Menikmati Gunung Berapi Terkecil di Tagatay

Handoko Widagdo – Solo

 

Kami berangkat pagi dari Kampus International Rice Research Institute Los Banos. Setelah berjejalan diantara mobil pribadi dan jeepny ke arah Manila, jalanan mulai menanjak dan udara terasa sejuk. Ketika tiba di Tagaty hari belum siang benar.

Kami menghambur menuju tepi Danau Taal untuk membuat foto. Sayangnya, danau sedang berkabut, sehingga foto yang dihasilkan tidak bisa menampakkan latar belakang. Maka kamipun sepakat untuk memesan makanan dulu di resto yang letaknya tepat di tepi danau. Kami memilih tempat yang langsung menghadap danau.

Saat kabut sirna dari permukaan danau, segera saja kami menghambur untuk berfoto. (Seperti biasa saya cukup arif untuk tidak merusak pemandangan yang indah dengan wajah jelekku.) Maka aku memilih tugas untuk mengambil foto teman-teman saja.

Makanan segera berdatangan. Beberapa menu seafood disajikan secara menarik. Mata saya tak bisa berpindah dari piring yang berisi kepiting. Teman-teman yang tahu kalau saya crabovore (pemakan kepiting) maklum. Lagi pula teman yang berasal dari Pakistan dan Bangladesh tidak makan kepiting. Jadi makmurlah saya menyantap sepiring kepiting tanpa ada kompetitornya.

Gunung Taal adalah gunung berapi aktif terkecil di dunia. Gunung ini terletak di tengah-tengah danau Taal.

Kepuasan mata dan kepuasan perut membuat kami tertidur di perjalanan pulang. Sehingga hiruk-pikuknya Manila yang kami lewati tak terekam dalam ingatan. Sampailah kembali kami ke markas di IRRI Los Banos saat para perempuan berbaju mini memenuhi jalanan.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

79 Comments to "Menikmati Gunung Berapi Terkecil di Tagatay"

  1. Handoko Widagdo  7 September, 2012 at 17:23

    Mas Bambang, gunungnya imut tapi gak bisa diemut.

  2. Bambang Priantono  7 September, 2012 at 08:06

    Iya ya..gunung apinya imut banget

  3. Handoko Widagdo  3 September, 2012 at 06:42

    Lani, mak byar, makanya bisa cerita. Tapi otak belum sepenuhnya pulih, maka tidak ada gambar karena blank lupa ambil kamera.

  4. Lani  3 September, 2012 at 02:02

    HAND : buknnya krn melihat rok mini njur mata yg kriyip2 jd mak-byarrrrrrrrrr……….???? ngaku waelah

  5. Lani  3 September, 2012 at 02:01

    HAND, SLB : wakakakak……wes kono do tarung komentar dewe…….yg jelas penunggu KONA ndak spt kepiting gemuk2, ngginak-ngginuk………klu kepiting semakin gemuk larissssss manis la nek penunggu Kona????? jelas asem kecut…….anyep rak payu dodolane………hahaha………guyon lo guyon…..nesus satus ewu euro/dollar

  6. Handoko Widagdo  2 September, 2012 at 19:42

    Makanya sampai lupa ambil kamera.

  7. Bagong Julianto  2 September, 2012 at 19:36

    Hehehe….
    Ketauan spesies lanang tenan!
    Tangi langsung lihat (sebalik) rok mini….. focus tenan!
    Hayouh……
    Mesem ‘ra?!

    Kayaknya bangun ngisor ndhuwur iki….

  8. Handoko Widagdo  2 September, 2012 at 19:26

    Bukan…lha waktu melihat gunung-gunung berapi yang pakai rok mini itu baru saja terbangun. Masih kriyip-kriyip.

  9. Bagong Julianto  2 September, 2012 at 19:18

    Lhoh, jam seputar sekarang kriyip-kriyip baru tangi?
    Luar Indonesia?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *