EA. Inakawa – Kinshasa, Africa
Ketika nota dinas kuterima untuk bertugas ke Kinshasa, hal pertama yang terlintas, bagaimana makanannya, ada nggak Indomie di sana, begitulah kekonyolan yang terlintas dalam pikiranku.
Harus diakui awal berkelana di Bumi Africa ini tidaklah mudah…..terutama dalam urusan perut, bagi perantau menjaga keamanan perut berada di peringkat satu, agar tetap sehat tentunya.
Sebagai anak Indonesia yang sejak balita sudah mengenal Indomie sulit rasanya memikirkan apakah Indomie bisa didapat dengan mudah. Nyatanya memang demikian……. pertama berkunjung dan menetap di Kinshasa pada awalnya sulit sekali mencari keberadaan Indomie, jejaknya tak berbekas di koloni Belgium ini yang terlihat hanyalah spaghetti dari Italy menguasai semua sudut etalase modern Super Marche dan pasar traditional di mana-mana.
Seiring waktu ….. achirnya kutemukan juga ketika ada sebuah mobil canvas milik Beltexco yang sedang promosi di pasar traditional Liberty 10 Km dari kota Kinshasa. Minat beli masyarakat Kinshasa terhadap Indomie masih belum tersosialisasi dengan baik karena mereka terbiasa dengan Spaghetti yang dibuat dengan bumbu pasta dan lebih murah dengan harga 500 fc per 250 gr.
Sementara harga CBP Indomie 500 fc/80 gr untuk semua rasa.
1 tahun kemudian…………
Sekarang aku sudah bisa bernafas lega……Indomie secara teratur sudah mengisi pasar Kinshasa yang merupakan capital DR.Congo ini. Setahap demi setahap masyarakatnya mulai menyukai Indomie yang bisa didapat dengan harga 500 fc atau setara Rp.5000/bks untuk rasa kaldu ayam.
Dan entah mengapa seperti ada rasa tanggung jawab moral terhadap ACI “aku cinta product Indonesia” sehingga aku berinisiatif dengan senang hati menjelaskan/menyajikan kepada rekan-rekan Congolaise kalau 1 bungkus Indomie ini bisa dijadikan sebagai lauknya Pupu/Kuangga cukup untuk dikonsumsi 4 orang bersamaan (ayah – ibu dan 2 anak) jadi harganya masih relatif murah bagi sebuah keluarga yang tidak mampu.
Secara umum Indomie masih belum begitu sukses di Kinshasa, tetapi dengan gencarnya distrributor Beltexco melakukan promotion masyarakat Congolaise sudah mulai belajar menyukai Indomie khususnya rasa kaldu ayam, kari dan mie goreng. Rasa Kari hanya diminati kalangan India dan Lebanon yang menguasai percaturan bisnis di DR.Congo ini.
Dalam perjalanan waktu selama aku mencoba mensosialisasikan Indomie ini aku juga mempromosikan Indomie ke teman-teman di kantor dan partner business, bahwa Indomie ini makanan yang diproses dengan sangat higienis, bergizi dan bervitamin dan dibuat dan diakui dengan standart International dan tehnologie berkualitas tinggi bisa dikonsumsi sebagai lauk pauknya Pupu (makanan traditional orang Congo yang dibuat dari Ubi dan bentuknya seperti getuk) dan kuangga dari tepung ubi yang dilumatkan kemudian dikukus/direbus dan dibalut dengan daun sehingga bentuknya seperti lontong di Indonesia.
Ada hal yang menjadi kenangan lucu bagiku, seorang teman baik (congolaise) yang sudah terbiasa makan Indomie di rumahku sangat tertarik dengan nama Indomie ini, di telinganya menyebutkan kalimat Indomie ini indah didengar sebagaimana lazimnya menyebut nama-nama Congolaise modern lainnya seperti Jeremie – Monamie – Mamie – Tommie – Natamie dan lain lain.
Saya pernah menjelaskan kalau INDO itu bermakna Indonesia dan MIE adalah sebutan untuk noodles. Saya jelaskan kalau Indomie merupakan salah satu pilihan makanan alternative pengganti/teman nasi bagi masyarakat Indonesia.
