[Serial Deliku] Don’t Cut My Hooouuuurrr…!! (Time is Money)

Dian Nugraheni

 

Summer! Musim Panas di Amerika, bagi sebagian banyak orang, adalah musim untuk mengendurkan diri dari banyak kegiatan. Para pekerja mendapatkan cuti untuk pergi berlibur, anak-anak sekolah mendapatkan libur sehabis kenaikan kelasnya. Untuk anak-anak sekolah, liburnya, nggak tanggung-tanggung, sekitar 3 bulan.

Begitu juga mahasiswa, Summer adalah akhir semester genap. Mereka pun akan liburan sekitar 3 bulan lamanya, dan akan memulai awal semester ganjilnya, menjelang akhir Summer nanti, atau sekitar minggu ketiga bulan Agustus.

Liburnya mahasiswa, nyaris mematikan jalannya usaha Deli, Kedai Sandwich tempatku bekerja, karena Kedai ini terletak di tengah kampus Universitas George Washington, di Washington DC, maka, bisa dibilang, Kedai ini hidup dari para mahasiswa yang setiap saat membeli makan di Kedai.

Bila Summer tiba, Kedai yang biasanya dipenuhi pelanggan yang hampir seluruhnya mahasiswa ini, akan nampak amat sangat lengang sekali. Bila pun ada beberapa gelintir orang yang mampir membeli sandwich hanyalah orang-orang kantoran di sekitar wilayah tersebut.

Di tempat-tempat usaha lain yang terkena dampak musim, mau nggak mau, maka jumlah jam karyawan akan dipotong. Seorang teman bilang, bahwa Pamannya yang kerja di sebuah restoran, yang biasanya bekerja 5 hari dalam seminggu, kini hanya dikasih 3 hari kerja. Teman lain yang bekerja di sebah Swalayan bilang, jam kerjanya tinggal 25 jam, yang semula bisa lebih dari 40 jam seminggu.

Nahh, lain lagi di Deli tempatku kerja ini, Ownernya, Bossnya, adalah Mr. John, seorang peranakan Amerika Italy yang sungguh sangat baik budi. Dia memperbolehkan karyawannya pulang gasik, atau mengambil libur panjang pulang kampung ke negeri masing-masing. Yaa, dia memperbolehkan, tapi tidak pernah memaksa karyawannya untuk memotong jam kerjanya sendiri, alias membebaskan, para karyawannya boleh masuk kerja full time, bila itu yang diinginkan oleh karyawan itu sendiri, meski Kedai dalam masa semati-matinya usaha.

Cuma masalahnya, aku lihat, para karyawannya adalah orang-orang yang bener-bener butuh uang untuk menyambung hidup sehari-hari bersama keluarga, termasuk aku. Maka para karyawan sebisa mungkin, ya masuk kerja full time, agar bisa mendapatkan upah full time pula. Menghadapi hal ini, Mr. John pun tenang-tenang saja, nggak banyak komen, tak juga mengeluh meski Kedainya sepi bagai kuburan.

Ini berarti pula, hitung punya hitung, Mr. John harus “tekor” selama musim Summer, karena aku yakin, pendapatannya selama musim Summer, tak akan mencukupi untuk membayar gaji full time para karyawannya yang berjumlah sebelas orang. Tapi juga, tentunya hal ini sudah masuk perhitungan Mr. John, karena di musim lain, Fall, Winter, sampai Spring, Kedai luar biasa ramai, yang berarti pula, hitungan pendapatannya tentu sudah melimpah ruah, dan cukup sebagian disisihkan untuk membayar karyawannya ketika musim Summer tiba.

Di Musim Summer ini, Mr. John pun nggak akan full time menduduki singgasananya di meja kasir, biasanya jam 2.30 sore dia sudah beranjak menenteng tas kulit tuanya untuk segera pulang. Maka ketika Mr. John sudah pulang, maka tampuk kekuasaan akan dipegang si Comel Joe Deli.

Joe Deli yang comel ini, herannya, lebih ketat dalam perhitungan daripada Mr. John sang Owner. Dia selalu ngomel, “sepi banget nih…, kalian cuma bercanda-canda aja tak punya kerjaan, tapi dibayar….’

Bisa juga jam tiga sore, Joe Deli akan teriak, “Edith…, go home..!!” Dia menyuruh salah satu karyawan yang bernama Edith untuk pulang.

Atau menawarkan dengan baik-baik pada yang lainnya, “May, kamu mau pulang gasik..? Nggak apa-apa kok, pulang aja…”

Yaa, dengan pulang gasik, maka upah bagi orang tersebut juga akan cekak, karena sebagai buruh, karyawan dibayar per jam, bukan per hari atau per bulan. Jadi, berapa jam dalam seminggu bekerja, hitungan itulah yang dipakai untuk menentukan bayaran karyawan per minggunya.

Tapi, teriakan Joe Deli untuk menyuruh karyawannya pulang ini, lebih sering diabaikan. Bahkan para karyawan bisa lebih galak daripada si Joe Deli, “Enak aja suruh pulang kalau lagi sepi, inget, kalau lagi rush, lagi rame banget, kamu butuh-butuh banget tenaga kami…”  Dan Joe Deli hanya akan diam, bibirnya yang sedikit ndawir akan makin keliatan ngaplo.

