Good Governance = tidak terima parcel?

Handoko Widagdo – Solo

 

Hari-hari menjelang Idul Fitri banyak ditemukan iklan dari instansi pemerintah dan perusahaan yang mengumumkan bahwa instansi/lembaga tersebut menerapkan good governance dan oleh sebab itu melarang kolega mengirim bingkisan kepada direksi dan staffnya. Iklan yang terpasang di koran-koran nasional rata-rata berukuran cukup besar. Saya merasa bahwa iklan-iklan ini berlebihan dan mereduksi makna good governance.

Pertama-tama marilah kita periksa tentang budaya memberi bingkisan. Budaya memberi bingkisan adalah bentuk keramah-tamahan orang Indonesia khususnya dan Asia pada umumnya. Adalah sebuah kelaziman jika kita memberikan bingkisan (kecil; kalau besar namanya bungkusan) kepada orang yang kita cintai atau orang yang kita hormati. Contohnya keramah-tamahan petani yang memberikan buah tangan berupa sayur/buah-buahan kepada tamunya. Pemberian bingkisan/parcel yang dilakukan secara tulus dan tanpa pamrih adalah sebentuk budaya yang sangat baik.

Lain halnya jika pemberian bungkusan (besar) dilakukan karena ada pamrih untuk memuluskan urusan atau bisnis. Memang saat ini, pemberian bungkusan ini telah menjadi salah satu sarana menyuap. “Tidak ada makan siang gratis,” kata pepatah barat. Inilah alasan yang mungkin dijadikan oleh pihak-pihak pemasang iklan tersebut untuk melarang direksi dan stafnya menerima bingkisan/parcel dalam bentuk apapun (langsung atau tidak lansung). Pertanyaannya, apakah dengan melarang pemberian bungkusan ini akan berpengaruh terhadap tingkat korupsi? Bagaimana dengan mereka yang mau memberi bingkisan secara tulus?

Kedua marilah kita periksa apa yang dimaksud dengan good governace. Pemerintah Indonesia memakai istilah Tatakelola yang baik (kementerian) dan Tata Kepemerintahan yang baik (BAPPENAS). Sementara itu, berbagai lembaga internasional yang memromosikan good governance mempunyai definisinya masing-masing. Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Pelaksanaan kekuasaan politik untuk mengelola masalah-masalah negara (Exercise of political power to manage nation’s problems and affairs.) (The World Bank)
  • Pelaksanaan kewenangan politik, ekonomi, dan administratif untuk mengelola masalah-masalah negara pada semua tingkatan (Exercise of political, economic and administrative authority to manage a nation affair at all levels.) (UNDP)
  • Kecapakapan pemerintah  untuk mengembangkan proses manajemen yang efisien, efektif, dan akuntabel yang terbuka bagi masyarakat untuk berpartisipasi dan proses itu harus memperkuat sistem pemerintahan yang demokratis (USAID).
  • Manajemen pembangunan yang sehat dan efektif (ADB)

Jelas sekali bahwa cakupan good governance adalah sangat luas. Cakupannya paling tidak meliputi partisipasi, transparansi dan akuntabilitas.

Iklan seperti yang marak sekarang ini sepertinya sangat relevan dengan good governance. Tapi jika kita cermati, iklan semacam ini malah merongrong good governance. Mengapa?

Pertama, iklan semacam ini tujuan utamanya adalah untuk mengatakan bahwa instansi atau lembaga/organisasi yang beriklan sudah dikelola secara baik (sudah menerapkan prinsip-prinsip good governace). Sebuah upaya instan untuk membangun citra.

Kedua, biaya iklan di media nasional tidaklah murah. Artinya dari sisi akuntabilitas, instansi/lembaga/organisasi yang beriklan semacam ini harus dipertanyakan. Ini adalah penyalah-gunaan anggaran yang dikelola.

Ketiga, saya tidak yakin bahwa meski sudah ada iklan semacam ini, praktik untuk memberi bungkusan dengan tujuan penyuapan bisa berkurang.

Teman saya menulis di status fb-nya: Seorang bapak pejabat dengan keras menolak bingkisan/parcel karena dia terikat sumpah. “Bagaimanapun saya menolak semua pemberian karena saya terikat sumpah.” Saat pemberi bungkusan memaksa, bapak ini bilang: “Kalau tetap memaksa, silahkan kirim ke Ibu. Sebab ibu tidak terikat sumpah.”

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

38 Comments to "Good Governance = tidak terima parcel?"

  1. AH  27 September, 2012 at 09:04

    kalo tidak ada ibu, kirimkan ke ‘anu’ ya pak )

  2. Handoko Widagdo  18 August, 2012 at 17:36

    Mawar, saya mencurigai bahwa maksud beriklan adalah terutama untuk membangun citra.

  3. Handoko Widagdo  18 August, 2012 at 17:35

    Tammy sebagai bangsa yang besar kita bisa membuat negeri yang dikelola dengan sangat baik. Bukan dengan iklan.

  4. Lani  18 August, 2012 at 02:33

    EA, MBAK NUK : o, jadi mmg TST……..kongkalikong……..klu ada yg dikirimi parcel hrs dilimpek-e agar penunggu Kona jgn sampai tau………yo jelasssssss aku meriiiiiiiiii………

  5. Lani  18 August, 2012 at 02:30

    MBAK NUK : hehe…..jd cm imang iming buat diriku biar ngiler ndleweeeeeer……..nanti aja mbak klu ketemuan di polke makan2nya, apalagi klu yg masak2 bikin jajanan mbak Nuk…….pokok-e ora nolak rezeki……….hahaha

  6. Mawar09  17 August, 2012 at 00:17

    Pak Han : pasang iklan sebesar apapun boleh saja, tapi apakah benar-benar akan di terapkan? itu yang jadi masalah. Tangan kanan boleh menolak pemberian, tapi kalau tangan kiri menerima dari belakang, apa akan ada yg tahu?

  7. EA.Inakawa  16 August, 2012 at 19:25

    Ochelah Bu Nunuk : kita berdamai…….lebaran tetap di Congo saja jaga gawang, 17 agustus bergabung sama Kontingen Garuda Indonesia di Congo, soal ne nggak ada KBRI disini, Congo dibawah KBRI Senegal. salam sejuk

  8. nu2k  16 August, 2012 at 17:07

    Dimas Inakawa, ha, ha, ha.. iya sihhh, tapi memang sengaja kok.. Untuk ngiming-ngimingi Nyai blorok Nggemblung van Kona.. Lha dia juga belum pernah tuh kiram kirim bingkisan apalagi parcel… Lagian, pak posnya nggak kenal alamat saya… ha, ha, haaaa…
    Untuk dimas Inakawa nanti sajalah kalau anda sedang turun gunung dan nengok peradaban yang katanya sudah serba ultra modern…. Ha, ha, haaaa. Nggak mudik toch dimas Inakawa.. Lebaran toch??? Kemana acara 17-an kalau di Kinshasa.. Werkt ze en doe doei, nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *