Kaasstengels ala bu Nunuk

Nunuk Pulandari

 

Teman-teman,  memenuhi harapan  dimas Handoko untuk mendapatkan PARCEL dari mbakyunya di Belanda  dan sekaligus menyambut hari raya Ied yang sudah tinggal sehari, melalui Baltyra saya kirimkan BINGKISAN KAASSTENGELS istimewa.  Entah akan dilaporkan ke KPK atau tidak. Yang jelas saya mengirimkannya dengan keikhlasan hati dan tanpa ada buntut apapun di belakangnya.

Lebaran sudah tinggal menunggu harinya bahkan untuk dimas Handoko sudah diambang pintu.. Parcelnya sudah dikirimkan, hanya entah kapan sampainya.  Kebetulan adik di Jakarta mengirimkan e-mail yang petikannya terbaca :”… . jangan lupa bikin kaasstengel yg kayak lbu yaa. L O V E. . .W N B A  (Wim, Nien, Boim n Aldi)”.  “Duuuhhhh..”: Terpikirkan dalam hati.

Ingatan saya jadi terbang melayang ke jaman sepur kuda…Jaman dulu ketika ibu (almh) masih ada dan kami tinggal di Bandung. Pada hari-hari terakhir menyambut hari besar ini, sering kami terutama anak-anak gadis,  sibuk bersama ibu  membuat kue-kue kering sendiri. Salah satu kue kesayangan kami adalah Kaasstengels alias Kue Keju. Membaca namanya tentunya kita semua tahu bahwa bahan utama kue kering Kaasstengels adalah Keju. Ketika itu untuk mendapatkan Keju yang enak biasanya ibu mendapat kiriman dari salah seorang sahabat ibu dari Negeri Belanda atau membelinya di salah satu toko langganan di Pasar Baru atau dibelikan adik ibu dari Jakarta.

Ibu selalu berusaha dan pesan jauh hari sebelumnya untuk mendapatkan Keju Gouda karena rasa gurihnya  dan asinnya terasa nikmat disantapnya.  Keju Gouda Tua biasanya lebih sering dipakai untuk membuat kue atau campuran masakan lainnya, terasa enak ketika kita menyantapnya.. Ibu selalu menginginkan Keju Gouda Tua karena keju dari negeri lain untuk ibu rasanya hambar dan terasa lengket di lidah kalau disantap, begitu pernah diceritakannya.. Begitu juga ketika saya tinggal di Jakarta, tradisi membuat Kaasstengels tetap saya lakukan bersama anak-anak. Kejunya saya dapatkan melalui salah satu Supermarket di daerah Kemang.

Sekarang setelah kami tinggal di Belanda, membuat kue Kaasstengels menjadi kegemaran saya sehari-hari. Artinya kalau kangen yang gurih-gurih, atau anak-anak sudah mulai telefoon menanyakan kapan saya akan membuat kue Kaasstengels lagi, saya masuk dapur dan membuatnya lagi. Sering tanpa harus menunggu hari Lebaran tiba. Membuatnya sendiri tanpa di”rusuh” i anak-anak.  Atau kalaupun mereka ada di rumah biasanya hanya masuk dapur untuk icip-icip atau sekedar mengobrol…Sering juga saya membuat Kaasstengels seperti sore ini sambil menonton  siaran Berita di TV. Jadi disambi macam-macam…

Teman-teman, terus terang begitu seringnya saya membuat Kaasstengels, sampai-sampai saya tidak lagi menggunakan takaran yang berlaku untuk membuatnya. Jadi semua berdasarkan perbandingan  ukuran KIRA-KIRA. Hasilnya tetap enak, renyah, gurih, terasa kejunya (hmmmm)  dan mengundang untuk ngemil terus. Resep KIRA-KIRA bisa teman-teman ikuti dalam contoh dibawah ini.

Misalnya, keju yang terlihat di dalam mangkok adonan  beratnya plus minus 400 gr. Roomboternya jelas saya pakai yang 250 gr. Tepungnya kurang lebih 400gr . Tergantung merk dan jenis bahan dasarnya. Dalam hal ini kita bisa merasakan ketika sedang mengaduk. Misalnya, karena begitu seringnya ngadoni, dengan sendirinya  dapat merasakan apakah  masih perlu ditambah tepungnya karena adonan masih lengket di tangan / sendong pengaduknya. Atau mungkin tepungnya tidak perlu digunakan sebanyak seperti hari-hari lainnya…..

Foto 1. Keju Tua (Gouda) sebanyak plus minus 400 gr; Roomboter 250 gr; Vanille ½ bungkus.

Dari  bahan-bahan yang terlihat dalam mangkuk  tersebut di atas,  kita parut (dengan parut bergerigi besar) kejunya dan kita sisihkan. Dari parutan ini kita sisihkan sebanyak 75 gr tersendiri untuk menaburi adonan sebelum disempurnakan dan dioven.

Foto 2. Keju yang telah diparut (disisihkan plus minus 75 gr, untuk uwur-uwur)

Untuk membuat Kaasstengels saya memakai 4 kuning telur besar, kalau telurnya kecil saya gunakan 5 butir  untuk seluruh adonan (lihat foto 3 + 4 )  dan 1 ( ekstra) kuning telur untuk mengolesi adonan yang sudah jadi (lihat foto 7 ). Putihnya di simpan dalam mangkuk adonan lainnya untuk membuat kue Schuimpjes  (menyusul).

Tahap pertama. Kita kocok roomboter  dan vanille  sampai  warna roomboternya  berubah menjadi keputihan dan adonannya berubah menjadi halus (lihat foto 3).

Foto 3. Ke dalam roomboter yang telah dikocok kita masukkan tiap kali  2 X 2 kuning telur (setiap kali dikocok sampai warnanya keputihan, lalu 2 lainnya menyusul).

Bila roomboternya sudah halus dan berwarna keputihan, kita masukkan dua kuning telur (setiap kali dua kuning telur untuk menghemat waktu dan energi, ha, ha, ha) dan kita kocok kembali hingga warna campurannya juga agak putih kekuningan (lihat foto 4) di bawah.

Foto 4. Hasil campuran roomboter  kocok dan 2 kuning telur pertama; lalu dikocok kembali dengan 2 kuning telur berikutnya.

Setelah semua kuning telur dan roomboter bercampur dengan rata, kita kocok kembali hingga putih dan halus massa adonannya selama plus minus 10 – 15 menit

Tahap berikutnya kita masukkan parutan keju kasar yang plus minus 325 gr  ke dalam adonan dan kita kocok kembali sampai parutan kejunya agak terlihat halus dan tercampur rata …(lihat foto 5 )

Foto 5. Campuran adonan  hasil kocokan roomboter, telur dan keju

Ketika adonan campuran hasil kocokan roomboter, telur dan keju sudah membentuk massa adonan yang terlihat sempurna , lalu kita masukkan sebagian demi sebagian dari tepung terigunya dan diaduk sampai rata. Adonan masa ini pada akhirnya harus terlihat agak “klimis” seperti berminyak dan terasa tidak lengket di tangan atau di sendok waktu di aduknya dan juga harus bisa digiling dan diiris seperti yang terlihat dalam ( foto 6 ) di bawah ini. Adonannya menjadi “klimis” dan halus.

Foto 6. Massa  adonan yang sudah terbentuk.

Biasanya setelah massa adonan sudah teraduk dengan rata, saya selalu membaginya dalam 3 bagian. Hal ini memudahkan ketika akan menggilas untuk meratakannya di atas talenan … Dalam foto 7, di bawah ini terlihat massa  adonan yang sudah siap masuk oven. Sudah digilas rata dengan ketebalan plus minus ½ cm ; sudah diolesi kocokan kuning telur ekstra dan sudah ditaburi keju. Tinggal mengirisnya.

Foto 7. Adonan yang sudah digiling, diolesi kuning telur kocok dan ditaburi  sisa keju parut.

Massa adonan bisa digiling di atas  telenan besar (telenan saya berukuran 40 X 25 cm)  yang sudah dilapisi plastik semacam Alufolie.  Usahakan agar massa adonan bisa terbentuk menjadi empat persegi panjang sesuai dengan bentuk telenan. Hal ini untuk memudahkan dalam pengirisannya.

Biasanya ketebalan massa adonan sangat bergantung pada pembuatnya. Jangan terlalu tebal agar irisannya bisa matang dan kering, kriuk, kriuk waktu disantapnya.  Setelah itu gilingan adonan ini diolesi dengan kocokan kuning telur (1/2 kocokan kuning telur) hingga merata.  Kemudian di atasnya kita  taburkan keju parut yang telah kita sisihkan lebih dahulu (lihat foto 8).  Setelah gilingan adonan terbentuk seperti dalam foto 7 di atas, untuk memudahkan pengerjaannya,  biasanya saya membagi massa gilingan adonan, menjadi irisan berbentuk lajur-lajur yang berukuran 6 cm (lebar)  X 25 cm (panjang) . Dengan cara pengirisan seperti ini akan didapatkan   6 – 7 lajur.  Tiap lajur ini kita iris lagi selebar 1 (satu) cm, berjajar memotong panjang lajur yang 25 cm.  Sekarang untuk tiap lajurnya kita mendapatkan sejumlah irisan dengan ukuran  1cm X 6 cm X 20 – 25 potong.  Irisan ini kemudian kita pindahkan dalam Loyang oven yang sudah tersedia  (lihat foto 7).  Untuk memudahkan pemindahannya, saya menggunakan pisau  yang agak lebar yang disisipkan di bawah lapisan irisan lajur yang ada dalam mengangkatnya.

Nah, irisan kecil ini kita jajarkan di atas Loyang yang ada. Kalau sudah terbiasa dan tidak disambi akan cepat sekali prosesnya. Sebelum kita memindahkan irisan ini, oven kita nyalakan dalam kepanasan plus minus 150 derajat.

Foto 8.  Irisan lajur kue Kaasstengels yang sudah siap bakar.

Saya menggunakan oven dapur yang tidak terlalu modern. Setelah irisan selesai terjajar rapih di atas loyang oven, kepanasan oven kita naikkan menjadi 165 derajat, dan waktu bakar yang plus minus  30 – 45 menit kita programkan.  Yang jelas kue Kaasstengels sudah siap untuk dikeluarkan dari oven kalau sudah berwarna kuning dengan sedikit gurat-gurat  warna kecoklatan. Nah sekarang kita semua siap untuk mencicipinya. Waktu panggang sangat bergantung pada panas dan jenis oven. Ada yang lebih lama dan ada yang lebih cepat.. Silahkan dipraktekkan sendiri.

Foto 9. Kaasstengels yang sudah dingin dan siap untuk dinikmati.

Silahkan mengambil untuk mencicipinya..Kriuk-kriuk, halus dan hmmmm nikmat terasa di lidah waktu menggigitnya.  Untuk dimas Handoko, Parcelnya jangan lupa diambil di Kantor  Pos jabang Zoetermeer, Belanda….. Nu2k

**SELAMAT MERAYAKAN IEDHUL FITRI dan MOHON MAAF LAHIR BATHIN**

 

86 Comments to "Kaasstengels ala bu Nunuk"

  1. Alvina VB  12 September, 2012 at 09:34

    Bu Nunuk, kelihatannya lekker sekali kaasstangelsnya….nanti saya coba resepnya ja….
    heel hartelijk bedankt….

  2. Sierli  28 August, 2012 at 10:54

    Kue Kastangelnya menggoda imankuuuuu….

  3. Lani  27 August, 2012 at 14:18

    MBAK NUK : klu komisinya dibayar pake kue2 aku iso melaaaaaaaaar……….kata mpek : bubarrrrrrrr……dodolane ora payu hahaha

  4. Juwii  23 August, 2012 at 16:57

    Hihi.. Iya.. Sama satu lagi lagu Juwita yang dinyanyikan Chrisye. Ohhh kastengel sukses loh.. Cuman itu… saya potongin rada lebar2 dan besar2… Ukuran 5×2 cm. Jiaaan… mantep toh… (aku ora telaten ^_^ )

  5. phie  23 August, 2012 at 08:13

    Ibu Nunuk yg baik, saya udh praktekin bikin kastengel-nya td sore. Tnyata bikinnya ga sesulit yg saya kira dulu. Pas kmrn di toko liat ada keju edam yg sale jd ga pake yg gouda. Pas jg minggu lalu ke toko yg jual butter merk wisjman, lengkap sudah bahan bakunya hehehe….makasih ya bu

  6. nu2k  21 August, 2012 at 05:04

    Hallo, hallo mbak Juwita.. Anda selalu mengingatkan saya pada lagu “Juwita Malam”, terutama Reff.-nya.
    Reff.
    Juwita malam siapakah gerangan dikau
    Juwita malam dari bulankah dinda…

    Selamat mencoba, nanti minta kakandanya untuk icip-icip…Oasti enak deh…Salam, salam, salam, nu2k

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.