Friday, 10 August 2012
Cechgentong
Apakah sebuah kebetulan atau bukan? Dalam kondisi negara Indonesia yang sedang dirundung kemalangan dengan adanya bencana di beberapa daerah maka tanpa sengaja saya menemukan sebuah penelitian terbaru yang mungkin berkaitan dengan apa yang terjadi di Indonesia. Apalagi bulan ini tepat seluruh umat Islam di dunia termasuk di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan akan merayakan Hari Raya Idul Fitri maka sudah sepantasnya ditonjolkan simbol kesederhanaan, kasih sayang, pengorbanan dan lebih utama adalah mengasah rasa empati kita sebagai umat manusia.
Dalam sebuah studi baru yang dipublikasikan secara online pada Jurnal Psychological Science edisi 25 Oktober 2010 ditemukan bahwa orang miskin yang mempunyai rasa empati lebih baik daripada orang kaya yang tidak mempunyai rasa empati. Uang tidak akan bisa membeli kebahagiaan dan status sosial seseorang.
empathy (americajr.com)
Dalam beberapa percobaan, orang-orang dengan status sosial ekonomi tinggi (atau orang yang menganggap dirinya lebih baik) cenderung mempunyai emosi yang buruk dan mudah menghakimi orang lain baik pada saat melihat foto-foto dan berinteraksi dengan orang. Michael Kraus, seorang peneliti postdoctoral dalam bidang psikologi di University of California, San Francisco mengatakan bahwa mungkin alasannya adalah masyarakat berpenghasilan rendah atau berpendidikan rendah harus lebih responsif terhadap orang lain untuk mendapatkan sesuatu. Ternyata menjadi empati menyediakan kemampuan yang lebih baik untuk merespon ancaman sosial. Hal ini juga memberi kesempatan untuk merespon peluang sosial.
Penelitian Kraus sebelumnya telah menemukan bahwa orang kaya lebih kasar dalam melakukan percakapan dengan orang asing daripada orang miskin. Kraus juga menemukan bahwa orang miskin lebih murah hati dengan hartanya dibandingkan dengan orang kaya. Empati orang miskin yang lebih besar itulah yang bisa menjadi akar dalam berbuat amal.
Para peneliti melakukan tiga percobaan untuk menggali lebih dalam tentang kesenjangan empati antara kaya dan miskin. Pada percobaan pertama, para penelitis fokus pada aspek pendidikan dari status sosial ekonomi (socioeconomic status (SES)). Para peneliti merekrut 200 pegawai universitas, mulai dari personel pendukung kantor, pendidik sampai manajer. Kemudian para peneliti mengumpulkan data pencapaian pendidikan para relawan dan meminta mereka untuk mengidentifikasi ekspresi wajah dalam serangkaian foto.
Ini seperti salah satu tes sekolah yang belum tentu menjamin sebuah kelulusan. Beberapa relawan yang hanya menyelesaikan pendidikan SMA mencetak skor rata-rata 7 persen lebih tinggi dibandingkan dengan pendidikan perguruan tinggi. (Skor mentah dikonversi ke sebuah skala di mana rata-rata peserta dalam penelitian ini mencetak 100,89. Ketika jumlahnya dipecah berdasarkan pendidikan maka peserta yang hanya menyelesaikan pendidikan SMA mencetak skor rata-rata 106 dibandingkan dengan peserta berpendidikan tinggi yang mencetak skor rata-rata 99).
Pada percobaan kedua para peneliti merekrut 106 orang mahasiswa yang melakukan interaksi satu sama lain dalam sebuah wawancara kerja palsu. Para relawan diminta untuk menilai emosi mereka sendiri dan emosi pasangan mereka selama wawancara. Mereka yang status sosial ekonominya lebih tinggi ternyata memperoleh hasil yang buruk dalam hal keakuratan menebak emosi pasangan mereka. Kraus menyatakan kalau penelitian ini dilakukan secara umum tanpa berdasarkan jenis kelamin dan latar belakang etnis. Dan benar-benar terlihat bahwa orang kelas bawah menunjukkan akurasi empati yang lebih besar dalam studi.
Tetapi apakah orang yang secara finansial kaya mendapatkan semua yang dimilikinya sekarang karena mereka lebih berfokus pada diri? Apakah kekayaan tidak mempengaruhi empati, tetapi justru empatilah yang mempengaruhi kekayaan? Untuk mengetahuinya, para peneliti merekrut 81 orang mahasiswa yang berbeda. Kali ini, para peneliti meminta beberapa mahasiswa untuk memvisualisasikan individu yang luar biasa kaya seperti Bill Gates.
