Oleh-oleh dari Ngada (3): Pagi di Mataloko

Anastasia Yuliantari

 

Udara pagi terasa menggigit kulit. Waktu menunjukkan pukul enam ketika aku dan Yustin bersiap mengikuti misa pagi. Jaket membungkus tubuh kami untuk sedikit menghangatkan badan, walau setelah berada di dalam kapel dinginnya udara tak lagi terasa.

Sekeluarnya dari kapel aku melihat teras yang basah. “Tadi selama misa, ternyata di luar hujan, ya?” Ujarku heran.

“Tidak,” Jawab Pater Paskalis. “Di sini setiap pagi kabut dan embun membuat tanah basah. Bahkan kadang kami tak melihat matahari selama beberapa minggu.” Ya, Mataloko adalah sebuah tempat di lereng pegunungan dengan kabut dan embun yang setia menetes di pagi hari.

Rasanya ingin sekali menghabiskan waktu dengan duduk menikmati hangatnya kopi sampai matahari cukup hangat merabai kulit, namun tak banyak waktu yang kami punya hari ini untuk bersantai karena aku dan Yustin telah berjanji dengan supir travel agar dijemput tengah hari. Setelah mengepak barang bawaan yang sedikit jumlahnya, Pater segera mengajak kami berangkat menuju tempat yang telah aku nantikan, Rumah Adat Bena.

Rasanya kami hanya berkendara beberapa meter ketika Pater menghentikan kendaraan sambil bergumam, “Wah pintunya belum dibuka. Bisa bantu buka, kan?”

Aku turun dari mobil sambil terheran-heran. Wah, tempat apa ini? Sambil mendorong gerbang yang masih setengah tertutup kutoleh bangunan di seberang yang tampak menawan.

“Tempat apa, sih ini?” Tanyaku sambil berdecak kagum ketika kami semakin mendekati tempat itu.

“Kemah Tabor. Milik Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD).” Kata Pater sambil menghentikan kendaraan di dekat bundaran dengan patung dua tokoh Serikat Sabda Allah, St. Arnoldus Jansen and St. Josef Freinademetz.

 

                Bangunan ini berarsitektur Eropah dengan taman yang indah. Bunga-bunga aneka ragam tumbuh dengan teratur dan terpelihara dengan baik. Entah berapa tukang kebun yang dibutuhkan untuk merawatnya. Tempat yang sejuk dan selalu mengandung uap air agaknya membuat pekerjaan menyiram sedikit terbantu. Selain itu bunga-bunga dapat tumbuh sempurna akibat iklim yang sesuai.

Pikiran pertamaku ketika melihat bunga-bunga itu adalah, alangkan indahnya kalau bisa ditanam di Ruteng. Jadi aku menggumam, “Bisa dicuri, nih bunganya.”

“Eh, tak boleh mencuri!” Tukas Pater Paskalis sambil menatapku.

Oppss, guidenya galak. Tentu saja tak mungkin mencuri bunganya, bagaimana kalau mencabut sedikit biji-biji yang tampak terserak di sela-selanya.

Itu pun agaknya kurang berkenan, sehingga aku dan Yustin cuma bisa saling pandang sambil tersenyum kecut. Lebih baik melihat-lihat arsitektur bangunan yang mempesona ini sambil menghirup segarnya udara pagi.

                Salah satu hal yang membuatku kagum adalah berjajarnya beberapa topiary pohon cemara hampir setinggi bangunan yang ada. Tentu membutuhkan ketrampilan tersendiri dan waktu yang lama untuk merawat dan membuat topiary raksasa semacam itu. Aku teringat beberapa taman di postcard tentang beberapa istana di Eropah yang mempunyai tanaman serupa. Begitu indah dan mengagumkan.

                Tak berapa lama kami berada di sana, tampak sebuah sepeda motor memasuki tempat itu. Pengendaranya orang Indonesia, tetapi perempuan yang diboncengnya rupanya berasal dari Perancis melihat logatnya, walau mereka bercakap dalam bahasa Inggris. Meskipun berasal dari Eropah nyata benar turis itu kagum akan tempat ini. Beberapa kali dia berpose di bagian-bagian bangunan dan taman untuk difoto oleh temannya.

                Aku membayangkan betapa asyiknya duduk di teras-teras lantai dua di pagi atau sore hari menyaksikan matahari terbit atau semburat jingga senja sambil menyesap secangkir kopi. Entah ada yang melakukannya atau tidak, karena kami tak sempat memasuki bangunan itu untuk memeriksa apakah tersedia kursi-kursi di luar kamar-kamar dengan jendela kaca aneka warna itu.

Ya, hal lain yang menarik dari bangunan ini adalah tiap kaca jendela terbuat dari kaca warna-warni yang bermotif. Warna yang sempat kutangkap adalah putih, coklat, biru dan hijau. Memang beberapa jendela telah dihiasi kaca bening biasa, mungkin terjadi renovasi dari bangunan aslinya.

                Bangunan utama ini dikelilingi oleh bedeng-bedengan bunga aneka rupa. Dari bunga kekuningan  sampai warna menyala seperti merah dan ungu. Beberapa ditanam dalam kelompok sewarna, namun ada juga yang dicampur antara beberapa warna, seperti kebiasaan beberapa taman di negara barat yang mencampur bunga sejenis tapi dengan warna beragam.

                Begitu kami memutar ke belakang, aku semakin kagum, bangunan yang aku kira berbentuk persegi ternyata mengelilingi sebuah halaman seumpama huruf “U” di tengah halaman itu terdapat jalan setapak dilapisi paving block sehingga pengunjung bisa menikmati keindahan bangunan tanpa menginjak rumput yang terawat rapi.

“Banyak pasangan yang berfoto di taman ini dengan baju pengantin.” Kata Pater Paskalis.

Mereka pasti membuat foto pre wedding di tempat yang indah ini. Aku membayangkan pengantin perempuan dengan baju putihnya yang menjuntai akan kontras sekali dengan hijaunya rerumputan atau aneka bunga di sana.

“Mbak Tia bisa minta Mas Max untuk foto juga di sini, tapi sewa dulu baju pengantin.” Candanya.

Wah, itu, sih bukan foto pre wedding, tapi post wedding. Jadi untuk sekarang biar aku saja yang foto-foto di tempat ini, Max cukup menonton hasilnya.

                Sayang tak banyak waktu tersedia untuk menikmati tempat ini. Jadwal mengunjungi tempat lain membuat kami harus bergegas. Namun napasku kembali tercekat saat kami berkendara keluar dari tempat itu. Jajaran pohon cemara berbentuk topiary tersebut membingkai indah Seminari Yohanes Berkhmans Todabelu di hadapannya. Siapa pun yang merancang tempat ini pasti memperhitungkan dengan matang letak kedua bangunan untuk menjadikannya tempat molek yang memanjakan mata dan sekaligus membawa nuansa tempat asal para misionaris yang datang ke Flores.

                Dan inilah para putra negeri ini, yang akan mengikuti langkah para misionaris untuk membaktikan hidupnya bagi sesama ke mana pun mereka dikirim suatu ketika nanti. Anak-anak muda yang bersemangat membuat dunia ini tempat yang lebih baik. Jiwa-jiwa yang semakin langka dari hari ke hari.

 

Foto-foto: Pater Paskalis Patut, OCarm

 

61 Comments to "Oleh-oleh dari Ngada (3): Pagi di Mataloko"

  1. Syrianus - Taiwan  26 May, 2013 at 05:07

    Minta ijin untuk disharing kan. Trims

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.