Si Lebat Axilla

Anoew

 

Kemarin sewaktu ada kunjungan client ke lapangan di tengah hari yang lembab karena paginya habis diguyur hujan, ada pemandangan lain yang menyegarkan sekaligus mengharukan. Betapa tidak, crew drilling yang berpeluh dan selalu begelimang lumpur mendapat kejutan berupa penampakan mahluk halus nan cantik mulus tapi berbulu ketiak panjang..! Mahluk halus itu datang berombongan tapi, lantas memisahkan diri dengan satu gadis staf dari perusahaan yang menemaninya berkeliling.

Satu kaum hawa dari perusahaan kami yang menyertainya berpakaian coverall, seragam lapangan. Namun si bule ini berpakaian ‘apa adanya.’ Apa adanya dalam artian sebenarnya yaitu rok span pendek yang memperlihatkan sedikit paha dan betisnya yang meskipun terkena percikan lumpur, tetaplah segar dipandang mata. Kaki indah itu terbungkus sepatu safety sampai ke mata kaki, dan di kepalnya bertengger helm merah menutupi sedikit rambutnya yang pirang. Penampilannya saat itu memang sungguh menyejukkan bagi kami-kami yang terbiasa bergelut lumpur bermandikan keringat dan hanya, melulu bertemu dengan pepohonan.

Ssssstttt, siapa tuh? Siapa tuh?” Ujar Bejo, melirik-lirik heboh sambil menyenggol-nyenggol pinggang rekan di sebelah dengan sikunya.

Payah kamu ah.., itu kan team HSE dari client yang lagi Management Tour buat nge-check kerjaan kita di lapangan.” Jawab si Untung.

Beniiiiing, mulus dan cakep. Bule, lagi!” Bejo menelan ludah dan matanya terus melirik ke arah mahluk halus itu, yang menuju ke crew Alfa di baris depan. “Wuaaah liat tuh pahanya! Pahanya putiiiiiiih!” Sambungnya sambil tak sadar mengelus paha si Untung.

Walah! Putih sih putih, tapi awas tanganmu itu!” tukas Untung sebal sambil menepiskan tangan si Bejo yang berkeriap di pahanya.

Lalu si cantik-bening itu mendekat ke tempat Bejo dan Untung sambil membetulkan helmnya lantas menyapa, how is it goin’ guys? Is everthing allright?

Cengar-cengir, si Bejo hanya mengangguk-angguk takjim. Kedua tangannya saling menutup. Lain halnya dengan Untung yang bersemangat menjawab sambil menegakkan diri, sampai-sampai helm yang dipakainya terjatuh. “Ouugh yesss, ouugh noo..! Ouugh.. Eeeeh ssalah. Yes! yes! yesss! Tangan kanannya di kening, memberi hormat.

Si Cantik tersenyum.

Ternyata, dia tersenyum sewaktu melihat Bejo yang salah tingkah dengan berpura-pura merapikan peralatannya tetapi, matanya melirik kemana-mana.

Oke, santai saja mas. Saya juga bisa bahasa Indonesia kok..” Dia tersenyum manis lalu bertanya mengenai kelengkapan peralatan yang digunakan dalam pemboran, seberapa safety pekerjaan dilakukan, dan berpesan supaya selalu mengutamakan keselamatan meskipun sedang dikejar taget. “Safety first, mas. Jangan lupa itu.” Katanya serius yang diamini oleh Bejo dan Untung dengan anggukan kepala beberapa kali. Lalu setelah mengucapkan ‘selamat bekerja dan bekerja selamat’ kepada crew, ia lantas berlalu dari hadapan mereka sambil kembali membetulkan helmnya. Entah disadari atau tidak, gerakannya itu membuat bulu ketiaknya yang rimbun subur terkuak. Berkibar melambai-lambai terkena angin seperti judul Lagu Wajib ciptaan Ibu Sud. Hanya, pada kata ‘benderaku’ diganti dengan ‘bulu ketekku’ dan menjadi ‘Berkibarlah bulu ketekku… Hitam Lebat, indah menggoda…’

Wah!” Celetuk si Bejo.

Alamak!” Cetus si Untung.

Wuiiiih! Seru si Slamet.

Waduuuuh!” Sahut si Joko Mandor sambil menggaruk kepala tak habis pikir karena, mengapa ada mahluk secantik itu bisa berbulu ketiak nan lebat dan subur.

