Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Kisah dari Jember (2): Balada Kebun Tebu

Monday, 13 August 2012

Viewed 1530 times, 2 times today | 51 Comments |

Anastasia Yuliantari

 

Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Jember, beberapa kali tampak truk mengangkut batang-batang tebu. Di jawa Timur terdapat pabrik-pabrik gula yang beroperasi sejak dari ujung timur wilayah Blambangan sampai ke Madiun di ujung paling barat. Pabrik-pabrik gula ini memperoleh tebu dari para petani di wilayah sekitarnya. Sawah yang masih cukup luas arealnya di beberapa wilayah propinsi ini dalam setahun paling tidak sekali disewa untuk penanaman tebu.

Bicara tentang kebun tebu, mau tak mau mengingatkanku pada masa kecil. Saat itu sawah yang tergelar sejauh mata memandang tak jauh dari rumahku, sering disewakan sebagai areal penanaman tebu. Batang-batang tebu yang langsing namun berdaun panjang-panjang menjadikan sawah yang biasanya terang benderang diterpa cahaya mentari, menjadi tampak menakutkan, terutama menjelang senja hari.

                Pohon tebu yang tinggi akan berkeresek riuh saat angin bertiup. Batangnya mengombak-ombak seakan penari mabuk yang menggoyang-goyangkan kepalanya karena irama musik yang menggoda. Bila musim bunga, di puncak pohon tebu akan menyembul bunga putih panjang dengan batang kekuningan. Bunga-bunga itu bukan menyemarakkan pohonnya, melainkan semakin membuatnya menjulang menakutkan.

                Penjaga kebun yang biasa disebut Waker tak kalah menakutkannya. Dia biasa mengejar anak-anak yang iseng mencuri beberapa batang sambil bermain di dekat kebun. Pak Waker senantiasa membawa celurit panjang melingkar dan tajam. Dengan baju khas suku Madura berwarna hitam dan ikat kepala, siapa pun tak akan berani terus terang mengambil beberapa ruas tebu untuk sekedar mencicipi manisnya.

Demi mengenang masa kecil itu aku diajak oleh adik dan suaminya untuk berjalan-jalan ke kebun tebu yang masih belum dipanen, karena beberapa wilayah sudah mulai dibabat habis karena umur tanaman itu sdah cukup tua dan siap digiling di pabrik.

“Kita ke Semboro aja,” kata iparku sambil membawa kendaraan kami menuju perkampungan tak di bagian selatan tempat tinggalnya. Salah seorang tetangga yang kebetulan ikut menunjukkan lokasi di mana pohon tebu masih belum saatnya dipanen.

“Laine wis gak onok, Mas. Nang kene ae, wis. (Lainnya sudah dipanen, Mas. Di sini ajalah).” Ujar tetangga kami sambil meminta iparku menghentikan mobil.

Aku segera turun sambil melihat-lihat suasanan kebun tebu di pinggir jalan. Daun-daun tebu yang saling bersentuhan memberikan naungan bagi jalan kecil yang berada di antara bidang-bidang yang ditanami. Dulu, aku tak berani melangkah di jalan kecil itu. Selain takut pada binatang liar yang bisa sewaktu-waktu nongol, ular, gogor (anak kucing liar), kalajengking, sampai ayam alas dengan suaranya yang mengagetkan. Selain itu telah menjadi pengetahuan umum bahwa pencuri biasanya melarikan diri ke tengah lautan pohon tebu bila ketahuan massa saat beroperasi. Bahkan pernah kejadian terjadi tindak kejahatan pembunuhan di sebuah kebun tebu tak jauh dari rumah. Hal itu menyebabkan orangtuaku wanti-wanti agar kami tak keluyuran di tengah kebun tebu.

 

Namun kebun tebu tak seseram dulu bagiku, malah menimbulkan kerinduan untuk merasakan suasananya. Melihat rel kereta angkut yang biasa disebut lori mengular di sepanjang kebun mengingatkanku akan kisah-kisah pengangkutan tebu sebelum truk-truk dipakai. Rel lori tersebut, selain yang paten ditanam di tanah, juga terdapat rel bongkar pasang yang dapat menjangkau sampai ke tengah sawah.

 

                Setelah puas mengabadikan tanaman tebu, adikku mengajak melihat pabrik gula Semboro yang telah tua umurnya dan menjadi salah satu produsen gula terbesar di Indonesia. Pabrik buatan jaman colonial tersebut masih tegak berdiri. Termasuk juga belas lokomotif pengangkut tebu yang dipajang di pintu masuk. Saat aku berusaha memotretnya, seorang satpam telah menunggu di depan gerbang.

 “Wah, harusnya ijn dulu sebelum memotretnya, Bu.” Tegurnya.

“Lho, lokomotif ini, kan di pinggir jalan,” sanggahku. “Tanpa masuk juga saya bisa memotretnya, Pak.”

“Pokoknya kalau masuk gerbang ini harus ijin, Bu.” Tegasnya.

Kepalang basah, sebelum memasuki kendaraan kembali, aku memotret suasana pabrik walau dari jauh. Takut Pak Satpam menegurku lagi karena berani mendekati dan memotret pabrik tanpa ijin.

                “Sebenarnya kita bisa minta tolong Haji Kurdi aja untuk memasuki pabrik.” Kata tetanggaku.

“Lho, apa hubungannya?” Tanyaku.

“Pak Haji kan salah satu petani tebu yang memasok hasil kebunnya ke sini, jadi dia punya privilege untuk masuk pabrik tanpa harus ijin.” Terang tetanggaku.

Wah, ya aku tak tahu aturan yang ditetapkan di sini. Maaf saja kalau keliru dan melanggarnya.

Saat matahari semakin tinggi, adikku mengajak kami meninggalkan tempat itu menuju suatu warung tak berapa jauh dari sana. Siang itu kami menyantap bakso tenis yang sungguh mengenyangkan, sampai-sampai aku tak sanggup menghabiskan seluruh isinya. Apalagi ditambah segelas es sirup merah seperti yang biasa aku minum saat masih SD. Rasanya sungguh kembali seperti bertahun-tahun lalu.

 

Share This Post

Posted by Monday, 13 August 2012 on 08:15.

Categories: Jalan-jalan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

51 Responses to “Kisah dari Jember (2): Balada Kebun Tebu”

Pages: [6] 5 4 3 2 1 »

  1. 51
    @R!F Says:

    ijin meramaikan ya.. .
    di sela2 kesibukan bekerja
    Saya sering masuk PG Semboro & beberapa PG lain di Jawa Timur (bagi Saya ini adalah rekreasi)
    di PG Semboro masih menyisakan 2 lokomotiv uap aktif untuk wisata & 2 loko susu (loko uap tanpa api)
    selain belasan loko dieselnya.. .
    bila anda tertarik dengan serba serbi PG, apa lagi dengan armada Lorinya,
    ada banyak forum nasional bahkan international.. .
    Bule2 sejak tahun 70an tiap tahun rajin mengunjungi PG di Indonesia untuk mengabadikan peninggalan bersejarah ini,-

Pages: [6] 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)