Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Menulis

Monday, 13 August 2012

Viewed 843 times, 1 times today | 15 Comments |

Anwari Doel Arnowo

 

Apa pula yang kau tulis itu?? Yaaaa, apa saja yang terlintas di pikiranku. Pikiranku itu kadang-kadang liar, tetapi tidak berani aku katakan kepada sembarang orang lain. Aku pikir ke-tidak-beranian yang seperti begini bukan aku sendiri saja yang mengalaminya. Jadi kalau aku tidak berani mengatakannya, apakah pikiranku itu memang statusnya salah.

Belum tentu, kan??

Keberanian fisik dan keberanian berpikir tidak bisa disamakan seperti barang yang satu dengan barang yang lain !! Apalagi pikiran, idea / gagasan, pemahaman, ingatan, kognisi, wawasan, pengertian, grahita, keinsafan, kesadaran, penafsiran dan penerimaan. Itu baru sebagian kecil dari kemampuan otak, hati dan syaraf yang sudah ada di dalam tubuh kita.

Sudah ada sejak pada masa masih berbentuk janin.  Apakah setelah ada pembuahan sebagai hasil hubungan seks itu, APAKAH yang terbentuk sebagai bagian awal itu adalah tubuh kita sudah secara utuh berbentuk sempurna? TIDAK dan BELUM.

Saat ini yang baru diketaui oleh Ilmu Pengetauan manusia, yang terbentuk paling awal adalah otak. Logikaku jelas mengatakan bahwa itu masuk di dalam akal. Bukankah pada waktu manusia disebut mati hanya kalau otaknya sudah berhenti berfungsi? Bukan jantung yang berhenti berdetak, ini oleh disebabkan oleh karena detak jantung itu hanya bisa ada, kalau diperintah oleh hasil kerja otak. Entah anda setuju atau tidak setuju itu bukan urusan dan pikiranku lagi.

Aku sudah menyatakan pendapat. Anda silakan saja berpendapat dan berkomentar. Mau memaki, mau tidak percaya, mau tidak perduli dan sebagainya yang negatif pun, sekali lagi: BUKAN sama sekali urusan  dan pikiranku. Berpendapat seperti ini bukanlah mengajak anda tidak bersepakat atau bertengkar.

Nah, itulah sebabnya aku hampir tidak pernah berhenti menulis. Hasil tulisanku itu untuk apa?

Wah sering kali hanya kusimpan sendiri, tidak kuberitakan atau berikan kepada siapa-siapapun. Menurut dugaanku reaksi-reaksinya yang mungkin akan timbul bisa saja membuat diriku celaka. Masalahnya masyarakat pembaca yang perduli saja, beragam-ragam jenis pola pikir dan personifikasinya, tanpa batas. Yang menyukai tulisanku, mungkin akan bersikap biasa.

Bagaimana dengan orang yang tidak suka?

Geli juga aku berpikir: jangan-jangan membaca namaku saja sudah ogah, wegah, ignorant, dan berpendapat: kepanjangan tulisannya, ah kok banyak sekali huruf italicsnya, ah apalagi orang tua satu ini apa sih maunya, kok sulit amat sih dimengerti? Yang enak saja hidup, kata si komentator di dalam hatinya. Tidak usah lah memikirkan yang terlalu sulit-sulit seperti itu.

Wah kalau begini namanya, kita melupakan ungkapan: NO PAIN NO GAIN – tidak ada berkah tanpa usaha ! Pikiran itu bukan tidak sama dengan fisik manusia.

Kalau tubuh perlu olah raga, perlu makanan, perlu masukan, perlu istirahat dan seterusnya, pikiranpun sama saja. Malah mungkin membutuhkan perhatian yang extra  lebih buuanyakk, karena kita sendiri teramat sering telah membuat pikiran itu sebagai nomor dua atau nomor tiga setelah tubuh fisik.