DAN …… luar biasaaaaaaaa sebuah kejutan buatku “ketika anaknya lahir ……. iya menabalkan nama anaknya INDOMIE Mutombo (mutombo family name).
Sampai saat ini kala aku berkunjung ke rumahnya selalu kubawakan bingkisan Indomie walaupun hanya sebungkus anaknya luar biasa senangnya seperti kata Syahrini artis/diva Indonesia “ini sesuatu yang banget” barangkali demikian kata hati si kecil Indomie Mutombo ini ketika makan dengan lahapnya sambil berlepotan kuah Indomie bercampur pupu dan kuangga.
INDOMIE seleraaaaaaaaaaaaa ku…………………………..
INDOMIE ……… Indomie selera ku …………………………
INDOMIE teman kecil kuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
Do you like me …… eh salah atuuuuu
Do you like MIE ehehehehe…………………………. peace

(Indomie in Nigeria)
Note : Terlampir photo menu Indomie yang dimakan bersama dengan Pupu dari tepung ubi kayu (seperti getuk) dan Kuangga (seperti lontong) yang merupakan makanan utama masyarakat DR.Congo.
Jenis Pupu ada 2 macam :
Kwalitas I warnanya kuning, tepung ubi dicampur tepung jagung fifty fifty.
1 bulatan seperti contoh di piring dijual 500 fc atau Rp.5000 .
Kwalitas II – Original tepung ubi saja, warnanya pucat dijual 250 fc atau Rp.2500.
Rata-rata orang dewasa harus makan 2 tumpukan baru membuat kenyang.
Kuangga : Ubi kayu rebus dilumatkan kemudian dibungkus dengan daun pohon jati lalu dikukus, hasilnya seperti lontong memanjang. 1 kuangga dijual 500 fc atau Rp.5000……dimakan mix bersamaan dengan ikan dan sayur.
Cabai/Lombok Congolaise : Warnanya merah saga, berbentuk seperti hiasan bunga cabai, congolaise menyebutnya Pili Pili. Satu butir pili pili dijual 50 fc atau Rp.500 mahal dan pedas sekaliiiiiiiiiiiiiiiii.
Cooking Oil Traditional (masih berbentuk CPO) dikonsumsi sebagai minyak goreng dan campuran untuk masakan sayur dan gulai.
Kinshasa 5 Agust 2012.
Salam setepak sirih sejuta pesan : EA.Inakawa
Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 [1]
Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 [1]
August 9th, 2012 at 11:56
EA Inakawa,
Wah terima kasih; info makanan Pupu dan Kuangga di Kinshasa ini. Ini makanan pokok yang alternative, patut diberikan sebagai contoh bagi bangsaku untuk pengubahan mind set soal makan. Kita tergantung kepada beras yang sebagiannya tergantung import. Menyedihkan. Dulu kalau naik kereta api lewat pantai Utara Jawa antar Jakarta dan Cirebon, pemandangan adalah sawah-sawah yang menghijau dan menguning. Setelah ada anjuran seorang genius kita yang menjadi menteri teknologi menganjurkan industrialisasi di mana-mana, maka para pejabat berebutan memberi ijin kepada industri, karena ijin itu di”JUAL” mentah-mentah tanpa mengutamakan akibat-akibat buruknya. Par penjual ijin ini sampai saat ini masih menguasai aparat pemerintahan yang manapun secara menyeluruh. Sekarang naik kereta api seperti itu, pemandangan sawah berkurang sekali.
Menghadapi masa kering di dunia saat ini, kita akan mengalami yang hebat pada tahun depan. Pertanian akan mengalami bencana dan pejabat-pejabat Negara kita sudah siap dapat komisi untuk mengimport ini dan itu. Rakyat membayar pajak dan untuk makannya diberi import makanan yang macam-macam, tanpa mendesak lebih giat untuk persediaan makanan. Terutama mengantisipasi bencana alam macam-macam akibat kekeringan di masa dekat mendatang.
