Mengunjungi House of Sampoerna

Osa Kurniawan Ilham

 

Untuk memperingati 99 tahun Sampoerna, berikut ini ada tulisan lama saya dalam bentuk reportase saat mengunjungi Museum House of Sampoerna di Surabaya tahun 2009 yang lalu. Berkebalikan dengan Museum Trowulan yang pernah saya laporkan di Baltyra, ini adalah salah satu contoh museum yang dikelola secara profesional dan berstandar internasional. Silakan menikmati.

Siapa tidak kenal Sampoerna ? Apalagi bagi setiap penikmat rokok seperti Djarum atau Gudang Garam, Sampoerna seperti semua kata sakti yang sanggup memuaskan dahaga merokoknya. Tapi adakah di antara para penikmat rokok yang mengetahui sejarah berdiri maupun pasang surutnya pabrik rokok bernama Sampoerna ini ? Rasanya saya kok nggak yakin kalau mereka tahu. Yang penting rokoknya, bukan sejarahnya, begitu kali pikiran mereka he…he….

Nah, lepas Anda perokok atau bukan, kalau Anda ingin mengenal seluk beluk rokok Sampoerna dan mengetahui sejarah perusahaan rokok Sampoerna, silakan Anda berkunjung ke House of Sampoerna. House of Sampoerna ini adalah rumah (istana) kediaman Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna, yang sekaligus juga berfungsi sebagai pabrik rokok Sampoerna sejak tahun 1932, sebelum akhirnya pabriknya pindah ke kawasan industri Rungkut Surabaya atau ke kota-kota lain berikutnya. Kompleks bangunan House of Sampoerna yang bergaya kolonial Belanda ini sebenarnya dibangun tahun 1862 dan awalnya berfungsi sebagai panti asuhan putra yang dikelola oleh pemerintah Hindia Belanda sebelum kemudian dibeli oleh Liem Seeng Tee.

Untuk mengekalkan memori orang terhadap sejarah pabrik rokok besar ini, gedung ini kemudian beralih fungsi menjadi museum House of Sampoerna. Sebenarnya ada 3 bangunan di lokasi ini. Bangunan pertama di sayap kiri masih dijadikan rumah pribadi manakala keluarga dinasti Sampoerna berkunjung ke Surabaya. Bangunan di sayap kanan dijadikan kantor museum, kafe dan juga ruang galeri yang biasanya dijadikan ruang pameran seni. Bangunan terbesar di bagian tengahlah (dulu tempat melinting rokok) yang kemudian dijadikan museum utama.

Posisi House of Sampoerna tidak jauh dari lokasi terbunuhnya Mayjen Mallaby menjelang peristiwa besar pertempuran 10 November 1945, yaitu Jembatan Merah. Dulu, dekat jembatan merah ini terdapat Gedung Internatio, sebagai markas tentara sekutu yang saat itu dikepung habis oleh Arek-arek Suroboyo. Nah, kemudian Gedung Internatio ini diruntuhkan dan sekarang dibangun Jembatan Merah Plaza. Kira-kira 500 meter dari Jembatan Merah Plaza ini, ke arah Tanjung Perak terdapat Penjara Kalisosok yang sangat bersejarah itu (sayang penjara yang menyimpan nilai sejarah ini dibiarkan begitu saja dimakan rayap dan hampir roboh). House of Sampoerna terletak sekitar 300 meter dari eks Penjara Kalisosok ini. Jadi kalau Anda dari Tugu Pahlawan, Anda bisa melanjutkan perjalanan melewati gedung DPRD Jawa Timur di Jalan Indrapura lalu Anda berbelok ke kanan yaitu lewat Jalan Rajawali ke arah Jembatan Merah Plaza.

Membuka pintu House of Sampoerna, Anda akan langsung mencium bau tembakau dan cengkeh yang begitu menusuk hidung. Langsung saja ingatan saya melayang saat saya bertumbuh besar di Kediri dulu, hampir setiap sore terutama kala sehabis hujan udara akan dipenuhi bau tembakau dan cengkeh sehingga hidung akan mencium bau yang sama. Di HOS (House of Sampoerna), bau itu muncul dari tumpukan koleksi tembakau dan cengkeh yang berasal dari segala penjuru dunia yang ditempatkan di sayap kiri kala Anda membuka pintu museum.