Pikiran itu nyata-nyata bukan berbentuk secara fisik tetapi juga bukan bersifat maya, bukan fata morgana. Pikiran itu kalau tidak diperhatikan, maka bisa saja dianggap akan liar sekali atau malah mati suri. Pikiran yang liar itu terjadi pada orang yang hiperaktif atau orang yang termasuk luar biasa, yang istilah pada masa lalu disebut retarded. Tidak seimbang, tidak stabil dan tidak teratur, meskipun sebenarnya banyak di antaranya termasuk cerdik dan pandai. Pada yang sebaliknya maka akan menjadikan orangnya terwujud menjadi bodoh dan cueg tidak perduli kepada sekelilingnya.

Itulah perlunya bagi kita yang menyadari, sebaiknya membuat pikiran kita itu menjadi sesehat tubuh fisik.

Bagaimana mengolah pikiran seperti kita mengolah ragakan tubuh kita? CARAnya adalah mengaktifkan dan memberi kesempatan pikiran kita untuk aktif bekerja, janganlah membiarkan pikiran itu beristirahat berkepanjangan, nanti akan terjadi kelelahan karena tidak ada aktifitas.
Aku menulis itu pasti harus nomor satu pada awal-awal, selalu menyiapkan dan mengaktifkan terlebih dahulu pikiranku. Fisikku, asal bisa duduk dan diberikan pencahayaan yang cukup, aku bisa mulai menulis dengan pensil di atas kertas, bisa mengetik menggunakan Word di komputer atau berbicara di alat perekam suara.

Sudah sejak lima belas tahun yang lalu, ketika aku merasakan letih dan lesu serta lelah berlebihan, aku minta berhenti bekerja karena mengkhawatirkan tubuhku, oleh karena sudah serasa keropok, sebab terlalu sibuk mengelola beberapa perusahaan sekaligus. Berkelana ke dalam hutan dan melakukan perjalanan ke luar negeri terlalu sering, meskipun di dalamnya selalu disertai fasilitasi kelas satu di pesawat terbang atau naik helicopter, tetapi telah jelas sekali diserang secara ganas oleh yang kusebut virus kesibukan, sehingga aku merasa digerogoti dari dalam tubuh, seperti brittle metal. Nah keputusanku untuk bekerja seperti sebelumnya aku ambil dengan sikap vivere pericoloso – berbahaya, tetapi tetap dengan berani aku laksanakan, yakni: menghentikan kerja secara rutin dengan gaya seperti itu

Itu semua berarti aku haruslah membuang hampir semua kenyamanan dan kemudahan serta imbalan gaji besar setiap bulan yang saya miliki waktu itu. Saya tidak perduli. Uang toh bukan segala-galanya biarpun saya perlu sekalipun. Nomor satu adalah kesehatanku. Sewaktu para partnerku bertanya dengan heran mengapa meminta berhenti dari pekerjaan, jawabku hanya menginginkan agar supaya masih tetap dalam keadaan sehat pada sepuluh tahun ke depan. Ternyata hari ini sudah mendapat bonus sebanyak empat tahun lebih, karena masih sehat walafiat. Adalah fakta telah lebih dari satu tahun lamanya aku tidak berurusan dengan dokter dan meminum obat dari resep dokter. Salah satu sebabnya adalah karena berolah raga berjalan kaki sebanyak minimum 5000 langkah setiap hari, bila tidak hujan, dan tidak berhenti menuliskan apa-apapun yang membelit rasa gundah yang ada di dalam diri.

Merasa merdeka memiliki diriku sendiri. Merasa bebas karena telah benar-benar menjadi majikan bagi diriku sendiri. Merasa seperti ini telah membawa diri serasa setara dengan siapapun manusia di dunia ini, apakah dia ilmuwan hebat seperti Stephen Hawking atau Ulama besar yang manapun, apalagi seperti politisi Indonesia. Saya tidak merasakan diri lebih rendah, juga lebih tinggi, dibandingkan dengan diri  siapapun dia, selama masih bisa disebut sebagai manusia.

