Dwi Klik Santosa
Sebuah cerita dari ranah yang tak terduga. Kusimak dari mendengarkan langsung cerita almarhum Rendra dan Ken Zuraida isterinya, dulu sewaktu aktif berkunjung di rentang 1997 – 1999 di rumahnya di Jalan Cipayung Jaya, Depok.
Rendra adalah penyair yang tak pernah bersyair ke dalam bahasa lain, kecuali Bahasa Indonesia. Nyaris satu-satunya barangkali, penyair yang bersyair di panggung dunia dengan bahasa ibu.
Nah, sebuah peristiwa saat beliau diminta membaca syair di New York. Saat itu beliau membacakan syair “Khotbah” .. dan kemudian mampu membuat banyak orang terpana, meskipun mereka tidak mengerti dan asing dengan Bahasa Indonesia. Termasuk Whitney Houston pada waktu itu, ketika turun dari panggung, saking kagumnya penyanyi tenar negerinya Paman Sam itu mendatangi, tidak saja menyalami Rendra. Tapi mencium tangan. Sebagaimana menjadi adat kebanyakan bangsa kita yang santun.
Lalu besoknya muncul berita besar di Koran New York Times tentang seorang penyair hebat dari Asia. Dan kemudian Rendra diminta oleh publik sana untuk mementaskan lagi … lagi-lagi dengan puisi-puisi beliau dalam Bahasa Indonesia. Dan, begitulah, akhirnya banyak penonton di acara sastra dunia itu untuk mencari penerjemah … dan begitulah, tahun-tahun berikutnya … banyak dari teman-teman sastrawan dari belahan dunia itu yang setiap kali melawat ke Indonesia .. mereka sempatkan bertandang ke rumah Rendra, di Depok. Untuk silaturahmi dan belajar Bahasa Indonesia.
August 13th, 2012 at 17:30
Bahasa bisa menjadi universal ketika bergabung dengan seni. Jadi ingat pernah tampil dengan teman2x Indonesia menyanyikan lagu tentang Ibu dalam Bahasa Indonesia Timur (salah satu lagu daerah dari Ambon), yg dimengerti orang-orang mungkin cuman kata “mama”; tetapi sampai ada yg nangis. ketika selesai, salah seorang yg hadir berkata kalo dia bisa memahami kerinduan kami ….
August 12th, 2012 at 18:13
Setelah kita kehilangan Rendra……..sosoknya dalam Dunia Sastra Modern sepertinya masih belum tergantikan. sejak masa ORBA si Burung Merak sudah menembus Manca Negara,bahkan puisi nya menjadi bahan disertasi pakar sastra dari Jerman Profesor Rainer Carle , karyanya diterjemahkan dalam 5 bahasa asing : Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India plus berbagai festival di negara asing lainnya……Rendra , salah satu ciptaan TUHAN yang terlahir sebagai “BINGKISAN Ter INDAH” maha luar biasa kepada sastra Indonesia khususnya & dunia pada umumnya. salam sejuk
August 12th, 2012 at 01:44
Benar-benar Burung Merak, yang mengembangkan indah sayapnya untuk dikagumi keindahan dan misteri dibaliknya. Rendra!
August 11th, 2012 at 18:23
Bahasanya sederhana, pesannya gamblang.
August 11th, 2012 at 12:03
“Si Burung Meraklah yang kemudian memberi tafsir baru terhadap apa yang disebut nrimo, pasrah, gotong-royong dan sebagainya yang sudah diselewengkan menjadi tempat menyembunyikan kemalasan alias didaur-ulang. Dengan memberikan tafsir baru, ia membuat seluruh kebijakan, ilmu hidup yang diturunkan oleh tradisi Jawa menjadi dinamis, alias tidak melempem. Ia membuat tradisi Jawa tidak lagi kolot, melempem, tetapi bernas, aktual dan menyelamatkan para pewarisnya dari benturan-benturan zaman.”
Dalam bahasa ibu iya melakukan revolusi…….“Kebudayaan Jawa adalah kebudayan kasur tua!” salam sejuk
( petikan dari Putu Wijaya wordpress )
August 11th, 2012 at 10:59
Salut kita kepada Pujangga ini…….kelak iya pantas menjadi Pahlawan Nasional, belum tertandingi pada zamannya, kalaupun ada dengan kaliber yang berbeda. salam sejuk