Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Oleh-oleh dari Ngada (1): Pemandian Air Panas So’a

Thursday, 23 August 2012

Viewed 1476 times, 3 times today | 45 Comments |

Anastasia Yuliantari

 

Sudah lama aku berkeinginan untuk jalan-jalan ke Bajawa, yang terletak di Kabupaten Ngada Nusa Tenggara Timur. Ngada yang beribukota Bajawa, mempunyai obyek wisata yang telah dikenal luas oleh para penggemar pelancongan, yaitu Rumah Adat Bena. Rumah adat dengan atap ilalang tebal, berdiri dalam deretan mengikuti kontur tanahnya, banyak dipublikasikan dalam majalah atau artikel pariwisata. Pikirku, orang yang berasal dari negeri jauh saja datang ke tempat ini, mengapa aku yang tinggal di kabupaten tetangga tak berkunjung ke sana?

Kesempatan tiba ketika Yustina, adik iparku, mau menemaniku berjalan-jalan ke Ngada. Begitu kepastian kudapat segera kuatur rencana untuk pergi saat akhir minggu. Walau belum tahu persis jarak antara beberapa obyek wisata, namun kuputuskan untuk mengunjungi dua obyek wisata yang telah aku ketahui, yaitu Pemandian air panas So’a dan Kampung Adat Bena. Aku mengetahui keberadaan dua tempat itu dari siaran televisi nasional. Karenanya dua obyek itulah yang menjadi panduan rencana liburanku ke Ngada.

Secara tak sengaja, Pater Paskalis Patut yang bertugas di Mataloko, sebuah tempat kira-kira sejauh 15 kilometer dari Bajawa, mengirim SMS untukku beberapa hari sebelumnya. Beliau bersedia menjadi guide selama kami berada di Bajawa. Sebuah kebetulan yang menyenangkan.

Maka setelah 4 jam perjalanan dari Ruteng menggunakan travel, sampailah kami di terminal Watujaji. Pater Paskalis sudah menunggu di terminal itu untuk segera membawa kami ke So’a. “Saya beli kue-kue di Bajawa tadi, barangkali Enu lapar, bisa sambil dimakan kuenya,” ujarnya seraya menyodorkan seplastik kue basah aneka rupa.

Tentu saja kami mau, waktu sudah menunjukkan angka dua, sementara selera makan siang telah terbang akibat perjalanan panjang nan berkelok-kelok yang membuat kami rawan mual disebabkan mabuk.

Jarak pemandian air panas dengan Bajawa kira-kira 20 kilometer. Jarak itu bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih setengah jam. Hati-hati dengan buah kelapa yang mendadak jatuh dari pohonnya dan menggelinding di jalanan, juga anjing yang banyak berkeliaran. Kata Pater, harga anjing lebih mahal dari babi karena fungsinya sebagai teman berburu. Bila menabrak anjing sampai mati bisa mengeringkan kantong tentunya. Selain itu, traktor yang banyak melintas di jalanan menjadi pemandangan yang tak akan ada di kota besar, bahkan di Manggarai pun tak pernah aku temukan.

Begitu memasuki tempat wisata, kulihat banyak mobil yang berada di lapangan parkirnya. Kebanyakan adalah jenis APV. Di Flores, kendaraan semacam ini memang dipergunakan untuk angkutan umum.

“Di dalam pasti ramai, soalnya sedang weekend,” kata Pater Paskalis sambil memimpin kami menuju gerbang masuk.

Tiketnya?

“Nih, sudah saya beli.”

Wheeww, senangnya bisa gratis.

Setelah memasuki tempat itu kami bergegas untuk berganti baju agar bisa segera menikmati kehangatan airnya. Terdapat beberapa ruang ganti yang cukup bagus kondisinya. Tak terlalu bersih seperti di hotel-hotel, tetapi juga tak jorok. Hanya saja, seperti kebanyakan tempat umum di negeri ini, kekurangan dalam beberapa hal kecil seperti: tak ada gayung, pintu yang digerendel pakai paku sehingga agak sulit menarik lepas atau memasangnya, dan lantai berlumut, jangan dianggap masalah besar. Para pengguna tempat umum semacam itu juga jarang tergerak untuk menjaga fasilitas yang ada. Tak jarang mereka justru merusak berbagai fasilitas yang ada.

Setelah berganti pakaian, kami menuju pemandian air panas. Jangan dikira pemandian ini berbentuk kolam, karena buatan alam maka bentuknya seperti kali yang mengalir langsung dari sumber mata air. Hebatnya, ada dua aliran air di sana, yaitu air panas dan air dingin. Keduanya mengalir di sungai yang sama.

Tak mengherankan bila kita sedikit saja menggeserkan tubuh, maka suhunya akan sedikit berbeda. Ada bagian yang cukup panas, suam-suam, dan dingin. Tapi kebanyakan bersuhu hangat yang pas untuk berendam.

 

                Kandungan belerang di dalam air panas ini menyebabkan batu-batu di dasar kali berwarna kuning kehijauan. Warna-warna itu tampak segar berpadu dengan beningnya air yang membuncah dalam dua air terjun kecil. Walau kelihatan dangkal, berhati-hati dalam mencari pijakan itu perlu, karena dasarnya yang licin, dan derasnya aliran air.

 

                Meskipun alirannya cukup deras, namun setelah terjun ke dalam air tak perlu merasa takut atau ragu-ragu. Justru karena beberapa permukaannya yang dangkal maka air menjadi terpercik dengan keras membentuk semacam air terjun yang dahsyat. Kalau kita membiarkan air terjun itu mengenai punggung kita, maka rasanya seperti dipijit. Apalagi airnya terasa cukup panas, lebih panas dari sekedar suam-suam kuku.

 

                Keindahan dan kenyamanan tempat ini membuat para bidadari turun ke kali. Sebagai contoh dua bidadari yang duduk santai di bawah air terjun ini, sambil mengawasi sekeliling, karena takut diincar Jaka Tarub.

 

                Bagi yang tak suka keramaian dan ingin bermeditasi sambil mencemplungkan kaki ke air hangat, bisa duduk di sepanjang aliran sungai yang tak banyak dikunjungi orang karena memang kurang terasa sensasinya seperti di bawah pancuran tadi. Namun bukan berarti berendam di sungai berdasar batu hijau kekuningan ini tak nyaman.

                Bagi yang sudah bosan main air atau berendam, namun masih enggan pulang, terdapat tempat bermain dengan beberapa pasang ayunan. Dua di antara ayunan-ayunan itu tak dapat dipergunakan karena rusak. Jadi harus antri bila banyak peminat.

 

                Berendam di air hangat memang menyenangkan, tapi jangan sampai berjam-jam, karena kandungan belerang dalam airnya bisa menyebabkan badan kita kehijauan. Tentu saja kita tak ingin pulang dengan kulit seperti tokoh kartun dalam serial di televisi. Namun fasilitas bilas juga tak memadai mengingat gayung yang raib di atas, jadinya segera pulang dan berbilas di rumah atau tempat penginapan merupakan hal yang wajib dilakukan.

Kiranya demikian kisah dari So’a, salah satu kekayaan dunia pariwisata Indonesia yang belum dikenal secara luas. Bila anda punya waktu dan kesempatan, jangan lupa untuk mengunjunginya.

 

Share This Post

Posted by Thursday, 23 August 2012 on 11:21.

Categories: Jalan-jalan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

45 Responses to “Oleh-oleh dari Ngada (1): Pemandian Air Panas So’a”

Pages: [5] 4 3 2 1 »

  1. 45
    Nur Mberok Says:

    Wah tetep ra di gape aku je…. hu hu hu…

  2. 44
    Anastasia Yuliantari Says:

    Mbak Probo, iya Mbak. Manget2 pokoknya…hehehe.

  3. 43
    probo Says:

    wiiih…asyik banget tempatnya

  4. 42
    Anastasia Yuliantari Says:

    Vianney, udah balik ke Jerman lagi kah?
    Salam dari Flores, ya.

  5. 41
    Anastasia Yuliantari Says:

    Pak Hand, jadi keinget nari ja’i keinjek kakinya di seminari Mataloko, ya? Hehehehe.

Pages: [5] 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)