Kita Adalah Pemudik

Leo Sastrawijaya

 

Kita adalah para pemudik petualang wahai sahabat!

Sejak pertama kali ruh ditiupkan ke dalam raga kita, lalu bunda menjadi perantara bagi kita untuk menjejak kaki di bumi permai ini, pada saat itu juga perjalanan mudik panjang telah dimulai, mengambil terminologi Jawa maka itulah saatnya kita mulai mengayun langkah kembali kepada “Sangkanparaning Dumadi” atau perjalanan kembali kepada “Darimana Kita Berasal”, sebuah kembali kepada Maha Spot Yang Telah dengan Maha Cerdas membuat Semesta Raya ini berdenyut, dengan skenario sempurna dengan semua rasio yang presisi sekali!

Kita semua tanpa kecuali adalah dalam perjalanan pulang (In the journey to home)! Tetapi meski hanya perjalanan pulang bisa jadi perjalanan ini merupakan perjalanan sangat panjang yang penuh tantangan, penuh onak duri namun penuh juga dengan pilihan-pilihan stand-stand yang menyajikan berbagai menu kehidupan yang manis legit penuh madu. Perjalanan yang kita lalui bisa jadi merupakan kombinasi antara perjalanan di jalan licin lurus, diantara gemerlap metropolitan, namun bisa jadi kita juga harus menghadapi medan menanjak, berliku, penuh lumpur diantara gubuk-gubuk kumuh dan padang-padang gersang kecoklatan.

Kita bisa saja terlahir (rasanya tanpa diberi kuasa untuk memilih) sebagai seorang bayi putera/puteri dari seorang ibu tanpa suami, yang pemabuk dan tidak peduli kepada si anak.

Kita bisa saja terlahir sebagai anak dari seorang minoritas yang hidup di tengah-tengah masyarakat munafik yang sekterian.

Tapi kita bisa saja terlahir sebagai anak tunggal dari seorang multi milyuner berhati emas.

Pun kita bisa saja lahir sebagai seorang pangeran atau puteri seorang kaisar yang hanya dari sabdanya saja bisa membunuh jutaan orang.

Dari manapun kita lahir, apapun kondisi kelahiran kita itu hanyalah starting poin yang kita harus terima dengan lapang dada (sebab sekali lagi kita sepertinya tidak diberi kuasa untuk memilih).

Ya, hanya starting point, titik anjak bagi kita untuk mengayunkan langkah ke depan (sekali waktu kita bisa jadi dipaksa untuk berhenti atau bahkan mundur beberapa langakah), persoalan bagi DIA, tentu bukan darimana kita “Diluncurkan”, tetapi bagaimana kita selanjutnya bisa mengambil keputusan-keputusan dalam perjalanan sebagai respon atas peristiwa dan persoalan yang kita temui sepanjang perjalanan kembali itu.

Beryukur bila kita menghadapi berbagai komplikasi persoalan dalam perjalanan, bukankah dengan nalar sederhana, kita bisa memahami dan mengambil analogi dari model pendidikan? Mereka yang sekolah tinggi akan diberi ujian dengan derajat komplikasi soal ujian yang lebih tinggi?

Ketika komplikasi kehidupan dalam tingkat tertentu kita temui, DIA yakin bahwa kita layak mendapatkannya, layak mendapat reward(ganjaran) sepadan dari performa yang kita tunjukkan saat kita mampu mengurai komplikasi tersebut lalu merubahnya menjadi sepotong hidangan kehidupan paling lezat.

Anda kini sedang dalam pusaran badai yang panjang? Saya juga. Anda tidak sendiri. Bersyukur bila memang itu datang begitu saja, artinya itu hanya skenario yang harus anda jalani dengan baik.

Berbagi medan memang disiapkan untuk kita, bagusnya semua medan yang harus kita arungi dalam perjalanan penuh tualang ini, desainnya telah dibuat sangat personal.

DIA agaknya ingin selalu menyentuh setiap jiwa, tanpa kecuali. Tidak peduli bila kita merasa hanya seorang gembel sekalipun.

Perjalanan tualang untuk kembali ini memang penuh komplikasi dan seringkali memberi kita persimpangan-persimpangan rumit untuk kita pilih.

Mungkin bahkan anda memiliki pengalaman tentang betapa rumitnya menentukan siapa yang harus anda ambil sebagai pasangan hidup, saking banyaknya yang menginginkan menjadi pasangan hidup anda.

Bahkan situasi yang ‘so sweet’ seperti itupun seringkali tidak mudah bukan?

Penuh jebakan, penuh ancaman, penuh marabahaya.

Tatapi sadarkah kita bahwa DIA sudah memperhitungkan segala sesuatunya, DIA tidak mungkin lupa pada peta skenario rumit yang DIA buat sendiri.

Kita sebagai manusia diberi kuasa otonomi yang jauuuuuuuuuuuuuuh lebih besar dari ras kehidupan lain seperti binatang dan tumbuhan.

Kita diberi pilihan dan merdeka untuk memilihnya (pada dasarnya) tentu saja dengan konsekwensi-konsekwensi sesuai dengan pilihan-pilihan itu.

Lalu, apakah DIA membekali kita dengan cukup peralatan untuk mengadapi semua tantangan itu?

Tentu saja! Kita diberi alat-alat sensor kehidupan yang lebih dari memadai, panca indera.

Kita diberi alat analog luar biasa, yang darinya bahkan memiliki potensi untuk mengantar kita menyentuh ujung-ujung semesta nan jelita itu, tentu bila kita mampu mengelola dengan optimal. Alat analog itu bisa disebut sebagai otak kiri.

Kita diberi juga alat lain yang bisa menangkap dan mencerna sinyal-sinyal non kualitatif, sinyal-sinyal intuitif dan sering kita sebut sebagai otak kanan.

Kita diberi kalbu agar bisa menjadi semacam receiver yang berhubungan dengan program-program semesta yang dipancarkan dari studio-Nya, kita bisa mendown load, copy paste atau sekedar direct reading dan dikirim ke perangkat diri kita yang lain baik sadar maupun tidak.

Hati kita bisa menjadi semacam sensor validitas dan pusat kendali.Dan dalam sekujur tubuh kita telah diinstal software yang bekerja sempurna mengintegrasikan semua potensi humaniah dalam diri kita.

Nampaknya, DIA telah mengakomodasi kita untuk menjadi musafir sekali jalan yang sukses luar biasa dengan petualangan hidupnya.

Bukan melulu menjadi musafir egois yang hanya ingin mendapat jalan lancar tanpa memperdulikan sesama, tetapi musafir arif yang selalu berusaha berbagi jalan dengan sesama pengguna jalan, berbagi bahan bakar dan berbagi pemandangan yang bisa dinikmati.

Musafir yang juga memperhitungkan kenyamanan pengguna jalan lain di belakan kita yang juga harus menempuh perjalanan mudik panjang ini. Musafir-musafir yang ketika melakukan perjalanan petualangan, jiwanya berpendar, nuraninya mendewasa.

Musafir yang ketika dia menyentuh garis finish kondisinya adalah Sempurna Sebagai Manusia (As The Human in Full).

Apakah anda setuju jika saya berkesimpulan bahwa ibadah puasa yang kini anda jalankan adalah sebuah mini road map (peta jalan kecil) yang DIA program, agar sebagai manusia kita senantiasa membangun derajat kemanusiaan kita yang rendah hati, memiliki kesetiakawanan sosial yang tinggi, ikhlas menjalani hidup, dan siap sedia selalu berbagi kepada sesama yang membutuhkan.

Selamat menikmati sebuah petualangan kecil Mudik Lebaran, sebuah sesi dari Mudik Panjang kita semua. Semoga kelak di garis finish kita semua dinilai sebagai Yang Telah Kembali Dengan Sempurna Sebagai Manusia.

Siapa tahu kita akan diberi kuasa untuk menikmati petualangan baru yang lebih menarik sesudah itu. Sebuah petualangan abadi menjelajahi Firdaus.

 

Salam

 

26 Comments to "Kita Adalah Pemudik"

  1. Dewi Aichi  26 August, 2012 at 21:05

    Itsmi, Jepang itu meski termasuk papan atas dalam teknologi, tetapi Jepang tidak berubah dari segi struktur sosialnya, Jepang masih berbentuk kerajaan feodal.

    Dalah keseharian, dalam hubungan sosialpun, masih menunjukkan tingkat/derajat melalui penggunaan bahasa, ada tingkatan tingkatan tertentu seperti bahasa ngoko, kromo, kromo inggil.

    Contoh sederhana pemakaian kata “saya” dalam bahasa Jepang:

    Ore, atashi: dipakai oleh umum untuk yang setara dari umur dan tingkat sosial. Lebih mudahnya, bahasa ini adalah kasual.