Joe Deli tak kurang akal, di musim Summer, biasanya Deli akan tutup jam 5 sore. Selain musim Summer, Deli akan tutup jam 7.30 malam. Maka ini berarti, mau tak mau juga akan mengurangi jam kerja karyawan. Maka dengan lantang karyawan akan teriak, “Joe, kenapa tutup gasik banget sih… Don’t cut my hour…aku butuh duit buat biaya kuliah anakku…, enak aja lu tutup warung sore begini…”

Kalau sudah begitu, Joe akan lebih ndawir lagi, dengan pelan akan mengemukakan alasan, “Aku sakit nih, nggak enak badan…please…” Joe Deli, romannya pengen dimengerti.

Bagi aku pribadi, tutup gasik atau enggak, boleh-boleh saja. Kalau pun pulang gasik, juga aku bisa melakukan banyak hal, dengan anak-anak, atau menyelesaikan hal-hal yang bersifat domestik maupun non domestik di rumah.

Tapi, aku salah satu karyawan yang nggak bisa begitu saja pulang gasik, karena jatahku kerja memang sampai tutup Kedai. Sebelum pulang, aku harus memastikan dahulu, bahwa semua roti yang tadi sudah dibuka, harus dirapihkan, ditutup kembali agar tidak kena hawa dan mengering keesokan harinya.

Juga aku harus ngecek, apakah barisan para keju, Swiss Cheese, American Cheese, Peper Jack Cheese, Cheddar Cheese, Provolone Cheese, Monster Cheese, di kotaknya masing-masing sudah tersedia. Karena bila rak Deli  ini tidak aku rapihkan, besok hari, karyawan yang datang paling awal bisa ngomel-ngomel..”Lho kok mayonesnya belum dituang, kok tomatnya belum disediakan, kok rotinya melongo semua, kok kejunya belum ada…”

He..he…

Baiklah…, aku pribadi tetap akan bilang, silakan cut my hour, silakan tutup gasik, silakan saja cekak uang gajian… Ini bukan karena aku sudah kelebihan uang…, tidak. Aku cuma buruh rendahan, dan yang namanya buruh, di mana-mana adalah ya buruh, kaum pekerja level paling bawah dengan jumlah gaji per tahun paling rendah, alias termasuk kategori low income.

Bagi aku, uang itu, penting, tapi bukanlah sesuatu yang utama. Soal rejeki, satu yang aku masih pegang, Tuhan berjanji akan memberikan “cukup” bagi hidup kita di dunia…

Janji itu akan aku sambung sendiri dengan kalimat begini, “maka jangan minta berlebih”.., karena jika kita minta berlebih, maka kita akan diminta untuk “mengembalikan” kelebihan itu, dengan banyak cara.

Cara yang Tuhan beri, kadang menyenangkan, kadang tak menyenangkan. Cara yang menyenangkan, misalnya, kita sebagai manusia, tetap diberi rasa eling oleh Tuhan, dan dengan ikhlas memberikan sedekah dari sebagian harta benda yang kita miliki, bagi kaum yang membutuhkan.

Bila kita tidak eling dan tidak ikhlas, atau tetap ingin menimbun kelebihan rejeki kita itu secara semena-mena dan serakah, maka Tuhan bisa menagihnya dengan cara yang tidak menyenangkan, misalnya kita diberi musibah, sakit, dan lain-lain, di mana kita dipaksa untuk mengeluarkan sebagian harta benda kita.

Seberapakah cukup itu..? Kembali lagi pada diri kita masing-masing, untuk menterjemahkan kata cukup tersebut…Silakan…, monggo…, mareee….he..he..he…

 

Salam Time is Money…

Virginia,

Dian Nugraheni

Sabtu, 5 Agustus 2012, jam 12.49 malam…

(Yang semakin terasa datar…, apakah ini sebuah plateau..?)

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

8 Comments to "[Serial Deliku] Don’t Cut My Hooouuuurrr…!! (Time is Money)"

  1. Bagong Julianto  23 August, 2012 at 21:31

    Trimo ing pandum…..

    Kalau nggak dikasih, ya minta saja…..
    Salam….

  2. Dewi Aichi  21 August, 2012 at 23:50

    Cukup sekian saja dan terima kasih…..

    Neh bangkrut…semua minta diskon……..

  3. Linda Cheang  21 August, 2012 at 18:43

    ya, cukup, nggak cukup, yas dicukupkan saja, tapi kalo aku mampir ke kedai delimu, beli produknya, masih dapet diskon, nggak? hehehe

  4. Lani  21 August, 2012 at 14:55

    PAM-PAM : dasar ketularan lurahe kumaaaaaaattttttt!!!!!

  5. [email protected]  21 August, 2012 at 14:48

    cukup untuk biaya hidup sehari hari
    cukup untuk beli rumah
    cukup untuk beli mobil
    cukup untuk jalan jalan
    cukup untuk bersenang senang..

    Ahh…. saya jg senang kalo bisa berke-cukup-an…..

  6. Lani  21 August, 2012 at 14:06

    Mengartikan kata CUKUP disini mmg tdk bs disama ratakan………jd spt pentulisnya monggo silahkan cukup itu sejauh mana……..

  7. J C  21 August, 2012 at 12:06

    Dian, kalau aku datang pas warungnya sepi dapat discount atau dapat extra isi gak?

  8. Dj.  21 August, 2012 at 11:36

    Nomer setunggal, mais e mangke.
    bade ngarit rumiyin.
    Suwun.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *