Aku Bukan Penulis

Yang Mulia Enief Adhara

 

Agak aneh memang, seorang amatir seperti aku tiba-tiba diminta untuk menuliskan sebuah kisah nyata kehidupan seseorang. Namun aku akhirnya percaya, hobiku ini toh ada juga yang mengapresiasi dengan sedemikian besar. Kecepatan informasi dari dunia maya membuat namaku dikenal oleh orang-orang yang tidak kukenal.

Sebenarnya beberapa cerita di notes aku hampir semua berdasar kisah nyata. Hasil curhatan atau pengamatan dan aku tuang dalam cerita. Namun ada 3 kisah yang bagi aku agak sulit dipercaya membuatku seolah penulis yang punya nama, padahal aslinya ya cuma penulis gak jelas. Kemampuan menulisku yang masih mentah, belom lagi tata bahasa yang buruk juga kerap masuknya unsur bahasa campur aduk membuatku jauh dari predikat penulis. Keseharianku yang kerap berbahasa campur aduk lantaran tumbuh dari berbagai lingkungan membuatku repot saat harus menulis dengan bahasa Indonesia yang benar. Toh di luar dugaan masih ada yang menjadi pembaca setia dan beberapa ingin kisahnya dijadikan inspirasi dalam bentuk cerita bersambung.

 

*****

Pertama tokoh Dina, dengan kisah The Broken Heart Club. Menghubungi lewat email yang baru 3 minggu kemudian aku baca. Dan setelah aku respon, Dina tanpa basa basi memintaku menuliskan kisah sahabatnya. Dia tak bergeming saat aku mengatakan aku cuma amatir. Dia bilang dia sudah baca tulisanku dan dia suka.

Mulailah dia berkisah melalui email, dari awal hingga akhir dan aku selalu menahan lajunya agar aku mendapat gambaran detail di setiap bagiannya. Bagi aku ini berat, Dina dkk berasal dari kelompok socialite dan aku seperti “dipaksa” untuk menuliskan ke glamouran mereka sebagai bagian cerita yang tak dapat diubah. Berbekal pengalaman masa lalu aku mulai menata tiap detailnya. Terpaksa banyak meng-expose brand karena si pemilik kisah ingin itu diungkapkan.

Dan penulis harus memeras otak tuk mengingat kawasan Seminyak, Orchard Rd, penulisan aneka brand yang jelas sudah menjadi masa laluku. Bahkan untuk mendapat detail aku harus mencari di internet dan susahnya minta ampun. Aku terlanjur deal dan kisah harus ditulis seakurat mungkin. All the risk I’m willing to take lah !

Lebih mengejutkan Dina mengundangku makan siang di GI dan sempat kutolak berkali-kali. Aku tidak PD sama sekali, aku bukan penulis, aku bukan socialite dan it’s going to far. Tapi Dina gigih, maka akhirnya kami jumpa. And the world called beauty and the beast !!! Ternyata Dina yang asli sangat cantik, sangat glamour dan aku sangat engga banged. Bayangkan perasaanku, harus PD dan sok jadi penulis di depan sosok cantik yang serba wah.

Tapi the best part-nya ! Dina sangat friendly, dia bagaikan sahabat erat, dengan penuh ekspresi bertutur kisah. Tak lupa dari HP-nya aku ditunjukan foto dari Donny, Debby, Iwan, Vivian, Anton dan Mira (semua nama samaran).

Dan aku mulai menulis, memadukan antara fakta yang diceritakan dengan banyak hal yang sudah samar-samar harus aku ingat lagi. Misalnya menggambarkan suasana rumah Donny di Sentul City, Dina memberi gambaran akan banyaknya koleksi antik, warna ruangan dan aku mencoba menuangkan dalam tulisan dibantu imajinasiku.

Lalu suasana Seminyak berikut ornamennya. Setidaknya lokasi yang diceritakan sempat aku kenal, itu saja cara aku membayangkan keadaan mereka selama di lokasi dan tentunya harus real bukan fiktif.

Saat manuskrip selesai, aku akan meminta persetujuan Dina terlebih dahulu, artinya bertemu lagi. Dina lagi-lagi mengundang makan siang, kali ini di Senayan City. Namun aku nyaris membatalkannya waktu ia berniat membawa serta seluruh tokoh yang terlibat. Sekali lagi aku bukan penulis dan hasil tayangnya hanya sebatas FB dan beberapa site, namun tidak mengandung nilai nominal. Dan akhirnya Dina mau membatalkan niatnya dan kami hanya berdua saja.

Dia puas dan mengizinkan untuk di release melalui FB-ku, sayang banyak pembaca yang tidak paham ending dari cerita yang dibuat seolah ‘menggantung’ padahal bila dicermati tokoh Donny memilih melepaskan Debby dan merasa lebih nyaman dengan ‘cinta’ sahabat sahabatnya. Pembaca sudah terbiasa dicekoki nuansa sinetron yang hancur mina tiba-tiba menjadi orang paling sukses dan bahagia, amsyong.

