Ririn

Fidelis R. Situmorang

 

Namanya Ririn. Kulitnya putih bersih, rambutnya yang hitam kemilau jatuh indah dibahunya. Mengenakan kacamata, cantik sekali. Waktu itu dia adalah warga baru di lingkungan tempat tinggal kami. Pertama kali melihatnya, saya langsung menyukainya.

Dia bersekolah di SMA 14 Cililitan, saya di SMA 42 Halim. Itu artinya jika berangkat ke sekolah, ia berjalan menuju ke arah barat, saya  ke arah sebaliknya, ke timur. Tapi karena saya ingin bisa dekat dengannya, saya kemudian berjalan menuju ke arah barat mengikutinya.

Pagi hari, saya mandi lebih serius, menyisir rambut lebih serius dan tentunya tidak lupa memakai bedak MBK. Juga dengan serius. Kemudian, pada waktu jam berangkat sekolah, saya menunggunya di jalan depan rumah. Begitu ia terlihat, saya segera mengejarnya dan berjalan di sampingnya. Dia kaget melihat saya. Saya juga jadi kaget melihat wajahnya yang kaget melihat wajah saya.

Dia kemudian mempercepat langkahnya. Saya juga ikut ‘over gigi’, menyamakan kecepatanya berjalan. Lalu saya menyapanya dan bersikap sok kenal sok dekat. Dia diam. Lantas saya berbicara sendiri tidak karuan menahan debar jantung saya karena salah tingkah. Saya bicara terus, yang penting terlihat orang, kami sudah seperti teman yang sudah akrab.

Setelah sekitar 15 menit perjalanan, sesampai di jembatan Mayasari, ia kemudian menyeberang jalan, karena letak sekolahnya memang di seberang jalan.

“Sampai besok ya…” Kata saya kepadanya. Dia tak menjawab. Saya meneruskan berjalan kaki menuju terminal Cililitan dan kemudian menumpang Trans Halim menuju sekolah. Hari itu saya terlambat masuk ke sekolah.

Keesokan harinya, diiringi kicauan suara burung nan merdu, saya kembali menunggunya di jalan depan rumah. Dia tidak lagi kaget melihat wajah saya seperti kemarin. Tapi wajahnya nampak sebal, tetap diam dan tetap cantik. Saya masih tetap sok akrab menyapanya dan mengajaknya berbincang-bincang kecil. Dia masih tetap diam.

Di Jembatan Mayasari, kami kembali berpisah. Dia menyeberang jalan dan saya berjalan lurus menuju terminal Cililitan.

“Sampai besok ya…” Kata saya. Dia tak menjawab. Hari itu saya terlambat lagi sampai di sekolah.

Keesokan harinya lagi, seperti biasa, saya kembali menantikannya di jalan depan rumah. Agak lama juga sosok cantiknya tak muncul. Setelah 10 menit lagi menunggu, ia akhirnya terlihat juga. Tapi tidak sendiri, ia dibonceng naik motor oleh Ayahnya. Gaswat! Berseragam loreng pula! Saya sembunyi di balik pohon. Burung-burung yang tadinya asyik berkicau berhamburan mencari pohon lain. Saya lihat dia sempat menengok ke arah tempat saya biasa menantikannya. Ah, Ririn, cantik sekali caramu memandang.

Hari itu saya tidak berjalan ke arah barat tapi ke timur dan tidak terlambat tiba di sekolah. Tapi hari itu otak saya agak lambat menangkap pelajaran.

Malam harinya saya menulis satu surat cinta untuknya. Di atas kertas warna biru muda bergambar hati dan tentu saja wangi! Beberapa kertas yang manis jadi korban dan masuk ke keranjang sampah, sampai akhirnya saya merasa bahwa isi surat saya benar-banar mantap. Tak lupa saya selipkan sebagian syair lagu Iwan Fals yang sering membuat saya teringat dirinya.

Buat apa kau diam saja
Bicaralah agar aku semakin tahu
Warna dirimu duhai permata

Kau mimpiku aku tak bohong
Seperti yang kau kira seperti yang selalu kau duga
Pintaku kau percayalah
Usah ragu

Lalu saya cium surat itu sebelum masuk ke dalam amplop. Kemudian saya titipkan surat cinta untuknya itu kepada kerabatnya yang kebetulan adalah tetangga kami.

Hari demi hari surat cinta saya tak mendapatkan jawaban. Minggu demi minggu hati saya gelisah menantikan jawaban darinya. Sebulan dua bulan saya tetap setia menantikan jawabannya. Akhirnya sampai si cantik Ririn sudah pindah rumah lagi karena harus mengikuti Ayahnya yang bekerja sebagai abdi negara.

Sekarang sudah lebih dari 10 tahun, saya tak pernah menerima jawaban dari Ririn. Saya jadi curiga, jangan-jangan surat saya tak pernah sampai ke tangan pujaan hati saya itu. Jangan-jangan kerabatnya itu juga naksir Ririn.

Rin… Rindu yang memenuhi dadaku malam ini, berhasilkah menjatuhkan satu helai saja bulu matamu?

 

33 Comments to "Ririn"

  1. donald  8 July, 2015 at 14:40

    Menacri Ririn, mudah kok…. Coba searching do Google, atau jangan2 dia punya akun fb…..
    Ketemu deh…. Hollaaaaa!

  2. Dewi Aichi  14 August, 2012 at 17:04

    Pak Handoko wakakakakaakakaa….

  3. Handoko Widagdo  14 August, 2012 at 16:45

    Bukti lain bahwa mata Lani tertutup dingklik

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.