Pijat

Josh Chen – Global Citizen

 

Siapa tidak kenal pijat? Dikenal dengan berbagai sebutan: massage, pijat, pijet, urut, kusuk (khusus Medan), an mo (按摩). Yang dalam perkembangannya kemudian ada berbagai jenis pijat, ada yang digabung dengan spa, ada yang jadi bernama creambath (yang dipijat kepala), ada refleksi (pijat titik-titik akupunktur kaki), dsb.

Saya salah seorang yang sangat menikmati pijat untuk memanjakan diri sekaligus melepas penat dan lelah. Sejak kecil keluarga kami sudah akrab dengan berbagai jenis pijat dan tukang pijatnya. Demikian juga sekarang saya dan istri juga sering memanggil tukang pijat datang ke rumah dan mendapatkan pijat bergantian.

Keluarga kami di Semarang, sedari saya kecil, sudah memilih pijat sebagai salah satu alternatif untuk menjaga kesehatan keluarga. Mulai dari Papa, Mama, kakak, saya, adik, semuanya pernah dipijat. Yang paling sering adalah adik saya, karena aktifnya, sering jatuh, dan saya masih ingat betul, orangtua saya bilangnya: “keceklik” (terkilir, ada juga yang bilang kecetit), jadi perlu dibawa ke tukang pijat. Entah kembung, terjatuh, pencernaan tidak beres, rasanya waktu itu semua beres jika dibawa ke tukang pijat.

Dalam ingatan saya, tukang pijat keluarga yang pertama adalah yang bernama Mbah Mirah. Saya yakin beliau sudah seda (meninggal dunia) karena pada waktu itu saja usia beliau sudah mendekati 70’an, kalo dihitung-hitung, misalkan sekarang masih hidup, beliau ini berumur lebih dari seabad. Mbah Mirah ini tempat tinggalnya di satu desa di daerah Boja, tepatnya di mana dan namanya apa, saya tidak tahu. Dari Semarang, menuju arah barat, arah ke luar kota menuju Jakarta. Terus melalui jalan Siliwangi, kemudian Krapyak, terus lagi, sampai di pertigaan Boja, belok ke kiri, menuju Boja.

Masih jelas dalam ingatan, bahwa jalanan waktu itu sudah cukup bagus, jalan yang halus. Kami biasa berboncengan berempat dengan sepeda motor, Papa-Mama, kemudian dua di antara kami bersaudara, yang mana yang perlu dipijat. Setelah sampai, biasanya sepeda motor akan dititipkan Papa saya di salah satu warung di pinggir jalan desa, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki, yang memakan waktu kira-kira 30-45 menit menerabas hutan karet di situ. Perjalanan akan melewati pohon-pohon karet yang tinggi-tinggi, indah sekali. Papa kemudian menjelaskan dan menceritakan bagaimana getah karet itu disadap, kadang mencolek sedikit getah dengan ranting di batok penampungan getah, kemudian kami nyalakan dengan api, nyala yang cukup lama. Sesekali Papa membawa kaca pembesar berukuran kecil sehingga bisa dikantongi. Papa mengajari pemakaian kaca pembesar untuk menyalakan api dengan memfokuskan titik api terkecil ke area yang ingin dinyalakan api. Jika mulai berasap, kami memekik senang sekali. Tapi Papa selalu melarang kami menyalakannya di tumpukan daun kering. Kata Papa seluruh hutan bisa terbakar habis. Kami hanya boleh menyalakannya di atas ranting yang sudah dicolekkan getah karet.

Sering juga menjumpai beberapa binatang liar (yang pasti bukan harimau), kadang landak, kadang musang, dan beberapa binatang lain. Burung-burung juga cukup banyak. Bau hutan, tanah, pepohonan, udara pedesaan masih jelas terekam dalam ingatan saya sampai sekarang. Tapi, kalau sehabis hujan, waduh, jangan tanya, benar-benar sudah seperti lintas alam, jalan kaki bisa terbalik-balik, kepeleset-peleset. Sesampainya di rumah Mbah Mirah, otomatis tinggi badan kita bertambah minimal 5 cm, karena tebalnya lumpur merah yang nempel di sandal atau sepatu kita. Kemudian Papa akan mengambil sepotong ranting/dahan untuk membersihkan alas kaki.

