Anak Muda Itu

Edysatria Tarigan Girsang

 

Duduk di sebelahku seorang ibu. Kami sama-sama sedang menikmati sepering nasi uduk diwarung si”empok” demikian sipemilik warung sering dipanggil. Awalnya kami hanya basa basi saling menyapa. Pemisi, saya duluan ya makannya, itulah kata-kata yang keluar dari mulut kami.

Sampai saat makanan kami hampir habis tiba-tiba seorang anak muda menyanyi datar dan lirih. Suaranya teramat sumbang. Maaf, kukatakan suaranya membuat saya risih bahkan kedatangannya, teramat mengganggu. Si ibu tadi terlihat sangat gelisah. Ia mencoba melirikku, tapi aku pura-pura tak tahu.

(http://www.flickr.com/photos/kijah69/3878298771/lightbox/)

Kenapa bu? Tanyaku.

Duuh de… Berisik, bisiknya pelan tanpa menoleh kepadaku.

Ya… akhirnya aku tak bisa diam, karena sejak awal aku juga merasa terganggu atas kedatangannya.

Lalu ku sampaikan pada anak muda tersebut dengan pelan.

“Maaf ya mas kami sedang makan”.

Kalau mau sini duduk dan pesanlah, nanti saya yang bayar.

Tiba-tiba ia membentakku: “ehh mas loe jaga tuh bacot, loe pikir gw pengemis? Gw ini nyanyi cari duit bukan mau minta dibeliin makan.”

Si ibu makin panik terlihat. Sementara saya dalam batin berguman, duuh saya yang salah atau dia ya? Kok jaman semakin aneh.

Entah kenapa waktu saya membetulkan posisi duduk, agar bisa melihat wajah anak itu, ia pergi dan menjauh dari arung si’empok’ yang memang telah rame.

Si ibu yang di sebelahku pun akhirnya agak tenang dan berkata, orang aneh. Ditawarin baik-baik malah membentak, bukannya bersyukur.

Kenapa ya orang-orang muda sekarang tak mau berusaha lebih keras meningkatkan kualitasnya. Agar hidupnya tak dihina orang? Kan kalau begini dia sendiri yang merendahkan dirinya. Coba jika ia mau menaikkan kualitasnya, maka ia akan menemukan jalan mencari uang yang lebih dipandang oleh orang lain. Entah jadi montir, atau tukang servise ac, tv dll. Bukan malah terlena dalam penderitaan, dan menjadikannya alasan tuk mendapat belas kasihan orang lain.

Dalam hati saya, saya membenarkan 100% perkataan si ibu. Dan karena aku lebih banyak diam, padahal aku orang yang biasanya dominan jika terjadi dialog. Aku hanya berkata: iya bu, benar sekali. Terbayang ya bu berapa ratus ribu anak muda yang seperti itu. Bagaimana ia mau memikirkan kehidupan orang lain, dirinya saja tak terpikirkan olehnya. Apa bedanya dengan tikus itu? Seekor tikus melintas dekat kami. Ya karena warung si empok di atas got dan di pinggir jalan…

Aku tertawa kecil hehehe iya bu. Membenarkan perkataan si ibu.

Aku berpikir seandainya orang-orang muda bisa berpikir seperti si ibu, mungkin secara kualitatif kehidupan bermasyarakat pelan-pelan atau cepat pasti membaik. Karena daya juang yang tinggi.

Tiba-tiba pundakku ditepuk, “de, ibu duluan ya…. Oooh ya bu, silahakan, jawabku agak kaget.

Si ibu pergi menjauh, hanya punggungnya yang terlihat bola mataku, tapi perkataannya tadi yang singkat tapi masih terngiang di pikiranku. Seperti ia masih berkata-kata padaku. Tak lama kemudian saya pun membayar makanan saya, sementara si “empok” sambil senyum-senyum menerima uangku, setelah ia menyebutkan rupiah yang harus saya bayar.

Terimakasih mpok, dan saya pun melangkah menuju kendaraan yang saya parkir di seberang.

 

Note Redaksi:

Edysatria Tarigan Girsang, selamat datang dan selamat bergabung! Make yourself at home dan ditunggu artikel-artikel lainnya ya. Terima kasih Dewi Aichi yang mengenalkan Baltyra kepada Edysatria Tarigan Girsang.

 

12 Comments to "Anak Muda Itu"

  1. Bagong Julianto  22 August, 2012 at 01:47

    Lae ET Girsang….

    Si anak muda. adalah korban dari amburadulnya cara pimpinan pemerintahan menatalaksanai Indonesia…..

  2. anoew  21 August, 2012 at 17:05

    Kebetulan anak muda itu tidak berpikiran atau belum mempunyai pikiran seperti itu. Merendahkan diri, meninggikan mutu. Dengan mengamen dan suaranya yang pas-pasan, sudah merasa bahwa orang lain ‘harus menghargai usahanya’.

    Salam kenal, salam hangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.