    Watashi: dipakai paling banyak oleh siapapun di Jepang, baik pria maupun wanita, ini bahasa tingkat menengah, atau kromo.

    Watakushi: setingkat lebih halus dibanding watashi, ini biasanya dipakai di tempat kerja, antara atasan dan bawahan, atau untuk client.

    Boku: untuk laki-laki, dipakai oleh yang setara, baik umur maupun tingkat sosial.

    Dan juga untuk kalimat yang lain, ada tingkatan tingkatannya, seperti bentuk masu dan tte kudasai.

    Penggunaan kata “san” setelah nama orang.

  2. Anastasia Yuliantari  26 August, 2012 at 18:31

    Wah telat bacanya, telat baca komennya juga.

  3. Itsmi  26 August, 2012 at 15:11

    Nuchan,

    Apa yang kamu mau sampaikan pada saya, saya mengerti. Tetapi kalau saya setujuh itu lain lagi. saya akan menjawab sesuai perspektif di Baltyra.

    Bilamana seseorang mempublikasikan tulisannya, berarti juga dia sudah tahu bahwa ada orang lain yang akan membacanya. Dan tentunya, dia juga siap akan menerimah kritik atau komentar lainnya. Karena pembaca mempunyai latar belakang yang berlainan seperti budaya tapi juga pendidikan, dll dan Baltyra memberikan ruang untuk diskusi.

    Juga kalau saya tulis mengenai ateis dan orang tidak senang, jangan baca kan masih banyak topik topik lain dan bilamana ada tulisan dan saya berkomentar atau mengkritik selalu ada alasannya dan saya selalu siap membicarakannya dan tidak akan pernah lari dari diskusi.

    Mengenai paksaan untuk berpikir bahwa itu benar atau salah, saya kira itu sangat subjektif. Jadi saya tanya kamu, paksaannya itu bagaimana ? apakah dengan argumentasi orang tersebut merasa terpojok atau bagaimana ? karena dalam kamus saya, tidak ada yang bisa memaksa orang untuk berpikir bahwa itu benar atau salah. apalagi ada ruang diskusi. Jadi bilamana dalam diskusi orang merasa di paksa, itu lebih menceritakan diri orang itu. Saya perhatikan kalau saya berkomentar dan mengkritik tulisan, langsung di lihat sebagai musuh dan lari dari diskusi. Kata lain orang hanya mau di puji bahwa dia hebat, tidak bisa menerimah kritik dan jelas merasa dirinya benar. Contohnya Leo karena ini lapaknya, dia langsung potong berdiskusi dan minta di redaksi supaya komentar saya di hapus. Dengan pembelaannya saya provokatif dan sombong. Tentu banyak Leo di Baltyra. Apakah ini cara orang dewasa menanganni kritik ?

    Cerita mengenai runa tungu itu untuk saya pemuliaan ketidaktahuan . pasti filsafat ini dari klas atas. Karena bilamana orang yang kurang tau menjadi tau, untuk penguasa atau klas yang di atas itu mereka terancam…. Jadi biarlah si runa tungu tetap runa tungu tetapi dia lupa tanya bagaimana kalau banyak runa tungu.

    Nuchan, bukannya pengetahuan harus di bagi bagi ? tentu pengetahuan yang ada dasarnya.
    Tapi inipun tidak bisa di paksakan. Kamu pakai kata begitu mungkin sudah terbiasa kali di Indonesia.

    Saya kira bukan hanya orang Barat yang berpikir bahwa mereka tahu apa yang paling baik dan yang paling di inginkan oleh orang orang yang hidup terkebelakang. Indonesia juga sama, contohnya di Irian atau desa desa terpencil. Tapi sifat sifat begini, kita juga bisa ketemu pada orang tua. Jadi kita bisa bertanya, apakah ini karena merasa lebih tahu atau bagaimana ?

    Kalau mengenai feodal, Belanda dulu juga feodaal dan banyak negara negara yang berdasarkan feodalisme. Dalam sejarah kita sudah tahu bagaimana masa feodal ini.

    Jadi komentar kamu semua pada saya, saya kira tidak tepat untuk saya hahahaha

    Kalau mengenai orang Jawa di Baltyra, tentu bukan semuanya begitu tapi kebanyakan, merasa dirinya superior dan tetap memakai bahasa Jawa, sedangkan Baltyra untuk semua orang. apakah kamu pernah dengar orang daerah lain memakai bahasa daerahnya ? tidak kan…..sedangkan mereka mengajarkan saya mengenai sopan santun, tetapi bukan untuk dirinya sendiri, sedangkan saya tidak pernah pakai bahasa Belanda atau bahasa daerah dan selalu mencoba pakai bahasa indonesia biar tidak sempurna, tetapi saya yang tidak sopan ? apakah ini penghinaan kalau saya merasa geli membaca komentar2 mereka dalam bahasa Jawa ?