Sesampainya di gubuk Mbah Mirah, kami masuk, dan kalo ada pelanggan yang lain, kami akan menunggu sebentar. Dibilang gubuk, karena memang dalam arti sebenarnya, dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu atau gedheg, yang indah sekali corak dan polanya. Sewaktu berbaring di dipan bambu, saya akan merasakan semilir angin pedesaan dengan bau dan aroma khasnya. Waktu memandang sela-sela anyaman bambu, terlihat titik-titik cahaya yang begitu indah. Setelah giliran kami sampai, satu per satu akan dipijat oleh Mbah Mirah ini. Pijatan yang benar-benar lihai, benar-benar nikmat dan membuai. Pemijatan dilakukan dengan membalurkan parem yang bau khasnya tak terlupakan, harum jejamuan serta benar-benar mujarab untuk badan kita.

Sembari berbaring dan dipijat di atas dipan bambu, masih jelas dalam memori, suara-suara pedesaan, kotek ayam, leteran bebek, embikan kambing, suara-suara orang desa, bau lantai tanah, dsb. Kadang Papa dan Mama beli beberapa butir parem kering untuk dibawa pulang, digunakan untuk pareman bila badan capek-capek, sungguh tokcer. Jika waktu makan siang tiba, biasa kami akan beli di satu warung sederhana di desa tsb, makanan khas pedesaan, yang aromanya masih saya ingat sampai sekarang. Kadang kami juga membawa bekal dari rumah, yang dimakan ramai-ramai di situ. Minuman teh baik yang manis atau tawar masih jelas sekali rasa teh pedesaan, yang airnya direbus dengan kayu, bau sangit kayu bakar di dalam air teh yang begitu memikat.

Bertahun-tahun kami sekeluarga menjadi pelanggan setia Mbah Mirah. Bahkan belakangan, setelah puluhan tahun berlalu, Mama saya bercerita bahwa kelahiran adik paling bungsu lancar juga karena jasa Mbah Mirah ini. Kehamilan sungsang mengkuatirkan orangtua saya. Kemudian Mama ke sana dan dipijat, kandungan berputar menjadi normal. Pada waktu itu, rasanya senam hamil belum begitu populer dan tidak dikenal luas seperti sekarang ini. Setelah kelahiran anak bungsu, Mama saya juga masih ke sana, bahkan menurut Mama saya, kontrasepsi permanen dilakukan juga oleh Mbah Mirah. Dengan teknik pijatannya yang luar biasa, Mama saya memutuskan untuk “menutup pabrik” selamanya. Boleh percaya atau tidak, bahkan Mbah Mirah juga bilang kalo suatu hari nanti ingin “dibuka” lagi, juga masih memungkinkan. Saya tidak tahu apakah sekarang masih ada tukang pijat dengan kemampuan demikian.

Yang kedua adalah yang bernama Mbah Rondiyah. Untungnya bertempat tinggal tidak di desa, tapi masih di kota Semarang, di daerah Indraprasta, masuk-masuk gang di sana, yang saya terus terang tidak ingat lagi. Sejak kelahiran adik paling kecil, kami pindah langganan pijat ke Mbah Rondiyah ini. Mama, kakak, dan adik paling kecil yang paling sering. Saya sendiri jarang dipijat oleh Mbah Rondiyah, kadang hanya mengantarkan ke situ. Ingatan tentang Mbah Rondiyah ini biasa-biasa saja.

Pemijat berikutnya adalah Mbah Jasman. Jika dua yang di atas adalah wanita, Mbah Jasman ini adalah seorang pria. Tempat tinggal beliau ini di derah Tegal Wareng (Sriwijaya), di gang-gang sekitar sana, di mana saya juga tidak ingat tepatnya di mana. Perkenalan dengan Mbah Jasman ini diajak oleh Papa saya waktu sakit punggung saya tidak sembuh-sembuh. Sakit punggung ini adalah akibat terlalu keras berlatih Tae Kwon Do waktu itu. Karena seringnya sparring partner, ujian, dan latihan intensif, akibatnya, punggung kadang tidak bisa diajak kompromi. Karena punggung inilah saya dibawa oleh Papa ke Mbah Jasman. Bukan hanya punggung saja, tapi cedera-cedera lain akibat latihan, sparring sampai ujian berat, entah tangan, kaki semua dibereskan oleh Mbah Jasman. Hebatnya Mbah Jasman ini memijat tanpa tenaga sama sekali. Tidak terasa kalau dipijat, tanpa sakit sama sekali. Teknik pemijatan beliau ini hanya dielus-elus daerah yang sakit, untuk melicinkan digunakan Rheumason, hangat-hangat gitu rasanya, plus ditiup-tiup dengan asap rokok beliau yang tidak berhenti mengebul.

Sebagai informasi. Sebelum mulai memijat, Mbah Jasman akan menyalakan rokok kretek tanpa filternya, entah Dji Sam Soe atau Djarum 76. Kemudian tiap kali beliau akan mengisap dengan nikmat rokoknya dan menghembus-hembuskannya ke arah bagian tubuh yang sakit. Boleh percaya boleh tidak, tapi memang manjur, tokcer benar pijatan Mbah Jasman ini. Semua urusan cedera tadi jadi sembuh setelah sampai di rumah. Memang tidak seketika. Contoh, pergelangan kaki yang terkilir, sampai bengkak, mau jalan saja susah, dibawa ke sana, cuma dielus-elus dan ditiup-tiup, pulang masih susah jalan. Tapi…..nah ini dia ajaibnya, ternyata muncul semacam “self-healing” di pergelangan kaki yang sakit tadi. Di rumah, tiap kali digerakkan berputar, atas bawah, kanan kiri, akan bunyi ceklik-ceklik, kretak-kretek, lama-lama bengkaknya kempes, dan sembuh total. Sampai hari ini saya tidak habis pikir.

Konon katanya beliau ini punya “ilmu” dan dikawal oleh seekor macan putih yang tidak kasat mata. Entah benar entah tidak, walahualam…..tapi kenyataan memang beliau ini panjang umurnya luar biasa, terakhir waktu dengar beliau berpulang, konon, sekali lagi konon, umurnya mendekati 130 tahun, entah benar entah tidak.

Pijat selanjutnya langsung melompat ke Jakarta. Pijat refleksi yang makin menjamur membuat saya ingin merasakan pijat refleksi tsb. Bermula dari keluyuran di daerah Kelapa Gading, bermaksud menyewa buku di Kelapa Puan Timur VII (nomer berapa lupa, tapi koleksi buku lengkap sekali, mulai silat, komik, novel, semua ada, highly recommended lho, silakan dicari dan nanya-nanya orang di sana), kemudian omong punya omong, selisih dua rumah dari persewaan buku tadi ada seorang pria setengah umur, yang katanya spesialisasi pijat refleksi. Memang tidak pasang plang atau papan nama, tapi di daerah situ cukup terkenal. Suatu hari saya coba pijat di situ, wuuuuiiiihhh……rasanya…. kata teman yang mengantar suara saya kayak binatang mau disembelih di rumah pemotongan hewan….sakitnya luar biasa…tapi setelah dipijat, badan rasanya enak benar, plong, ngantuk, malamnya ditanggung tidur pulas sampai pagi.

Waktu di Eropa, jelas tidak ada tukang pijat, tidak pernah merasakan tukang pijat, hanya kebetulan karena lahir, besar di negeri tropis Indonesia tercinta ini, perubahan iklim 4 musim di sana, membuat kepala saya cenut-cenut tiap kali ada perubahan cuaca. Omong punya omong, ada seorang mahasiswa PhD dari Tiongkok, ternyata istrinya adalah seorang “zhong yi” (terjemahannya kurang lebih “Chinese doctor”), bukan shinse lho, tapi benar-benar sekolah kedokteran, belajar ilmu medis dengan segala istilah Latin yang bikin jidat keriting, plus ilmu kedokteran timur, termasuk tusuk jarum, refleksi dsb.

Di situlah perkenalan pertama dengan akupunktur/tusuk jarum. Nadi di tangan dipegang, eeeehhhh….langsung si dokter ini tahu segala macam permasalahan di tubuh, mulai dari kepala yang tidak mau kompromi kalo ganti cuaca, pencernaan, leher, punggung, dsb. Session acupunture berlangsung sekitar 6-7 kali, tapi seharusnya paket lengkap 12 kali. Jarum untuk akupunktur dibeli khusus, jarum lapis emas murni 24 karat, hanya sekali pakai – sungguh sayang emasnya.

Benaran merinding waktu pertama kali ditusuk jarum, mulai dari kepala, wajah, punggung, kaki, tangan, semua dicucuk-cucuk jarum, sambil diputar-putar dan digetarkan karena struktur jarum yang ada pegasnya, rasanya di badan, sengkring-sengkring…..greng-greng….tidak pernah terbayang sebelumnya. Bagi yang pernah mengalami tusuk jarum, pasti tahu yang saya maksud. Memang cukup ampuh, sayangnya paket yang tidak pernah selesai karena berbagai alasan kesibukan saya kuliah dan kesibukan si zhong yi yang harus kembali ke negaranya. Setelah di Indonesia, sakit kepala karena perubahan cuaca, temperatur, dsb, menjadi semakin jarang.

Kemudian di Semarang lagi, ada yang namanya Mak Kuat, seorang wanita tua juga, memiliki keahlian pijat serta meracik jamu. Saya dan istri tiap kali ke Semarang, pasti memanggil beliau untuk pijat. Tempat tinggal di daerah Gabahan. Sayangnya belakangan kurang sehat, penyakit tua, ada rematik dan asam urat, sehingga belakangan sudah tidak bisa pergi-pergi untuk memijat lagi. Tenaga juga makin lemah dimakan usia.

Sementara di Medan, kami punya langganan namanya Wak Ijah. Tukang pijat ini harus dengan perjanjian dulu beberapa hari sebelumnya dengan menyebutkan lengkap permasalahan yang ingin dibereskan dengan pijat apa saja. Sayangnya, saya dan istri kurang cocok dengan Wak Ijah, habis dipijat bukan malah enak, tapi badan sakit semua. Seumur-umur di Medan, kami hanya pernah pijat dengan Wak Ijah sebanyak 2-3 kali, abis itu kapok, tidak mau lagi. Tapi menurut banyak orang, Wak Ijah ini katanya canggih, bisa merawat ibu-ibu pasca melahirkan, mulai parem, lulur, jamu, untuk mengembalikan kulit di sekitar perut, kerut dan goresan pasca melahirkan, plus ramuan untuk mandi, untuk sauna di rumah, yang dikerobongi gitu…tapi entah lah, saya juga kurang jelas. Satu hal yang rada aneh di telinga saya pertama kali dengar, pijat dibilang KUSUK di Medan, saya sampai bingung pertama kali mendengar kata kusuk itu.

Nah, kalau di Jakarta, saya yakin, di tiap-tiap daerah, pasti ada tukang pijat yang sudah terkenal, bahkan legendaris, dengan tarif yang bervariasi. Mulai pijat tradisional, pijat tunanetra, pijat refleksi, pijat shiatsu yang konon katanya dibanting, ditekuk, dilipat, sampai bunyi krak-krek krak-krek, keretak-keretek… hiiiiii… sereeem… walaupun memang saya kepingin coba tapi belum kesampaian. Kemudian pijat kursi di mall-mall, dan juga yang belakangan mulai nge’tren adalah chiropractic, yang katanya meluruskan tulang belakang, bisa mengatasi banyak penyakit – yang ini juga belum dicoba. Konon dari buku yang saya baca, tulang belakang bermasalah ditandai dengan sol tumit sepatu yang habisnya tidak merata, entah bagian dalam, atau bagian luar. Walaupun untuk para “sopir” (maksudnya yang mengemudi mobil tiap hari), sol tumit bagian luar terutama sebelah kanan ya biasanya geripis, soalnya tumit dijadikan tumpuan untuk nge’gas n nge’rem…hayo betul tidak???

Sejak pindah ke Jakarta-coret (Serpong) ini, kami sudah mencoba berbagai tukang pijat baik kami yang datang ke tempat pijat ataupun yang dipanggil ke rumah, namun sampai sekarang belum menemukan yang cocok. Sempat ada satu yang cocok, namanya mbak Yuli, seorang ibu setengah baya beranak lima, yang teknik pijatnya memang luar biasa enak ditambah dengan teknik totok jalan darah dengan buku-buku jari, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Yang paling enak ditotok adalah area wajah, tepatnya di area mata dan kepala. Tapi sayang sekali karena mbak Yuli ini tempatnya jauh sekali di Serang sana. Biasa kami dulu ke sana sekalian mengunjungi kakak saya yang bekerja dan tinggal di mess perusahaan, tempat dimana mbak Yuli ini membuka salon sekaligus pijat. Karena sekarang kakak tidak bekerja di sana lagi, kami tidak pernah ke sana. Sebelumnya terkadang mbak Yuli masih bersedia datang ke rumah dengan syarat sekalian beberapa orang pijat jadi sebanding dengan waktu tempuh bolak-balik dengan kendaraan umum.

Tapi belakangan mbak Yuli jadwalnya selalu penuh jadi tidak pernah menyanggupi lagi datang ke rumah. Ada juga beberapa rekomendasi teman dan kakak (yang juga menyukai pijat), tapi masih belum ada yang cocok dan langganan. Sampai sekarang masih mencari-cari yang cocok untuk kami sekeluarga.

Bagaimana pengalaman anda dengan pijat memijat? Kalau Kang Anoew sudah jangan ditanya lagi, saya yakin dia boleh jadi menyandang gelar PhD untuk urusan pijat memijat, apalagi yang plus-plus (entah plus apa saja).

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

76 Comments to "Pijat"

  1. J C  11 September, 2012 at 16:36

    Guuuubbbrrraaaaakkkk…Mbah Mo sampai sini juga…

  2. Silvia  11 September, 2012 at 16:35

    Mas Edy: mbah Mo bukan saja tukang embat rejeki org, eh mau brg bagus yg gratisan…….hihihi

  3. Edy  11 September, 2012 at 11:30

    Mbah Mo (umur 73 tahun) datang ke sebuah panti pijat dan diterima oleh resepsionis wanita.
    Resepsionis : “mau dipijat, mbah ?”
    Mbah Mo : “ya… tapi saya mau dilayani oleh pemijat yang cantik dan bohay, yang namanya Tina”
    Resepsionis : “ah.. si mbah seleranya tinggi juga nih. bisa aja mbah, dilayani oleh Tina tapi tarifnya mahal loh”
    Mbah Mo : : “berapa tarifnya ?”
    Resepsion
    is : “10 juta per 3 jam, mbah. Tarif segitu sudah termasuk plus plus”
    Mbah Mo : “ga masalah, tolong panggilkan Tina”

    Ga lama kemudian keluarlah seorang wanita cantik nan bohay, Tina, dan mengajak mbah Mo masuk ke ruang pijat.
    3 jam kemudian si mbah Harry keluar dari ruang pijat dan pulang.

    Dua hari kemudian, si mbah datang kembali dan ingin dilayani oleh Tina. Begitu seterusnya, dua hari sekali di mbah datang terus menerus, hingga sampai kedatangan si mbah yang ke 10x.

    Penasaran, Tina bertanya kepada si mbah Harry.
    Tina : “wah… si mbah tajir juga ya… untuk kenikmatan paripurna mau bayar 100 juta”
    Mbah Mo : “ah biasa aja koq.. Tin”
    Tina : “emangnya mbah kerja apa”
    Mbah Mo : “mbah udah lama ga kerja”
    Tina : “koq uangnya bisa banyak begitu”
    Mbah Mo : “sebenarnya, uang yang 100 juta itu, titipan dari paman kamu di kampung, katanya uang warisan untuk kamu. Karena paman kamu ga sempat ke Jakarta, maka uang itu dititipkan ke saya dan sekarang uangnya sudah saya serahkan semuanya ke kamu ya…”
    Tina :….. ;(

  4. Kornelya  6 September, 2012 at 21:15

    Aku termasuk org yg keranjingan dipijat. Walau harus membayar $60 + tip /jam, Untuk pijat kaki sekarang anakku bisa diandalkan, dengan upah $5 dia sudah kesenangan, emaknyapun bisa tidur pulas. hahaha

  5. J C  6 September, 2012 at 20:47

    mas BagJul: halaaahhh itu paling minyak klentik penguk bin tengik…

    Phie: hahaha…denger harganya pegel-pegel sudah sembuh, atau abis pijat harga segitu malah tambah pegel…

  6. phie  6 September, 2012 at 17:05

    demen pijetan…mknya klo pulang dipuasin ya…di sini sejam $40 plus tips…aaarrggghhhh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.