*****

Kadang saya juga penasaran mengapa dan apa untungnya kaum hawa ada yang memelihara bulu ketiak dan dibiarkan merimbun? Apakah tidak risih dan menimbulkan bau ketiak? Atau justru bulu ketiak yang tumbuh subur itu dipelihara karena pasangan mereka yang menghendaki? Apakah bulu ketiak termasuk sex appeal yang disukai kaum adam? Dan apakah membiarkan bulu ketiak panjang dan grondrong itu merupakan suatu trend, sama seperti di tahun 80-an? Ingat artis jaman dulu, Eva Arnaz yang sempet dijuluki Bom Sex Indonesia (bom yang ini asyik, beda dengan bomnya teroris) di film Sakura Dalam Pelukan dan Lembah Duka yang sempat menggegerkan itu? Eva Arnaz, dalam penampilannya memamerkan bulu ketiaknya yang rimbun dan entahlah, bisa membuat tergoda atau malah menimbulkan rasa aneh bagi dunia ‘kaum berburung’ (ini istilah LEA dulu di rumah sebelah).

Jujur, kalau saya sih melihatnya tak lebih dari sekedar hiburan meskipun, lebih suka mereka yang berketiak bersih mulus karena ‘sedap dipandang dan perlu.’ Bahkan kalau ada yang memakai kaos you can see atau baju berlengan super pendek, kadang tak sadar mata ini suka curi-curi pandang ke bawah lengannya untuk sekedar ‘memeriksa’ kadar kemulusannya.

Konon, menurut sumber yang kurang bisa dipercaya, gadis-gadis yang mencukur bulketnya malah dianggap sebagai gadis-gadis yang nggak bener.  Sebaliknya, gadis yang membiarkan bulu ketiaknya tumbuh apa adanya dan kalau bisa lebat, adalah gadis baik-baik. Sebuah ulasan yang aneh dan kurang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya baik dari segi ilmiah maupun segi-segi yang lain.

Tapi coba simak yang ini.

Ternyata mencukur bulu ketiak itu meningkatkan resiko terkena kanker payudara bagi wanita, sedangkan  pria terbukti jauh lebih aman terhadap bahaya ini karena, kebanyakan pria tidak mencukur bulu ketiaknya. Mencukur bulu ketiak (axilla) apalagi mencabutinya sampai bersih meningkatkan resiko akan terkena serangan kanker payudara.  

 http://doktersehat.com/mencukur-bulu-ketiak-menaikkan-resiko-kanker-payudara/

 

Wah..! Sumber dari suatu Badan Riset di negerinya Paman Sam sana menyimpulkan bahwa wanita yang mencukur bulu ketiaknya, ternyata sepuluh kali lebih rentan terhadap kanker payudara dibandingkan dengan mereka yang membiarkan bulu ketiak tumbuh apa adanya. Dan lebat. Selain itu ada juga yang memahami bahwa, mencabut bulu ketiak itu hukumnya sunnah.

Mungkin bagi mereka yang tetap membiarkan bulu ketiaknya tumbuh subur adalah karena selain alasan di atas, juga beranggapan bahwa bulu ketiak berfungsi sebagai penahan keringat agar tidak gampang menetes kemana-mana. Sama seperti halnya rambut di kepala untuk menahan panas atau alis dan bulu mata untuk menahan keringat yang mengucur, atau (bagi yang punya) kumis untuk penahan keringat selain sebagai pemanis. Dan hal inilah yang sepertinya diyakini oleh si Cantik, tak mau hutan di ketiaknya dibabat habis karena suatu alasan yang mungkin, tak bisa diterima oleh sebagian orang.

*******

Pengalaman kedua dengan si Axilla alias Bulu ketiak ini adalah waktu malam harinya kami makan bersama di basecamp, dengan si mahluk halus tapi berbulu ketiak lebat itu duduk di samping saya. Namanya juga di basecamp dan sudah di luar operasional jam kerja, kami berpakaian santai. Hanya, si bule satu ini rupanya terlalu santai dengan celananya yang amat sangat pendek dan kaos you can see-nya.

Baiklah kalau begitu. Sambil bersikap biasa saja saya pun duduk satu meja dengannya, sambil menyantap makan malam dengan mendengarkan ceritanya tentang kejadian di lapangan tadi saat dia memergoki crew drilling mencuri lihat paha dan bulu ketiaknya.

Kamu juga sih, ke lapangan pakai rok span,” saya menjawab sambil menusuk sosis di piring dengan garpu. Kaos you can see, pula..!

Panas kalau pakai coverall, mendingan pakai kaos dan rok aja, praktis.” Ia menjawab sambil menjulurkan tangan kanannya untuk menjangkau kentang di atas meja, melewati piring dan gelas saya.

