yang dicecapnya tak sesuai seleranya, tidak seperti orang dewasa yang pandai berpura-pura,mengarang  bahkan jaga image.

Jiwa kekanak-kanakan tetap melekat pada diri kita, kadang tanpa kita sadari seperti berteriak, berlari, tertawa ngakak, memeluk teman erat-erat atau saling meledek. Pernah lihat kan pemain bola yang berhasil merobek gawang lawan, atau peserta kuis menebak dengan tepat? Tingkahnya spontan dan persis kanak-kanak! Berteriak, lari-lari keliling lapangan, joget-joget, jingrak-jingkrak, megol-megol, memeluk erat teman di sampingnya. .. ahaa..!

Polos, jujur, naif, lucu, tidak masuk akal, egois adalah sebagian dari ciri-ciri kekanak-kanakan.

Setelah sepanjang hari melewati perjuangan hidup yang melelahkan, adalah perlu memuaskan jiwa kekanakan mungkin dengan bernyanyi, mencoret-coret kertas, berteriak di pantai /gunung  atau berkaraoke, main bola, manjat pohon. .(kaya aku ya..sampai dibilang: gak ada kerjaan…hahha) menjadi penyeimbang yang membuat jiwa kembali mekar.

Jika kita pernah melakukan kebodohan, kekonyolan ataupun kekhilafan  cobalah mentertawakan diri sendiri, berdamai dengannya, mencari sisi kelucuannya  tanpa selalu menyalahkan diri sendiri sepanjang hidup. Seperti jiwa  kanak-kanak yang mudah melupakan, mudah memaafkan  dan lentur terhadap suatu peristiwa akan memperingan pundak dan melegakan jantung dalam menapaki hidup selanjutnya.

Suatu ketika jika hidup terasa berat dan pahit, mungkin menggali jiwa bocah dalam diri menjadi perlu. Mentertawai, memaafkan diri sendiri adalah penawar dan penyegarnya. Dapat melihat yang menjadi bagian dari cerita hidup kita seperti bocah  adalah salah satu proses pendewasaan dan kearifan terhadap kehidupan.

Dengan memposisikan kekanakan dari diri kita (kog kita. .. aku aja kali)yang sudah  dewasa (tua)  sering kali  memunculkan kreatifitas dan kepekaan rasa yang tak disangka-sangka,menakjubkan. . . seperti bocah, anak-anak di sekitar kita.

Semoga.

(terinspirasi dari fotonya Bimo batita -(bunda Rurun) dan  kata-kata pak Gede Prama)

NB: makasih fotonya mas Ario. .melengkapi angan berbocah kembali. .hahaha

 

Jakarta, 6 Juli 2012

Salam kekanakan yang polos dan naif. .hehe..

 

sendu tapi cantik

 

sadar kamera. .ahaii!

 

mandi di kali. .horeeee (foto mas Ario)

 

nggendong adek. ..kasih sayang yang tulus (Foto mas Ario)

 

Dolanan di lapangan dan kerengan (berantem)? (foto mas Ario)

 

ngerjain tukang becak. .sah-sah aja. .(foto mas Ario)

 

gaya bocah anak fotografer. .hahha (foto mas Ario)

 

32 Comments to "Suatu Ketika"

  1. Lani  11 August, 2012 at 22:31

    GIE : nitip salam buat ndesoku PURWOREJO yooooo…….aku jd ingat sering numpak pit disepanjang pepohonan kenari……..indah, teduh sekali dan sepiiiiiiiiii

  2. ugie  11 August, 2012 at 19:19

    Mbakyu Lani :polos, lugu kaya aku ya… Hehe..makasih yu.. Aku arep mbocahi sik, bali Prjo ki. Salam. k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.