Mandul tapi Sabar

El Hida

 

“Sabar….” Kata bapakku ketika melihat aku sedang duduk merenung karena putus cinta. Widhi adalah kekasihku yang telah ku pacari sejak tiga bulan yang lalu. Dan tadi malam dia memutuskanku karena dia tahu bahwa aku mandul.

“Sabar….” Ibuku juga bilang begitu. Mereka memang tahu kalau aku sedang putus cinta, karena ini bukan yang pertama kalinya. Ini sudah terjadi puluhan kali setelah aku bercerai dengan isteriku sembilan tahun yang lalu. Mantan isteriku bilang ke semua warga kalau kami bercerai karena aku yang masih saja mandul padahal telah berobat kemanapun.

“Sabar….” Kata kakekku yang usianya sudah delapan puluh tahunan dengan terbata ketika mendengar berita yang disebarkan mantan isteriku itu beredar di masyarakat. Aku memang sangat malu waktu itu, tapi aku pasrah.

“Sabar….” Nenekku juga tak ketinggalan mengucapkan kata itu. Kata yang sangat mudah untuk dikatakan tetapi tak mudah untuk dijalankan.

Tapi akhirnya memang aku bisa sabar menjalani semua itu. Aku memang mandul dan inilah takdirku. Aku sudah berobat kemanapun, dan hasilnya memang nihil. Aku tetap saja mandul.

Di daerahku aku jadi terkenal dengan kemandulanku, maka sudah dapat dipastikan maka tak ada yang mau denganku. Ya sudah.

“Sabar….” Semua tetanggaku bilang begitu. Hidup di dunia ini memang harus sabar, jika tidak sabar maka tak akan pernah bisa sadar.

Aku putuskan untuk mencari pendamping di luar daerahku. Aku pergi ke kota untuk dagang kupat tahu, berharap di kota bertemu dengan seorang perempuan yang mau menerimaku apa adanya, menerima kemandulanku.

Beruntung wajahku tak jelek walaupun memang kurang ganteng. Dua bulan aku di Bandung, aku mendapatkan seseorang yang mau menerima cintaku. Namanya Yanti. Aku bahagia. Tapi sayang tidak bertahan lama. Saat dia inginkan aku untuk menidurinya, aku tak berhasil. Dan kami putus.

Bersyukur karena Yanti tidak sama dengan mantan isteriku yang ember. Aku berusaha lagi mencari yang tidak memintaku untuk menidurinya dulu sebelum aku sukses membuat diriku tak mandul. Karena aku yakin semua perempuan akan menyesal jika tahu kemandulanku dari orang lain, maka aku katakan saja dari awal perjumpaan bahwa aku memang mandul dan telah menikah pernah menikah lalu bercerai oleh karena kemandulanku. Dan aku sukses, sukses tak mendapatkan seorangpun yang mau.

Sampai pada akhirnya aku bertemu seorang perempuan berjilbab. Terlihat dari penampilan dan tutur katanya memang dia perempuan solehah. Aku berusaha mendekatinya membuatnya bangga dengan kebisaanku ngaji yang aku bawa dari kampungku.

Aku berhasil mengatakan cinta kepadanya dan ini indah pada awalnya. Di mana aku bisa belajar ilmu agama juga darinya. Tentang keikhlasan, dan tentang apapun yang kau belum paham. Diapun merasa nyaman berada di dekatku, awalnya, karena dia selalu mendapatkan jawab dari apa yang menjadi pertanyaannya. Kami pacaran secara islami. Dimana kami tak pernah saling bersentuhan sekalipun. Bertatapan pandangan pun kami malu. Untuk mengobrol itu caranya adalah aku berkunjung ke rumahnya, dan ngobrol di tempat terbuka dan berjarak. Tapi aku bahagia, awalnya, karena ini terasa spesial karena aku pertama kali pacaran dengan orang seta’at perempuan ini. Namanya Aisha.

“Sabar…” Kata Aisha sembari membacakan ayat tentang keutamaan sabar. “Alloh mencintai orang yang sabar,” katanya. Dan aku mencintaimu yang sabar menerimaku, kataku dalam hati.

“Sabar…” Katanya lagi setelah beberapa bulan berobat tapi tak kunjung sembuh. “Aku akan sabar menunggumu sampai kamu sembuh.” Itulah kalimatnya yang paling membuatku bisa bertahan dan terus menerus berobat agar bisa sembuh.

“Sabar…” Aisha selalu bilang begitu setiap aku berobat dan gagal. “Aku akan tetap bertahan mencintamu sampai kamu benar-benar bisa sembuh.

Aku senang walaupun tak pernah sedetikpun bisa menyentuh kulitnya. Bagiku cinta itu perihal menerima kekurangan dengan penuh keikhlasan. Aku sempat bertanya kenapa dia menerima cintaku sedangkan dia sangat relijius. Dia hanya bilang, “Semoga bisa belajar sabar…” katanya. Jujur aku bangga padanya.

Ini adalah bulan puasa ketiga selama aku pacaran dengan Aisha. Hari-hari kami lalui dengan sabar dan tak pernah saling menggunjingkan. Tak pernah kami bahas apapun yang bisa menyinggung perasaan masing-masing kami. Aku tak ingin kehilangannya, tapi sumpah aku hampir stress karena sampai saat ini mandulku belum juga sembuh.

“Sabar…” Kata Aisha saat aku katakan mandulku belum juga sembuh. “Sabar ya kang, mungkin setelah lebaran tahun ini, aku akan menikah. Ayahku telah memilihkannya untukku. Aku akan dinikahkan dengan seorang ustadz. Aku harus rela, kang, karena ayahku adalah raja untukku. Jika aku melanggarnya berarti aku telah mendurhakainya. Sabar ya kang, mungkin kita memang bukan jodoh. Tapi aku yakin Alloh punya rencana spesial untuk akang. Yang penting akang sabar ya, jangan berburuk sangka kepada Alloh.” Itulah kalimat terakhir Aisha yang sampai saat ini masih terdengar jelas di telingaku. Karena setelah itu kami memang tak pernah bertemu lagi. Aisha menikah dengan ustadz pilihan ayahnya, dan aku murung dengan kemandulanku yang tak juga sembuh.

 

Khatam

Elhida 180812

 

36 Comments to "Mandul tapi Sabar"

  1. el hida  13 November, 2017 at 12:52

    enak ketawa baca komentar2nya. udah lama

  2. Dewi Aichi  30 August, 2012 at 01:16

    Apakah mandul itu ada hubungannya dengan yang gandul gandul?

  3. Lani  30 August, 2012 at 00:36

    KANG ANUUU : 18 wahahahah……..aku geli ampe keselek-selek soal kemringet…….mmgnya macul to????

  4. Lani  30 August, 2012 at 00:34

    KANG MONGGO : no 9 aku urun ngakak2…….ampe kram perut………

    klinik Tong Fang itu apaan to? durung pernah dengar krn beritanya ndak sampai ke Hawaii………..kurang banter ngono

  5. Lani  30 August, 2012 at 00:32

    AKI BUTO, KANG ANUUUUU : aku percaya kalian mmg punya hobby genjot-menggenjot dan mengenal dunia pergenjotan……….bukan kaum sebaliknya……….dijadikan korbannya…….wahahah……ampe mo njempalik soko kursi nulisnya………mmg lurah kita itu plg jossssssssss

  6. anoew  29 August, 2012 at 22:11

    Ini pada ngomong apa tho? Lha puisi bagus dan mendalam begini kok malah ambyar gara-gara Kang Josh ckckkck

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *