Selubung Hitam Konspirasi (15) : Pengorbanan

Masopu

 

Gerimis yang turun sejak subuh membawa hawa dingin menusuk tulang. Aneeva hanya duduk mematung di ruang depan. Tangannya tersilang di depan dada. Rasa takut perlahan semakin menggumpal dalam dada. Sejak selesai sahur, dia merasakan ada yang ganjil di sekitar rumahnya. Beberapa kali dia melihat bayangan orang asing berseliweran mengawasi rumahnya. Ketika perasaan takut semakin menggumpal, Aneeva menelepon Budi. Beruntung Budi sudah bangun dan meminta Aneeva untuk tenang dan menghidupkan kamera dan alat perekam yang baru semalam dipasang.

Ketika matahari perlahan beranjak dari tidurnya, Aneeva menghubungi Septian, persis seperti apa yang diminta oleh Budi. “Halo. Mas Septian, bisa mampir ke sini tidak?“

“Iya. Kenapa An?“

“Mas, aku sudah mendapatkan bukti-bukti yang bisa membebaskan Mas Arya dari segala tuntutan itu. Ada juga nama orang-orang yang bisa menjadi saksi untuk sidang banding yang sedang berjalan. Dan mereka adalah orang-orang yang dulu bersaksi memberatkan mas Arya. Mereka sadar jika telah diperalat.“ terang Aneeva.

“Benarkah? “

“Iya mas. Sudah beberapa hari ini aku mendapatkan bukti-bukti itu. Foto-foto dan rekaman pembicaraan orang-orang yang mengkambing hitamkan suamiku pun telah aku dapatkan. Aku harap mas Septian segera ke sini dan mengambilnya. Karena aku melihat ada orang asing yang selalu mengawasi rumah. Aku takut mas. “

“Apa? Ada yang mengawasi rumahmu? “ tanya Septian kaget.

“Iya mas. Aku takut. Yang aku, dia sudah mengawasiku sejak sahur tadi. “

“Baik An. Aku akan segera ke sana. “ potong Septian sambil menutup teleponnya.

_ _ _

Joni yang mendengar pembicaraan Aneeva dan Septian tergagap kaget. Rasa kantuk karena Semalaman tidak tidur, seketika musnah. Pembicaraan melalui handphone yang sedari awal disadapnya, membuat dia yakin jika foto-foto serta beberapa catatan tentang Arya saat ini ada di tangan Aneeva dan akan segera diserahkan pada pengacaranya.

Joni segera memacu mobilnya ke rumah Aneeva. Jalanan di pagi yang masih lengang memudahkan dia memacu mobilnya semaksimal mungkin. Ditambah gerimis yang terus turun, membuat orang enggan beraktifitas di luar rumah. Begitu mendekati rumah Aneeva, Joni memarkir mobilnya di tempat yang agak jauh dari biasanya. Diraihnya pistol baretta yang sedari awal terselip di bawah jok. Setelah itu diselipkannya senjata itu ke pinggang. Suasana pagi yang masih sepi, memudahkan dia berjalan tanpa diketahui banyak orang.

Setelah berhenti beberapa saat untuk memperhatikan kondisi sekitar rumah, Joni bergerak mendekat. Kembali matanya memperhatikan sekitar dengan lebih teliti. Keadaan pagi yang berurai gerimis membuat orang-orang makin malas untuk keluar rumah.

“Brakk “ Joni menendang pintu rumah. Begitu pintu terbuka lebar, tangannya segera mengacungkan senjata ke dalam. Aneeva yang sedang duduk di ruang tengah terlonjak kaget. Dengan tubuh gemetaran dia berdiri dan menoleh ke arah pintu yang didobrak. “ Joni….?“ suara Aneeva tertahan begitu melihat siapa yang mendobrak pintu rumahnya.

“Mana bukti-bukti yang sudah kamu dapatkan. Berikan padaku.“ bentak Joni.

“Tapi……”

“Jangan banyak bicara. Serahkan koper yang akan kamu berikan ke pengacaramu.“

Dengan langkah  gemetar Aneeva berjalan menuju almari yang masih terkunci rapat. Anak kunci yang dipegang beberapa kali meleset dari lubangnya. Joni yang sudah tak sabar mendekat dan menempelkan barettanya ke tengkuk Aneeva.

“Cepat buka. “

Setelah berusaha, akhirnya Aneeva bisa membuka almari. Tangannya segera meraih koper hitam yang baru semalam Budi berikan. Joni dengan kasar merenggut koper itu dari tangan Aneeva.

“Duduk.“ perintah Joni masih dengan menodongkan pistolnya.

Aneeva mengikuti perintah Joni. Matanya terus mengawasi Joni dan baretta dalam genggaman lelaki itu. Getaran jantungnya semakin kencang melecut rongga dada, mengiring waktu yang terasa berputar lambat.

“Dorr. “ suara letusan senjata terdengar diiringi pecahnya kaca jendela di belakang tubuh Aneeva. Sepersekian detik kemudian Aneeva rubuh memegang pundaknya. Darah mengucur di sela-sela jemari yang memegang pundaknya. Joni melonjak kaget saat tahu Aneeva jatuh tersungkur sambil memegangi pundaknya. Refleks Joni tiarap. Tangannya makin erat menggenggam pistol.

Sejenak suara hening. Hanya gemericik suara gerimis yang berdenting di bilah-bilah genting dan dedaunan. Desiran jarum jam yang berputar, serasa seperti gesekan sangkakala kematian. Hening mencekam.

Setelah mampu menguasai diri, Joni mencoba melihat situasi di sekitar rumah. Dengan bantuan pecahan kaca jendela, dia mencoba melihat bagian luar rumah. Tak ada siapa-siapa. Hanya pepohonan dan rumah warga yang ada. Tak seorang pun muncul. Beringsut Joni merangkak ke arah dapur. Tangan kirinya menyeret koper yang diambilnya dari Aneeva, sementara tangan kanan masih memegang pistol.

Ketika sampai di dapur, dia berhenti sejenak. Dari lubang angin-angin, dia kembali melihat ke luar rumah. Masih tak ada seorang pun terlihat di sana. “Sepertinya warga ketakutan mendengar bunyi tembakan tadi.“ gumam Joni. “Ini saatnya untuk pergi. “Tangannya memutar gagang pintu dapur. Saat kepalanya melongok, sebuah Sig Sauer menyambutnya.

“Jatuhkan senjatamu.“ bentak orang yang menodong Joni.

“Beni!“ seru Joni kaget. “Apa-apaan ini?“ tanya Joni dengan raut muka dipenuhi rasa kaget. Tubuhnya perlahan membungkuk untuk menaruh barettanya.

“Serahkan koper itu.“ bentak Beni sambil mengambil pistol baretta Joni.

“Ben, kita sahabat. Kenapa kamu lakukan ini?“ tanya Joni.

Beni tak menjawab pertanyaan Joni. Tangan kirinya meraih koper yang disodorkan Joni. Sementara tangan kanannya memberi isyarat Joni untuk kembali ke ruang tengah.

“Duduk!“ perintah Beni sesampainya mereka di ruang tengah. Di bawah todongan Sig Sauer P228, Joni hanya bisa mengikuti saja perintah itu. Tubuhnya terduduk, bertumpu pada kedua lutut. Keringat dingin menyembul dari kening dan tengkuknya.

Beni berjalan mendekati Aneeva yang terbaring memegangi pundaknya. Aneeva hanya bisa mengerang lemah. Darah menggenang di sekitar tubuhnya yang pucat. Perlahan Beni mengarahkan pistol Baretta ke arah Aneeva. Sementara Sig Sauer di tangan kanannya tetap mengarah ke Joni.

“Dorr.” Joni kaget melihat Beni menembak Aneeva yang sudah tak berdaya. Darah semakin banyak keluar dari tubuhnya. Luka baru di perutnya membuat aliran darah yang keluar semakin deras. Setelah menembak Aneeva, Baretta di tangan Beni kini mengarah ke pelipis Joni. Sekali lagi tembakan terdengar, bersamaan dengan robohnya tubuh Joni ke lantai. Lubang menganga di kedua pelipisnya. Darah yang muncrat membasahi sekitarnya.

Beni segera memeriksa Joni yang tergeletak. Setelah membersihkan Baretta di tangannya, Beni menaruh pistol itu di tangan Joni. Dibuatnya seolah-olah Joni mati bunuh diri.

_ _ _

Setelah menerima telepon, Septian memacu mobilnya menuju rumah Aneeva. Perasaan khawatir yang merajahi hati, membuat dia tak mempedulikan lagi keadaan jalanan di sekitarnya. Dia hanya ingin memacu mobil secepatnya, agar bisa sampai di rumah Aneeva. Saat tiba di mulut gang, Septian langsung meninggalkan mobilnya begitu saja. Tiba di dalam rumah, matanya terbelalak. Dua orang tergeletak dengan darah membanjiri sekitarnya. Tapak-tapak kaki terlihat membekas di lantai.

“Aneeva…. “ teriaknya sambil berlari ke arah wanita malang itu. Setelah sampai di sampingnya, dia segera memeriksa denyut nadi Aneeva. Sadar masih ada denyutan, meski lemah, Septian segera menelepon rumah sakit  untuk mengirimkan ambulance. Septian juga menelepon kantor polisi terdekat. Setelah itu, dia menelepon Anita untuk segera ke rumah Aneeva.

Suasana rumah Aneeva segera ramai oleh petugas medis dan polisi yang datang hampir bersamaan. Dengan diiringi pandangan mata Septian, paramedis segera membawa tubuh Aneeva yang terluka parah ke rumah sakit. Sementara tubuh Joni yang sudah tidak bernyawa, masih dibiarkan di tempatnya. Pistol Barettanya pun masih dibiarkan tetap di genggaman tangan.

Polisi segera menyisir setiap sudut rumah. Anjing K-9 pun turut diterjunkan ke lokasi. Saat polisi sedang melakukan penyidikan, Anita datang. Dia hanya bisa melihat dari luar rumah, meski dia pengacara Aneeva dan Arya, polisi melarangnya masuk.

_ _ _

Beni segera memacu mobilnya ke arah Barat. koper hitam yang baru diambil dari Aneeva dilemparkannya ke jok belakang mobil. Tanpa ba-bi-bu mobil meluncur meninggalkan tempatnya parkir. Tak lama setelah Beni lewat, sebuah Kawasaki Ninja 250 RR terlihat membuntuti laju mobil Beni. Motor yang berjalan dengan kecepatan konstan dan selalu menjaga jarak, membuat Beni tak menyadari jika dirinya sedang dikuntit. Di daerah Benowo, tak jauh dari dari lokasi stadion Gelora Bung Tomo, Beni membelokkan mobil dan berhenti di tempat yang sepi dan terlindung rimbunan semak.

Sementara pengendara motor berhenti belasan meter sebelum tempat Beni. Motor Ninjanya disembunyikan di balik rimbunan pohon. Dengan mengendap-endap, pengendara motor itu terus mendekat ke tempat Beni. Matanya terus mengawasi apa yang Beni lakukan. Saat Beni selesai menyiramkan bensin ke koper hitam yang dibawanya, lelaki itu keluar sambil mengayunkan tangannya ke tengkuk Beni. Beni yang tak siap, tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya roboh begitu pukulan yang dilancarkan dengan kekuatan penuh itu menghantam tengkuknya. Belum sempat Beni bangun, kembali beberapa pukulan mendarat di tempat yang sama dan membuatnya jatuh tak sadarkan diri.

“Septian, cepat ke daerah Benowo. Aku menangkap orang yang ada di salah satu foto Arya. Posisiku di dekat stadion Gelora Bung Tomo.“

“Benarkah Bud? Tapi aku sedang ada di rumah Aneeva. Dia tertembak dan saat ini sedang dibawa ke rumah sakit.“ jawab Septian.