    Nuchan, mengenai DJ, saya mengerti kamu mencobah meredahkan TETAPI seperti kamu juga tahu, bilamana mau menilai pemikiran orang itu waktu konflik. Karena disitulah keluar aslinya…

    Dengan penyakit sampar, Dj dan kawan kawannya sudah melihatkan asli mereka…,

    Kalau Dj berdoa untuk saya, itu plasebo efek untuk dirinya sendiri

  4. Itsmi  26 August, 2012 at 14:16

    Dewi, mengenai Jepang pengetahuan saya terlalu kurang. Yang saya tahu sekitar tahun 1900 Jepang di modernisasi dan ke Barat Baratan dan ini dasarnya mereka membangun industri dan kekuatan militar

    Tapi saya mau tanya, apakah di Jepang, ada bahasa dimana hiraki diperkuat dengan bahasa seperti di jawa. Ngoko, kromo, kromo inggil

    Apakah di dalam bahasa Jepang untuk berkomunikasi ada BAPAKisme?

  5. Nuchan  25 August, 2012 at 23:10

    Mas Leo, numpang diskusi di lapakmu ya..hehehe

    Buat Itsmi yg baik,

    Saya senang kamu sudah membalas komentar saya. Dan juga menjelaskan apa yg kamu pikirkan. Mari kita teruskan berdiskusi. Saya pun ingin memberikan sudut pandang saya.

    Kenapa sering terjadi konflik di dunia ini? Kalau hanya sekedar konflik dengan kata-kata, mungkin masih biasa ya. Tapi ada konflik yg sampai menimbulkan huru-hara, saling bunuh, peperangan dll.

    Kenapa?

    Seringkali sumber pertengkaran atau konflik itu, karena kita manusia ini,memiliki kecenderungan ingin melihat apa yg ingin kita lihat dan hanya mendengar apa yg ingin kita dengar. Padahal, apa yg saya pikirkan apa yg saya katakan bukanlah fakta dan kebenaran mutlak. Benar buat saya belum tentu benar buat orang lain. Masing-masing orang punya nilai-nilai kebenarannya sendiri. Kalau sampai saya mengatakan dengan cara memaksa bahwa yg ini benar yg itu salah maka ini akan memicu konflik dan masalah.

    Sedikit bergeser topiknya, saya pengen menuliskan sebuah cerita :
    Ada artikel tentang seorang tuna rungu yg orang tuanya berpikir bahwa jalan terbaik buat anaknya adalah menjalani operasi guna menyembuhkan pendengarannya. Semua orang beranggapan bahwa pendengaran adalah hal yg baik. Tapi setelah “normal” anak itu bilang begini : Kenapa kalian lakukan ini padaku? Semua bunyi yg tak kuketahui maknanya ini membuatku sangat menderita…Mengapa kalian tidak menanyaiku terlebih dahulu?

    Sebelum saya baca artikel ini pun sama saja, saya berasumsi bahwa semua orang pasti ingin mendengar. Namun kenyataannya tidak seperti itu, justru mendengar membuat anak itu mengalami derita yg hebat. Ini akibat dari kita berasumsi bahwa semua orang pasti ingin mendengar, sehingga kita tak pernah bertanya dulu, apakah itu baik atau tidak buat dia. Karena kita sudah berasumsi sendiri apa yg terbaik.

    Sama saja seperti orang Barat yg selalu berpikir bahwa mereka tahu apa yg paling baik dan yg paling diinginkan oleh orang-orang yg hidup di negara berkembang. Mereka mengirimkan bantuan, mereka mengirimkan barang-barang yg sebenarnya sejak awal bukan merupakan kebutuhan mendasar bagi orang yg hidup di negara berkembang. Orang Barat berasumsi bahwa semua orang membutuhkan video, televisi, kulkas,rice cooker dan segala hal yg cenderung kita anggap wajar untuk dimiliki dan diperlukan oleh setiap orang. Tapi akibatnya apa? Justru kita sudah merusak begitu banyak tatanan masyarakat dengan cara tidak menanyakan dulu apa yg bener-bener mereka butuhkan, tapi kita memberi mereka sesuatu apa yg kita asumsikan bener-bener mereka butuhkan. Kita berasumsi menurut pikiran kita tanpa bertanya dulu.

    Terus apa hubungannya cerita saya di atas tadi dengan komentar Itsmi?

    Itsmi dibesarkan dan hidup di Belanda dengan latar belakang kehidupan yg semua orang di sana dianggap setara, sejajar dan memiliki hak yg sama. Bebas. Bebas menghisap ganja, laki-laki dan perempuan yg bukan sedarah bebas hidup serumah dan ML tanpa menikah secara resmi, bebas minum alcohol, bebas menjual sex dengan tubuhnya. Bebas tidak mengakui adanya Tuhan. Bebas jadi orang atheist. Pokoknya bebas.

    Saya yg dibesarkan dan hidup di Indonesia dengan latar belakang kehidupan yg sangat berbeda. Sangat beragam budaya dan sukunya. Setiap suku punya aturan dan norma-norma yg berbeda-beda. Di Indonesia dilarang menghisap ganja, dilarang tinggal serumah bagi yg bukan sedarah dalam pergertian hidup seperti suami-istri tanpa surat nikah, dilarang minum alcohol untuk agama tertentu, dilarang jadi pelacur secara hukum, dilarang jadi atheist. Jadi banyak larangannya. Kenapa? Karena kami mengaku adanya Tuhan. Nilai-nilai agama melarang kami untuk melakukan itu.

    Lalu pertanyaan yg muncul adalah,

    1. Mana yg lebih baik? Mana yg terbaik?
    Pasti jawabannya akan berbeda-beda untuk setiap orang. Tergantung sudut pandang dan latar belakang kehidupan mereka masing-masing.

    Sebagian orang beragama yg ekstrim pasti berkomentar begini :
    Itu orang atheist pasti masuk neraka. Sesat. Hidup seperti binatang. Tak beradab. Tak ada aturan. Kalau hanya komentar pakai kata-kata saja sih, masih mending ya, paling-paling terjadi konflik dan saling menyerang dengan kata-kata doang. Yg sangat fatal adalah kalau sampai orang beragama ekstrim ini tidak hanya sekedar konflik kata-kata tapi meningkat menjadi memaksakan agamanya, kehendaknya, ajarannya, cara pikirnya sesuai dengan asumsi dia, sesuai dengan nilai-nilai kebenaran versi dia. Maka yg terjadi apa, huru-hara,pembunuhan peperangan dll.

    Lalu sebagian orang atheist pun mungkin sama saja komentar dan reaksinya.
    Itu orang beragama, bener-bener menyedihkan. Menyembah Tuhan yg mahluk fiktif. Apa-apa Tuhan. Apa-apa Tuhan. Semuanya mengandalkan Tuhan. Mau makan doa dulu. Mau tidur doa dulu. Mau naik mobil doa dulu. Mau naik motor doa dulu. Semua atribut agama dipakai. Tapi apa hasilnya? apa jadinya? Miskin juga. Tabrakan juga. Mati juga. Terus mana Tuhanmu? Mana Tuhanmu? Kalau memang bener dia Tuhan, punya kekuasaan, kenapa kamu miskin? Kenapa banyak yg kelaparan. Kenapa kamu mati juga. Kenapa? Di mana Tuhanmu?

    Jadi semua orang akan menjawab sesuai dengan sudut pandang dan latar belakangnya masing-masing. Semua merasa benar. Semua merasa bahwa meraka yg benar. Mereka yg terbaik.

    Konflik terjadi karena kita saling menuduh dan menuding siapa yg salah dan siapa yg bener. Kita berasumsi. Bukan mencoba memahami, bukan mencoba mendengar. Bukan mencoba menyimak dengan tenang. Bukan bertanya apa yg terbaik buat mereka.

    2. Terus apa enaknya hidup serba dilarang ini dilarang itu. Nga boleh ini nga boleh itu. Nga bebas. Lihat di Belanda semua bebas. Semua sejajar. Semuanya nyaman.

    Ujung-ujungnya sama kayak penjelasan dan contoh di atas tadi. Ukuran nyaman dan tidak nyaman, ukuran baik dan tibak baik itu berbeda-beda untuk tiap orang. Tergantung.

    Apa yg baik buat kita belum tentu baik buat orang lain. Kenapa kita tak mencoba memahami sudut pandang masing-masing. Tidak perlu saling melecehkan. Tidak perlu sampai menghina. Untuk apa menyakiti orang lain? Merasa nga sich kalau kita melukai hati orang lain, kita pun jadi nga nyaman. Kecuali mati rasa ya.

