Oleh-oleh dari Masa Lalu (5): Arsitektur Metropolitan Majapahit

Osa Kurniawan Ilham

 

Pada laporan sebelumnya, saya sudah menceritakan sedikit mengenai Rencana Tata Ruang dan Wilayah (istilah kerennya sih Master Plan) Trowulan sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit. Di desain dengan filosofi Hindu maka ibukota Trowulan memiliki konsep tata ruang dan arsitektur yang jelas. Situs yang ada sekarang adalah satu-satunya situs perkotaan masa klasik di Indonesia, begitu tertulis di buku pengantar Museum Trowulan yang saya beli. Luasnya adalah 11 km x 9 km dengan dukungan jajaran pegunungan yang ideal untuk tempat ibadah serta topografi yang landai dengan ketersediaan air tanah yang dangkal serta dekat dengan Sungai Brantas yang menghubungkan Trowulan dengan pelabuhan laut di utara, maka cocoklah wilayah ini menjadi Washington DC-nya Majapahit.

Seorang musafir Cina bernama Ma Huan melaporkan bahwa ibukota Majapahit kehidupan masyarakat dan perekonomiannya sudah sangat maju. Dia melaporkan bahwa bahwa ibukota ditinggali oleh 200-300 keluarga. Penduduknya sudah memakai kain dan baju. Para pria berambut panjang terurai sementara kaum perempuannya bersanggul. Setiap laki-laki berumur 3 tahun ke atas pasti mengenakan keris dengan pegangan yang terukir indah dari emas, cula badak atau gading. Pantang bagi lelaki Majapahit untuk memegang kepala orang lain karena akan menyebabkan perkelahian dengan keris.

 

Sayang fotonya agak kabur (koleksi pribadi)

Museum Trowulan ini dibangun tepat di atas kompleks pemukiman masyarakat ibukota Majapahit jaman dulu. Ma Huan melaporkan bahwa mereka tinggal di dalam rumahnya tanpa bangku di dalamnya. Penduduk juga biasa tidur tanpa memakai ranjang. Nah di samping museum kita bisa melihat bagaimana real estate penduduk kota Trowulan didesain.

 

Arsitektur rumah Majapahit (sumber: Buku Mengenal kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan)

Gambar di atas adalah arsitektur rumah Majapahit yang direkosntruksi dari relief candi maupun tulisan-tulisan sastra di jaman saat itu. Di bawah ini adalah kompleks real estate-nya itu.

 

(koleksi pribadi)

 Komplek real estate ini terbagi atas bermacam-macam bangunan. Ada bangunan untuk bersantai, ada bangunan untuk kamar tidur, kamar mandi. Mungkin yang bisa mewakili adalah arsitektur rumah tradisional di Bali sekarang, dalam satu areal ada bermacam-macam bangunan dari depan sampai belakang, mulai dari ruang tamu sampai pura pun ada.

Jangan bayangkan penduduk metropolitan Trowulan masih mandi di kali seperti di Jakarta itu. Mereka sudah mempunyai kamar mandi sendiri lho. Uniknya, di dalam museum ini juga terdapat sumur asli peninggalan Majapahit.

 

(koleksi pribadi)

Coba lihat lagi foto tentang real estate Majapahit di atas. Saya kagum karena saat itu  masyarakat metropolitan Trowulan ternyata sudah melapisi lantai rumahnya dengan keramik lho. Dan kalau Anda melihat foto di bawah ini, Anda pasti akan semakin kagum pada kemajuan arsitektur dan teknik sipil di Majapahit.

  Keramik Hexagonal jaman Majapahit (koleksi pribadi)

Benar, yang Anda lihat adalah keramik bersegi enam (hexagonal) yang ternyata sudah diproduksi secara massal dan diaplikasikan oleh penduduk metropolitan Majapahit. Jadi jangan sombong ya dengan teknik arsitektur kita sekarang, wong ternyata di jaman modern ini kita masih memakai desain keramik 700 tahun yang lalu.

Mereka ternyata juga sudah mengaplikasikan teknik perpipaan (plumbing) untuk keperluan sehari-hari, sanitasi maupun irigasi. Sayang saya lupa mengambil fotonya, di museum Trowulan juga dipamerkan beberapa barang peninggalan berupa pipa dan segala asesorisnya. Kalau jaman sekarang menggunakan PVC maka penduduk metropolitan Majapahit menggunakan tanah liat untuk membuat pipa, elbow dan tee-nya.

Penduduk Majapahit ini juga selalu bergaya dalam membuat rumah dan bangunan yang berkelas seni tinggi. Supaya indah, mereka menyelubungi tiang-tiang bangunan dengan terakota berukir indah seperti dalam foto di bawah.

  Tiang terakota (sumber: Buku Mengenal kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan)

Mereka juga memasang ukiran kala sebagai hiasan untuk atap rumah maupun saluran air hujan di atap rumah. Lagi-lagi dari terakota tanah liat.

  Ukiran Kala/kepala raksasa (sumber: Buku Mengenal kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan)

Lalu bagaimana penduduk Trowulan menjalani kehidupan sehari-harinya? Saya akan melaporkan dalam tulisan berikutnya.

 

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 6 Agustus 2012)

 

30 Comments to "Oleh-oleh dari Masa Lalu (5): Arsitektur Metropolitan Majapahit"

  1. Kris  6 September, 2017 at 17:47

    Batu bata majapahit dahulu kala pembuatnya ada di desaku tinggal saat ini. (desa simbatan, kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur). Sampai sekarang peninggalan itu masih ada dan terkubur di bawah tanah persawahan. Peninggalan itu berupa batu bata yg jumlahnya banyak, keris, cemeti, pedang, keramik, mangkok aneh, dan barang2 rumah tangga.

  2. DIDIK P  2 January, 2013 at 01:24

    Hilangnya peradaban majapahit sangat misterius,,,bayangkan sebuah kerajaan terbesar bi bagian timur dunia setelah cina bisa lenyap dalam ratusan taun,,,,,kalaupun penyebabnya alam apakah mungkin penduduk asli dan kulturnya bisa hilang juga?dan kenapa jenis arsitektur di majapahit mirip dengan bi bali?? kesimpulanya IPS sejarah di indonesia sangat burukk….

  3. Osa Kurniawan Ilham  10 August, 2012 at 17:13

    Mas ISK dan Mas JC,
    Saya juga merenungkan hal yang sama saat berkesempatan ke Perancis tahun lalu. Di Eropa pada umumnya bangunan2 abad 13 (sejaman dengan Majapahit) masih kokoh berdiri kenapa di Majapahit tidak. Dugaan saya adalah karena Eropa tidak berada di daerah lempeng seperti di Indonesia. Karena itu daratan mereka relatif lebih stabil sehingga memungkinkan bangunan2 kuno bisa awet. Karena itu rehabilitasi bangunan kuno di Eropa paling menambal pondasi hanya untuk mengurangi penurunan struktur. Kecuali di daerah batas lempeng seperti Turki dan Italia, bangunan2 mereka rentan terhadap gempa bumi.
    Ada dugaan bahwa sebenarnya kebudayaan kuno Nusantara bisa jadi lebih tua ketimbang peradaban Cina. Cuma karena di sini langganan gempa bumi, tsunami dan bencana alam jadi peninggalan tertua yang ditemukan hanyalah dari abad ke 4.

  4. Handoko Widagdo  10 August, 2012 at 09:49

    Facebook jaman Majapahit seperti apa ya? Jangan-jangan mereka lebih canggih, bisa berkomunikasi langsung dari otak ke otak.

  5. Dewi Aichi  10 August, 2012 at 04:28

    Wuih…luar biasa tulisan ini Pak Osa…..jadi pengen hidup di jaman Majapahit, kayaknya kok memikat gitu setiap cerita tentang Majapahit. Patih Gajah Mada ganteng ngga ya hi hi hi…..

