Wednesday, 15 August 2012
Nunuk Pulandari
Sambil mengobrol dan menonton TV di malam itu, tanpa terduga yang namanya leher dan tengkuk saya terasa sangat pegel dan tengler mengler. Saya mencoba memijat dan mengurutnya secara perlahan untuk mengurangi tingkat kepegelan dan ketenglerannya… Hmmm, meskipun agak berkurang tetapi belum pulih seperti sedia kala. Konco ngajeng yang ada di sebelah hanya bertanya (terjemahannya): “Ada apa dengan leher dan tengkukmu, saay”. Saya menceriterakan bahwa di hari Rabu siang yang lalu, saya terlalu lama berdiri dan bercakap dengan kangmas Dul…..
Kalau percakapan itu dilakukan di antara dua orang yang sepadan tingginya saya kira tidak ada masalah. Sayangnya tanpa sadar saya terlalu lama berdiri dan berbincang (sambil “ndhangak”) dengan kangmas Dul, yang tingginya hampir mencapai 2 meter. Ya, kami telah saling jumpa sambil makan Pannenkoeken, beberapa minggu yang lalu. Di suatu hari Rabu, 04 July yang lalu di restaurant “Pannenkoeken Paviljoen di Cruquius”.
Duuuhh, leganya hati ini setelah kita berdua bisa sepakat tentang hari pertemuannya. Teman-teman tentunya bisa membayangkan betapa sukarnya kami berdua mencari hari dan tanggal yang cocok di antara kesibukan kami berdua yang saling berbeda. Hal ini misalnya bisa terbaca dalam salah dua e-mail kami yang tertera di bawah ini:
Beste Nuk,
27 juni kan ik helaas niet, een week later wel 4 july. De vraag is: wat is de beste plek?
Haarlem moet je betalen voor parkeren, en is beslist niet goedkoop, een kopje capuccino per uur kost dat. Heb jij enig idee? Wij kunnen ook de auto gratis parkeren in Vijfhuizen en stappen op Zuidtangen bus naar Haarlem centrum.
La Place boven A4 ( vrij ruim en groot, vrij parkeren) – La Place Cruquius Plaza (vrij parkeren) – Hema Hoofddorp (de auto parkeren ergens in de buurt die gratis is).
Nah kamu yang ganti beri idea. You know one?
We maken een gezellige dag van.
Laat mij weten, engeltje.
======================
Kangmas dear, achhh panjenengan itu lhooo..
Ya ayooo kalau mau berbincang ria.. Mau di Haarlem? Monggo. Hari rabu, de 27ste ben ik vrij, dan heb ik wel tijd om te babbelen…De volgende vraag is, waar gaan wij ongestoord kunnen lachen en babbelen…Ha, ha, haaa… Achhh, bij La Place in het centrum vind ik ook goed. Het is makkelijk om te vinden.. Maar ik heb wel een vraagje of er in de buurt ook makkelijk is om te parkeren ? Of, ada ide lainnya?
Aq tunggu ya balasannya. Welterusten en doe doei, nu2k
Siapa kangmas Dul tentunya teman-teman di Baltyra sudah cukup lama mengenalnya, walaupun hanya melalui dunia maya. Sesungguhnya siapa sih yang tidak mengenal kangmas Dul melalui wajah “keriput” kakek tuek atau wajah-wajah “bunglon” pilihannya sebagai ikonnya. Kita semua tentunya mengenal kangmas Dul melalui tulisan cerita dan berbagai foto tentang perjalanan backpaknya, atau ke Vaticaan atau safari dengan kapal pesiar yang super besar… Naaah, dengan kangmas Dul beberapa minggu yang lalu saya bertemu dan makan Pannenkoek bersama di salah satu restaurant Pannenkoeken Paviljoen di sekitar Haarlem.