Selanjutnya, beberapa mahasiswa diberi tahu untuk menempatkan diri pada status sosial ekonomi dan membayangkan seseorang yang benar-benar kaya. Membayangkan Bill Gates berarti memicu para mahasiswa untuk menempatkan dirinya pada status lebih rendah daripada seharusnya mereka miliki. Sementara itu mahasiswa lain yang diminta untuk membayangkan seseorang yang benar-benar miskin maka mereka menempatkan dirinya relatif lebih tinggi dalam statusnya.
Akhirnya, 81 orang mahasiswa melihat 36 foto close-up mata dan menilai emosi yang terdapat pada foto-foto tersebut. Ternyata foto-foto tersebut berhasil memanipulasi penglihatan beberapa mahasisiwa yang merasa sebagai kelas bawah dengan skor 6 persen lebih baik daripada mereka mempersepsikan dirinya sebagai kaya.
Vladas Griskevicius, seorang psikolog University of Minnesota yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan hasol penelitian ini sangatlah menarik untuk disimak. Kebanyakan peneliti akan berharap bahwa orang-orang dari latar belakang SES tinggi akan lebih baik membaca orang lain. Tetapi penelitian ini justru menemukan bahwa orang-orang dari latar belakang SES yang lebih rendah memiliki keselarasan dengan apa yang orang lain pikir dan rasakan.
Pada saat ini Kraus dan rekan-rekannya tertarik untuk menemukan cara mempengaruhi tingkat empati rakyat. Kraus mengatakan bahwa menjadi empati merupakan salah satu langkah pertama untuk membantu orang lain. Hal pertama yang benar-benar menarik perhatian adalah apakah kita bisa membuat orang menjadi kaya. Orang kaya dengan kemampuan besar untuk memberi dan memiliki rasa empati.
August 13th, 2012 at 14:09
Evi Irons, terima kasih dan terasa mereka tanpa pamrih ya
August 13th, 2012 at 10:01
Setuju dengan artikelnya, saya sendiri merasakannya. Dengan orang miskin punya rasa kebersamaan yang tinggi.
August 12th, 2012 at 18:05
Matahari, hahaha bisa aja…
August 12th, 2012 at 14:10
Kalau di ajang Olimpiade ada cabang “show off “harta benda…mungkin bangsa kita sudah menyabet semua medali emas..perak dan perunggu…
August 11th, 2012 at 11:48
Betul Kang : Hidup senantiasa dalam proses pembelajaran terus & menerus………setiap hari selalu ada yang baru dan asing, setiap hari selalu ada perubahan sebagai keabadian dari perubahan itu sendiri, kebodohan, lalai dan alpa selalu saja ter ulang…..hanya NIAT yang senantiasa bisa kita ichtiarkan agar dalam hidup bisa berbuat baik & ber empati terus, salam sejuk
August 11th, 2012 at 04:56
EA, kalo yang colok menyolok itu mah harus dicolok matanya tuh pejabat hahaha
itulah mengapa kita belajar berempati terus menerus
August 11th, 2012 at 04:53
Kang JC, maka itu orang kaya harus banyak2 bersyukur
August 10th, 2012 at 23:17
Mbak DA : iyaaa saya ikutan , pakai terlur busuk yang khas Philipina aja ” Balot ” lebih keras nimpuknya ehehehe
August 10th, 2012 at 21:23
Pak EA , para pejabat seperti itu isi kepalanya payah banget…..payahhh…sayangnya, tak ada hukum sosial yang berlaku dari masyarakat, pengen nimpukin telur busuk ke mukanya rame rame he he he he he…kalau sendiri ngga berani….
August 10th, 2012 at 18:08
Kang Cechgentong: secara awam saya melihat semakin kaya orang kaya cenderung pelit, kalaupun baik kebaikannya ingin di publish dan selalu ada sesuatu pamrihnya…….
(saya baca intimidasi calon Gubernur DKI, kalau tidak milih dia lokasi kebaran Karet Tengsin)
Sekarang lo nyolok siapa? Kalo nyolok Jokowi, mending mah bangun di Solo aja,”
kemana kedermawanan & empati beliau ini yaaaa………penuh pamrih.
Orang miskin cenderung spontan dan tinggi empatinya, minimal tenaganya iya sumbangkan dengan sukarela (saya kebetulan orang daerah/kampung) jd saya sering melihat spontanitas mereka.
Ber empati itu tidak mudah…….iya datang dari sebuah lubuk hati yang paling tulus.
salam sejuk