    Kadang-kadang kalau baca artikel itu juga, jangan langsung menghakimi pola pikir penulisnya. Lebih baik disimak dulu dengan kepala dingin. Sulit menilai seseorang dengan benar kalau hanya melihat dari tulisannya saja.

    Terus jadi penulis juga serba salah ya. Kalau menulis tentang cinta melulu, katanya cengeng dan sok romantis. Kalau menulis soal agama melulu, katanya sok relijius. Kalau menulis tentang kehidupan pribadi secara gamblang, katanya pamer, belagu, sok iye,baru cuma harta segitu doang udah dipamerkan. Ada juga menulis soal pencitraan diri melulu, dituding sok tebar pesona pula. Ada juga yg menulis keluhan melulu, kritik melulu, semua yg jelek-jelek melulu, ini pun dituding salah. Semuanya jadi salah, karena yg membacanya sendiri yg berasumsi. Mungkin saja asumsinya itu benar, mungkin juga salah kan..Tergantung. Terus kenapa kita bikin rumit? Gitu aja kog repot.

    Jadi maksudnya gue menulis begini panjang banget, bukan karena mau memihak siapa yg salah, siapa yg benar. Tapi karena kita semua memang berbeda-beda latar belakangnya, sebaiknya jangan saling memaksa ukuran kebenaran kita.

    Untuk komentar Om Dj yg bilang Itsmi seperti penyakit sampar. Menurut saya tidak tepat. Penyakit sampar itu khan sejenis wabah penyakit yg sangat mematikan. Penyakit sampar pernah menjadi epidemi di tahun 1347 – 1351 di Eropa dan menewaskan kurang lebih 75 juta jiwa penduduk dunia, termasuk sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa dan peristiwa dikenal dengan nama “The Black Death”.

    Jika terkena penyakit ini, dapat dipastikan pasien akan meninggal dalam waktu dekat, bahkan saking berbahayanya penyakit ini, para penderita penyakit sampar dijadikan “peluru” untuk dilemparkan ke arah musuh dengan menggunakan ketapel (terjadi di Asia). Dan ini tindakan yang tidak manusiawi…

    Jadi saya pikir agak berlebihan juga sich kalau Itsmi sampai dibilang seperti penyakit sampar.

    Btw mungkin komentar itu muncul dari beliau karena Om Dj itu khan manusia juga bukan malaikat. Jadi bisa juga terbakar emosinya dengan komentar Itsmi yg menurut beliau sudah menyinggung dan melecehkan. Jadi mungkin beliau menulis itu saat lagi gemes dan marah. Marah sesaat bukan berarti beliau kehilangan cinta kasih.

    Tapi percaya sama saya, Om Dj itu marah tapi sesaat saja. Habis itu saya yakin kalau dia pasti berdoa untuk Itsmi. Walaupun kamu tidak minta didoakan, tetap saja pasti didoakan sama beliau. Ok kah? ( walaupun kamu nga suka didoakan sama beliau, tapi kamu khan tidak bisa melarang beliau mendoakan kamu..Jadi terima ajalah.)

    Kalau Itsmi dibilang provokator…Bisa ya bisa tidak. Dan provokator itu artinya ada dua lo…bisa positif bisa negatif. Mungkin kamu positif kali ya…Tergantung.

    Kalau sombong, tergantung kali ya? Sombong? Biasa aja kali. Ada yg lebih sombong lagi dari kamu hehehe..

    Okay Itsmi, panjang banget khan komentar dari aku hehehe..
    Bacanya jangan buru-buru ya. Disimak baik-baik. Kalau masih kurang paham kamu boleh email ke aku. Atau tulis komen lagi. Terserah yg mana yg nyaman buat kamu.

    Oh iya untuk cara kamu berdiskusi sekarang jauh lebih baik dari yg dulu. Bahasa Indonesia kamu juga semakin membaik yah. Tapi ada beberapa kata kerja yg memakai imbuhan yg masih salah. Tapi tidak ada-apa. Untuk orang asing(Belanda) itu sudah sangat bagus. Saya senang kamu bahasa Indonesianya jadi baik.

    Salam tauco,
    Nuchan

  6. Dewi Aichi  25 August, 2012 at 20:23

    Itsmi, feodalisme di Jepang saya kira masih kuat juga lho…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.