Melawan Lupa (5)

Kang Putu

 

(Kamis, 9 Agustus 2012 pukul 08:28)

“Ah, tak perlulah kau terus-menerus menyimpan dendam. Nyatanya toh kita mampu bertahan hidup, mampu menjalani hidup sebagai manusia-manusia berpribadi, tanpa harus menumpukan diri pada siapa pun?” ujar Mbak Tatik.

Ah, aku masih heran: dialah di antara kami berenam kakak-beradik yang paling teraniaya. Namun, kenapa justru dia yang paling bisa membasuh luka, melenyapkan dendam yang mengerak di dasar hati? Aku merasa tak semestinya dia begitu gampang melupakan semua perlakuan tak mengenakkan. Sejak kanak-kanak, ketika belum lagi tahu apa kesalahan bapak dan ibu kami – jika sesungguh benar itu kesalahan mereka, kami selalu diperlakukan sebagai sampah, sebagai kotoran. Yang menjijikkan, yang mesti dibuang, jika perlu dilenyapkan.

“Berbelas tahun aku menyimpan dendam. Berbelas tahun aku memeram luka, sakit hati, kecewa. Segala macam perasaan yang menyiksa. Namun akibatnya? Aku makin merasa tak berarti, aku merasa tak layak hidup. sesekali terlintas keinginan mengakhiri hidup, bunuh diri,” ujar mbakyu sulungku. “Namun aku berubah pikiran. Aku berpendapat, kita justru harus memperlihatkan kepada siapa pun, ya kita harus membuktikan diri bahwa kita tak layak diperlakukan secara semena-mena. Dan, karena itu pilihanku, pilihan kita, adalah bertahan hidup, sebisa-bisa, dan menunjukkan bahwa kita bukan pecundang.”

Aku tepekur. Mbak Tatik rada terengah setelah mengucapkan kalimat panjang itu. Dia melolos sebatang kretek dari bungkus rokok di atas meja. Menyulut dan mengisap dalam-dalam.

Mataku nanar. Kepalaku pening tiba-tiba. Kusandarkan tubuhku ke sandaran kursi rotan di ruang tamu rumah yang dia tempati bersama suami dan anak-anaknya, Mas Jacob Sambo serta Anno, Ratih, dan Lia. Ke rumah inilah setiap kali pulang ke Blora, aku mengistirahatkan hati dan pikiran dari kelelahan yang mendera. Dari kesuntukan yang menjemukan.

Salahkah aku jika selama ini memiara dendam? Selalu memandang dunia dengan kemarahan? Senantiasa siaga kapan pun, menghadapi siapa pun dengan syakwasangka?

 

8 Comments to "Melawan Lupa (5)"

  1. J C  27 August, 2012 at 12:08

    Setuju dengan komentar Silvia, move on dan memaafkan serta mencoba melupakan menjadikan hidup jauh lebih enteng…

  2. Linda Cheang  25 August, 2012 at 23:30

    Forgiven does NOT mean forgotten…

  3. EA.Inakawa  25 August, 2012 at 15:04

    Tak ada salah memendam dendam sebagai motivasi untuk bangkit & pembuktian ” Aku Pasti Bisa ” meraih sukses dalam hidup ini. salam sejuk

  4. Bagong Julianto  25 August, 2012 at 14:13

    Mudah menuliskan, susah melakukannya:

    Ingat dua, lupa dua.

    Ingat kejahatan kita kepada orang lain, ingat kebaikan orang lain kepada kita.
    Lupakan kebaikan kita kepada orang lain, lupakan kejahatan orang lain kepada kita.

    Yang penting selalu berusaha…..
    Seorang kawan bersaksi, setiap malam mendoakan kebaikan bagi seseorang yang selalu menolak-menghindari dan mengabaikannya di pergaulan sosial. Yang didoakan itu kini mulai merubah sikapnya……

  5. Dj.  25 August, 2012 at 13:06

    Kang Putu…
    Dendam adalah beban yang paling besar yang setiap manusia yang menyimppannya.
    Dj. orangnya juga suka marah.
    Tapi hanya saat itu saja, besok sudah lupa….
    Menyimpan beban demdam dalam perjalanan mudik kerumah Bapa, mungkin kita akan menjadi
    bungkuk dan bisa jadi, perjalan kita tidak akan sampai ke tujuan.
    Salam,

  6. Handoko Widagdo  25 August, 2012 at 12:03

    Dendam itu membakar diri.

  7. Silvia  25 August, 2012 at 11:12

    Memang betul tuh cape sekali menghidupi hidup dengan membawa dendam terus menerus. Saya sudah alami dan bersyukur bisa melepas semua beban itu.

    Hidup jadi lebih enteng.

  8. James  25 August, 2012 at 08:08

    ONE Forgive But Not Forget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.