Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Empati si Kaya dan si Miskin

Friday, 10 August 2012

Viewed 1297 times, 3 times today | 20 Comments |

Cechgentong

 

Apakah sebuah kebetulan atau bukan? Dalam kondisi negara Indonesia yang sedang dirundung kemalangan dengan adanya bencana di beberapa daerah maka tanpa sengaja saya menemukan sebuah penelitian terbaru yang mungkin berkaitan dengan apa yang terjadi di Indonesia. Apalagi bulan ini tepat seluruh umat Islam di dunia termasuk di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan akan merayakan Hari Raya Idul Fitri maka sudah sepantasnya  ditonjolkan simbol kesederhanaan, kasih sayang, pengorbanan dan lebih utama adalah mengasah rasa empati kita sebagai umat manusia.

Dalam sebuah studi baru yang dipublikasikan secara online pada Jurnal  Psychological Science edisi 25 Oktober 2010  ditemukan bahwa orang miskin yang mempunyai rasa empati  lebih baik  daripada orang  kaya yang tidak mempunyai rasa empati. Uang tidak akan  bisa membeli kebahagiaan dan status  sosial seseorang.

empathy (americajr.com)

Dalam beberapa percobaan, orang-orang dengan status sosial ekonomi tinggi (atau orang yang menganggap dirinya lebih baik)  cenderung mempunyai emosi yang buruk dan mudah  menghakimi orang lain  baik pada saat  melihat foto-foto dan berinteraksi dengan orang. Michael Kraus, seorang peneliti postdoctoral dalam bidang psikologi di University of California, San Francisco mengatakan bahwa mungkin alasannya adalah  masyarakat berpenghasilan rendah atau berpendidikan rendah harus lebih responsif terhadap orang lain untuk mendapatkan sesuatu. Ternyata menjadi  empati menyediakan kemampuan yang lebih baik untuk merespon ancaman sosial. Hal ini juga memberi kesempatan untuk merespon peluang sosial.

Penelitian Kraus  sebelumnya telah menemukan bahwa orang kaya lebih kasar   dalam melakukan percakapan dengan orang asing daripada orang miskin. Kraus juga menemukan bahwa orang miskin lebih murah hati dengan hartanya dibandingkan dengan orang kaya. Empati orang miskin  yang lebih besar itulah yang  bisa menjadi akar dalam berbuat amal.

Para peneliti melakukan tiga percobaan untuk menggali lebih  dalam tentang  kesenjangan empati  antara kaya dan miskin. Pada percobaan pertama, para penelitis  fokus pada aspek pendidikan dari  status sosial ekonomi (socioeconomic status (SES)). Para peneliti merekrut 200 pegawai universitas, mulai dari personel pendukung kantor, pendidik sampai manajer. Kemudian para peneliti  mengumpulkan data pencapaian pendidikan para relawan dan meminta mereka untuk mengidentifikasi ekspresi wajah dalam serangkaian foto.

Ini seperti salah satu tes sekolah yang belum tentu menjamin sebuah kelulusan. Beberapa relawan  yang hanya menyelesaikan pendidikan SMA mencetak skor  rata-rata 7 persen lebih tinggi dibandingkan dengan pendidikan perguruan tinggi. (Skor mentah dikonversi ke sebuah  skala di mana rata-rata  peserta dalam penelitian ini mencetak  100,89. Ketika jumlahnya dipecah berdasarkan  pendidikan maka  peserta yang hanya menyelesaikan pendidikan SMA mencetak skor rata-rata 106 dibandingkan dengan peserta berpendidikan tinggi yang mencetak skor  rata-rata 99).

Pada percobaan kedua para peneliti merekrut  106 orang mahasiswa  yang melakukan interaksi  satu sama lain dalam sebuah wawancara kerja palsu. Para relawan diminta untuk menilai emosi mereka sendiri dan emosi pasangan mereka selama wawancara. Mereka yang status sosial ekonominya lebih tinggi  ternyata memperoleh hasil yang buruk dalam hal keakuratan menebak emosi pasangan mereka. Kraus menyatakan kalau penelitian ini dilakukan secara umum tanpa berdasarkan jenis  kelamin dan  latar belakang etnis.  Dan  benar-benar terlihat bahwa orang kelas bawah menunjukkan akurasi empati yang lebih besar dalam studi.

Tetapi apakah  orang yang secara finansial kaya mendapatkan semua yang dimilikinya sekarang karena mereka lebih berfokus pada diri? Apakah  kekayaan tidak mempengaruhi empati, tetapi justru empatilah yang mempengaruhi kekayaan? Untuk mengetahuinya, para peneliti merekrut 81  orang mahasiswa yang berbeda. Kali ini, para peneliti meminta beberapa mahasiswa untuk memvisualisasikan individu yang luar biasa kaya seperti Bill Gates.

Selanjutnya, beberapa mahasiswa diberi tahu untuk menempatkan diri pada status sosial ekonomi dan membayangkan  seseorang yang benar-benar kaya. Membayangkan Bill Gates berarti memicu para mahasiswa untuk menempatkan dirinya   pada status  lebih rendah daripada seharusnya mereka miliki. Sementara itu mahasiswa lain yang diminta untuk membayangkan seseorang yang benar-benar miskin maka mereka  menempatkan dirinya  relatif lebih tinggi dalam statusnya.

Akhirnya, 81 orang mahasiswa melihat 36 foto close-up mata dan menilai emosi yang terdapat pada foto-foto tersebut. Ternyata  foto-foto tersebut  berhasil memanipulasi penglihatan beberapa mahasisiwa yang merasa sebagai  kelas bawah dengan skor  6 persen lebih baik daripada mereka  mempersepsikan dirinya sebagai kaya.

Vladas Griskevicius, seorang psikolog University of Minnesota yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan hasol penelitian ini sangatlah menarik untuk disimak. Kebanyakan peneliti akan berharap bahwa orang-orang dari latar belakang SES tinggi  akan lebih baik membaca orang lain. Tetapi penelitian ini justru menemukan bahwa orang-orang dari latar belakang SES yang lebih rendah memiliki keselarasan dengan apa yang orang lain pikir dan rasakan.

Pada saat ini Kraus dan rekan-rekannya tertarik untuk menemukan cara mempengaruhi tingkat empati rakyat. Kraus  mengatakan bahwa menjadi empati merupakan salah satu langkah pertama untuk membantu orang lain. Hal pertama yang benar-benar menarik  perhatian adalah apakah   kita bisa membuat orang menjadi kaya. Orang kaya dengan kemampuan besar untuk memberi dan  memiliki rasa  empati.

 

Share This Post

Posted by Friday, 10 August 2012 on 10:40.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

20 Responses to “Empati si Kaya dan si Miskin”

Pages: [2] 1 »

  1. 20
    cechgentong Says:

    Evi Irons, terima kasih dan terasa mereka tanpa pamrih ya

  2. 19
    Evi Irons Says:

    Setuju dengan artikelnya, saya sendiri merasakannya. Dengan orang miskin punya rasa kebersamaan yang tinggi.

  3. 18
    cechgentong Says:

    Matahari, hahaha bisa aja…

  4. 17
    matahari Says:

    Kalau di ajang Olimpiade ada cabang “show off “harta benda…mungkin bangsa kita sudah menyabet semua medali emas..perak dan perunggu…

  5. 16
    EA.Inakawa Says:

    Betul Kang : Hidup senantiasa dalam proses pembelajaran terus & menerus………setiap hari selalu ada yang baru dan asing, setiap hari selalu ada perubahan sebagai keabadian dari perubahan itu sendiri, kebodohan, lalai dan alpa selalu saja ter ulang…..hanya NIAT yang senantiasa bisa kita ichtiarkan agar dalam hidup bisa berbuat baik & ber empati terus, salam sejuk

  6. 15
    cechgentong Says:

    EA, kalo yang colok menyolok itu mah harus dicolok matanya tuh pejabat hahaha
    itulah mengapa kita belajar berempati terus menerus

  7. 14
    cechgentong Says:

    Kang JC, maka itu orang kaya harus banyak2 bersyukur

  8. 13
    EA.Inakawa Says:

    Mbak DA : iyaaa saya ikutan , pakai terlur busuk yang khas Philipina aja ” Balot ” lebih keras nimpuknya ehehehe

  9. 12
    Dewi Aichi Says:

    Pak EA , para pejabat seperti itu isi kepalanya payah banget…..payahhh…sayangnya, tak ada hukum sosial yang berlaku dari masyarakat, pengen nimpukin telur busuk ke mukanya rame rame he he he he he…kalau sendiri ngga berani….

  10. 11
    EA.Inakawa Says:

    Kang Cechgentong: secara awam saya melihat semakin kaya orang kaya cenderung pelit, kalaupun baik kebaikannya ingin di publish dan selalu ada sesuatu pamrihnya…….
    (saya baca intimidasi calon Gubernur DKI, kalau tidak milih dia lokasi kebaran Karet Tengsin)
    Sekarang lo nyolok siapa? Kalo nyolok Jokowi, mending mah bangun di Solo aja,”
    kemana kedermawanan & empati beliau ini yaaaa………penuh pamrih.

    Orang miskin cenderung spontan dan tinggi empatinya, minimal tenaganya iya sumbangkan dengan sukarela (saya kebetulan orang daerah/kampung) jd saya sering melihat spontanitas mereka.

    Ber empati itu tidak mudah…….iya datang dari sebuah lubuk hati yang paling tulus.
    salam sejuk

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)