Kisah ini sempat diminta untuk disinetronkan dan jelas aku tolak, everybody knows kalo sinetron so nasty!! Dibuat meliuk-liuk tidak masuk akal dan semua demi uang. Kalaupun harus di film-lan aku tetap tidak akan deal, I don’t really believe sineas sini mampu menampilkan ke glamouran berpadu kisah indah seperti film Sex And The City.

 

*****

Kisah kedua datang dari Nita yang kini berada di Kuala Lumpur. Sejujurnya rata-rata nara sumber mengenalku melalui tulisanku yang aku tagging ke banyak nama. Dia mengirim inbox dan mengutarakan keinginannya dan selanjutnya aku meminta dia mengirim curhatannya melalui email. Awalnya aku sempat berfikir Nita ini bodoh, terus bertahan pada satu cinta, namun saat bait demi bait ku baca, aku salut padanya dan langsung ingin segera menuliskannya. Nita sempat mengirimkan foto dia bersama suaminya Miguel dan anak hasil cinta mereka, sungguh pasangan cantik dan tampan Sedang tokoh lainnya ku gambarkan berdasar apa yang Nita ceritakan.

“Mas janji ya jangan sampe bocor identitas kami”, dan aku meyakinkan segala privacy akan terjaga till death becomes me. Kisah ini sempat diminta penerbit tentu nantinya melalui tahap editing. Namun saat aku harus jual putus hak cipta aku, hell no! Biar saja sebatas hiburan di FB but it still mine. Nulis menggunakan HP bukan hal mudah but I like it so hasilnya mau seperti apa harus tetap milikku.

 

*****

Kisah dari Uci teruntuk wanita terhebat adalah paling emosional. Pertama kali Uci menghubungi aku via inbox dia begitu hati-hati memperkenalkan diri, formal sekali seolah aku ini seorang pangeran. Ternyata dia sangat menanggapi gelar Yang Mulia di depan namaku.

Kesan pertama dariku wanita ini sudah hebat, begitu santun dan rendah hati. Dan demi keamanan, aku memintanya berkisah melalui email. Di email ke 5 ia meminta nomer HP-ku, alasannya agar lebih jelas. Well aku tidak keberatan.

Seperti yang sudah sudah aku menjelaskan siapa diriku dan dia tak ambil pusing. Bait demi bait dikisahkan dan waktu demi waktu aku berusaha menuangkan dalam bentuk tulisan. Sebulan kami berinteraksi, aku add FB dia dan di reject! Sempat dongkol sih hingga dia menelponku mengatakan bahwa dia mohon maaf, dia takut identitasnya terkuak, dan aku akhirnya paham.The paranoid girl.

Memasuki bulan kedua, Uci mengajakku ke Jogja, dan aku jawab “apa-apaan? Aku kaya mau nulis buku aja? !”. Namun dia beralasan akan menunjukan makam Ibu-nya, mengenalkan aku pada Ibu Lily dan Mbak Win. Agar aku mendapatkan ‘soul’ saat menuliskan kisahnya. Aku tetap menolak, “Don’t make me over please? “

Tak patah arang, Uci malah mengajakku ke Dago Pakar. Dan dari tiap ajakannya dia bersedia menanggung biayaku dan itu membuat aku tidak PD. Kenapa aku diperlakukan bagai seorang penulis yang punya ‘nama’, rasanya aneh! Aku cuma bisa-bisaan dalam menulis.

Setelah 2 ajakan aku tolak kini Uci mengutarakan niatnya lagi, “aku mau nemuin Mas Enief di Jakarta, naik travel bisakan? “, Kata Uci di sms. Kebetulan daerahku adalah tujuan utama tiap travel. Maka hari Sabtu pagi jam 9 Uci sudah tiba di Jakarta tentu setelah kami menentukan hari baik bulan baik.

Ohhh emm jiii !!!!! Sosok wanita 25 tahun di hadapanku ini bertinggi 163 cm, berat proposional dan tidak katrok. Waktu ia menyalamiku ia bilang “piye Mas, aku jek ketok ndeso yo” dan ku jawab, “panjenengan ayu lho, koq neng email kondo tampilanmu elek tur ndeso?”

Uci tertawa, dia bilang sejak di HK sampai ke Dago dia banyak berubah, banyak belajar. Kami akhirnya menuju restoran siap saji di dekat rumahku. Uci sangat royal, aku ditraktir twister, 2 potong ayam, nasi, kentang dan lebih dari 3 gelas minuman. Bahkan dia beberapa kali menawarkan pindah restoran, namun aku jawab kita sudah pewe all the way.

Uci sempat menyodorkan masakannya, daging ayam dimasak dengan pasta, dalam wadah sedang, dan I think it’s really really sexy food. Rasanya memang enak, aku pernah menikmati pasta seperti ini di Zigollini sebuah resto italy di Jakarta. Aku memuji dengan tulus dan Uci hanya tersenyum malu.