    Betul juga ya Pak Iwan..kenapa negara kerajaan sebesar Majapahit, kini tinggal cerita….seandainya sampai sekarang masih ada, bisa jadi Indonesia menjadi tetangga negara Majapahit…Indonesia(baca:Jakarta), Indonesia itu kan cuma Jakarta he he he….

  6. Mawar09  9 August, 2012 at 23:54

    OsaKI : membaca lanjutan artikelmu ini semakin membuat saya ingin mengunjungi tempat ini. Tiang terakotanya memang sangat indah. Ditunggu ya lanjutannya.

  7. IWAN SATYANEGARA KAMAH  9 August, 2012 at 22:25

    Memang kondisi geografis menyababkan banyak perbedaan dlm segi atsitektural. Di Trowulan tak kontur topografis pegunungan berbatu. Jadilah candi2 semasa Majapahit dibuat dr bata merah bukan batu keras spt di Borobudur dan sekitar Jawa Tengah pd umumnya.

    Soal degradasi arsitektural tidak bisa ditarik kesimpulan sbg perlombaan. Dugaan k
    keras semua candi di Jawa Tengah dibangun atas campurtangan ekspatriat India. Lihat aja s
    semua patung Buddha berhidung mancung spt
    Etnis India. Justru Majapahit asli karya lokal (?).

  8. anoew  9 August, 2012 at 22:19

    Kesimpulanku sementara, semakin kuno, kok kayaknya justru lebih canggih untuk teknologi struktural bangunan…entahlah

    Kesimpulanku sementara, mereka yang datang belakangan itulah yang menyebabkan kemunduran itu…entahlah

  9. J C  9 August, 2012 at 22:11

    Mas Iwan, aku pernah menanyakan hal yang sama waktu keliling Trowulan. Dijawab oleh si pemandu dan beberapa penduduk situ karena letak geografis Trowulan, ibukota Majapahit berbeda dengan kondisi geografis di sekitar Borobudur, pusat kerajaan Syailendra yang banyak terdapat batu andesit. Rentang tahun dari 825 Masehi sampai ke 1400’an tahun Majapahit, sekitar 600 tahun. Dalam kurun waktu 600 tahun aku tidak heran terjadi penurunan teknologi bangunan seperti yang terjadi dari masa Majapahit ke sekarang. Jadi dari bahan baku yang tersedia batu-batuan andesit dan di Trowulan tidak banyak terdapat batu andesit juga rentang waktu yang panjang, sepertinya sangat memungkinkan terjadinya degradation of construction technology.

    Di daerah Trowulan lebih banyak terdapat bahan untuk batu bata merah, yang bahkan candi-candi yang tersebar di Trowulan dan sekitarnya lebih banyak terbuat strukturnya dari batu bata merah yang bisa lapuk termakan waktu. Banyak bagian yang direstorasi dengan batu bata merah jaman sekarang tapi kualitasnya jauh berbeda dengan batu bata merah jaman Majapahit.

    Lepas dari Majapahit dan Syailendra, kalau kita tarik lebih panjang lagi, mega struktur di seluruh dunia, mulai dari Great Wall, piramid (baik yang di Mesir maupun Amerika Selatan), dan mega struktur lainnya, teknologinya jauh lebih tinggi lagi dibanding teknologi Borobudur. Kesimpulanku sementara, semakin kuno, kok kayaknya justru lebih canggih untuk teknologi struktural bangunan…entahlah…

  10. IWAN SATYANEGARA KAMAH  9 August, 2012 at 20:57

    Satu pertanyaan yang masih belum bisa saya menjawabnya. Mengapa negeri sebesar Majapahit hilang seperti istana pasir. Tidak menginggalkan landmark, monument kokoh atau bentuk arsitekrural yang megah dapat donikmati seperti Borobudur?

    Kuat dugaan mereka tidak sebesar yang kita anggap selama ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.