“Aneeva biar diurus sama Anita dan Arya yang saat ini sedang menuju ke sana. Kamu cepat ke sini. Jangan lupa ajak polisi yang bisa kamu percaya!“ pinta Budi.

“Ok!“ sahut Septian sambil melangkah menuju mobilnya. Saat bertemu Anita di halaman rumah, Septian segera menyeret partnernya itu ke tempat yang agak sepi. Dengan singkat dia ceritakan isi telepon dari Budi yang baru saja diterimanya. Anita menganggukkan kepala mendengar penuturan Septian.

“Kamu urus Budi dan orang yang ditangkapnya. Aneeva, biar aku yang mengurusnya.“ kata Anita sambil memberi tanda agar Septian segera pergi.

_ _ _

Tepat ketika Anita akan beranjak ke rumah sakit, Arya berlari menuju rumahnya. Tak dihiraukan kerumunan polisi yang ada di sana. Polisi kaget melihat kehadiran Arya. Seorang napi yang telah melarikan diri dari lapas, tiba-tiba muncul di rumahnya, di tengah kerumunan polisi. Beberapa orang polisi segera berdiri menghadang langkah Arya dengan todongan pistol.

“Berhenti!“ teriak seorang perwira polisi sambil menodongkan pistol. Beberapa polisi yang sedang melakukan olah TKP mendadak diam mematung. Beberapa yang lain serentak meraih gagang pistolnyadan bersiaga.

Arya menghentikan langkahnya tepat di dekat Anita yang baru saja membalikkan badan hendak menuju rumah sakit. Langkahnya langsung terhenti saat moncong-moncong pistol mengarah kepadanya. Tubuhnya gemetaran. Antara menahan rasa penasaran ingin melihat keadaan istrinya dan menerima todongan pistol.

“Angkat tangan!“ perintah perwira polisi yang tadi memerintahnya berhenti.

Perlahan Arya mengangkat tangan. Sementara Anita yang ada di sampingnya serasa mati kutu, tak tahu harus berbuat apa. Belum hilang rasa kaget mendengar berita dari Septian, kini Arya tiba-tiba muncul dan mendapat todongan pistol dari polisi.

“Pak, ijinkan saya melihat istri saya.“ kata Arya dengan suara bergetar.

“Pengawal borgol dia.“ perintah perwira polisi sambil tetap menodongkan pistol di tangannya. “Istrimu sudah dibawa ke rumah sakit beberapa saat yang lalu.“ lanjut komandan polisi bernama I Gede Purnawan tersebut.

“Kalau begitu ijinkan saya ke rumah sakit untuk melihat istri saya.“ pinta Arya kepada komandan polisi berpangkat Kompol.

“Pak ijinkan klien saya untuk melihat istrinya. Saya menjamin dia tak akan lari lagi.“ pinta Anita sambil berjalan mendekat ke arah  perwira polisi yang ada di situ.

“Tapi dia telah melarikan diri dari tahanan. Saya tidak mau dia melakukannya lagi.“ Sahut Kompol Purnawan.

“Pak saya dan partner saya bersedia menjadi penjaminnya. Istrinya sedang koma di rumah sakit dan butuh pendampingan suaminya. Atas nama rasa kemanusiaan, ijinkan dia mendampingi istrinya melewati masa kritisnya pak. Please.“ pinta Anita.

“Tapi…. “

“Pak, sekali ini saja, ijinkan klien saya menemani istrinya.“ kembali Anita meminta sambil merapatkan kedua tangannya di depan dada.

“Baiklah, kalau memang anda bersedia menjaminnya. Tapi tetap, dia harus diborgol dan di bawah pengawalan anak buah saya.“ sahut perwira polisi sambil memberi tanda kepada dua orang anak buahnya untuk mengawal Arya dan Anita ke rumah sakit.

_ _ _

Septian memacu mobilnya seperti orang kesetanan. Gerimis yang telah berhenti membuat orang-orang yang tadinya enggan keluar rumah, kini keluar.  Jalanan pun mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan. Saat matahari tepat berada di atas kepala, Septian tiba di kawasan Benowo.