Beberapa menit sebelum waktu dan jam yang telah disepakati bersama, dengan memperlambat laju mobil, saya memasuki halaman restaurant.. Tentu sambil mata ini sedikit melirik ke arah teras di kiri jalur masuk. Tentu untuk memperhatikan para pengunjung yang duduk-duduk di depan restaurant. …Naaaah, hampir di tengah, di dekat pintu masuk, mata saya tertuju pada seorang pria dengan kaos berwarna ungu melambaikan tangan ke arah mobil saya. Lalu saya menduga: “ Itu pasti kangmas Dul”. Tetapi meskipun demikian sambil mencari tempat parkir keraguan sempat timbul dalam hati saya: “Duuuhhh, kalau dia bukan kangmas Dul”. Tapi keraguan itu segera saya hapus sendiri…
Foto 1. Kangmas Dul berdiri sambil sedikit berpose di samping Paviljoen
Setelah mengitari tempat parkir yang ternyata sudah penuh, akhirnya saya mendapat tempat di atas lapang rumput di depan samping kanan restaurant. Dengan “arahan” tangan kangmas Dul yang digoyangkan ke arah kanan, saya memarkir mobilnya agak ke tengah lapang rumput itu..Héh, héh…
Berjalan menuju ke meja kangmas Dul, sempat terpikirkan:”Oooo, ini toch yang namanya kangmas Dul, yang sering berganti wajah dan penampilan”. Ha, ha, haa.. Dan ketika kangmas Dul berdiri di depan saya, tampaklah betapa dan betapa besar dan tingginya perwujudan sang kangmas kita yang satu ini. Bukan “semampai” (semeter tidak sampai) tetapi ternyata memang “duampai “ (dua meter tidak sampai)….Lihat foto 1, dan bandingkan dengan ketinggian pagar di belakangnya. Wouuuw, jeng Lani pasti akan seperti saya, tengler tengkuknya dan pegel lehernya karena harus ndhangak terus untuk bisa berdiri berhadapan dengan kangmas Dul dan sambil bercakap ramai. Atau mungkin kangmas Dul juga pegel tengkuk dan punggungnya karena harus dalam posisi membungkuk untuk bisa berbicara dengan kita-kita yang tingginya hanya “semampai” saja…Akan lain halnya seandainya di restaurant itu disediakan persewaan “egrang” yang bisa dipakai untuk mengantisipasinya..
Setelah saling bersapa seadanya dan sedikit mengobrol , kami memutuskan untuk duduk di teras belakang.Tanpa sadar ketika bantalan kursi sudah terasakan keempukannya terucap dari mulut saya:”Héh, héh…” Duuuhhhh, terus terang terasa betapa leganya hati ini ketika kami sudah duduk berhadapan. Kangmas Dul menanyakan:” lho kok héh, héh, nggak jauh kan?”… ”Leher ini lho kangmas yang menjadi korbannya, Pegel ndhangak terus”: Begitu saya menambahkannya. Dan kangmas Dul hanya tertawa, ha, ha, haaaa.
Dengan latar belakang bunga Tulip dalam dua warna dan pemandangan yang menghijau di depan teras, rasanya berapa jampun kita akan betah duduk-duduk disana. Apalagi dengan ditemani cemilan, minuman dan obrolan yang menderu seru…
Foto 2. Kangmas Dul sedang menunggu daftar menu
Sambil menunggu pesanan minuman, kami mengobrol ngalor ngidul tentang berbagai pekerjaan, hobby dan makanan kesenangan kami berdua. Juga kami banyak ngrasani teman-teman di Baltyra. Jadi kalau ada teman yang pada tanggal 04 Juli lalu, telinganya merasa panas dan terlihat di dalam cermin agak merah, itu karena sedang kami rasani. Dan yang terlihat merah dan terasa panas pasti hanya telinga kanannya saja. Ini terjadi karena kami ngrasaninya hanya yang positief-positiefnya saja… Iya khan kangmas Dul.
Foto 3. Punggung kuda dan penunggangnya yang berwarna keputihan di antara kehijauan alam di sekitarnya tampak sangat menyolok
Sambil mengobrol dan minum kadang kami harus mengalihkan perhatian ke arah bunyi derap kuda yang berlari perlahan di jalan setapak yang melintas di depan teras belakang… Duuuuhhh asyiiiknya bisa menikmati derapnya langkah kuda yang teratur. Irama derap langkah kuda terdengar begitu merdu di antara keheningan alam yang ada.
Foto 4. Kangmas Dul sedang menunjukkan gelasnya yang telah kosong hanya dalam hitungan menit.
Di siang itu, sang mentari memang sangat bersahabat dengan kami berdua. Dalam jangkauan sinarnya yang terasa cukup menggigit di kulit kami, tanpa terasa kami telah menghabiskan beberapa gelas minuman dingin. Haus, haus dan haus….