Naaaah….. Saat itulah! Saat itulah saya benar-benar takjub melihat bulu ketiaknya yang betul-betul rimbun hingga saya sempat tertegun.

Kenapa?” Rupanya ia menyadari gerakan saya yang akan memasukkan sosis ke mulut sempat terhenti sejenak saat memergoki lebatnya hutan di ketiaknya.

Saya menelan ludah dan meneruskan gerakan yang tertunda tadi ke mulut lantas mengangguk-angguk.

Lebat.” Komentar saya singkat.

Buluku?”

Yup.” Saya mengangguk lagi.

Suka?”

Saya menggelengkan kepala tanpa menjawab. Sibuk mengunyah sambil berpikir.

Dan ia pun tak bertanya lagi tentang  pendapat saya suka atau tidak suka hingga akhirnya kami, lebih memilih berkonsentrasi menikmati makanan masing-masing.

Tetapi..

Apaan nih..?!” Ujar saya dengan kening berkerut sambil menunjuk sehelai benda hitam keriting yang mengapung di gelas saya.

Apaan sih?” dia menoleh lalu mendekatkan wajahnya, memeriksa isi gelas saya dengan mata menyipit.

Ini.” Saya menunjukkan benda itu dengan ujung garpu, masih dengan mulut terisi sedikit makanan.

Huahahahahahaha..” Tiba-tiba dia tergelak dengan tangan kiri memegang perut, sedangkan tangan kanannya menepuk kening. Dan semakin tampak jelaslah rerimbunan hitam itu di antara lengannya yang putih bersih.

Melihat itu, segera saya menelan sosis dengan susah payah karena takut tersedak. Pemandangan itu sungguh indah. Sejumput bulu hitam di antara lengan yang mulus.

Aduh soriii, dia terkikik sambil menutup mulutnya. “Aku nggak tau kok bisa bulunya rontok satu hihihihi!

Kamu harus ganti. Aku nggak mau es jeruk ini keracunan bulumu,” saya menuntut.

Dengan apa?” Tanyanya. Masih sambil tersenyum menahan geli. Tapi mimik mukanya jahil.

Cium.” Jawab saya sambil lalu.

Akibatnya… , cups! Kontan bibirnya mengecup cepat.

Wuaaah!

Udah?” Tanyanya dengan separuh alis terangkat.

Sambil memiringkan muka menoleh ke arahnya, saya berbisik kalau tadi itu hanyalah DP. Istilahnya uang muka dan sisanya, bisa dibayar nanti tergantung situasi-kondisi-toleransi-pandangan-jangkauan. Dia setuju dan setelah makan malam usai kami pun beranjak ke samping halaman basecamp, duduk dan mengobrol panjang lebar membahas tentang segala hal yang menyangkut bulu ketiak. Saya memulai dari kemulusan ketiak yang menurut saya adalah salah satu bagian dari kaum hawa yang seksi sampai kepada pandangan sebagian orang bahwa ketiak berbulu lebat itu mencerminkan pribadi yang jorok dan semacamnya. Tapi dia mendebatnya dengan cerdas dengan mengajukan alasan bahwa fungsi bulu ketiak itu sebagai pelindung kulit dari kotoran dan bakteri, selain itu juga berfungsi untuk melindungi ketiak dari zat racun yang datang dari luar tubuh seperti deodorant, parfum pun bedak.

Nah, dari dia itulah saya mendapatkan sekilas info bahwa, dengan membiarkan bulu ketiak tumbuh apa adanya, kaum hawa bisa terhindar dari resiko terkena kanker payudara.

Sama kayak kamu, bulu ketiaknya juga banyak.” Katanya sok tahu sambil tangannya mengusap lengan saya. “Aku sih ambil contoh gampang aja, laki-laki nggak akan kena kanker payudara karena memang mereka nggak pernah menyukur habis bulu ketiaknya.”

Alasan yang aneh, saya bergumam dalam hati. “Kamu nggak takut bauket karena ada bulket?” Tanya saya cepat untuk sekedar mengusir rasa ‘gelinak saat tangannya bertengger di lengan.

Bauket? Apaan tuh?” Sahutnya.

Bau ketek.

Kalau bulket?

Bulu ketek.”

Eh, ketek tu apaan sih?” Masih penasaran dia.

Saya garuk-garuk kepala lantas menjawab, “ketiak.

Oooh…,” ia mengangguk sekali, bibirnya membulat. “Enggaklah aku kan pakai parfume,” dia menjawab dan dengan penuh percaya diri, mengangkat lengan kanannya lalu mendekatkan si hitam kriwel-kriwel itu ke hidungnya.

Hmm… Tanpa sadar saya menahan nafas.