“Bagaimana ceritanya kamu bisa mengikutinya sampai ke sini?“ tanya Septian.

“Ceritanya panjang. Nanti saja aku ceritakan detailnya. Yang jelas, saat aku pulang memasang kamera dan alat perekam, aku berpapasan dengannya di dekat rumah Aneeva. Aku mengenalinya, karena Arya pernah memberiku foto lelaki ini saat dia mengawasi apartemen Joni. Didorong rasa penasaran, aku kembali dengan menggunakan motor. Semalaman aku mengawasi gerak-geriknya yang mencurigakan. Saat Aneeva telepon tadi pagi, aku sedang mengawasi lelaki ini yang telah beberapa kali memasuki pekarangan rumah Aneeva. Tapi karena belum dapat bukti, aku tidak bisa bergerak untuk menangkapnya.“

“Kenapa kamu tidak memanggil polisi?“ tanya Septian.

“Aku tak tahu siapa yang dapat aku percaya saat ini. Hampir semua polisi yang aku kenal, tidak dapat aku percaya. Karena memang aku tahu latar belakang mereka.“

“Apakah Arya tahu jika kamu sedang membuntuti seseorang?“

“Tidak. Aku tidak memberitahunya.“

“Kenapa?”

“Aneeva adalah istrinya. Jika sampai dia tahu ada orang yang mengawasi Aneeva, dia pasti akan emosi. Aku tidak ingin sikap emosional Arya saat tahu istrinya menjadi target dan sedang diawasi. Sikap emosionalnya akan menghancurkan semua rencana yang telah kita susun. Bisa-bisa malah dia tertangkap dan akhirnya kita tak bisa berbuat apa-apa. Ingat, jika dia tertangkap, keselamatannya akan sangat terancam. Aku yakin itu. “ Budi menerangkan alasannya tidak menghubungi polisi dan Arya.

“Ok kalau itu penilaianmu. Terus apa selanjutnya?“ tanya Septian.

“Mana teman polisi yang kamu janjikan akan datang? “ tanya Budi heran.

“Harusnya dia sudah tiba di sini. Tadi……… “ jawaban Septian terhenti. Bunyi sirene mobil polisi yang mendekat membuat hatinya tenang. Tak berapa lama kemudian mobil polisi berhenti di dekat Septian memarkir mobilnya.

Septian dan Budi hanya terpana. AKBP Irwanto datang bersama teman Septian yang bernama AKP Yohanes Jaka. “ Kenapa Jaka datang bersama polisi brengsek ini? “ pertanyaan itu langsung mengemuka di benak Septian.

“Bagaimana ceritanya hingga saudara Budi bisa menangkap orang ini?“ tanya AKBP Irwanto membuka pembicaraan.

“Saya mengikutinya sejak semalam. Saya curiga dengan keberadaan dia di dekat rumah Arya.“

“Apa alasan anda mencurigai dia?“ lanjut AKBP Irwanto.

“Hanya insting saja.“

“Hanya insting? Apa hubungan anda dengan keluarga Arya?“ AKBP Irwanto terus mencecar Budi.

“Hanya teman baik. Saya ke sana untuk menjenguk istrinya. Saat saya pulang, saya melihat dia mondar-mandir di dekat rumah. Hal ini membuat saya mencurigai dia akan melakukan sesuatu. Ditambah tadi pagi, Aneeva menelepon saya dan memberitahukan jika ada yang mengawasi dia. Saat di dekat rumahnya, saya melihat dia lari ke arah mobil dan membawa koper yang setahu saya punya Arya. Saat itu saya putuskan untuk mengikutinya.“

“Sebaiknya kita tanyai dia di kantor saja. Kamu bawa lelaki itu, biar aku bawa mobil tersangka.“ kata AKP Yohanes Jaka.

_ _ _

“Anee, maafkan aku. Seandainya aku tak berbuat bodoh, pasti kamu tak akan terbaring di sini.“ kata Arya lirih. Tangannya yang masih terborgol terus memegang pergelangan tangan kiri Anee. Bulir-bulir air mata yang menggenang di pelupuk mata perlahan menuruni pipinya.