Di sayap kiri ini Anda juga akan menemui warung milik pendiri Sampoerna saat masih miskin dulu. Juga ada 2 sepeda ontel yang dia gunakan saat itu. Nah, kalau Anda ingin mengetahui sejarah berdirinya Sampoerna, Anda bisa memanfaatkan layar sentuh di sayap kiri ini yang akan dengan senang hati menceritakan kepada Anda.

Di sayap kanan Anda akan menjumpai foto pribadi dan keluarga Sampoerna, juga meja pribadi dan meja kerja pendiri Sampoerna. Anak-anak saya ambil fotonya di meja ini, dengan doa dan harapan semoga semangat, tekad dan karakter kerja keras pendiri Sampoerna akan menjalar dalam jiwa mereka he..he…Di sayap kanan ini Anda juga bisa menikmati duduk di meja kursi tamu yang biasa digunakan pendiri Sampoerna untuk menerima tamunya. Juga terdapat lemari besar kuno yang di dalamnya terdapat segala macam barang koleksi keluarga Sampoerna.

Beranjak dari ruangan depan pertama, Anda akan memasuki ruangan berikutnya yang memamerkan foto-foto perusahaan lengkap dengan suasana saat Sampoerna diambil alih oleh Philip Moris di tahun 2005 dulu. Juga di sana ditampilkan struktur organisasi manajemen Sampoerna, sebelum maupun sesudah diakuisisi oleh Philip Moris.

Di ruangan selanjutnya, Anda dapat menyaksikan aneka koleksi yang lain. Di pojok sayap kiri Anda akan melihat ruang pamer Marching Band Sampoerna yang begitu terkenal di tahun 1990-an. Di sini juga dipamerkan segala macam yang berkaitan dengan seorang karyawati juru linting yang saat itu ikut diberangkatkan ke Amerika Serikat sebagai salah satu anggota marching band yang berpartisipasi dalam sebuah festival di sana. Jadi di sini dipamerkan paspor, visa, tiket pesawat dan benda-benda lainnya milik sang karyawati.

Di depan ruang pamer Marching Band dipamerkan mesin cetak bungkus rokok Sampoerna beserta pelat-pelat cetaknya. Mesin cetak bermerek Original Heidelberg dari Jerman ini didatangkan oleh The East Asiatic Company Ltd dan masih dioperasikan oleh Sampoerna sampai kemudian memakai mesin cetak berbasis komputer yang lebih canggih.

Di bagian tengah ruangan dipamerkan segala macam produk rokok Sampoerna yang ternyata juga diproduksi dan dipasarkan di negara-negara lain. Seperti merek XTRA dan WINNER (di Singapura), A SLIM International (Brasil dan negara-negara Amerika Latin) dan ST DUPONT (di Eropa). Rasa bangga membuncah saat mengetahui bahwa produk Indonesia juga berhasil dipasarkan di negara-negara lain.

Di sayap kanan ruangan Anda bisa melihat Andong yang dulu menjadi kendaraan pembesar Sampoerna. Juga dipamerkan sepeda motor kuno bermerek Jawa 250 – Perak, diproduksi tahun 1946 oleh perusahaan Cekoslovakia bernama Jawa (Janeeek and Wanderer). Sepeda motor 2 tak 1 silinder 248 cc ini adalah aset penting Sampoerna dari tahun 1970-an sampai tahun 2002.

Selanjutnya Anda bisa naik ke lantai 2 di mana terdapat kios segala macam cindera mata berbau Sampoerna. Dari sini Anda juga bisa menyaksikan ruangan tempat 3000 karyawati melinting rokok dengan kecepatan 325 batang per jam. Dalam ruangan ini dulu sering diperdengarkan musik tradisional selama jam kerja yang terbukti bisa meningkatkan produktivitas para karyawati. Saat memotret ruangan ini saya ditegur oleh petugas kios, ternyata dilarang memotret di lantai 2 ini.

Keluar dari bangunan utama, Anda bisa membeli aneka menu makanan di Cafe Sampoerna atau menyaksikan pameran seni di Galeri Seni. Lalu Anda juga bisa melihat dari dekat mobil Rolls Royce, milik keluarga Sampoerna yang mewah itu.

O ya, silakan Anda berkunjung ke museum ini yang buka dari jam 9 pagi sampai jam 10 malam. Untuk masuk ke museum ini gratis, tidak dikenakan biaya, paling enggak di tahun 2009 saat kami berkunjung, entah sekarang. Anda juga bisa mengikuti secara gratis program Surabaya Heritage Track dengan menaiki City Sightseeing Bus di mana untuk tour pendek (30 menit) diadakan hari Selasa sampai Kamis, sementara untuk tour panjang (2 jam) diadakan hari Jumat sampai Minggu. Melalui program ini Anda akan diajak untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Surabaya. Saya teringat program serupa di Singapura, untuk para penumpang yang memiliki waktu transit di Changi Airport minimal 4 jam.

Demikianlah pengalaman kami mengunjungi House of Sampoerna, cikal bakal kejayaan bisnis Sampoerna di Indonesia. Ada pelajaran berharga, bahwa setiap keberhasilan selalu diawali oleh penderitaan, kegagalan dan kerja keras tiada henti. Semoga anak-anakku mendapatkan hikmah dari kunjungan ini.

Ilustrasi foto: koleksi pribadi

(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan, 12 April 2010)

 

17 Comments to "Mengunjungi House of Sampoerna"

  1. Osa Kurniawan Ilham  28 August, 2012 at 18:54

    Para Baltyrans sekalian,
    Maaf ya, saya baru saja turun dari laut sehingga baru bisa menyapa teman-teman sekalian. Perayaan kemerdekaan dan Idul Fitri pun juga dilakukan bersama teman-teman kerja di tempat yang terpencil, jauh dari mana-mana. Nggak tahu kenapa Baltyra.com sekarang menjadi salah satu situs yang tidak bisa diakses di kantor
    Walau terlambat, saya ingin mengucapkan Selamat Idul Fitri 1433H, mohon maaf lahir batin kepada semua rekan-rekan.

    Salam,
    Osa KI

  2. Lani  18 August, 2012 at 00:38

    OKI : wah telat komentarnya……….nah, ini baru yg dinamakan bener2 museum……..lengkap, rapi, bersih, kinclong…….krn tiap kali keluar masuk museum di Indonesia kecewa……..dgn kondisinya…..sama sekali tdk dihargai keberadaannya dianggap barang rongsok-an………..
    moga2 bs dijadikan contoh museum2 lainnya yg telah ada…………

    Selain itu museum di Indonesia kesannya gelap dan memedenikan…………sama sekali tdk menarik utk dikunjungi

  3. Mawar09  17 August, 2012 at 01:23

    OsaKI : terima kasih ya artikelnya, sangat terawat museum ini disamping itu gratis pula. Dana rupanya tidak menjadi masalah dan yang mengurus profesional.

  4. Dj.  17 August, 2012 at 00:30

    **** Siapa tidak kenal Sampoerna ? ****

    Bung Osa…
    Maaf ya, jujur Dj. tidak kenal, jangankan pribadi, lihat orangnya saja belum pernah.
    Tapi photo-photonya indah-indah…
    Terimakasih dan Salam,

  5. EA.Inakawa  16 August, 2012 at 17:13

    @ Kang Anoew : Beda pengelola & yang dikelola…….kalau ada yang tidak becus berarti education & mental pengelolanya perlu ditelusuri.
    Tapi kebanyakan kalau di negeri kita pengelola Museum banyakan stock lama & buangan dari instansi karena bermasalah,seperti itu kondisinya sehingga mereka itu demotivasi begitu dimutasikan ke museum atau disuruh mengelola situs, salahnya penguasa kita selalu bgt menempatkan pengelola yang tidak cerdas/profesional dibidangnya……mudah mudahan saya salah, salam sejuk

  6. Anoew  16 August, 2012 at 15:54

    Museum yang untuk memasukinya saja tidak dipungut biaya alias gratis, bisa sebagus dan senyaman ini. Sedangkan situs Trowulan yang menyimpan harta karun berupa budaya negeri ini dan harus bayar pula untuk memasukinya, kondisinya memprihatinkan. sedih..

  7. Anoew  16 August, 2012 at 15:52

    baru kali ini saya bisa memelototi Roll Royce dengan puas, meskipun hanya depannya saja

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.