Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Schuimpjes, si Kue Busa

Wednesday, 22 August 2012

Viewed 2054 times, 1 times today | 16 Comments |

Nunuk Pulandari

 

Teman-teman, meneruskan sedikit tentang perkuehan. Dalam pembuatan banyak jenis kue terutama kue kering seringkali kita hanya memerlukan kuning telurnya saja. Seperti dalam pembuatan Kaasstengels yang lalu, kita hanya memerlukan 4 kuning telur plus satu ekstra kuning telur untuk mengolesinya. Total pada akhir pembuatan kue masih tersisakan 5 putih telur. Lima putih telur yang masih segar. Itu kalau kita membuat kue Kaasstengels. Sedang untuk membuat Spekkoek, Kue Lapis Legit, kita memerlukan plus minus 30 kuning telur dan HANYA membutuhkan 2 atau 3 putih telur saja. Lalu sering timbul pertanyaan : ”Mau diapakan sisa putih telur yang ada ya”. Dibuang khan sayang. Dibuat telur goreng ya nggak terlalu enak. Jadi…Membuat kue Schuimpjes adalah salah satu jalan keluar yang mudah dan murah meriah.

Dalam hal tersebut di atas, memang ibu almarhumah sering memanfaatkan sisa putih telur yang ada menjadi “Kue Schuimpjes”. Jenis kue yang kalau digigit menimbulkan bunyi halus “kreeeessss” dan setelah itu tanpa perlu digigit akan hancur luluh dalam mulut kita. Juga di kemudian hari saya mengikuti kebiasaan untuk selalu memanfaatkan putih telur yang ada. Membuat kue Schuimpjes.

Dulu setelah ibu almarhumah selesai membuat Kaasstengels, segera semua peralatan dicuci dengan sabun. Kemudian segera direbus atau paling tidak disiram dengan air panas. Kadang kalau saya bertanya mengapa harus disiram dengan air panas, jawaban yang ada hanya: ”om te ontvetten”. Saat itu saya hanya membatin: “ Ibu itu ngendhiko opo to”. .. Itu dulu, dulu sekali. Lebih dari lima puluhan tahun yang lalu. Saat itu untuk bertanya lagi apa artinya, rasanya kok sungkan ya.. Lebih lagi memang kebiasaan ibu dan bapak di rumah, kalau sedang berkomunikasi sering sekali menggunakan bahasa Belanda. Juga  kalau ibu sedang berbicara dengan bekas teman-teman sekolahnya atau dengan teman-teman kelompok arisannya. Satu hal yang tidak pernah diprotes oleh siapapun mengingat pendidikan dan pekerjaan ibu di Van Deventer school, Solo dan ayah dari Technische school di jaman Belanda.

Di kemudian hari karena pendidikan dan perkembangan bahasa yang kami miliki, akhirnya bahasa Belanda juga tidak terlalu asing lagi untuk telinga kami. Dan terutama kalimat dan istilah yang sering kami dengar sehari-hari. Juga istilah dan nama-nama kue seperti: Kaasstengels, Spritsen, Janhagels, Zandkoekjes dll, dll. Sejak itu pula kami jadi tahu bahwa kata “ontvetten” artinya adalah untuk menghilangkan lemak..

Ya teman-teman, “ontvetten” dan mengeringkan peralatan yang akan dipakai untuk membuat kue Schuimpjes adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi agar kuenya tidak AMBLES alias gagal total. Vet dan air atau ketidak bersihan peralatan yang ada menjamin gagal totalnya pembuatan kue Schuimpjes. Juga sama halnya untuk telur yang sudah agak lama kita simpan di rumah atau di koelkast.

Setelah semua peralatan kita siapkan, kita mulai membuat kue Schuimpjes.

Lima putih telur sisa Kaasstengels kita kocok. Tahap pertama jangan berhenti mengocok  dengan kecepatan yang tinggi, sebelum plus minus selama 10 menit. Setelah 10 menit Telur putih dalam baskom sudah bisa kita jungkirkan dan tidak tumpah. Warna telur kocokkan sudah berubah menjadi putih dengan massa putih telur yang masih terlihat agak kasar (lihat foto 1) .

Foto 1. Massa putih telur yang terbentuk 10 menit dari  awal dikocok

Dalam massa putih telur yang keputihan ini sambil terus dikocok, kita masukkan vanille yang ada. Dua menit kemudian, kita boleh berhenti sebentar untuk menyalakan oven. Sekedar untuk memanaskan oven kita stel panas hanya dengan ketinggian 100 derajat, dengan waktu yang agak lama.

Foto 2. Structuur massa putih telur yang menjadi lebih halus dan lebih putih

Setelah oven kita panaskan, pengocokan massa telur putih kita lanjutkan. Dalam tahapan ini  (lihat foto 2) kita masukkan sesendok demi sesendok (saya hanya menggunakan 3 sendok makan gula halus) “ Witte Basterd suiker” atau Gula Putih –semi halus.

Dalam hal Gula Putih semi halus ini tidak sama dengan gula tepung seperti yang kita kenal di Indonesia.  Dalam gula “witte bastaard” masih terlihat “bentuk butiran” halusnya.

Setelah Gula Putih semi halus ini kita masukkan, massa adonan yang ada masih kita kocok terus sehingga terbentuk seperti  massa salju yang halus (lihat foto 3) di bawah ini.

Foto 3. Massa adonan yang halus dan memutih bagaikan salju

Kalau kita perhatikan setelah pencampuran dengan Gula putih semi halus, massa adonan terlihat jauh lebih putih dan agak kental.

Teman-teman, sesungguhnya setelah tahapan ini massa adonan kue Schuimpjes sudah dapat dikatakan selesai.  Dan siap cetak dan dipanggang dalam oven. Tetapi untuk saya, biasanya setelah massa adonan di foto 3 selesai, saya masih terus mengocoknya sambil memasukkan 1 (satu) sendok teh bubuk Kopi Instant atau bubuk Cappuccino (lihat foto 4) seperti yang terlihat berikut ini.

Foto 4. Massa adonan yang sudah ditambah dengan bubuk kopi instant atau cappuccino

Penambahan ini saya lakukan untuk mengurangi bau telur yang ada. Untuk saya, meskipun 1 (satu) bungkus vanilla sudah ditambahkan, bau telur yang agak keamis-amisan kadang masih tetap tercium..Duuuhhh

Teman-teman dalam hal cium mencium ini Konco Ngajeng sering mengatakan:”Je hebt wel kleine  neus maar deze kan wel erg goed ruiken.. Het is anders dan de mijne”. Yang kalau diterjemahkan menjadi:”Kamu memang punya hidung kecil (tidak terlalu pesek sih, ha, ha, ha-) tetapi dia dapat mencium dengan nya.  Lain sekali dengan hidung saya  (maksudnya yang besar tapi tidak tajam penciumannya)”.

Setelah penambahan bubuk kopi instant atau cappuccino massa adonan menjadi agak berubah warnanya. Kadang masih terlihat di sana-sini , butiran berwarna kehitaman (karena kopi instant)  atau kecoklatan (karena bubuk Cappiccino) . It’s OK. Biarkan saja. Pada akhirnya akan hilang dan membaur dengan massa adonan (lihat foto 4) di atas. Tidak perlu diambil pusing karena butiran ini akan membaur dengan massa adonan selama  proses pemanggangan berlangsung.

Foto 5. Adonan yang sudah kita sendoki di atas kertas kue

Teman-teman setelah massa adonan dalam foto 4 selesai, kita ambil dua sendok teh yang tidak mengandung lemak dan kering. Bila sendoknya tidak bersih, massa adonan yang kita sendoki akan menjadi kempis, dan seolah meleleh secara perlahan… Mudah-mudahan hal ini tidak terjadi.

Dengan kedua sendok teh ini kita cetak massa adonan sedikit demi sedikit di atas loyang oven yang sebelumnya sudah dilapisi dengan kertas kue.  Untuk kue Schuimpjes dalam foto 5, biasanya  dua sendok teh  dari massa adonan yang ada sudah cukup. Bentuk dan ukuran kue Schuimpjes bisa kita atur sendiri sesuai dengan keinginan. Pada akhir pembakaran massa adonan ini, cetakan yang kita bentuk pada foto 5, tidak berubah, hanya warna kue Schuimpjes akan berubah menjadi agak kecoklatan (cappuccino) atau agak kehitaman (kopi)  (lihat foto 6) berikut.

Foto 6. Hasil pemanggangan kue Schuimpjes

Teman-teman sebelum loyang kita masukkan dalam oven, sebaiknya suhu kepanasan oven kita naikkan sedikit menjadi 140- 150. Dan waktu pemanggangan bisa kita stel menjadi 60 menit. Rasanya perlu saya tuliskan bahwa sebaiknya ketika pemanggangan kue, sebaiknya oven tidak dibuka dulu sebelum 45 menit berlalu. Hal ini untuk menghindari hilangnya panas yang ada. Pembakaran kue Schuimpjes sebetulnya hanya diperlukan untuk mengeringkan massa adonan yang ada jadi tidak perlu terlalu tinggi panasnya. Kalau setelah 45- 60 menit masih terlihat massa adonan yang “mengkilat”(seperti berminyak dan warna menjadi coklat atau hitam kebasah-basahan) belum kering, sebaiknya kita biarkan dan tambahkan waktu pemanggangannya. Kalau semua sudah terlihat kering, walaupun di bagian bawahnya masih lengket, loyang sudah boleh dikeluarkan. Kita biarkan loyang menjadi dingin dengan sendirinya  atau agar lebih cepat dingin, kertas kue (dengan kue di atasnya yang masih menempel) kita pindahkan ke tempat lain yang tidak panas. Setelah dingin, kita bisa angkat kue Schuimpjes itu satu demi satu dari kertas kue yang ada..

Selesailah proses pembuatan kue Schuimpjes dan silahkan menikmatinya. Hanya butuh waktu sebentar untuk mengunyah atau mengulumnya karena  begitu halus dan rasa enaknya si Schuimpjes untuk mulut kita…Eet ze  en selamat mempraktekkannya. Nu2k

 

Share This Post

Posted by Wednesday, 22 August 2012 on 11:15.

Categories: Recipe. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

16 Responses to “Schuimpjes, si Kue Busa”

Pages: [2] 1 »

  1. 16
    Swan Liong Be Says:

    Bener, enak schuimpjes ini, aku doyan banget, dijerman namanya “Baiser” bhs.perancis jadi ucapannya seperti beesee or something like that.!

  2. 15
    HennieTriana Oberst Says:

    Mbak Nunuk, saya hampir tiap tahun bikin kue ini. Seringnya melempem hehehe..
    Mau dipraktekin ah resep dan cara bikinnya, biar kelihatan bagus seperti di foto ini.
    Dicampur cappuccino pasti enak ya.
    Terima kasih resepnya mbak Nunuk.
    Salam hangat dari tanah air.

  3. 14
    Bagong Julianto Says:

    Enak ini: putihan endhog, vanilla, gula lembut, capuccino, kopi….

    mBak nu2k, pengin langsung ngremus saja….

  4. 13
    Lani Says:

    11 AY : yo, telur putih dikocok kmd perkedel dibalur kmd baru digoreng, selain itu kentangnya digoreng digerus jgn direbus………jd ora mlenyek

  5. 12
    EA.Inakawa Says:

    Bu Nunuk : saya jd terkenang masa bocah,kalau ibu saya masak kue pasti saya tongkrongi,paling suka mengemil remah remah pecahan kue,ingat suasana itu kadang membuat saya tidak sadar meneteskan air mata ingat ibu. Dulu kue ini disebut juga kue salju kering yaaa ( kalau tidak salah ) salam sejuk

  6. 11
    Anastasia Yuliantari Says:

    Kelihatannya manis sekali, ya? Blom pernah merasakan, sih. Kelihatannya layak coba….hehehe.

    Yu Lani, komen no 7. Ooooohhh gitu, to caranya agar perkedel engga ambrol? Dilapisi putih telur to? pantesan selama ini perkedel buatanku selalu agak ambrol, kecuali kalo buat perkedel tahu baru bisa aman…hehehe. Nuwun, yo tipsnya.

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)