“Sudahlah Ar, ini semua adalah takdir-NYA. Istrimu telah berjuang untuk membuktikan dirimu tidak bersalah. Jangan terlalu bersedih, kuatkan hatimu.“ potong Anita yang berdiri di sampingnya. Mata pengacara muda itu berkaca-kaca melihat keadaan Aneeva dan Arya. “Aku tadi sudah berbicara dengan dokter. Kata dokter, masa kritis Aneeva sudah lewat. Beruntung peluru yang bersarang di tubuhnya tidak mengenai organ vital. Peluru pertama hanya mengenai tulang bahu kanannya, sementara yang kedua hanya beberapa mili dari jantungnya. Sekarang kuatkan hatimu, jangan sia-siakan pengorbanan istrimu Ar. Kamu harus kuat, agar perjuangan kita mengungkap skandalmu tetap berjalan.“ lanjut Anita.

“Tapi An, Semua  yang Aneeva alami adalah kesalahanku. Aku tak bisa tenang melihat dia seperti ini.” sahut Arya sambil menahan tangis.

“Aku tahu apa yang kamu rasakan. Akupun pasti melakukan hal yang sama jika ada di posisimu. Percayalah,  Aneeva sudah ada yang menangani. Kamu tak perlu khawatir. Aku dan Septian akan menjaga dirinya. Sekarang tenangkan hatimu. Lanjutkan perjuangan Aneeva, jangan sia-siakan pengorbanannya ini.“ Anita menenangkan Arya. Tangannya memberi tanda ke arah Arya agar mengikuti apa yang dikatakannya. Arya hanya bisa mengangguk pasrah. Perkataan Anita mampu menenangkan hatinya. Setelah itu dengan dikawal polisi, Arya dibawa ke mapolresta untuk menjalani pemeriksaan menyangkut pelariannya.

_ _ _

 

Masopu

 

16 Comments to "Selubung Hitam Konspirasi (15) : Pengorbanan"

  1. agung "Masopu"  31 August, 2012 at 06:38

    mbak @ Dewi Aini
    ” Orang orang jahatnya satu per satu sudah diketaui…wah..pengen cepat endingnya nih…kasihan Arya sama istrinya..benar benar jadi korban kebrengsekan preman dan polisi.. ”

    Silahkan ditunggu
    makasih semuanya
    salam

  2. agung "Masopu"  31 August, 2012 at 06:37

    @ Mbak Alvina

    ” Masih baca yg sebelumnya mas…. setelah kabur dari penjara jahanam, he..he…….masih ketinggalan sepur, ini bacanya jadi mundur kebelakang trus maju gitu, bentar lagi bagian ini juga terbaca dech…..”

    mbak santai saja mbak, ceritanya belum akan habis kok. salam

  3. agung "Masopu"  31 August, 2012 at 06:30

    @ DJ
    ” Hhhhhhmmmm….
    Dj. senang dengan dialognya yang enak dibaca.
    Salam, ”

    Makasih Om. Salam

  4. agung "Masopu"  31 August, 2012 at 06:29

    @ J C
    ” Dan modiarlah si Joni…kapokmu kapan…

    Abis ini pulisi-pulisi menjengkelkan itu…”

    Kalimat pertama manteb tenan. Langsung ” Jleb ” jarena mbah Sudjiwo Tedjo

  5. agung "Masopu"  31 August, 2012 at 06:27

    @ Linda Cheang

    ” wah, tambah brengsek, tuh polisi sialan…” gambaran khas di Indonesia ya mbak.
    Ditempatku sampai ada istilah polisi cepekan, karena suka nilang anak-anak SMA yang mau berangkat sekolah.

  6. agung "Masopu"  31 August, 2012 at 06:24

    @ Paspampres
    ” MAKIN KACAU…..

    hahahahaha

    lanjuuuuutttt…. jangan pake lama… gak sabar bisa liat lanjutannya ”

    Yang sabar nunggunya, biar makin penasaran endingnya kayak gimana.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.