Kamu sendiri, kenapa nggak nyukur bulketmu?!” Dia memanyunkan bibirnya, bertanya menyelidik. Rupanya dia cepat menangkap materi baru. Bulu ketiak disingkatnya bulket.

Biar macho.“ Saya lantas nyengir sendiri dengan jawaban asal bunyi itu.

Weeeew” Dia menjulurkan lidah.

Saya terdiam, menikmati es jeruk bikinannya sebagai ganti air minum yang tercemar tadi. Lantas menghisap rokok dalam-dalam ketika ia melanjutkan.

Kupikir, ini juga salah satu daya tarik aku,” ujarnya sambil meleletkan lidah ke samping. “Lagipula kalau bulket dan bul-bul lainnya itu tak dibutuhkan manusia, maka Tuhan pun tidak akan menciptakannya. Semua yang diciptakanNya tentu ada gunanya, kan? Memangnya Tuhan itu kurang apa dalam hal penciptaan? Rambut di kepala untuk menahan panas maupun dinginnya udara. Alis dan bulu mata mencegah keringat masuk ke mata. Bulket untuk mencegah keringat yang berlebih, begitu juga juga bulkem.Dia berdehem sebentar lalu kembali menyambung, “tentunya kita harus rajin membersihkan di saat mandi sebab jika tidak, maka kuman dan jamur akan berkembang biak di sana.” Kuliahnya panjang lebar sambil sesekali tangannya mengelusi ketiak.

Eh? Bulkem? Apaan tuh?” Giliran saya yang bingung.

Bulu Kemaluan.” Jawabnya cepat dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya.

Saya tertawa.

Tapi hampir semua perempuan nyukur bulketnya lho.” Saya mencoba menangkis pendapatnya. “Biar bersih dan estetis, kata mereka. Meskipun ada juga yang membiarkan bulketnya tumbuh dengan alasan agama.”

Ah, menurutku itu sih salah.” Dia menukas. “Estetika dan kebersihan bukan dilihat dari ada atau tidaknya bulket, tapi dari cara kita merawat tubuh.” Jawabnya. “Kalau unsur agama, aku no comment ah.” Masih saja dia membantah. “Buktinya, kamu suka liat aku, kan?!

Saya mengangguk dan mulai merasa inkonsisten dengan pendirian sebelumnya yang, lebih suka melihat ketiak bersih mulus daripada yang berbulu. Dan sejak itu pula seratus persen menyetujui pendapatnya, lepas dari pemikiran bahwa pria bakal terkena kanker payudara atau tidak, bahwa bulu ketiak itu perlu selain untuk kesehatan, juga sedap untuk dipandang.

Sambil menghabiskan es jeruk bikinannya itu, saya membayangkan berapa helaikah kira-kira jumlah bulket di masing-masing ketiaknya. Dan pikiran iseng itu membuat saya tersenyum geli sendiri.

Masuk yuk, ah. Dingin lama-lama di luar.” Ujarnya tiba-tiba menoleh, setelah cukup lama kami terdiam. “Aku mau merapikan bulketku.” Sambungnya kemudian dengan raut wajah yang sukar ditebak.

 

*******

PS:

Pernah tayang di salah satu situs di bawah Kompas tiga tahun yang lalu dan, ini fiksi. Sekali lagi fiksi. Tokoh di atas adalah rekaan semata.

 

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

75 Comments to "Si Lebat Axilla"

  1. anoew  27 August, 2012 at 18:18

    Hahaha terbukti memang, menurut survey bisa menghilangkan stress juga, bisa menimbulkan stress berkepanjangan

  2. Fidelis R. Situmorang  27 August, 2012 at 18:12

    Hahaha… Bulbul banget ceritanya. Bisa buat obat antistres

  3. anoew  25 August, 2012 at 14:42

    weh, ternyata bisa juga buat antistress

  4. anoew  18 August, 2012 at 08:08

    Yu Lani, kalau klimis kinclong tanpa hiasan di situ malah aneh penampilannya. Beda dengan kepala plontos yang masih enak dilihat, lha kalai di sana plontos apanya yang bikin penasaran kalau langsung bisa melihat ke tempat tujuan? Tanpa penghalang tanpa rintangan langsung ketok mata, hora nyeni blasss

  5. Lani  18 August, 2012 at 02:11

    KANG ANUUUU, MBAK NUK : yg jelas pokok-e klimis misssss……..kalisssss……..kinclong…….hahaha opo to yo iki? Malah aki buto ingin tau klu dikelir obar abir ongkose piro kang???? nek wis klimis apane sing arep dikelir?????? wakakakaka………..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.