Foto 5. Kangmas Dul dengan dua sendok terakhir dari Pannenkoeknya
Teman-teman di Baltyra, sayang sekali karena begitu asyiknya kami mengobrol dan bertukar pikiran akhirnya terlupakanlah untuk membuatkan jepretan pesanan Pannenkoek campur Ananas dan Rozijnen pilihan kangmas Dul. Jadi yang masih sempat saya jepret hanya sedikit Pannenkoek yang masih belum dihabiskan oleh kangmas Dul. Mungkin teman-teman masih bisa melihat irisan kekuningan di antara deeg di piring kangmas Dul. Itu ananas yang masih tersisakan…Siang itu saya sendiri hanya memesan Pannenkoek dengan ijscream rasa Hazelnoot dengan disertai butiran biji Hazelnootnya…Awalnya saya ingin Ijscream Malaga, tetapi ternyata variasi jenis dan rasa ijscream yang ada tidak terlalu banyak..Tapi, rasanya yaaaaa… Lumayanlah. Hmmmm, teman-teman boleh ikut mencicipinya kalau nanti sempat bertemu di Belanda dengan kangmas Dul.
Foto 6. Kangmas Dul, sedang mencoba menghubungi sang kekasih hatinya
Kalau dengan saya teman-teman akan saya ajak ke Pannenkoekenhuis di Leiden saja. Terus terang dan sejujurnya, kalau rasa dan sajian Pannenkoek ini kita bandingkan dengan pesanan yang sama di Pannenkoek restaurant di Leiden.. Waaahhhh, jelaslah yang dari Leiden jauh lebih enak, gurih dan tidak tebal sajiannya…Lain kali mungkin kita bisa bertemu dan mengobrol di Leiden ya kangmas.. Ditanggung lebih semuanya…Bisa ditanyakan betapa enak dan nikmatnya rasa Pannenkoeken di Leiden pada jeng Wiwiek, atau pada jeng Lani (yang sebentar lagi akan mengunjungi saya kembali).
Setelah makan Pennenkoek, sambil menunggu pesanan teh dan cappuccino kami sempat minta petugas di sana untuk membidikan camera pada kami berdua. Hasilnya ?? Ya seperti dalam foto di no.6 atas…. Kebetulan sekali kami memakai kaos yang warnanya “cukup” serasi dengan latar belakang wall papernya…
Foto 7. Kangmas Dul berdiri di sebelah mobilnya
Tampak dalam foto nomor 7, kangmas Dul berdiri (sesungguhnya agak jinjit) di sebelah kendaraan barunya. Dari baunya ketika pintu dibuka, tahulah saya bahwa kendaraan roda empat milik kangmas Dul masih betul-betul gres eres-eres. Menurut kangmas Dul, kendaraan ini menjadi pilihan selain alasan kemudahan dan kenikmatan (mengingat ukuran fisiknya yang “duampai” tak sampai) juga demi rasa cintanya pada sang mantan pacar.. Duuuuhhh, betapa bangganya sang Konco Wingking seandainya mendengar ungkapan kangmas Dul..
Untuk beberapa saat kami masih meneruskan obrolan di samping mobil.. Daaan, tanpa disadari sang leher tercinta lagi-lagi harus menjulur agak ke atas untuk menyangga kepala agar dapat berbicara sambil melihat ke wajah kangmas Dul..
Daaaan ketika akhirnya kami saling berkus, kus, kus ria sebelum berpisah, terlihat jarum pendek di jam saya, di sore itu sudah mendekati ke angka 5. Memang seperti arti yang terkandung dalam pepatah “ Gezelligheid kent geen tijd” yang artinya “kemesraan memang tidak mengenal batas waktu” dan itu terjadi pada kami berdua. Saat itu sangatlah tidak terasa bahwa waktu begitu cepatnya berlalu meninggalkan kita. Keasyikan mengobrol dan berbincang ria tentang berbagai macam pokok pembicaraan, membuat kami berdua tenggelam dalam suasana yang nyaman dan hampir lupa waktu…… Yang jelas kami berdua tahu bahwa pertemuan itu bukan untuk yang terakhir kalinya. Semoga setelah musim panas dengan segala kesibukan urusan pertamuan yang datang / pergi selesai dan liburan vakantie kangmas Dul sudah terlewatkan, kita akan bisa segera mencocokkan dan mencoblos satu hari yang sama untuk saling bertemu lagi dan berbagi cerita bersama…Tentunya sambil ber ha ha hi hi….
Tot weer ziens en doe doei, Nu2k
**Jeng Lani, walaupun masih lama tetapi mulai sekarang sebaiknya sudah harus siap-siap dengan latihan melenturkan dan menggerakkan leher / tengkuk ke atas dan ke bawah agar ketika bertemu kangmas Dul tidak merasakan kepegelan dan ke menglengan setelah berbicang ria sambil berdiri berhadapan.**
Pages: [10] 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »
Pages: [10] 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »
August 27th, 2012 at 14:16
MBAK NUK : itu dpt pesanan kaastengels dr mpek Bruce…….jgn lupa dia maunya 12 toples hahaha…….aku ndak boleh dibagi katanya nanti endut bubarrrrrrr……….jian mpek serakah tenanan ya udah biar dia yg endut ya mbak…….udah ditanyakan ke Lei mbak? apakah nyasar kesana? aku udah pulang dr O’ahu mbak…….
August 27th, 2012 at 06:06
Mpek…Lani……..justru saya kecil….lincah dan bisa mbrobos ha ha ha
August 27th, 2012 at 05:42
Nuk, mana kaas stengels nya, kok nggak datang 2 ?
Kaki2 ku sudah mulai kejang karena dua minggu lama nggak jalan, jadi Saptu nanti aku mau berangkat ke Lourdes seminggu, jadi kamu ada waktu bikin lagi. Lani nggak usah dikasi, nanti dia bisa gendut , bubar.
August 21st, 2012 at 04:50
Jeng Lani, lusa saya ke Lei. Akan saya tanyakan. Nanti rak dia ngakak-ngakak. Waaahhh, itulah kalau menjawab e-mail tunggu sampai tengah malam.. Ini juga sudah hampir tengah malam. Padahal sesuk isuk mruput mau jemput tamu.. Wissss, leh é toto-toto nggak rampung-rampung…
Sekarang mau koleps dulu ya… Tot morgen en dag, dag.. Sudah wungu toch jeng.. Atau sedang siap-siap..Take care en werkt ze, Nu2k
August 20th, 2012 at 23:46
90 MPEK BRUCE : bukannya jalan 2 jam…….ndagelnya disepanjang jalan jd ndak capai lo………bukan krn mandeg krn dengkul mo copot………klu sama Dewi kita hrs jalan pelan2 soale dia cilik menthik……..
August 20th, 2012 at 23:45
89 MBAK NUK : yo mbak hahaha…….jgn2 mbak mencet ke Lei kkkkk…….tp kira2 apakah Lei bs membalas dgn bahasa Indo?
August 20th, 2012 at 23:43
MPEK BRUCE : walah dalah………jd aku dan Dewi dpt undangan krn dijadikan tukang ndagel……..jiaaaaaaan………hahaha
mpek, sengaja ganti avatar nek ora mengko bosen……..contohnya mpek dewe jg gonta-ganti ada yg plontossssss……ada yg mejeng didepan pesawat tempur……….ayoooooo mo ganti apalagi?????
August 20th, 2012 at 11:43
Hi, hi, hiiii… Saya salah tempat memasukkan commentnya. Saya jawab tapi di “Kaasstengels”.. Yak opo rék.. Wah, wah, kalau sudah lansia ini ya seperti saya ya . Antara lain. Kangmas Dul sih, kekecualian…Dag, dag, Nu2k
August 20th, 2012 at 02:56
nu2k Says: August 16th, 2012 at 15:26
Kangmas Dul, waaahhh.. Numpak sikil… Piro toch kangmas kecepatan wong mlaku… Paling banter 5 – 6 km per jam.. Curang…
Curang ? kalo jalan jangan diseret, kan nggak nyampe2, kecuali dengkul wa – ak. Ayo anak2 muda harus banyak jalan, jangan sering2 makan kentuki ciken dan emak Donalt, nggak sehat.
Mbak Nuk kalo jadi adakan reuni di londo, Jangan lupa Lani di kasih tahu. si Dewi juga mo ikoot. Mereka kan dalang2 yang ramekan, kita nonton wae.
Lho Lani kok berubah wajahnya, Kepalanya kok jadi oranye, dan tangannya naik keatas, kena apa sih? Apa salah makan atao salah semir rambut, kok sampe warnanya seperti rambut jagung ? wakakakakakakak