Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Melawan Lupa (2)

Thursday, 9 August 2012

Viewed 810 times, 1 times today | 18 Comments |

Kang Putu

 

(Senin, 2 Juli 2012 pukul 05.38)

Kini, foto kusam, sobek-sobek, nyaris tak berbentuk lagi, itu kuamat-amati. Kukeluarkan sesobek demi sesobek dari dalam plastik. Kutaruh di atas meja. Kususun kembali sobekan-sobekan foto itu.

Benarkah itu gambar Pakde, Pakde Rohman, kakak kandung ibuku? “Ya, itu foto Pakde, Gun,” ujar Mbak Tatik, mbakyu sulungku, kembali mengiang dalam kuping kesadaranku.

Aku cuma bisa memercayai, tanpa bisa membuktikan kebenarannya. Aku percaya itu bukan foto Bapak. Lantaran, meski sebentar, cuma sebentar, aku toh pernah bersemuka dengan Bapak. Ya, wajah Bapak tak mungkin hilang dari ingatanku, meski cuma dua-tiga kali peristiwa atau lebih tepat lagi adegan dalam hidupku melihat atau bersama bapakku, sebelum dia menghilang atau dihilangkan – kata orang, dibunuh tentara dan dikubur entah di mana, di kawasan hutan antara Cepu dan Ngawi, hampir setengah abad silam.

Sekali, aku ingat persis, pada suatu malam Bapak menggandeng tanganku bersama Ibu. Di lorong di depan rumah kami di Cepu. “Gun, lihatlah. Itulah yang disebut lintang kemukus,” ujar Bapak sembari menunjuk ke langit. Aku menatap, mengikuti telunjuk Bapak, dan terlihat gugusan bintang-gemintang di langit malam.

Kedua, aku melihat Bapak dengan celana putih, baju lengan panjang putih, sembahyang di dipan kayu jati di ruang tengah rumah Nenek dan Kakek di Blora. Dalam ingatanku, adegan kedua itu silih berganti dengan adegan Bapak meraut bilah-bilah bambu di rumah kami, di Cepu. Bapak begitu telaten dan sabar meraut bambu itu membentuk jeruji-jeruji sangkar burung perkutut piaraan. Bapak memang selalu membuat sendiri sangkar burung itu. Sangkar yang indah, sangkar yang kuat.

Kini, aku yakin foto itu memang bukan foto Bapak. Namun aku tak pernah yakin itu foto Pakde Rohman. Dia cuma kukenal nama dan posisinya dalam silsilah keluarga kami, tetapi tak pernah singgah dalam ingatanku bahwa kami pernah bertemu muka. Ya, kami tak pernah berjumpa sejak dulu sampai sekarang, ketika kini usiaku telah berkepala lima.

Ah, peduli setan. Ada atau tidak Pakde Rohman di dunia ini, toh tak berpengaruh terhadap kehidupanku. Jika benar Ibu punya kakak, kenapa pula tak ada tanda kehadiran mereka dalam perjalanan panjang menyerikan yang mesti kami lalui? Tak ada sekadar tanda kehadiran yang sedikit meringankan keperihan yang mesti kami hadapi?

 

Share This Post

Posted by Thursday, 9 August 2012 on 10:41.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

18 Responses to “Melawan Lupa (2)”

Pages: [2] 1 »

  1. 18
    Handoko Widagdo Says:

    Memang tidak untuk dilupakan.

  2. 17
    Dewi Aichi Says:

    Kang Putu, pelan pelan saja, menyiapkan jiwa raga, untuk menyusun kembali kepingan kisah masa lalu, pahit manis, itulah yang terjadi….salam hangat…

  3. 16
    EA.Inakawa Says:

    @ kang Putu : setiap orang punya sejarah……..hitam – putih & kelabu, memang tidaklah mudah membasuh luka lama, tp bisa kita jadikan sokoguru untuk memandang hari ini & esok yang lebih baik lagi tentu saja dalam kaca mata yang bening, salam sejuk

    @ Linda Cheang : mengatasi Lupa…..dimulai dengan Dimana sebuah barang diambil kembalikan ketempat semulanya, gt lhooo. salam sejuk

  4. 15
    Mawar09 Says:

    Terima kasih sudah berbagi dengan kami kisah keluarga Kang Putu. Semoga semuanya bisa diatasi dan bisa berdamai dengan masa lalu yang kelam itu.

  5. 14
    kang putu Says:

    kawan-kawan, terima kasih atas tanggapan, apresiasi, dan resepsi sampean semua. kisah serial ini saya tulis dan masih dalam proses terus-menerus. sekarang sudah sampai seri kelima dan kelanjutannya tergantung dari mood, kesiapan mental, kejernihan daya ingat, keliaran imajinasi, dan lain-lain. memang tidak sepenuhnya kisah nyata, meski berbasis data faktual dari “sejarah kelam” keluarga kami. belum terbayang: kelak menjadi apa. tetapi jelas bukan “kitab sejarah” (history), pun bukan memoar (his story). ya, macam adonan segala rupa, yang berbasis kejadian nyata yang kami sekeluarga alami.
    dan, ini pun (masih) menjadi sarana bagi saya untuk berdamai dengan masa lalu, menjadi sarana membasuh luka, melenyapkan dendam. sekaligus, sebagai warisan bagi anak-anak saya (terutama) agar, kelak, mereka mengerti benar asal-usul, riwayat, yang menjadi latar belakang keberadaan mereka.
    kami pernah tinggal di padangan, bojonegoro, di sisi timur bengawan sala. kami juga pernah tinggal di kawasan cepu, di sisi barat bengawan sala. kisah pada masa itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan kisah yang kami alami — dan kelak saya tulis dalam serial ini. bersabarlah nu2k — izinkan saya alon-alon waton kelakon. karena, maaf, memang tak gampang bagi saya menuliskannya (setiap kali). salam hormat!

  6. 13
    Linda Cheang Says:

    lupa mau kasih komentar apa….gi mana cara mengatasi lupanya?

  7. 12
    elnino Says:

    Kisah pilu tragedi masa lalu yang masih menyisakan kepedihan di kehidupan masa kini

  8. 11
    anoew Says:

    Rasa sedih saya di artikel Melawan Lupa (1) masih belum habis..

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)