Salam saya,
Anwari Doel Arnowo – 09/08/2012
August 9th, 2012 at 11:49
@ Ko JC : Terima kasih atas penampilan artikel ini Ko,baik Ko ntar dicoba kirim lagi……betul ko saya pernah lihat tapi jenisnya Spaghetty dan kasar butuh waktu lama merebusnya sehingga harus direndam lama sebelum direbus.
Kalau CPO buah utuh direbus jadi sayur dan cemilan Ko, saya pernah coba rasanya lemak juga Ko.
Orang Congo tidak mengenal santai sbg campuran Gulai, buah kelapa dibiarkan tua sebagai cemilan dan dikunyah, dijual sepanjang jalan Kinshasa. Buah Alpukat dimakan bersama Roti pentung (bentuknya seperti pentung) Yaa begitulah Afrika. salam sejuk
August 9th, 2012 at 11:46
Inakawa,
Saya ingat betul waktu tahun kemarin ambil kuliah pendek di Perancis, ada 5 teman dari Nigeria. Mereka cerita kalau tidak suka sama makanan Perancis, makanya mereka bawa sendiri dari Nigeria 1 dos Indomie untuk bekal selama 3 bulan kuliah.
Seharusnya ini menjadi strategi bagi pemerintah dan eksportir kita: banjirilah Afrika yang sekarang sedang bertumbuh dengan barang-barang made in Indonesia, apalagi barang-barang atau makanan yang membuat mereka bisa kecanduan he..he…
Salam,
Osa KI
August 9th, 2012 at 11:39
wah….penulisnya harus dibeari bonus sama Indomie atas promo luar biasanya……
August 9th, 2012 at 11:35
EA. Inakawa, mohon maaf foto-foto yang lain tidak tertampil sama sekali. Bisa dikirim ulang tapi jangan format htm ya, kalau bisa JPG…hehehe…
Indomie di Africa memang luar biasa. Terutama di Nigeria tuh, sudah jadi makanan pokok dan orang Nigeria benar-benar kreatif dalam menyajikan Indomie. Ada yang namanya cold-serving, konon direndam dulu semalam dengan air dingin, dan entah apa lagi penyajiannya.
Benar, aku juga pernah baca di Africa CPO dan buah kelapa sawit dimakan begitu saja tanpa diolah jadi minyak goreng seperti di Indonesia. Malah aku pernah ketemu orang Africa yang senang masak oil-palm stew, sampai aku bingung gimana gitu…
August 9th, 2012 at 11:35
Membanggakan.
Saya sih memang tidak pernah sampai tergila-gila sm Indomie.
August 9th, 2012 at 11:27
@ Nia : jangan jangan teman Nia itu diberi nama PUPU karena kisahnya sama dengan si Indomie teman kecilku, gorengan langka Nia……Ubi kayu & Ubi rambat dikunyah mentah mentah bersama kacang tanah mentah juga, pisang dipanggang disiram bumbu kacang seperti kuah pecal. Kalau pisang goreng ada tapi dibuat lauk untuk makan bersama pupu, bukan sebagai cemilan. Begicuuuu Nia, salam sejuk dari KIN ehehehe
August 9th, 2012 at 11:21
temen sy malah namanya Pupu… entah Pupu makanan ato bukan
mestinya mereka tukeran tempat ya.
pak Inakawa disana ada gorengan jg kah? manteb kayaknya klo makan tahu goreng sama nyeplus Pili Pili hehehe…
August 9th, 2012 at 11:21
Sasayu : Terima kasih atas singgah sesaatnya……..yaa melihat Indomie berkibar di LN ada rasa senanglah. Betul juga yaa bisa diusulkan sama Indofood teman kecilku dapat bonus seumur hidup, tapi apa iya Indo Food care ehehehe Betul di Nigeria sampai dibikin lagu. 2 tahun lalu Indomie juga sudah buka pabrik di Kenya……Indomie Selerakuuuuuuuuuuuuuuuu. salam sejuk
August 9th, 2012 at 11:08
Hahahaha, waduhhh, itu anaknya musti diberi bonus INdomie makan gratis seumur hidup, sampai namanya diberi nama INDOMIE….pengalaman yang sungguh menarik dari benua Afrika. bangga produk indonesia bisa sebegitu terkenalnya di sana, terutama di Nigeria, sampai dibikin lagu sama rapper.