Lalu apa yang aku takuti?? Hampir sudah sirna semuanya. Hantu? Tidak!  Pajak? Mengapa harus takut? Penyakit? Hanya sedikit sekali aku takut! Hukum? Wah, iya memang Hukum adalah yang paling aku takuti pada jaman dahulu, sejak lama. Sekarang tidak lagi takut. Sudah membiasakan diri sejak lamaaaa sekali untuk tetap tidak melanggar hukum apapun. Pertama kalinya seumur hidupku melihat dari dalam sebuah ruangan pengadilan, ada jaksa-jaksa dan para pembela-pembela serta Hakim-Hakimnya, di dalam Gedung Pengadilan Jakarta tanggal 1 Agustus yang lalu, karena menjadi saksi di sebuah kasus yang menimpa orang yang kukenal, seorang warga negara Australia berkulit putih yang sudah hampir dua bulan lamanya mendekam di Lembaga Permasyarakatan Cipinang, oleh karena dituduh menipu seorang pengusaha Indonesia kenalanku.

Setau dan sepanjang aku ingat, aku tidak terlibat apapun, kecuali menjadi saksi yang sifatnya adalah  membantu Polisi dalam upayanya mengungkap kasus itu. Semoga kali itulah terakhir aku berurusan Polisi dan pengadilan. Pernah memang beberapa bulan lalu untuk satu kali sebelumnya berurusan dengan polisi ini, pada sekitar tiga bulan lalu, karena harus melaporkan kehilangan Buku Tabungan uang di sebuah Bank. Ha ha ha. Dengan mudah sekali hal ini terlaksana dengan lancar.

Anda menulislah seperti kulakukan. Menulis segala sesuatu akan mendidik diri menjadi jujur kepada diri sendiri, oleh karena menuliskan sesuatu itu membutuhkan hal yang baik dan benar dan semestinya bisa dibebani dengan tanggung jawab yang mumpuni. Bisa melakukan tantangan kepada diri sendiri agar mengarah kepada kejujuran. Kesalahan dalam menulis adalah manusiawi, baik materinya maupun salah ejanya, yang tidak kalah penting adalah diri sendiri akan selalu dipaksa berusaha jujur serta berlaku benar. Sikap hidup ini adalah obligasi menulis yang otomatik.

 

Best regards / Kirim Salam

Anwari Doel Arnowo
8 Agustus, 2012

 

Share This Post

Posted by Monday, 13 August 2012 on 08:15.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

15 Responses to “Menulis”

Pages: [2] 1 »

  1. 15
    Dewi Aichi Says:

    menulislah walaupun hanya untuk diri sendiri. Ya, untuk diri sendiri. Seperti sedang menguraikan benang kusut, menata serpihan-serpihan dari dalam diri sendiri. Bukan untuk diberitahukan kepada orang lain. Bukan untuk
    bahan pemikiran. Sekadar untuk melampiaskan, mengeluarkan, melepaskan,mengikhlaskan, memasrahkan.

  2. 14
    HennieTriana Oberst Says:

    Pak Anwari, menulis untuk saya kadang membuat perasan lebih lega, walaupun menulisnya hanya di buku harian. Sedikit-sedikit saya mulai bisa (percaya diri) menghadirkannya untuk dibaca orang banyak, walau hanya tulisan ringan. Terima kasih artikelnya.

  3. 13
    Lani Says:

    CAK DOEL : menulis dan menulis…….buatku pribadi, spt home remedy/therapy…….obat, krn bs mengeluarkan semua yg ada diotak, dipikiran (crita, dan unek2)……..bisa dikatakan sbg pendamping dr ngomong/crita secara langsung…….yg ditulis????? apa saja yg ada dan tersimpan di dlm pikiranku.

    rasanya klu ndak dikeluarkan otak ini bisa luber……atau bs juga bikin mumet krn saking kebeg-e……klu sdh dikeluarkan, kosong, diisi lagi dgn yg baru…….dan begitu seterusnya……

    klu sdh keluar dgn ditulis, rasanya mak-ploooooong…..ringan.

  4. 12
    Adhe Says:

    Thanks Pakde ADA, tulisan pakde selalu enak dan perlu dibaca.

  5. 11
    EA.Inakawa Says:

    saya sepaham dengan Linda : Menulis itu TERAPI, sel sel otak yang tidur akan terjaga kembali…….buat yang membaca juga mendapat Terapi melalui transfer informasi,tidak tau menjadi tau = Terapi . salam sejuk

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)