Dan Uci menuturkan kisah di HK, aku pribadi agak out of space lantaran sudah 5 tahun lalu aku terakhir kali ke HK. Aku memang sempat akrab dengan HK, it’s so unforgettable, dari jaman kecil till 5 years ago. Tapi tentu suasana tak lagi sama, aku lupa-lupa ingat dan aku mengaduk-aduk buku jurnalku sekaligus mengaduk kenangan yang kini nyaris aku lupakan.

Uci membuat aku menjadi moody, aku harus menulis kisahnya, namun dari apa yang aku tulis aku terhantam kenanganku sendiri, as we all know I’m bankrupt, aku bukanlah diriku yang dulu. Aku dipaksa menulis kisah orang lain dan secara tidak langsung melukai perasaanku. Well aku harus profesional, harus bisa memisahkan emotion yang ada di diriku.

Uci gadis yang smart, dia bicara dengan teratur dan kadang kala ku lihat dia menangis, Uci selalu mudah mengeluarkan airmatanya kapanpun dia mau. Di salah satu sudut di lantai 2 restoran siap saji itu aku menjadi saksi ketegaran seorang Uci. Tiba-tiba disudut itu ada 2 orang yang tenggelam dalam kisahnya masing masing. Ditunjukannya foto-foto Alvino dan keluarganya yang lain, lalu foto almarhum Ibunya juga Nenek dan keluarga angkatnya di Jogja.

Uci sangat tak ingin identitas aslinya terungkap demikian juga nara sumber lainnya yaitu Dina dan Nita. Tanganku sudah gatal ingin berfoto namun demi menghargai mereka akupun mengalah. Aku juga merasa takjub akan pengetahuan kuliner seorang Uci, menurutnya info itu dia dapat melalu kawan atau media cetak dan elektronik. Beberapa tempat pernah aku coba dan Uci sempat salah menyebut ‘nama’ resto atau lokasi, hingga aku harus mencari tahu apa maksudnya dan aku berhasil menelusuri apa yang dia maksud.

Uci lumayan dalam berbahasa Mandarin, aku sendiri sudah lupa! Bahasa Inggrisnya agak jelek dan bahasa Jawanya halus, saat aku sok akrab berbahasa Jawa dia berkali kali membenarkan “Mas, meniko mboten sae, kasar, panjenengan kirang ngerti boso yo? “. Aku pun tertawa karena aku sadar 100% bahasa Jawaku kacau dan kasar, hasil ikut-ikutan.

Uci datang jam 9 pagi dan kembali ke Bandung jam 6 sore. Hampir 9 jam berdua dengannya membuatku bagai 9 tahun telah mengenalnya. Wanita hebat itu bagiku adalah diri Uci sendiri, walau terbilang jauh lebih sukses namun ia tetap bersahaja, santun bicaranya, santun busananya dan tampil wajar tanpa harus sok mengikuti trend ini itu. Ada rasa bangga bisa mengenal dirinya.

 

*****

Aku sebenarnya sering takut saat tulisanku menjadi jauh panggang dari pada api, namun nara sumber selalu puas dengan hasil. Pembaca setia tulisanku pun sebagian puas sebagian kurang puas, namun it’s oke siapa tahu aku kelak akan lebih pintar menyusun kata dan keterangan hingga aku benar benar pantas disebut penulis.

Aku pribadi lebih menulis ke arah novel, bukanya puisi atau sesuatu yang rumit. Aku menulis hal umum dan pembaca langsung paham. Belakangan aku diminta beberapa orang untuk menulis kisah mereka, namun patokan aku adalah kisah itu harus inspiratif, lokasinya jelas, nara sumber tidak berdusta dan ada bukti foto dari para pelakunya.

Aku akan break menulis karya asli, yaaa nggak tahu untuk berapa lama, bisa seminggu, sebulan bahkan setahun, it’s all up to me. Alasannya untuk meredam para narasumber yang memaksaku menulis, supaya pembacaku tidak jenuh dan menghindari pembajakan hak cipta.

Dan dengan segala hormat, with all do respect, aku mengucap terima kasih kepada nara sumber yang begitu percaya akan kisahnya untuk aku tulis, terima kasih juga untuk pembaca setiaku atas segala masukan dan kerelaannya membaca tulisanku dan maaf bagi mereka yang tidak senang membaca namun masuk dalam tagging hingga merasa terganggu. I’ll be back with the new story tapi mungkin tidak dalam waktu dekat ini yaaaa…

Namun Insyaallah aku akan menulis Magnificent Kediri, Miracle Jombang dan Bright Lights Bigger City Surabaya. Moga moga petualangan Mr Big Luggage nantinya mampu membagi sebuah wawasan, walau tidak baru tapi setidaknya with my own style. xie xie …..

 

21 Comments to "Aku Bukan Penulis"

  1. Handoko Widagdo  25 August, 2012 at 10:08

    Hanya satu kata SELAMAT

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.