Indonesian Driving Attitude

Josh Chen – Global Citizen

 

Berita di halaman utama Kompas hari ini, 22 Agustus 2012 berbunyi: “Korban Tewas Sudah 574 Orang” dan sebelahnya berbunyi: “Sepeda Motor Mendominasi Kecelakaan Masa Lebaran”. Masih ditambah lagi mengutip dari detik.com: Direktur Corporate Affair PT Adaro Energy Tbk, Andre J Mamuaya, tewas dalam kecelakaan saat mengendarai motor Ducatinya.” Dilengkapi beberapa link berita terkait:

http://news.detik.com/read/2012/08/21/213034/1995989/10/kecelakaan-direktur-adaro-polisi-kenapa-ducati-salip-dari-kiri?nd771108bcj

http://news.detik.com/read/2012/08/21/214748/1995995/10/polisi-direktur-adaro-gunakan-helm-mahal-administrasi-lengkap?nd771108bcj

Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan rasa empati kepada mendiang yang tidak saya kenal sama sekali dan keluarga yang ditinggalkan, silakan diklik dua link berita di atas dan perhatikan kondisi brompit mahal bermerek Ducati yang bisa dikatakan ambyar bagian depannya dan menyimak berita-berita terkait, kita akan sampai pada satu kesimpulan bahwa mendianglah yang menabrak mobil Kijang Innova dengan kecepatan tinggi. Mobil yang akan berbelok ke kiri, sudah memberikan lampu sein tanda berbelok disambar dari arah kiri dengan kecepatan tinggi (asumsi – melihat kondisi brompitnya).

Tingkat keamanan brompit sekelas Ducati, perangkat rem dan pengendalian hampir bisa dipastikan adalah terbaik di kelasnya. Belum lagi disebutkan bahwa helm pelindung kepala korban juga kelas premium seharga Rp. 3 juta atau mungkin lebih. Dalam kondisi pengendaraan normal dan (sekali lagi asumsi) driving attitude yang benar, tidak akan mungkin tewas demikian.

Statistik yang dikumpulkan oleh Litbang Kompas menyebutkan bahwa kecelakaan masa Lebaran:

Tahun 2010: total 4.532 kecelakaan; 3.080 brompit atau 68%

Tahun 2011: total 4.133 kecelakaan; 2.930 brompit atau 70.9%

Tahun 2012: total 5.130 kecelakaan; 3.537 brompit atau 68.9%

Belum termasuk persentase keseluruhan kecelakaan nasional dalam masing-masing tahun, yang juga didominasi oleh brompit.

Berita masih di Kompas beberapa hari lalu menyebutkan arus mudik ke Jawa Tengah semrawut, jarak 6 km ditempuh dalam waktu 3 jam. Di satu titik di Pantura (Pantai Utara) pulau Jawa terkunci arus lalulintasnya karena yang dari arah barat para pengendara brompit menyerobot jalur yang seharusnya untuk yang dari arah timur, bertemu di satu titik dan deadlock berjam-jam. Lagi-lagi ulah pengendara brompit.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa brompit adalah moda transportasi yang paling ‘murah’ (walaupun tidak murah), dan praktis, walaupun jauh dari nyaman namun jauh lebih nyaman daripada moda transportasi acakadut negeri ini dan yang jelas lebih terjangkau biaya operasionalnya hanya bensin per liter seharga Rp. 4.500 dibanding dengan harga tiket moda transportasi lainnya. Namun di saat yang sama kelakuan hampir semua pengendara brompit bisa dibilang tidak-beradab sama sekali. Dua tahun lalu saya pernah menulis artikel: http://baltyra.com/2010/11/24/indonesian-art-of-driving/ mengupas tuntas kelakuan, sepak terjang dan model para pengendara brompit (juga pengendara mobil) yang jauh dari yang namanya civilization.

Saya ulang sekali lagi ilustrasi yang sangat cocok menggambarkan driving attitude para pengendara (brompit dan mobil) di Indonesia.

Untuk motor:

  • Jangan pernah takut dengan mobil, truk, container, tronton, dsb. Jika terjadi tabrakan, srempetan, senggolan, serudukan, apapun itu, sepeda motor tak pernah salah (biar mati sekalipun).
  • Jika melihat ada mobil menyeberang atau memberikan lampu sein tanda berbelok, gas’lah motor lebih cepat untuk sebisa mungkin menghalangi, memotong atau melaju di depannya sebelum berbelok.
  • (Khusus untuk Medan). Traffic light hanyalah asesoris. Hijau jalan terus, kuning putar gas, merah tengok kanan kiri. Tidak ada istilah stop, hanya buang-buang waktu.
  • Kolong fly-over, kolong jalan tol, kolong jembatan penyeberangan adalah tempat berteduh jika hujan, peduli amat dengan pengendara lain, sudah mending disisakan satu jalur.
  • Trotoar adalah jalur tambahan dan bukan untuk pejalan kaki. Kalau ada pejalan kaki, klakson kencang-kencang, jika tak mau minggir, makilah, pelototilah bila perlu senggollah.

