Kurnia Effendi
(anjung kedua puluh satu)
Kubah Masjid As-Sakinah Gobel, Jl. Dewi Sartika
Manusia acap menjadi tokoh paling jenaka di atas panggung dunia. Salah satu Firaun di masa Musa, contohnya. Ia menahbiskan diri sebagai Tuhan padahal tidak sanggup memandang jantungnya sendiri dan tertidur kala mengantuk, pun memiliki rasa cemas terhadap bayi laki-laki yang tak mampu ia kendalikan kelahirannya dari rahim perempuan.
Bahkan Iblis, meyakini Tuhan sebagai sang pencipta. Dijadikan lawan perjanjian untuk mengubah pikiran manusia : menghampiri dusta, keji, ingkar, dan khianat.
Manusia kerap menjadi tokoh paling salah tingkah di Bumi yang menyediakan segala. Qorun di masa Musa, contohnya. Ia menyimpan harta berlimpah seolah akan menikmatinya hingga dunia punah. Ia merasa paling kaya, seandainya di kemudian abad tidak lahir Raja Sulaiman sang ahli bahasa hewan. Ia lupa daratan sehingga perlu membuktikan himpitan rekah tanah.
Bahkan Iblis tidak memerlukan tabungan hari depan. Ia cukup kaya dengan permainan untuk membujuk tiap insan
: sampai hilang ingatan bahwa ada Tuhan di ujung titian.
Aku tak kunjung memilih peran.
Senantiasa menjadi figuran.
Di antara harapan dan hasutan.
Jakarta, 11-12 Agustus 2012, Ramadan 1433 H
Majelis Masjid As-Sakinah, Dewi Sartika
Masjid As-Sakinah Gobel, Dewi Sartika
Majelis Masjid Jami Ar-Rahman, Kl. Pajlawan Revolusi
(anjung kedua puluh dua)
Kubah Masjid Raya Al-Ittihaad Tebet Mas
Sebulan selain sebelas bulan, kebaikan dibalas dengan imbalan jauh melampaui sepadan. Namun aku masih sibuk merayakan, bagaimana cara membalas dendam atas haus dan lapar, dengan makan di atas ukuran.
Sisakan waktu bagiku untuk singgah ke rumahmu.
Sepekan demi sepekan, hari-hari beranjak silam. Pada hamparan ladang amalan, benih apa yang telah kutanam? Memandang sekeliling, aku bagai pangling pada pepohon yang alangkah banyak memiliki ranting. Bergayut di sana: buah-buah pahala.
Beri keteguhan padaku untuk memetik ranum cahaya.
Dua puluh hari berlalu, dua putaran serupa gasing menderu. Cepat sekali rahmat berkelebat, sulit tertangkap ampunan mendekap, kecuali dengan hati yang tirakat. Tuluskah kerinduanku pada pengabdian yang kaucatat sendiri?
Jadikan aku manusia yang tak merugi, sebelum mati.
Jakarta, 12 Agustus 2012, Ramadan 1433 H
Majelis Masjid Raya Al-Ittihaad Tebet Mas
Masjid Raya Al-Ittihaad
Masjid Baitul Mukminin Rawamangun
Majelis Masjid Baitul Mukminin
Kubah Masjid Jami Al-Makmur Klender
Majelis Masjid Jami Al-Makmur Klender
August 20th, 2012 at 02:36
Semoga tidak hanya mesjitnya saja yang indah dan tenang.
tapi penggunanya jjuga dmikian.
Salam Damai dari Mainz.