Hennie Triana Oberst
Tulisan ini adalah lanjutan dari jalan-jalan di Hutong, Beijing. (http://baltyra.com/2012/06/27/beijing-hutong-trip/)
Sebelum jalan-jalan ini guru kami telah menjadwal tempat-tempt yang akan kami datangi di sekitar daerah Hutong tersebut. Salah satunya adalah mentraktir kami dengan makanan kecil (snack) khas Beijing. Kata “snack” ini yang akhirnya selalu membuat kami tertawa, karena salah seorang dari teman kami yang berasal dari Amerika Serikat telah salah mendengarnya. Sehingga sepanjang perjalanan dia telah berburuk sangka dan tak akan sudi mencicipi makanan yang akan dihidangkan. Ia berfikir bahwa guru kami akan mentraktir kami dengan menu “snake“. Semua orang berfikir bahwa di Cina apapun mungkin terhidang di atas meja untuk disantap.
Foto 01 Pintu Gerbang
Gedung ini dulunya adalah Sekolah Dasar di mana guru kami belajar. Sekarang SD telah berpindah lokasi, dan bangunan tua ini dijadikan semacam pusat jajanan dengan beragam jenis makanan khas Beijing. Pengunjungnya hampir semua adalah orang yang berasal dari Cina.
Foto 02 Kacang merah dengan wadah nanas
Foto 03 Ubi rambat, labu dan kacang tanah rebus
Foto 04 Berbagai kue dan panganan kecil yang mirip dengan yang ada di Indonesia
Makanan tersebut tidak kami cicipi, karena guru kami mengatakan bahwa beliau hanya akan membelikan kami makanan yang belum pernah kami santap, jika mirip dengan yang ada di negara masing-masing atau pernah disantap sebelumnya makan tidak termasuk dalam daftar traktiran. Sebetulnya bisa saja kami membeli makanan lain dan membayar sendiri, tapi kesannya kami tidak menghargai beliau yang dengan niat tulus dan sukarela mau mengajak jalan-jalan dan mentraktir kami.
Cara belanja di kantin ini adalah dengan membeli kartu yang bernilai beberapa RMB (Renminbi) = Yuan [nilai tukar uang yang berlaku di RRC]. Jika kita membeli makanan makan jumlah uang yang ada di kartu akan berkurang. Bila nilainya habis bisa diisi ulang, dan jika berlebih bisa dikembalikan tunai. Mirip dengan bazaar dan beberapa pusat jajanan yang ada di Indonesia.
Foto 05 Lorong tempat penjualan makanan Halal
Karena sebahagian dari kami tidak mengkonsumsi daging babi maka guru kami memutuskan untuk membeli makanan yang dijual di bagian makanan halal.
Foto 06 Daging sapi goreng
Daging sapi ini termasuk yang kami sukai. Rasanya mirip dengan krupuk kulit yang ada di Indonesia, kalau di Medan namanya “krupuk jangek” (bahasa Minang).
Foto 07 Suasana Kantin
Foto 08 Berbagai jenis tepung
Foto 09 Beberapa jenis bubur dari tepung ketan
Bubur pada mangkok ketiga itu rasanya mirip dengan bubur sumsum yang dibubuhi gula jawa. Dua mangkok yang lain rasa buburnya tidak sesuai selera lidahku.
Foto 10 dan 11 Siomay sebelum dan sesudah dikukus
Kami akhirnya dibolehkan oleh Zhao Laoshi untuk menyantap siomay ini, karena beliau melihat bahwa makanan yang dipesan tidak memuaskan selera kami, alias masih lapar.
Foto 12 Stinky Tofu Soup
Aku tak berani mencicipi makanan ini walaupun hanya seujung sendok, setelah menyaksikan wajah-wajah temanku yang “berubah“ setelah menelan sup ini. Akhirnya sup yang hanya semangkuk ini habis disantap oleh guru kami.
Perjalanan mencicipi makanan khas Beijing yang berkesan sekali. Makanan tradisional ini sepertinya sekarang kurang populer di kalangan generasi muda. Mungkin perubahan selera ini terjadi di belahan bumi manapun.
Salam kuliner tradisional
August 14th, 2012 at 22:51
HENNIE : krupuk jangek ditempatmu itu terbuat dr apa?????
August 14th, 2012 at 22:49
AKI BUTO, KANG ANUUUU : ki podo ngomongke opo to yo????? esuk2 jik kemringet……..disuguhi kacang2-an kkkkkk
August 14th, 2012 at 20:09
Lho? Hennie, Kang Josh, kok mengandung arti tersirat dari tersurat gimana tho? Memang di kacang merah yang terjepit nanas ada apanya kok sampai sampai dirimu dan Kang Josh bermain tafsir? Memang betul kan, itu kacangnya nongol dikit…, menggoda sungguh..
August 14th, 2012 at 18:19
Hennie foto nomor tiga tuh aku kira kepala ayam….hehehe. Kreatif sekali menyajikan ubi dan kacang rebus, ya.
August 14th, 2012 at 17:29
Wahhh…lengkap lengkap ….mengundang selera Beijing he he
August 14th, 2012 at 15:39
mb Hennie… yg dijual disini ya yg digoreng. klo yg sup blm pernah denger ada disini.
btw apa ya khasiat stinky toufu?
August 14th, 2012 at 15:21
Wuehhh, zhou doufu dijadiin buburr, ngeri deh makannya…nyobain zhou doufunya aja udah merem melek mau muntah@___@. Seru ya jalan2 di beijingnya
August 14th, 2012 at 15:05
Lani, memang jajanan itu banyak yang mirip dengan di Indonesia. Entah sama rasanya atau tidak, aku nggak tau. Guruku memaksa banget kami harus mencicip yang belum pernah dimakan hehehe… Kagum aku dengan beliau, idenya banyak. Kalau nggak diajak mblusukan gini mana kami ngerti tempat-tempat seperti ini.
Baru ingat, krupuk krecek ya, aku juga suka. Tapi ini makanan orang Jawa, seperti agak sulit didapat di Medan.
August 14th, 2012 at 15:05
Kang Anoew, nah khan, Hennie saja paham benar dengan kalimat bersayap, multitafsir dan bermakna ganda…

August 14th, 2012 at 15:02
Nia, nanti kapan-kapan coba ya hehehe..
Di Beijing katanya ada juga yang digoreng, di pinggir jlan jug banyak yang jual. Seandainya waktu itu ada yang jual goregan seperti itu mungkin aku berani nyicipnya. Tapi sup dan tanpa ada (sepertinya) campuran apa-apa, pucat warnanya. Di otakku sudah mikir rasanya pasti nggak enak.