Kurnia Effendi
(anjung ketujuh)
Kubah masjid Al-Ma’mur Bukit Duri Kampung Melayu
Untuk menuju puncak gunung, kita dapat mendaki dari berbagai arah. Barangkali serupa itu kebenaran dipanggul setiap orang, diyakini dengan erat, abai pada lain pendapat. Dan aku tentu kerap terjerembap oleh ilusi kebenaran sebelum tiba pada puncak yang satu: sang mahabiru.
Matra pertama, garis titian yang bersumber dari buaian hingga pangkal ajal.
Untuk sampai ke luas lautan, kita dapat berperahu dari beribu sungai. Barangkali mirip pelayaran itu, harapan disongsong setiap manusia. Adakah kita tahu ujian atau peringatan, yang perlu dilawan atau dihindari, kecuali dengan kekuatan bisik di luar indrawi?
Matra kedua, bidang yang mengambang diombang-ambing bimbang.
Untuk merapat ke pusat kota, kita memiliki peluang melalui banyak cecabang jalan. Barangkali itu miniatur persaingan untuk mencapai hasrat yang diperebutkan. Tetapi cinta tidak tinggal di sana, ketika para pendamba semrawut dan saling sikut.
Matra ketiga, ruang lengang tempat mengendapkan seluruh angkuh.
Untuk tiba di haribaanmu, cukupkah dengan satu pengetahuan tentang hakikat? Cukupkah dengan menghemat pikiran sesat? Cukupkah dengan rasa takut terhadap khianat? Cukupkah dengan beriman pada hari kiamat? Cukupkah melebur padamu hingga lumat?
Matra keempat, waktu… jiwa… waktu… jiwa….
Jakarta, 28 Juli 2012, Ramadan 1433 H
Mihrab Masjid At-Taqwa Tamini Square
Kubah masjid At-Taqwa Tamini Square
Teras masjid At-Taqwa Tamini Square
Masjid Al-Ma’mur, Bukit Duri Kampung Melayu
———————————————————-
(anjung kedelapan)
Kubah Masjid At-Tin Taman Mini
Setelah kami ruku dan sujud bersama, bagai ada yang ditumpahkan ke hamparan sahara. Kepasrahan membuat sebagian beban pikiran menguap. Ketakberdayaan justru menguatkan niat untuk setia padamu. Di bawah kubah kami rebah, ingin tak berpindah, sampai tak terdengar lagi tilawah.
Seorang hafiz mendongeng tentang nasib kami. Mendaras cahaya yang menyilaukan gelap mata kami. Menyalakan ayat demi ayat untuk menyayat jiwa kami. Orang-orang terlunta yang sedang menghiba, mencari welas asih yang pernah tertampik. Di depan mihrab kami meratap, ingin selamanya tiarap dengan wajah sembap.
Setelah berabad-abad membaca salawat, kurun waktu mungkin menyembuhkan luka kami. Selalu tertangkap-lepas syafaat dari raihan jemari kami. Di antara lembaran kitab yang rangkaian hurufnya menyembur ke muka kami, tampak barisan tanpa panji-panji. Di mana kami mesti berdiri dan ke mana arah untuk melangkah bagi si buruk rupa ini?
Jakarta, 29 Juli 2012, Ramadan 1433 H
Masjid At-Tin Taman Mini
Matahaeri pagi di balik Masjid At-Tin
Masjid At-Tin Taman Mini
August 10th, 2012 at 09:54
Indah nian
August 10th, 2012 at 04:54
@ Mas Kurnia : saya baru ingat ketika melintas batas lewat darat dari Ethiopia menuju Eriteria, dipertengahan jalan ada sebuah Masjid tua tidak terlalu besar pernah menjadi tempat persinggahan sholat King Solomon ( Nabi Sulaiman ) sayangnya waktu itu thn 2003, kondisinya kurang kondusif antara Ethio & Eriteria jadi saya tdk sempat sholat disana…..salam sejuk
August 10th, 2012 at 04:42
Mas Kef…ditunggu lawatan berikutnya…selalu indah dengan santapan rohani, juga bisa singgah di di berbagai tempat ibadah…
August 9th, 2012 at 13:17
@Mas Kurnia : Dan entah kenapa, kalau menumpang sholat diberbagai Masjid selalu saja kita mengamati arsitekturnya terkagum kagum dan jujur suasana Masjid itu kadang satu sama lain berbeda kesejukannya.
tapi namanya NIAT yaaa tetap bersujud didalam nya, membayar hutang……….
Khusuk itu begitu sulitnya…..bebagai cara untuk me Ma’rifat kan semuanya masih saja alam pikiran ini hanyut tersesat……ampunkan Hamba Ya TUHAN……
salam sejuk
August 9th, 2012 at 11:51
Ornamen kubahnya sgt indah.
August 9th, 2012 at 11:31
Saya selalu kagum mengamati dan memperhatikan arsitektural masjid…luar biasa indah…
August 9th, 2012 at 11:29
SATOE Persinggahan