 

Untuk mobil (dan truk, bus, angkot):

  • Jalur di jalan tol tak ada artinya. Kalau ingin melaju di jalur paling kanan dengan kecepatan 30-40 km/jam sah-sah saja.
  • Kalau ada mobil di belakang menglakson atau memberikan tanda lampu ingin mendahului, peduli amat, itu urusan dia mencari jalur yang kosong untuk mendahului.
  • Jika terus-terusan menglakson, makilah si pengendara.
  • Bus, truk boleh melaju di jalur mana saja di jalan tol. Kendaraan lebih kecil carilah sendiri jalurmu.
  • Bahu jalan adalah jalur tambahan, bukan jalur darurat.
  • Kecepatan tanggung, pelan tidak, kencang tidak, kiri tidak, kanan tidak, suka-suka gue lah, mobil juga mobilku.
  • Setiap ruas jalan adalah perhentian angkot untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
  • Ngetem penumpang sah-sah saja mau 2, 3, 4 lapis ke tengah jalan, yang penting masih tersisa satu jalur atau ¾ jalur untuk pengendara lain. Itu semua demi mengejar setoran dan sesuap nasi.

 

Setelah sedikit memahami kredo pengendara di atas, marilah pelajari lebih lanjut ilmu-ilmu di bawah ini:

Kondisi A: motor ingin berbelok ke kiri atau ke kanan

Untuk berbelok ke kiri, saliplah mobil di depan anda dari kanan dan potonglah ke kiri. Demikian sebaliknya, jika ingin berbelok ke kanan, saliplah mobil di depan anda dari kiri dan potonglah ke kanan.

 

Kondisi B: mobil di depan anda ingin berbelok ke kanan atau kiri, dan anda ingin lurus atau ke kanan atau kondisi sebaliknya (motor akan berbelok ke kanan)

Jika mobil di depan anda sudah memberikan tanda belok ke kiri, segeralah gas motor anda lebih kencang, salip dari kiri kemudian potong untuk terus lurus atau potong ke kanan sesuai arah tujuan anda. Jangan takut tersenggol, terserempet atau tertubruk, motor tak akan pernah salah.

Demikian sebaliknya untuk mobil yang ingin berbelok ke kanan.

 

Kondisi C: di perempatan atau roundabout, mobil dari kanan anda ingin memasuki jalan di kiri anda

Putar gas motor anda lebih kencang, salip dari depan mobil dan potong untuk kembali ke jalur anda. Sekali lagi jangan takut, motor tak akan pernah salah. Kepiawaian anda memotong adalah tantangan tersendiri, jika anda tak tersenggol dan pengemudi mobil misuh-misuh, itulah letak kebanggaan akan kepiawaian anda.

Jelas SIM nembak, eh salah ding, pengurusan SIM (baik SIM A atau SIM C) semua “bisa dibantu”, di Dinas Lalulintas POLRI saja juga jelas-jelas korupsi, pengadaan simulasi untuk ujian SIM juga bermasalah dan sekarang sedang diusut KPK, mana mungkin menghasilkan lulusan yang berkualitas, mengerti tata krama jalan, aturan dan common sense berkendara yang baik dan benar.

Sampai kapan seperti ini? Mungkin jika suatu hari matahari terbit dari arah selatan, korupsi di Indonesia – yang menghancurkan sendi seluruh sendi kehidupan – hilang atau minimal berkurang sedikiiiiittt saja, baru mungkin (masih baru mungkin) akan ada sedikit perbaikan kelakuan sebagian besar para pengendara brompit dan mobil (juga ada lho!) di Indonesia. Tidak heran jika banyak cerita warga Indonesia yang kebetulan migrasi ke negara lain entah karena pernikahan atau pekerjaan hendak ujian mendapatkan ijin mengemudi negara setempat sulitnya bukan main. Tak lain tak bukan karena mindset dan driving attitude yang mendarahdaging tidak mudah diubah.

Tidak peduli Ducati atau brompit butut, helm seharga jutaan atau terbuat dari ember dibalik, mau Lamborghini Gallardo atau mobil jaman prasejarah, pengendaranya CEO atau tidak lulus SD, semuanya tergantung dari driving attitude pengendara…

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

61 Comments to "Indonesian Driving Attitude"

  1. matahari  26 August, 2012 at 04:26

    Di Indonesia banyak sepeda motor karena gampang credit…dengan uang muka 500 ribu sudah bisa bawa pulang sepeda motor…juga lebih praktis karena banyak orang Indonesia masih punya banyak anak…4 – 5 anak..lebih praktis kalau punya beberapa sepeda motor daripada punya 1 mobil..karena masing masing punya tujuan berbeda..ada yang ke sekolah..ada yang kerja dan lain lain…dan sepeda motor lebih cepat nyampai tujuan daripada naik angkot yang rutenya sering harus memutar arah…dan untuk udara tropis ber kendaraan sepeda motor juga nyaman karena kena hembusan angin…kalau naik sepeda…jelas belum memadai untuk kondisi jalan raya di Indonesia..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *